Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Satu Kamar
Malam harinya, setelah menyusui Aretha hingga bayi kecil itu terlelap, Adira perlahan meletakkannya ke dalam boks bayi di kamar.
Ia memastikan selimut Aretha terpasang dengan baik, kemudian membungkuk dan mengecup lembut kening bayi itu.
“Tidur yang nyenyak, Non.”
Adira tersenyum kecil sebelum akhirnya berbalik.
Namun baru beberapa langkah menuju pintu, langkahnya terhenti.
Areksa sudah berdiri di ambang pintu.
Adira sedikit terkejut.
“Dia sudah tidur?”
“Sudah, Tuan.”
Areksa mengangkat alis. “Tuan?”
Adira langsung menundukkan wajah. “I-iya. Memangnya ada yang salah?”
Areksa melangkah mendekat.
Adira secara refleks mundur satu langkah. “M-mau apa?”
“Saya mau kamu mengubah panggilan itu.”
Adira mengernyit. “Maksud Tuan?”
“Jangan panggil saya Tuan lagi.”
Adira terdiam. “Maaf, saya tidak bisa.”
Ia segera mengalihkan pandangan. “Kalau begitu, saya keluar dulu. Saya mau ke kamar.”
Adira berusaha melewati Areksa.
Namun ketika Areksa hendak menahannya, ia segera menghentikan gerakannya sendiri. Tangannya turun kembali ke sisi tubuh.
“Adira.”
Perempuan itu berhenti, tetapi tidak berbalik. “Tolong jangan seperti ini.”
“Seperti apa?”
“Meminta saya mengubah semuanya seolah-olah kita sudah seperti pasangan pada umumnya.”
Adira akhirnya berbalik. “Tuan, saya masih mencoba mencerna semua yang terjadi beberapa hari terakhir sampai hari ini. Beberapa hari lalu saya masih bekerja di rumah ini. Sekarang saya tiba-tiba menjadi istri Tuan.”
Ia menatap cincin di jarinya. “Saya bahkan masih merasa aneh melihat benda ini. Jadi Tuan tidak perlu merasa harus menjalankan kewajiban sebagai suami hanya karena Mama meminta Tuan melakukannya.”
“Adira...”
“Pernikahan kita hanya sementara, Tuan.”
Kalimat itu membuat ekspresi Areksa berubah.
“Sementara?”
Adira mengangguk. “Bukankah kita sudah sepakat? Kita menunggu apakah saya benar-benar hamil atau tidak. Kalau nanti kenyataannya saya tidak hamil, kita bisa berpisah.”
Areksa menatap tajam Adira. “Jadi begitu? Buat kamu, pernikahan ini hanya soal menunggu hasil pemeriksaan?”
“Bukan begitu.”
“Lalu apa?”
Adira kesulitan menjawab. Ia sendiri tidak tau bagaimana harus menjelaskan perasaannya.
Pernikahan ini terlalu mendadak. Terlalu banyak hal yang terjadi dalam waktu singkat.
Dan di atas semuanya, masih ada luka yang belum benar-benar sembuh.
“Saya hanya ingin semuanya tetap sesuai kesepakatan kita.”
Areksa menatapnya lama. Kemudian kalimat berikutnya keluar begitu saja. “Tapi saya tidak ingin berpisah.”
Deg!
Adira membeku. Tatapannya perlahan terangkat kepada Areksa.
“Kenapa?” tanyanya lirih. “Karena Non Aretha?”
Adira tersenyum kecil, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa alasan Areksa hanya karena putrinya.
“Tenang saja, Tuan. Kalau kita benar-benar berpisah nanti, saya masih akan mengurus Non Aretha.”
“Kenapa kamu selalu menolak?”
Adira menghela napas. “Karena pernikahan kita seharusnya tidak pernah terjadi, Tuan.”
“Tapi saya harus bertanggung jawab, Adira.”
“Saya tau.”
“Lalu?”
Adira menundukkan wajah. “Tapi saya takut. Saya takut menikah lagi, Tuan.” Suaranya bergetar. “Pernikahan pertama saya membuat saya trauma. Saya pernah ditinggalkan, dipukul, direndahkan...”
Adira menggigit bibirnya, menahan air mata. “Dan saya takut kalau suatu hari saya hamil, anak saya akan pergi meninggalkan saya lagi.”
Areksa menatapnya lekat. “Tapi saya tidak seperti itu.”
“Saya tau Tuan mungkin tidak seperti dia.”
“Lalu kenapa?”
“Karena saya tidak ingin berharap. Segala hal tentang kita terlalu jomplang, Tuan. Tuan berasal dari keluarga besar. Saya hanya seorang perempuan yang bekerja sebagai babysitter. Saya tidak ingin suatu hari nanti Tuan menyesal telah menikahi saya.”
Areksa menghela napas panjang. “Kamu memang keras kepala.”
“Maaf, Tuan.”
Adira hendak pergi. “Saya mau ke kamar saya dulu.”
“Tidak bisa.”
Adira berhenti. “Kenapa?”
“Mama menyuruh kamu tidur di kamar ini malam ini.”
“Hah?”
Adira spontan menoleh. “Saya tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena...”
Adira melirik tempat tidur, kemudian kembali menatap Areksa. “Saya tidak nyaman.”
Areksa terdiam sejenak. “Baik. Saya tidak akan memaksa kamu.”
Areksa menunjuk sofa di sudut kamar. “Kamu tidur di kasur. Saya di sofa.”
“Tuan, jangan. Saya saja yang di sofa.”
“Adira.”
“Saya sungguh tidak masalah.”
“Saya suami kamu sekarang.”
Adira langsung membungkam mulutnya.
Areksa menatapnya lebih lembut. “Tapi menjadi suami kamu bukan berarti saya berhak memaksakan apa pun kepada kamu. Jadi jangan takut.”
Areksa mengambil bantal dari atas ranjang dan membawanya ke sofa. “Kamu tidur di sana. Saya di sini.”
Adira masih berdiri di tempatnya. “Terima kasih, Tuan.”
Areksa yang sudah membelakanginya mendadak berhenti.
“Adira.”
“Iya?”
“Saya tetap ingin kamu berhenti memanggil saya Tuan. Tapi tidak harus malam ini.”
***
Keesokan harinya, beberapa koper sudah tersusun di dekat mobil. Soraya dan Bayu telah bersiap untuk kembali ke Singapura demi menyelesaikan beberapa pekerjaan mereka.
Adira berdiri di samping Areksa sambil menggendong Aretha. Bayi kecil itu tampak tenang dalam pelukannya, sesekali memainkan ujung pakaian Adira.
Soraya memandang keduanya dengan senyum puas.
“Kalian semalam tidur satu kamar, kan?”
“Iya, Ma,” jawab Areksa.
“Syukurlah.”
Soraya tersenyum lebar. “Mama dan Papa berharap kalian benar-benar bisa membangun hubungan yang baik. Lihat saja Aretha. Kemarin dia kelihatan bahagia sekali melihat kalian bersama.”
Areksa melirik Adira.
Perempuan itu hanya tersenyum canggung sambil mengusap punggung Aretha.
Bayu yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara.
“Adira.”
Adira mengangkat wajah. “Iya, Tuan?”
Bayu tersenyum tipis. “Papa harap kamu bisa memikirkan kembali soal pernikahan kalian. Meski nantinya kamu tidak hamil,” lanjut Bayu, “Papa tetap berharap kalian tidak memilih berpisah.”
“Tapi, saya—”
“Adira.” Nada suara Bayu lembut, tetapi cukup membuat Adira berhenti.
“Papa tidak mengatakan ini karena ingin memaksamu. Papa hanya ingin kamu memberi kesempatan kepada pernikahan ini. Jangan menentukan akhirnya sekarang, ketika semuanya bahkan baru dimulai.”
Adira menunduk. “Tapi saya takut, Tuan.”
“Saya tau.”
Bayu mengangguk pelan. “Dan ketakutanmu itu wajar. Apa yang kamu alami sebelumnya bukan sesuatu yang mudah dilupakan. Tapi jangan menghukum masa depanmu karena kesalahan orang di masa lalu.”
Adira menggenggam tubuh Aretha sedikit lebih erat.
Bayu melanjutkan, “Kalau suatu hari nanti kamu benar-benar merasa tidak bahagia bersama Reksa, Papa tidak akan menahanmu. Tapi kalau Reksa memperlakukanmu dengan baik dan kamu mulai merasa nyaman dengannya...”
Bayu tersenyum. “Jangan pergi hanya karena kamu merasa tidak pantas.”
Mata Adira mulai berkaca-kaca. “Papa...”
“Sekarang kamu bukan lagi orang luar di rumah ini. Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami.”
Soraya mengangguk. “Dan Mama juga ingin kamu berhenti merasa bahwa kamu hanya tinggal di rumah itu karena Aretha. Kamu punya tempat di sana, Adira.”
Adira tidak mampu menjawab.
Areksa yang sejak tadi diam akhirnya berkata, “Kamu dengar sendiri, kan?”
Adira menoleh kepadanya.
“Jangan berpikir kamu harus pergi hanya karena suatu hari nanti hasilnya tidak seperti yang kita harapkan.”
Adira terdiam cukup lama. Kemudian ia mengangguk kecil. “Saya akan memikirkannya.”
Bayu tersenyum. “Itu saja sudah cukup untuk Papa.”
Soraya kemudian memeluk Adira dengan hati-hati agar tidak mengganggu Aretha.
“Jaga diri baik-baik, Nak.”
Adira membalas pelukan itu dengan kaku pada awalnya, sebelum akhirnya perlahan mengeratkan tangannya.
“Iya, Ma.”
Soraya tersenyum mendengar panggilan itu. “Nah. Begitu dong.”
Setelah berpamitan dengan Areksa dan Adira, Soraya serta Bayu masuk ke dalam mobil.
Sebelum pintu ditutup, Bayu kembali menatap putranya.
“Reksa.”
“Iya, Pa?”
“Jaga istrimu.”
Areksa mengangguk mantap. “Iya, Pa.”
***
Menjelang siang, Aretha sudah terlelap di dalam boks bayinya.
Setelah memastikan bayinya tidur dengan nyaman dan aman, Adira keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.
Di sana, Bik Tini dan Mbok Iyem sedang sibuk menyiapkan makan siang.
“Eh, Non Adira,” sapa Bik Tini.
Adira langsung tersenyum kecil. “Bi, Mbok, jangan panggil saya Non Adira. Panggil Adira saja.”
“Kami sungkan,” jawab Mbok Iyem. “Bagaimanapun juga, sekarang kamu sudah menikah dengan Tuan Areksa.”
“Status saya memang sudah berubah, tapi saya tetap Adira yang sama.”
Adira terkekeh pelan. “Jadi jangan sungkan. Panggil saya seperti biasa saja.”
“Tapi kami takut nanti dimarahi Tuan.”
“Tidak akan ada yang memarahi kalian.” Adira mengambil celemek yang tergantung di dekat meja. “Sudah, saya bantu masak ya?”
Bik Tini dan Mbok Iyem saling pandang sebelum akhirnya mengangguk.
Saat Adira mulai membantu menyiapkan sayuran, Mbok Iyem tiba-tiba berkata pelan, “Maafkan kami, ya, Adira.”
Adira menoleh. “Maaf untuk apa, Mbok?”
“Waktu malam itu...” Mbok Iyem menundukkan wajah. “Kami benar-benar tidak tau apa yang terjadi.”
Adira terdiam sejenak. Kemudian ia tersenyum getir. “Tidak apa-apa, Mbok.”
Bik Tini menghela napas. “Kami juga tidak pernah menyangka Tuan Areksa bisa sampai melakukan hal seperti itu.”
Adira menghentikan tangannya. “Bi, Mbok... Jangan terlalu menyalahkan Tuan Areksa.” Suara Adira terdengar pelan.
“Beliau juga tidak sepenuhnya sadar waktu itu. Ada sesuatu yang dicampurkan ke minumannya saat pesta.”
“Tapi tetap saja kamu yang terluka,” ujar Bik Tini lirih.
Adira menunduk. “Iya.”
Sesaat ia terdiam sebelum kembali mengambil sayuran.
“Mungkin memang hidup saya harus seperti ini.”
“Jangan bilang begitu, Adira,” tegur Mbok Iyem lembut.
Adira hanya tersenyum tipis. “Sudah, jangan bahas lagi. Nanti makan siangnya tidak selesai.”
Bik Tini mengangguk. “Iya. Ayo, kita masak.”
Dapur kembali dipenuhi kesibukan kecil mereka. Namun di balik senyum yang Adira tunjukkan, masih ada luka yang belum benar-benar sembuh.
🥰🥰🥰🥰🥰🥰