Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).
Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).
Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.
Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.
Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Dingin Dilanjut 22.
Pagi itu, atmosfer di dalam rumah berukuran tipe 36 tersebut terasa seperti lemari es yang mendesis pelan.
Dingin, kaku, dan membuat napas terasa berat.
Langit terbangun dengan kepala yang berdenyut pening. Sisa-sisa teriakan dan bentakan dari pertengkaran hebat tadi malam masih terngiang jelas di telinganya. Semalam, emosinya meledak saat melihat Ulfa baru melangkah masuk melewati pintu rumah pada pukul sebelas malam.
Ulfa tidak sendiri. dia diantar oleh Elang, Wakil ketua OSIS SMA Bhineka yang selama ini selalu berada di lingkaran terdekat gadis itu untuk urusan rapat dan program kerja.
Cemburu yang tidak berhak, ego yang terluka, dan gengsi yang membumbung tinggi membuat Langit mencerca Ulfa habis-habisan malam itu.
Namun pagi ini, realitas menghantam Langit tanpa ampun.
Langit duduk di tepi ranjangnya, menatap nanar ke arah sudut kamar. Biasanya, pukul enam pagi seperti ini, aroma nasi telor ceplok atau minimal wangi roti bakar sudah menyusup lewat celah pintu. Hari ini? Nol besar. Hanya ada keheningan yang pekat.
Saat melangkah keluar kamar, pemandangan di depannya langsung membuat kening Langit berkerut dalam. Ruang tengah berantakan. Remah-remah camilan dari dua hari lalu yang belum sempat dibersihkan masih berserakan di dekat karpet televisi. Di dekat wastafel dapur, gelas kotor menumpuk. Rumah itu mendadak terasa begitu kotor, asing, dan yang paling menyiksa adalah sepi.
"Ulfa?" panggil Langit, suaranya agak parau.
Tidak ada jawaban. Langit berjalan menuju kamar sebelah—kamar Ulfa. Pintu kamar itu terbuka lebar, memperlihatkan kasur yang sudah rapi. Pemiliknya sudah bangun sejak tadi.
Langit buru-buru berbalik menuju tali jemuran di area belakang, tempat biasanya seragam sekolahnya yang sudah disetrika rapi digantung oleh Ulfa. Nihil. Di sana hanya ada gantungan baju kosong yang bergoyang pelan ditiup angin pagi. Seragam putih-abu-abunya masih tergeletak mengenaskan di dalam keranjang baju kotor, kusut dan tak tersentuh.
"Sial," umpat Langit lirih. Kepalanya kian berdenyut.
Dia terpaksa membongkar lemari, mencari seragam cadangan yang untungnya masih bersih, meski kondisinya agak kusut karena sudah lama tidak disetrika.
Sambil mengancingkan kemejanya dengan tergesa-gesa, Langit berjalan ke area meja makan. Di sana, Ulfa sedang duduk tenang. Gadis itu sudah rapi dengan seragam OSIS-nya, lengkap dengan almamater yang tersampir di sandaran kursi.
Ulfa sedang mengoles selai ke atas selembar roti tawar untuk dirinya sendiri. Wajahnya datar, matanya agak sembap—sisa dari tangisan semalam—namun tatapannya kini begitu dingin dan kosong.
Langit berdeham, mencoba memecah kekakuan. "Fa... seragam gue kok enggak ada yang siap?"
Ulfa tidak langsung menjawab. Dia mengunyah rotinya perlahan, menelannya, baru kemudian menoleh menatap Langit.
Tatapan yang membuat Langit merasa seperti orang asing yang tak diinginkan.
"Aturan mainnya enggak ada yang bilang kalau gue wajib nyiapin seragam lo, Lang," ucap Ulfa. Suaranya tenang, terlalu tenang hingga terdengar mengerikan.
"Gue kan cuma nanya. Biasanya juga lo taruh di depan," balas Langit, nadanya mulai meninggi karena gengsi, meski dalam hati dia merasa bersalah.
Ulfa meletakkan sisa rotinya ke piring dengan gerakan perlahan. Dia menegakkan punggung, menatap lurus ke netra Langit. "Itu 'biasanya' karena gue masih kasihan sama lo. Tapi setelah omongan kasar lo semalam? Gue rasa kita harus balik ke kesepakatan awal."
Langit terdiam. Lidahnya mendadak kelu.
"Gue mau ngingetin lo satu hal yang kayaknya lo lupain karena ego lo yang ketinggian itu," Ulfa berucap lagi, kali ini nadanya menuntut penegasan. "Lo itu udah punya pacar. Nama pacar lo itu Zara."
Mendengar nama Zara disebut, dada Langit berdenyut aneh. Ada rasa sesak yang tidak bisa dia jelaskan.
"Pernikahan ini cuma sandiwara, Lang. Cuma karena wasiat dan bisnis keluarga kita yang hampir bangkrut," lanjut Ulfa, matanya mulai berkaca-kaca namun dia menahannya dengan keras. "Gue enggak punya kewajiban buat laporan sama siapa gue pergi, selama gue enggak mencoreng nama baik di sekolah. Elang itu Wakil ketua OSIS gue, dan kita murni ngurusin ekshibisi seni sekolah. Jadi, tolong patuhi aturan main pernikahan sandiwara ini. Jangan lewati batas."
"Gue cuma enggak suka lo pulang malam sama cowok lain, Fa! Status lo itu istri gue, walau cuma di atas kertas!" Langit membela diri, suaranya meninggi, mencoba menutupi rasa tidak nyaman di dadanya.
Ulfa tersenyum sinis, sebuah senyuman terluka yang belum pernah Langit lihat sebelumnya dari gadis periang itu. "Istri di atas kertas? Terus Zara apa, Lang? Pacar yang lo bangga-banggain di sekolah? Pacar yang setiap hari lo temenin ke kantin sementara gue harus pura-pura enggak kenal lo di koridor?"
Kalimat Ulfa telak menghantam pertahanan Langit. Cowok itu terpaku di tempatnya berdiri.
"Mulai hari ini, urus diri lo sendiri. Gue urus diri gue sendiri. Di rumah ini, kita cuma teman sekamar yang terpaksa berbagi atap. Paham?" Setelah mengatakan itu, Ulfa berdiri, menyampirkan tas sekolah dan almamaternya ke bahu, lalu berjalan melewati Langit begitu saja tanpa menoleh lagi.
Pintu depan tertutup dengan dentuman pelan, meninggalkan Langit sendirian di ruang tengah yang berantakan.
Sunyi kembali berkuasa.
Langit menyandarkan punggungnya pada tembok dapur.
Dia memejamkan mata rapat-rapat. Untuk pertama kalinya sejak mereka terpaksa tinggal bersama, Langit merasakan rumah ini begitu luas. Begitu hampa. Begitu sunyi hingga detak jam dinding terdengar seperti dentangan yang menyiksa telinga.
Dia memandang ke sekeliling. Kotoran di sudut ruangan, debu di atas meja TV, dan meja makan yang kosong tanpa sarapan untuknya. Selama ini, dia menganggap semua kenyamanan rumah ini terjadi begitu saja secara otomatis. Dia terlalu terbiasa melihat lantai yang bersih, bau minyak wangi pakaian yang harum saat dia memakai seragam, dan suara omelan kecil Ulfa yang menyuruhnya menghabiskan sayur.
Ternyata, rasa nyaman itu bukan berasal dari rumahnya. Rasa nyaman itu berasal dari eksistensi seorang Ulfa.
Langit mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ada realitas pahit yang mendadak harus dia akui pagi ini. Di tengah hubungannya yang manis dan penuh validasi publik bersama Zara di sekolah, hatinya diam-diam telah bergeser. Dia telah jatuh ke dalam rutinitas domestik bersama Ulfa. Dia mulai ketergantungan pada kehadiran gadis yang semalam dia bentak habis-habisan itu.
Dia butuh suara Ulfa. Dia butuh senyuman Ulfa. Dan menyadari fakta bahwa dia mulai kehilangan hal itu karena kebodohannya sendiri, membuat Langit merasakan ketakutan yang teramat sangat.
Perang dingin telah dimulai, dan Langit tahu, dialah yang menabuh genderang perang itu, namun dia pula yang paling tidak siap menerima kekalahan.
......................
...****************...
Tbc,
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳