NovelToon NovelToon
Bu Gubernur Bar-bar Pilihan Hati Sang Kapten

Bu Gubernur Bar-bar Pilihan Hati Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:17.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.

Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.

Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.

Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.

Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?

Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dimarahi

Rapat akhirnya selesai setelah berlangsung cukup lama. Zea berdiri di depan gedung kepresidenan sambil mengantar Pak Presiden menuju mobilnya, lalu tersenyum sopan ketika rombongan presiden mulai meninggalkan halaman.

"Terima kasih atas waktunya, Pak," ujar Zea tersenyum ramah bersama dengan pejabat lain.

"Sama-sama, Bu Zea. Jangan lupa tindak lanjuti pembahasan kita tadi," pesan Pak Presiden sebelum masuk ke mobil.

"Siap, Pak," ujar Zea sambil memberikan hormat.

Setelah mobil presiden bergerak meninggalkan halaman, Zea menghela napas panjang. Bahunya yang sejak tadi tegang akhirnya terasa sedikit ringan setelah rapat bersama presiden dan jajaran lainnya selesai.

"Fiuh ... akhirnya selesai juga."

Zea kemudian berbalik dan melihat Intan yang berdiri tidak jauh darinya. "Tan, ayo kita ke kantor."

Intan hanya mendengus. Wajahnya masih menyimpan kekesalan sejak kejadian pagi tadi.

"Ayo saja," jawabnya pendek.

Zea mengangkat alis. "Kok masih cemberut?"

"Masih tanya?" Intan berjalan menuju mobil dengan langkah kesal. "Siapa yang pagi-pagi membuatku muntah sampai isi perutku habis?"

Zea berusaha menahan tawa. "Itu bukan salahku sepenuhnya. Lagipula yang keluar cuman makanan, bukan yang laen."

"Bukan yang lain?" Intan berhenti dan menatapnya tajam. "Kamu yang menyetir seperti pembalap, Zea!"

"Kan kita hampir terlambat."

"Pak Yanto sampai mabuk!"

Zea langsung melirik ke arah Pak Yanto yang sedang berdiri di dekat mobil. Sopir itu hanya tersenyum kaku sambil menggaruk kepalanya.

"Sedikit saja, Bu."

"Sedikit apanya?" Intan menunjuknya. "Wajahmu saja masih pucat."

Pak Yanto segera mengalihkan pandangan. "Saya sudah lebih baik sekarang."

Zea terkekeh kecil, kemudian membuka pintu mobil. "Sudah-sudah. Jangan ngomel lagi. Nanti cepat muda, tahu."

"Cepat tua!" sahut Intan spontan.

Zea langsung tertawa. "Nah, itu maksudku."

"Maksudmu salah!"

"Yang penting sama-sama tua."

"Zea!"

Tawa Zea semakin lebar sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil dan duduk anteng di kursi belakang. Intan menggeleng kesal lalu ikut masuk dan duduk di sebelahnya, sementara Pak Yanto kembali mengambil tempat di kursi pengemudi.

Kali ini Intan sengaja memasang sabuk pengaman bahkan sebelum mobil dinyalakan. Ia kemudian menatap Zea dengan tatapan penuh peringatan.

"Dan kamu jangan macam-macam."

Zea mengangkat kedua tangannya. "Aku tidak melakukan apa-apa."

"Bagus."

Pak Yanto menyalakan mesin. "Kita langsung ke kantor, Bu?"

Zea mengangguk. "Iya, Pak Yanto. Kita ke kantor."

Mobil mulai bergerak meninggalkan halaman gedung kepresidenan. Baru beberapa meter berjalan, Zea tiba-tiba teringat sesuatu dan menoleh kepada Intan.

"Tan."

"Hm?"

"Tadi soal kejadian pagi kamu nggak kasih tahu Kakek, kan?"

Intan yang sedang melihat ke luar jendela mendadak diam. Gerakannya berhenti seketika.

Zea menyipitkan mata. "Tan?"

Intan menarik napas panjang. "Sebenarnya ...."

"Sebenarnya apa?"

"Terlambat."

Zea langsung menoleh penuh curiga. "Terlambat bagaimana?"

Intan akhirnya menatapnya. "Kakek Sultan sudah tahu."

Wajah Zea langsung berubah. "Hah?!"

"Kenapa Kakek sudah tahu?" Zea bertanya panik.

Intan mengangkat bahu. "Beritanya mungkin sudah sampai ke Tante Zahra dan Om Althaf juga."

Mata Zea langsung membulat. "Alamak ...." Ia menjatuhkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil mengusap wajah. "Aku bakal diceramahi lagi."

Intan berusaha menahan senyum. "Kemungkinan besar."

"Kenapa kamu kasih tahu mereka?"

Intan langsung mencari alasan. "Aku tidak kasih tahu secara langsung."

Zea menatapnya tajam. "Terus?"

"Itu ...." Mata Intan melirik ke sana kemari mencari alasan.

"Intan."

"Aku cuma cerita sedikit."

"Sedikit?"

"Iya."

"Seberapa sedikit?"

Intan mulai menghitung dengan jarinya. "Cuma bilang mobil kita ditabrak, kamu marah, terus ...."

"Terus?"

"Terus kamu mengambil batu."

Zea memejamkan mata. "Dan?"

"Terus kamu melemparnya."

Zea membuka mata lebar-lebar. "Kamu ceritakan semuanya?!"

Intan langsung menggeleng. "Tidak semuanya."

"Apanya yang tidak?"

"Aku tidak bilang kalau kamu hampir mengambil batu kedua."

Zea terdiam.

Pak Yanto yang mendengar percakapan mereka buru-buru menahan tawa. Namun, suara tawanya tetap lolos sedikit.

"Pak Yanto!"

"Maaf, Bu!"

Zea kembali menatap Intan dengan wajah kesal. "Kamu benar-benar pengkhianat."

Intan tertawa kecil. "Aku sahabatmu. Tugas sahabat itu mengingatkan kalau kamu sudah kelewatan."

"Tugas sahabat bukan melaporkan ke keluarga!"

"Kalau tidak dilaporkan, nanti siapa yang mau mengingatkanmu?"

Zea menghela napas panjang. Ia sudah bisa membayangkan wajah Kakek Sultan, Tante Zahra, dan Om Althaf ketika nanti mereka bertemu.

"Habislah aku."

Intan tersenyum puas. "Nah, sekarang rasakan."

Zea meliriknya tajam. "Kamu senang?"

"Sedikit."

Pak Yanto kembali menahan tawa.

Zea menyandarkan kepalanya ke kursi dan bergumam pelan, "Hari ini benar-benar bukan hariku."

****

"Kamu paham tidak, Zea?" suara Kakek Sultan terdengar tegas. "Kakek tidak mau tahu lagi alasan apa pun."

Zea mengangkat wajah sedikit. "Tapi, Kek ...."

"Tidak ada tapi-tapian."

Zea langsung menutup mulutnya kembali. Setelah diceramahi selama berjam-jam oleh Kakek Sultan dan bundanya, gadis berusia dua puluh sembilan tahun itu akhirnya hanya bisa pasrah.

"Kamu baru beberapa hari menjalankan tugas sebagai gubernur, tapi sudah membuat masalah di jalan," lanjut Kakek Sultan. "Kalau tadi kamu benar-benar terluka bagaimana?"

Zea memainkan ujung bajunya. "Aku kan tidak terluka, Kek."

"Itu bukan jawabannya."

Zea kembali menunduk. "Iya."

Kakek Sultan menghela napas panjang sebelum melanjutkan, "Mulai besok, pengawal akan datang dan menjagamu."

Kepala Zea langsung terangkat. "Apa?!"

"Mulai besok," ulang Kakek Sultan dengan tegas. "Ada pengawal pribadi yang akan mendampingimu ke mana pun kamu pergi."

Zea langsung menggeleng. "Kek, tidak perlu. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku ini bisa beladiri—"

"Kakek tidak sedang meminta pendapatmu."

"Tapi—"

"Zea."

Nada suara Kakek Sultan membuat Zea kembali diam. Ia akhirnya menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan wajah pasrah.

"Baiklah."

Zahra kembali ikut berbicara. "Kamu ini bagaimana, sih? Sudah jadi gubernur masih saja bertingkah bar-bar."

Zea langsung melirik bundanya. "Bar-bar bagaimana, Bunda?"

"Kamu melempar batu ke mobil orang!"

"Mereka yang menabrak mobilku dulu!"

"Dan kamu membalasnya dengan melempar batu?" Zahra mengangkat alis. "Itu namanya bukan menyelesaikan masalah, Zea."

Zea mengerucutkan bibir. "Aku cuma sedikit kesal."

"Sedikit?"

Zahra menunjuk ke arahnya. "Kamu bahkan sampai membuat Intan muntah dan Pak Yanto mabuk karena menyetir seperti pembalap."

Zea langsung menoleh ke arah lain. "Itu masalah yang berbeda."

"Berbeda dari mana?"

Zea tidak menjawab.

Zahra kemudian menyilangkan tangan di depan dada. "Kamu ini benar-benar tidak seperti Bunda yang kalem."

Uhuk!

Uhuk!

Althaf yang sejak tadi duduk tenang di samping istrinya tiba-tiba terbatuk-batuk. Ia segera menutup mulut dengan tangan sambil menahan senyum.

Zahra langsung menoleh dengan mata melotot. "Apa?!"

Althaf menggeleng cepat. "Tidak apa-apa kok, Bunda."

"Kamu barusan batuk."

"Iya."

"Kenapa?"

Althaf tersenyum kaku. "Mungkin tenggorokan Papa agak gatal."

Zahra masih menatap suaminya dengan curiga. "Benarkah?"

"Benar."

Althaf kemudian memilih diam sebelum salah bicara.

Zea yang menyaksikan percakapan kedua orang tuanya langsung melihat kesempatan. Ia menatap papanya dengan tatapan penuh harap, seolah meminta pertolongan.

"Papa ..."

Althaf menoleh.

"Tolong bilang ke Kakek kalau aku tidak membutuhkan pengawal," bujuk Zea dengan mata puppy eyesnya.

Althaf terdiam sebentar. Ia kemudian menatap putrinya dengan lembut. "Maaf, Nak."

Wajah Zea langsung berubah kecewa. "Papa juga?"

Althaf tersenyum kecil. "Turuti kata Kakek dan Bundamu. Itu semua demi kebaikanmu."

Zea menghela napas panjang. "Tapi aku sudah dua puluh sembilan tahun, Pa. Aku bisa semua beladiri."

"Papa tahu."

"Aku juga gubernur."

"Papa juga tahu."

"Jadi kenapa masih harus dijaga seperti anak kecil?"

Althaf menatap putrinya dengan serius. "Karena menjadi gubernur berarti kamu mengemban tanggung jawab yang jauh lebih besar. Semakin besar tanggung jawabmu, semakin besar pula risiko yang harus kamu hadapi."

Zea terdiam mendengar perkataan papanya.

Althaf melanjutkan dengan suara lembut, "Pengawal itu bukan untuk membatasi kebebasanmu. Mereka ada untuk memastikan kamu bisa menjalankan tugas tanpa harus mempertaruhkan keselamatanmu."

Sebenarnya mereka tidak setuju Zea memasuki dunia pemerintahan, karena mereka tahu resiko dan hal kotor yg ada di dalamnya. Tapi Zea teguh, karena mimpi sang nenek yang sudah pergi.

Zea menunduk kembali. Kali ini ia tidak membantah.

"Iya, Pa."

Kakek Sultan mengangguk puas. "Bagus. Besok pengawalmu akan datang."

Zea menghela napas pasrah. "Semoga orangnya tidak cerewet."

Zahra langsung tertawa kecil. "Justru Bunda berharap pengawalmu cukup tegas untuk mengimbangi sifatmu."

Zea melirik bundanya. "Jangan berharap terlalu banyak, Bunda."

Althaf kembali menahan tawa.

Zea kemudian berdiri dari sofa. "Kalau begitu aku mau tidur."

Kakek Sultan mengangguk. "Tidurlah. Besok kamu akan bertemu pengawalmu."

Zea berjalan menuju tangga sambil menggerutu pelan. "Gubernur punya pengawal pribadi memangnya aku ini presiden?"

Zahra tersenyum melihat putrinya pergi. "Semoga pengawalnya sabar."

Althaf mengangguk pelan. "Yang jelas, dia harus punya kesabaran ekstra."

Kakek Sultan ikut tersenyum. "Bukan hanya sabar. Dia harus mampu menjaga Zea tanpa membuat gadis itu kabur."

Dari lantai atas terdengar suara Zea. "Aku masih dengar, Kek!"

Ketiganya langsung tertawa, sementara Zea semakin kesal di balik pintu kamarnya.

1
Patrish
hanya satu kata....hahahahahaaaaa
Tiara Bella
keok kan jdnya Soraya.....zea dilawan apa sh yg gk bisa dilakuin sm dia.... waktu kecil aja uler mainannya...
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Yulianti Azis: masih inget ternyata🤣🤣
total 1 replies
Tiara Bella
gk tw aja kemampuan anaknya dr Zahra ini turun ke anaknya zea.....
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
kalah telak pun masih mau mungkir lagi hadeh dasar tak tau malu

tp psti malu nya luar biasa kan setealh terllu pwrcaya diri ahahahaA🤣🤣🤣
SOOOOOKOOOR
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
eleh sudah jelas kalah masih saja ngeles
mau tanding apa lagi bel diri gas ken zea
Tiara Bella
cinta segitiga yg rumit wkwkkwk
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
salah kau cari lawan wahai nona Soraya
jangan di kira bukan dari militer zea tak tau apa2 justru karna itu dia di latih sedemiaknrup untk melindungi diri nya s dri sudah tajir dari orok kali 🤣🤣🤣🤣
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
jiahhh ada yg kebakaran jengot
mlh ini pura2 polos
hadeh mboh lah rumit wis asli
piye terusan jal
kyo2 arep meledug kompore 🤣🤣🤣🤣
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
wahahahah sengaja kan sengaja biar makin terbakar
aaaahhh kira2 apa lagi ya
ryuka
diihhh situ yg mburu situ yg marah2
ryuka
eaaaaaa 😍😍😍😍
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
🤣🤣 malu gak malu gak? ohhh... tentu saja malu, apalagi di hadapan para tentara yang melihat 🤣🤣... dan setelah ini, kau pasti minta ayahmu untuk turun tangan /Chuckle/, 🤣🤣 pengecut lah kalah begitu kau Soraya 🤣... jadi, sebenarnya, siapa nih yang manja?

Zea atau kau Soraya? 😏
🟡🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya☕︎⃝❥ 💎
dihh, udah kalah gak mau ngaku pula, si muka tebal dia 🤣
stnk
😄😄😄👍👍👍
ismi
kenapa ? gak lanjut dibabak baku hantam kak yul😄😄😄
Hary Nengsih
🤣🤣🤣
juwita
krn anak seorang jenderal bisa seenaknya🤣🤣. bener* persis di dunia real🤣🤣
juwita
awas aj memanfaatkan kekuasaan Bpk mu soraya buat dptin sagara🤣🤣
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ajak si Soraya tanding gelut Zea biar th kl kamu bkn gubernur yg manja dan dpt di remehkan oleh dia biar seluruh barak jg th kamu itu gak gampangan dan gak lemah 😏💪
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kalah ya ngaku kalah aja Soraya jngn buat kamu nanti malu dngn kekeh pengen tanding lg sama Zea 😏😏 makanya jd orang yg sotoy dan suka rendahin jd malukan ternyata Zea lbh unggul dr kamu dah minggir aja jngn di terusin biar gak tambah malu nantinya 😏😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!