Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan di luar
Hingga hari ke delapan, nyatanya Jinny tidak. Hal itu membawa efek baik dan buruk bagi rumah Sean, yang juga berpengaruh pada Hanis sebagai salah seorang yang kini tinggal disana.
Efek baiknya, rumah jauh lebih tenang. Sean dan Hanis bisa lebih akrab tanpa takut Jinny marah. Hanis jelas merasa lebih nyaman, lebih bebas, terutama jika Sean tidak ada di rumah.
Namun efek duduknya adalah persediaan bahan makanan di rumah mulai menipis. Biasanya yang berbelanja adalah Jinny, asisten rumah tangga hanya sekedar memasak dari bahan yang ada. Dan hari ini, di akhir pekan berikutnya, mereka sudah tidak memiliki persediaan bahan makanan baik, sayuran maupun protein.
“Maaf, Pak, saya tidak bisa masak karena bahannya sudah habis. Hanya tinggal ada gula dan bumbu bumbu lain, sayur dan daging sama sekali sudah tidak ada. Saya bingung,” lapor sang asisten rumah tangga kepada Sean yang baru pulang berolahraga pagi bersama teman-temannya.
Hanis di belakangnya hanya terdiam, bingung juga harus bagaimana. Meski ia sudah lapar. Semalam Sean makan di luar, sementara Hanis hanya makan nasi dan telur dadar karena bahan itu saja yang tersisa.
Sean mendecak kesal. “ kenapa kamu baru bilang sekarang, lalu sekarang kami sarapan apa?”
Asisten rumah tangga tersebut menunduk, kemudian menjawab, “maaf, Pak. Saya kira Bu Jinny akan pulang hari ini atau kemarin. Saya juga tidak dibalas pesannya sama Bu Jinny.”
“Ya sudah, saya yang akan belanja bersama. Kami makan di luar saja pagi ini, mungkin juga siang nanti.”
“Baik, Pak.”
Sean berbalik menatap Hanis yang berdiri di belakangnya. “Ayo kita belanja. Sekalian makan di luar aja. Kamu kan juga jarang keluar rumah.”
“Baik, saya ganti baju sebentar.”
Anis segera berbalik ke tangga, naik ke kamarnya dan mengganti pakaian dengan yang lebih rapi karena mereka akan segera keluar rumah. Tak lupa ia juga memakai sandal yang lebih layak namun nyaman, tentu sandal pemberian Jinny.
Sean menunggunya di dalam mobil yang sudah dinyalakan di carport. Pria itu langsung menoleh ketika pintu di sampingnya terbuka oleh Hanis. “Udah?”
“Sudah,” jawab Hanis sambil mendudukkan diri masuk ke kursi penumpang depan.
Mobil mulai bergerak, membelah jalanan akhir pekan yang cukup lenggang. Menuju ke arah pusat kota. Meski Hanis tidak bertanya ke mana, ia menduga akan diajak sarapan pagi lalu berbelanja di pasar.
“Kita sarapan fast food ya?” tanya Sean saat mobil berhenti karena lampu lalu lintas menyala merah.
Mengangguk menyetujui, namun Sea. langsung berubah pikiran.
“Ah, nggak. Kamu kan lagi persiapan kehamilan, jangan makan junk food. Kita ganti makanan yang lebih sehat aja.”
“Saya ngikut aja,” jawab Hanis pasrah. Toh apapun makanannya ia akan menerima dengan senang hati, baginya bisa makan sehari tiga kali sudah merupakan sebuah kemewahan.
Mobil akhirnya berhenti di pelataran sebuah rumah makan besar yang bangunannya cukup sederhana namun pelataran luasnya ramai oleh mobil-mobil pengunjung. Sean turun terlebih dahulu, diikuti oleh Hanis di belakangnya.
“Nah, disini bubur ayamnya enak,” ucap Sean pada Hanis yang membaca satu per satu menu yang tertera pada lembar laminatingnya.
“Oke, aku bubur ayam aja,” jawab Hanis.
Sean bangkit, dia yang memesan ke meja kasir kemudian langsung membayarnya. Karena sistem di rumah makan ini memang seperti itu.
Sambil menunggu, melihat-lihat sekitar. Mengamati meja-meja lain yang kebanyakan diisi oleh keluarga. Saat pandangannya berhenti pada meja yang diisi oleh dua orang anak laki-laki kecil, ia teringat pada anak-anaknya di rumah.
Oh iya, jadi ingat kalau ia belum memberitahu Rino bahwa anak-anak boleh datang berkunjung. Hanis akan segera memanfaatkan izin Sean tersebut, mumpung Jinny juga belum pulang.
Sean kembali beberapa menit kemudian dengan membawa selembar kertas nota di tangan kiri dan tangan kanan membawa plastik kaku bertuliskan nomor meja mereka. Ia mengambil posisi duduk di seberang Hanis.
“Setelah ini, kita belanja ya. Aku enggak paham soal belanja bahan dapur, kamu yang pasti tahu,” ujar Sean.
“Ya, nanti saya yang belanja tidak apa-apa. Tapi saya enggak terlalu pintar nawar harga.”
Sean terkekeh kecil lalu mengangguk. “Santai aja, soal harga enggak perlu dipikirkan, yang penting kita bisa makan. Setidaknya sampai Jinny pulang.”
Pesanan mereka datang tak lama kemudian, mereka langsung makan. Tentu mereka berdua sudah sama-sama lapar.
Tidak ada lagi obrolan, hingga akhirnya mereka sama-sama telah mengosongkan mangkuk di hadapan mereka. Terlebih dahulu meneguk habis gelas minumannya, disusul yang minum secara perlahan sedikit demi sedikit.
...****************...