Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH YANG BERGUNCANG
Keheningan yang mematikan seketika menyelimuti ruang tamu. Kata-kata Ustaz Ridwan bagaikan sambaran petir yang merobek ketenangan pagi. Aku mematung di tempat, merasakan persendian kakiku mendadak meloloskan seluruh kekuatannya.
Ammar berdiri tegap di hadapan pintu yang terbuka half-way. Garis rahangnya mengetat keras, sementara mata cokelat mewahnya berkilat penuh amarah yang ditahan sekuat tenaga.
"Siapa yang membocorkan dokumen pribadi itu ke media, Ustaz?" suara Ammar terdengar amat rendah, namun sarat akan ancaman yang mengintimidasi.
"Kami belum tahu pasti, Habib," jawab Ustaz Ridwan dengan pelipis berteteskan keringat dingin. "Namun beberapa oknum jemaah menuntut penjelasan. Mereka terkejut karena selama ini nama Syarifah Zahra yang digadang-gadang akan menjadi pendamping Habib. Pihak wartawan juga sudah bersiap di depan gerbang utama kompleks."
Belum sempat Ammar merangkai instruksi untuk menangani situasi di luar gerbang, derum mesin mobil mewah bersuara nyaring terdengar berhenti tepat di halaman rumah. Suara pintu mobil yang ditutup kasar bergema menembus dinding.
Langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat. Ammar dengan cepat menarik tanganku, menggeser tubuhku ke belakang punggung tegapnya—menjadikan dirinya sebagai perisai alami sebelum orang-orang yang baru datang itu melangkah melewati ambang pintu.
Seorang wanita paruh baya berwajah anggun dengan balutan gamis syar'i hitam bermotif perak melangkah masuk dengan napas memburu. Raut wajahnya yang biasa memancarkan ketenangan ulama wanita kini dipenuhi rasa syok dan ketidakpercayaan yang mendalam. Di sampingnya, seorang gadis muda berniqab dengan mata bulat yang mirip dengan Ammar menyusul dengan langkah panik.
Umi Khadijah ibunda dari Ammarullah dan Nabila, adik kandung Ammar.
"Ammarullah!" panggil Umi Khadijah dengan suara bergetar menahan gejolak emosi di dadanya. Beliau berhenti tepat di tengah ruang tamu, menatap putranya lurus-lurus sebelum pandangannya beralih menatapku yang bersembunyi cemas di balik bahu Ammar.
Nabila membelalakkan matanya yang jernih di balik kain niqab. Tangannya yang memegang ponsel mencengkeram erat. "Mas Ammar... berita di portal berita dan grup jemaah itu... itu tidak benar, kan?! Mas Ammar tidak mungkin menikah diam-diam tanpa memberi tahu Umi dan Nabila?!"
Atmosfer ruang tamu yang tadinya hangat mendadak terasa begitu dingin dan mencekam. Umi Khadijah mengusap dadanya pelan, mencoba menguasai napasnya yang sesak usai membaca kiriman berita dari para pengurus pesantren pagi ini.
"Jawab Umi, Ammar!" tegur Umi Khadijah dengan nada menuntut yang teramat parau. "Berita tentang berkas isbat nikah di KUA... tentang pembatalan lamaran pada keluarga Kyai Dahlan... Apakah semua kegemparan yang membuat nama keluarga kita tercoreng di luar sana itu benar?!"
Ammar menarik napas panjang. Pria itu mengapit tanganku yang dingin di belakang punggungnya, memberikan usapan halus di punggung tanganku seolah berbisik agar aku tetap tenang, sebelum akhirnya ia melangkah maju setengah jalan menghadapi sang ibu.
"Assalamu'alaikum, Umi... Nabila," sahut Ammar tenang namun mantap, menundukkan kepalanya penuh takzim di hadapan sang ibu. "Mengenai berita yang tersebar di media massa, Ammar memohon maaf karena sudah membuat Umi terkejut dan gelisah. Namun... berita mengenai isbat nikah itu memang benar."
DEG!
Nabila menutupi mulutnya di balik kain niqab, menghembuskan napas syok. "Mas Ammar... Ya Allah..."
Wajah Umi Khadijah seketika memucat. Wanita mulia itu mundur separuh langkah, bersandar pada lengan Nabila yang sigap menopang tubuh ibunya. Air mata perlahan menggenang di pelupuk mata tua Umi Khadijah.
"Kamu... kamu benar-benar menikahi wanita ini tanpa sepengetahuan Umi?" bisik Umi Khadijah seraya menunjuk ke arahku dengan jari gemetar. "Ammar, kamu ini seorang Habib! Pilihanmu, pendampingmu, adalah panutan bagi ribuan jemaah! Bagaimana bisa kamu menyembunyikan hal sebesar ini dari ibu kandungmu sendiri demi wanita yang... yang bahkan tidak kami kenal asal-usulnya?!"
"Umi, tolong dengarkan penjelasan Ammar dulu," sela Ammar cepat, matanya memancarkan kepedihan melihat linangan air mata ibunya. "Ammar tidak berniat membelakangi Umi. Pernikahan ini terjadi karena situasi darurat yang mengharuskan Ammar menjaga kehormatan dan keselamatan Aisyah beserta keluarganya. Abah sudah tahu dan menyetujui langkah isbat nikah ini kemarin."
"Abahmu tahu?!" Umi Khadijah membelalak tak percaya. "Abahmu membiarkanmu melepaskan Syarifah Zahra demi pernikahan rahasia ini?!"
Aku tak sanggup lagi bersembunyi di balik keteguhan Ammar. Melihat seorang ibu yang menangis karena tindakan anaknya dan aku adalah alasan di balik air mata itu membuat rasa bersalah menindih dadaku hingga amat sesak.
Dengan jemari gemetar, aku melangkah keluar dari belakang tubuh Ammar. Aku menundukkan kepala dalam-dalam di hadapan Umi Khadijah dan Nabila, membiarkan air mata kepasrahan menetes membasahi lantai marmer.
"U-Umi... Nabila... maafkan saya," bisikku parau, suaraku nyaris tenggelam oleh penyesalan yang mendalam. "Demi Allah, ini semua bukan salah Mas Ammar... Saya yang menjadi beban di hidup Mas Ammar. Jangan salahkan Mas Ammar..."
Nabila menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mata bulat gadis seusiaku itu memancarkan gejolak kebingungan yang luar biasa. Tatapannya meneliti penampilanku yang mengenakan gamis sutra dusty rose lengkap dengan pashmina instan pemberiannya kemarin.
Mata Nabila seketika melebar. Selama ini, karena usia kami yang seumuran dan kesan hangat saat pertemuan pertama mereka di toko baju kemarin, Nabila sudah menganggapku seperti teman sebaya dan sahabat barunya.
"Aisyah...?" panggil Nabila dengan suara bergetar tak percaya, memanggil namaku secara langsung tanpa embel-embel formality, tepat seperti cara ia menyapa sahabat sebayanya. "Ini... kamu, Aisyah? Gamis ini... ini kan gamis yang kemarin aku kasih ke kamu?"
Aku mendongak perlahan, menatap mata Nabila dengan air mata yang menetes deras. "Nabila..."
"Kenapa bisa kamu, Aisyah?!" cecar Nabila, melangkah satu piksel lebih dekat. "Kemarin waktu kita ketemu di toko baju dan ngobrol panjang lebar... kamu cuma bilang lagi ada urusan di rumah saudara. Kenapa kamu nggak cerita kalau pria yang kamu maksud itu Mas Ammar? Kenapa kamu menyembunyikan ini dari aku, Aisyah? Aku pikir kita sahabat!"
Pertanyaan Nabila yang penuh rasa terkhianati itu menusuk dadaku lebih dalam daripada amarah Umi Khadijah. Rasa bersalah karena harus berbohong pada gadis sebaya yang sudah berbuat begitu baik padaku kemarin kini menumpuk jadi benteng kesedihan yang tak tertahankan.
"Nabila, maaf... aku nggak maksud bohong sama kamu," bisikku seraya menggelengkan kepala lemah. "Keadaan waktu itu... aku nggak punya pilihan lain..."
"Nabila, cukup. Jangan memojokkan Aisyah," potong Ammar tegas, bergeser kembali berdiri di sampingku dan merengkuh bahuku di hadapan ibu dan adiknya.
Ammar menatap Umi Khadijah dan Nabila dengan sorot mata paling tulus yang pernah kupandang.
"Umi... Nabila... Ammar paham kekecewaan dan rasa sakit di hati kalian saat ini," tutur Ammar dengan suara baritonnya yang amat dalam. "Ammar bersiap menerima semua teguran Umi dan kekecewaan Nabila. Tapi Ammar mohon... jangan sudutkan Aisyah. Aisyah adalah takdir yang Allah pilihkan untuk Ammar. Dia adalah istri sah Ammar, wanita yang kini Ammar cintai dan menjadi tanggung jawab Ammar lahir dan batin."
Umi Khadijah terdiam kaku, sementara Nabila menatapku dengan mata berair yang memancarkan rasa campur aduk antara kecewa dan ketidakpercayaan pada takdir yang menautkan sahabat barunya dengan kakak kandungnya sendiri.
Di luar sana, suara bising sirine dan seruan wartawan mulai terdengar sayup-sayup menembus pagar depan, menandakan bahwa ombak di luar sana kian membesar. Namun di dalam ruang tamu ini, gelombang ujian terbesar dalam pernikahan kami baru saja dimulai bukan dari musuh, melainkan dari retaknya kepercayaan keluarga sendiri.