NovelToon NovelToon
OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

OUTPLAYED BY YOU

He wins every game. She wins every argument.

"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"

Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."

"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."

Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."

Raka hampir tersenyum. Hampir.

Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

“Kenapa ada nama Raka Adhitama di daftar tamu VIP?”

Nadira menatap layar laptopnya, lalu memperbesar dokumen yang baru saja dikirimkan oleh panitia konferensi pers.

Ia membaca daftar itu sekali lagi.

RAKA ADHITAMA — PERWAKILAN KELUARGA PEMEGANG SAHAM.

Nadira terdiam.

Raka Adhitama yang ia kenal adalah kapten ASTRAL, pemain profesional yang suka membantah kritiknya, dan pria yang pernah mengajaknya makan malam tanpa memberikan alasan yang jelas.

Bukan seseorang yang namanya tercantum dalam daftar tamu VIP sebuah konglomerasi besar.

Mungkin ada orang lain dengan nama yang sama.

Itu kemungkinan yang masuk akal.

Sampai ia melihat foto kecil di sebelah nama tersebut.

Rambut hitam. Rahang tegas. Tatapan dingin yang sangat dikenalnya.

Nadira bersandar di kursinya.

“Oh, kamu pasti bercanda.”

“Nadira?”

Keisha, yang sedang duduk di sofa ruang tamunya sambil mengunyah keripik, menoleh.

“Apa lagi yang dilakukan manusia menyebalkan itu?”

Nadira memutar laptop ke arahnya.

Keisha membaca daftar tersebut, kemudian membelalakkan mata.

“Sebentar. Raka yang itu?”

“Menurutmu ada berapa Raka Adhitama yang wajahnya seperti itu?”

“Bisa saja kembar identik.”

“Keisha.”

“Baik, baik.”

Keisha mendekat ke layar dan membaca keterangan di bawah nama Raka.

“Perwakilan keluarga pemegang saham,” gumamnya. “Bukannya dia pemain esports?”

“Dia memang pemain esports.”

“Terus kenapa namanya ada di acara perusahaan?”

“Itulah yang sedang ingin kuketahui.”

Keisha meletakkan keripiknya.

“Jangan bilang kamu baru menyadari dia berasal dari keluarga kaya.”

“Aku tidak pernah mengatakan dia miskin.”

“Tapi kamu juga tidak pernah bilang dia punya hubungan dengan Adhitama Global.”

“Karena aku memang tidak tahu!”

Nadira menutup laptopnya dengan sedikit lebih keras daripada yang diperlukan.

Ia bukan marah karena Raka memiliki latar belakang keluarga yang berbeda dari dugaannya. Kekayaan bukan masalah baginya.

Yang mengganggunya adalah kenyataan bahwa pria itu pernah mengatakan dirinya menghadiri acara Adhitama Global sebagai tamu, padahal namanya sekarang tercantum sebagai perwakilan keluarga pemegang saham.

Ada sesuatu yang tidak cocok.

Dan Nadira tidak menyukai ketidakcocokan yang tidak bisa dijelaskan.

“Jadi, kamu akan bertanya langsung kepadanya?” tanya Keisha.

Nadira terdiam sejenak.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Karena aku ingin tahu apakah ada penjelasan yang masuk akal sebelum menuduh seseorang menyembunyikan sesuatu.”

Keisha tersenyum miring.

“Wah. Kamu mulai terdengar seperti orang yang sedang membela tersangka.”

Nadira mengambil bantal sofa.

Keisha langsung mengangkat kedua tangan.

“Aku diam!”

Namun, setelah sahabatnya kembali sibuk dengan keripik, Nadira membuka laptopnya lagi.

Nama Raka masih terpampang di layar.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia merasa ada bagian dari pria itu yang sama sekali tidak dikenalnya.

Dan perasaan itu jauh lebih mengganggu daripada yang ingin ia akui.

Raka menerima undangan resmi ke konferensi pers tersebut langsung dari sekretaris ayahnya.

Bukan sebuah kebetulan.

Ayahnya ingin memastikan ia hadir.

“Acara ini penting bagi perusahaan,” ujar Adrian melalui telepon. “Kamu perlu mulai membiasakan diri menghadiri pertemuan resmi.”

“Aku sudah bilang akan datang ke rapat direksi.”

“Bagus. Jadi, kamu juga akan menghadiri acara ini.”

Raka mengusap pelipisnya.

“Ayah, aku punya jadwal latihan.”

“Kamu bisa mengaturnya.”

“Turnamen nasional tinggal beberapa hari lagi.”

“Dan perusahaan ini akan tetap ada setelah turnamenmu selesai.”

Raka menahan napas.

Mereka kembali ke percakapan yang sama, dengan argumen yang sama, seolah tidak ada seorang pun yang pernah mendengar pendapat pihak lain.

“Aku akan datang,” katanya akhirnya. “Tapi aku tidak akan memberikan pernyataan tentang masa depanku di perusahaan.”

“Kita akan membicarakannya nanti.”

Telepon terputus.

Raka meletakkan ponsel di meja, lalu membuka undangan yang dikirimkan kepadanya.

Acara itu seharusnya hanya menjadi salah satu kewajiban keluarga yang harus ia selesaikan.

Namun, ketika melihat daftar media yang diundang, ia menemukan satu nama yang membuatnya berhenti membaca.

NADIRA PRAMESWARI — MEDIA ESPORTS.

Ia memejamkan mata.

Tentu saja.

Dari semua jurnalis yang mungkin ditugaskan menghadiri acara tersebut, harus Nadira yang datang.

Raka mengambil ponselnya dan membuka percakapan mereka.

Jarinya sempat mengetik sebuah pesan.

Jangan datang.

Ia menatap kalimat itu beberapa detik sebelum menghapusnya.

Ia tidak berhak melarang Nadira melakukan pekerjaannya.

Terlebih lagi, jika ia benar-benar mengirim pesan tersebut, perempuan itu pasti akan langsung bertanya mengapa.

Dan Raka tidak memiliki jawaban yang tidak akan memperburuk keadaan.

Akhirnya, ia hanya mengirimkan satu pesan.

Raka: Kamu jadi datang ke konferensi pers itu?

Balasan Nadira muncul tidak lama kemudian.

Nadira: Jadi.

Raka: Baik.

Nadira: Hanya itu?

Raka: Memangnya kamu mengharapkan pidato?

Nadira: Aku berharap penjelasan.

Raka menatap layar.

Raka: Tentang apa?

Nadira: Kita bicarakan nanti.

Ia membaca pesan tersebut dua kali.

Nadira jelas sudah melihat sesuatu.

Pertanyaannya tinggal seberapa banyak yang telah ia ketahui.

Hari konferensi pers tiba dengan suasana yang jauh lebih meriah daripada perkiraan Nadira.

Bagian depan gedung Adhitama Global dipenuhi kendaraan tamu undangan, sementara para jurnalis berbaris di meja registrasi. Logo perusahaan terpampang di layar besar di belakang panggung, berdampingan dengan identitas program investasi teknologi digital yang akan diumumkan.

Nadira menyerahkan kartu identitas medianya dan menerima tanda akses.

“Selamat datang. Silakan menuju area pers di sebelah kiri,” kata petugas.

Ia mengangguk, kemudian berjalan memasuki aula.

Ruangan itu luas, dengan meja panjang untuk para pembicara dan deretan kursi yang telah disiapkan bagi tamu undangan. Beberapa eksekutif berbincang dengan investor, sementara fotografer sibuk mencari posisi terbaik.

Nadira mengeluarkan buku catatannya.

Ia datang untuk bekerja.

Apa pun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan urusan pribadinya dengan Raka mengacaukan penilaiannya.

“Jangan-jangan kamu datang khusus untuk melihatku.”

Suara yang sangat dikenalnya terdengar dari belakang.

Nadira menoleh.

Raka berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih. Rambutnya tertata rapi, dan tidak ada jaket ASTRAL yang biasa ia kenakan.

Untuk sesaat, Nadira kesulitan menyelaraskan penampilan pria di hadapannya dengan sosok kapten yang biasa berdebat dengannya di ruang latihan.

Raka terlihat berbeda.

Bukan sekadar lebih formal.

Ia tampak seperti seseorang yang sudah terbiasa berada di ruangan itu.

Nadira segera mengembalikan ekspresinya menjadi tenang.

“Percaya dirimu memang tidak pernah kehabisan bahan bakar.”

“Jadi, kamu tidak datang untuk melihatku?”

“Aku datang untuk meliput perusahaan ini.”

“Syukurlah. Aku sempat khawatir akan menjadi objek pemberitaan lagi.”

“Tenang. Aku tidak akan menulis tentang jasmu.”

Raka melirik pakaiannya sendiri.

“Kenapa? Ada yang salah?”

“Tidak. Hanya saja, aku baru tahu kamu punya kemampuan mengenakan pakaian yang tidak membuatmu terlihat seperti hendak bermain gim selama dua belas jam.”

Raka tertawa kecil.

Namun, ketika Nadira kembali menatapnya, senyumnya perlahan menghilang.

“Kamu sudah melihat daftar tamu?” tanyanya.

“Sudah.”

“Dan kamu tidak ingin bertanya apa pun?”

Nadira mengangkat alis.

“Kamu ingin aku bertanya?”

Raka terdiam.

Sebelum ia sempat menjawab, seorang staf menghampiri mereka.

“Tuan Raka, Pak Adrian meminta Anda bergabung dengan keluarga di ruang persiapan.”

Nadira membeku.

Tuan Raka.

Pak Adrian.

Keluarga.

Tiga potongan informasi yang tiba-tiba terasa jauh lebih penting daripada sebelumnya.

Raka mengangguk kepada staf itu, lalu kembali menatap Nadira.

“Aku harus pergi.”

Nadira mengangguk pelan.

“Tentu.”

Raka melangkah menjauh, tetapi suara Nadira menghentikannya.

“Raka.”

Ia berbalik.

Nadira menatapnya tanpa senyum.

“Aku tidak akan menanyakan apa pun di sini. Tapi setelah acara ini selesai, aku ingin kamu menjelaskan sesuatu kepadaku.”

Raka tidak langsung menjawab.

“Baik,” katanya akhirnya.

“Dan jangan berbohong.”

Tatapan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya, Raka tidak memiliki balasan jenaka untuk menyelamatkan suasana.

“Aku akan berusaha.”

Nadira mengerutkan kening.

“Berusaha?”

Namun, Raka sudah kembali berjalan menuju ruang persiapan.

Nadira berdiri diam, menatap punggungnya yang semakin jauh.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah konferensi pers itu.

Tetapi satu hal sudah pasti.

Raka Adhitama bukan sekadar pemain esports yang kebetulan berasal dari keluarga berada.

Ada rahasia besar yang menghubungkan pria itu dengan perusahaan yang sedang ia liput.

Dan cepat atau lambat, ia akan mengetahui kebenarannya.

Lampu panggung menyala ketika pembawa acara mulai memperkenalkan jajaran pimpinan Adhitama Global.

Nadira duduk di area pers, pena siap di tangan.

Ia mencatat nama-nama yang disebutkan, memperhatikan setiap pernyataan, dan sesekali mengangkat kamera untuk mengambil foto.

Semuanya berjalan sesuai rencana.

Sampai pembawa acara menyampaikan pengumuman terakhir.

“Untuk menutup sesi perkenalan hari ini, kami mengundang putra tunggal sekaligus calon penerus keluarga Adhitama, yang juga akan mulai terlibat dalam pengembangan strategi bisnis perusahaan, Tuan Raka Adhitama.”

Pena Nadira terlepas dari tangannya.

Di atas panggung, Raka melangkah maju.

Ia berdiri di samping Adrian, menerima tepuk tangan para tamu, lalu menghadap kamera dengan ekspresi tenang yang tidak pernah benar-benar ia tunjukkan ketika bersama Nadira.

Tidak ada keraguan dalam gerakannya.

Tidak ada kebingungan.

Seolah-olah ia memang dilahirkan untuk berdiri di sana.

Nadira hanya bisa menatap.

Pria yang selama ini ia kritik, ia tantang, dan ia anggap sebagai pemain yang terlalu percaya diri ternyata adalah pewaris salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia.

Dan pria itu tidak pernah memberitahunya.

Ketika Raka mengangkat pandangan ke arah area pers, mata mereka bertemu.

Untuk sesaat, ekspresi tenangnya retak.

Nadira tidak tersenyum.

Ia hanya menatapnya dengan satu pertanyaan yang tidak perlu diucapkan.

Sejak kapan kamu berencana memberitahuku?

Raka tahu ia tidak bisa lagi menghindar.

Bukan kali ini.

Bukan setelah semua orang di ruangan itu mengetahui sesuatu yang justru ia sembunyikan dari perempuan yang mulai berarti baginya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!