Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kasta
Suasana di dalam kamar tidur bernomor dua itu mendadak hening, menyisakan deru napas keduanya yang saling berkejaran. Genggaman tangan Mita pada kejantanan Bayu terasa hangat, mengunci seluruh perhatian pria tegap di hadapannya.
"Dan tadi malam di bak mandi adalah batas akhir pengujianku," kata Mita dengan suara yang melembut, menatap langsung ke dalam manik mata Bayu dengan ketulusan yang jarang ia tunjukkan pada dunia luar. "Di sana aku tahu... kamu adalah laki-laki yang benar-benar aku sukai."
Bayu tetap diam, membiarkan dadanya yang bidang naik turun mengatur napas yang bergemuruh.
Mita melangkah satu babak lebih dekat, mengikis jarak di antara tubuh polos mereka hingga menyisakan beberapa sentimeter saja. "Memang umurku sudah hampir tiga puluh tahun... Apa kamu berniat menolakku?" tanya Mita dengan nada yang sedikit ragu, namun matanya memancarkan kilat kepemilikan yang kuat.
"Sesuai dengan perjanjian awal," kata Bayu memotong dengan nada suara yang dalam, mengingatkan kembali pada aturan mutlak yang dibuat wanita itu di tepi kolam renang kemarin malam: tidak ada penolakan.
Mita menggelengkan kepalanya pelan, sebuah senyuman manis terukir di bibirnya. "Bukan itu maksudku Bay...
Tolong jelaskan secara jujur sebagai seorang pria, bukan sebagai pelayan pribadiku."
Bayu menatap lurus ke arah mata Mita, mencari kesungguhan di sana. "Lalu... apa maumu, Bos?"
"Aku mau kamu jadi lelakiku... seutuhnya," kata Mita dengan mantap, menyatakan keinginannya yang paling dalam malam itu.
"Apa Anda yakin...?" tanya Bayu memastikan sekali lagi, memberikan kesempatan terakhir bagi sang bos untuk menarik kembali kata-katanya sebelum segalanya melangkah terlalu jauh dan tak bisa diubah kembali.
Mita tidak menjawab pertanyaan lisan dari Bayu. Namun, gerakan tangannya yang mulai melepaskan semua apa yang ada pada tubuhnya membuka kaitan bra hitamnya dan membiarkan helai pakaian dalam terakhirnya merosot ke atas lantai itulah jawaban bisu dari Mita. Tubuh indahnya kini terekspos sepenuhnya tanpa sekat di hadapan Bayu, menantang sang pria untuk segera mengambil haknya.
Melihat respons yang begitu berani dari wanita di depannya, seluruh pertahanan dan kontrol diri yang dibangun Bayu sejak semalam runtuh total. Naluri kejantanan murninya bergejolak hebat. Dengan satu gerakan cepat, dia menarik pinggang ramping Mita, mengangkat tubuh wanita itu dan menghempaskannya dengan lembut di atas ranjang besar.
Momen tersebut menandai perubahan besar dalam dinamika hubungan mereka, di mana batasan formalitas antara bos dan pelayan pribadi runtuh sepenuhnya. Ketegangan yang selama ini terbangun di antara keduanya berganti menjadi kedekatan yang intens di dalam kamar tersebut. Bayu menunjukkan komitmennya secara emosional, melupakan status pekerjaan yang selama ini membatasi interaksi mereka, sementara Mita menerima kehadiran Bayu sepenuhnya sebagai sosok yang ia pilih.
Suasana di dalam kamar tidur bernomor dua itu perlahan mulai tenang, hanya menyisakan suara deru napas keduanya yang perlahan kembali teratur. Sisa-sisa kehangatan dari pertarungan sengit sebelumnya masih menyelimuti udara.
"Aku bingung," kata Bayu dengan suara berat yang masih sedikit terengah-engah setelah bekerja keras mengerahkan seluruh tenaganya di atas ranjang.
Pria tegap itu mengubah posisinya menjadi duduk bersandar di kepala ranjang yang empuk, menatap kosong ke langit-langit kamar.
Mita yang berbaring di sebelahnya dengan tubuh yang hanya tertutup sebagian oleh selimut sutra, perlahan bergeser mendekat. Dia menyandarkan kepalanya yang manja di dada bidang Bayu yang masih berkeringat.
"Bingung kenapa, sayangku...?" kata Mita lembut, dengan berani mengubah panggilannya dari 'Bay' menjadi sebuah sapaan penuh kasih sayang yang hangat.
Bayu melirik wanita di pelukannya, mengusap rambut Mita yang sedikit berantakan. "Apa yang membuatmu menyukaiku?" tanya Bayu, menyuarakan keraguan yang sejak semalam mengusik logikanya. Bagaimana bisa wanita sesukses Mita jatuh hati pada pria yang setahun terakhir hanya menjadi pelayan kumal?
Mita mendongak, menatap lekat-lekat kedua mata tegas Bayu. "Apa kamu enggak sadar?" tanya Mita balik dengan senyuman tipis. "Kamu itu tampan Bay. Badanmu juga sangat bagus dan atletis.
Tapi... dari awal aku mengamatimu, aku selalu bingung kenapa kamu malah mengaku tidak pernah punya pacar seumur hidupmu... Makanya, jujur saja aku sempat mengira kalau kamu itu 'belok' alias suka sesama jenis."
Bayu hanya bisa mendengarkan tanpa memotong, membiarkan Mita menuntaskan penjelasannya."Lalu, karena rasa penasaranku itu, aku lanjutkan tes untuk kamu di kamar mandi dan ruang makan kemarin," lanjut Mita, jemarinya bergerak memainkan bulu-bulu halus di dada Bayu.
"Dan di sana... kamu membuktikan segalanya. Kamu tetap menghargaiku sebagai wanita dan menjaga batasanmu meskipun aku sudah memancingmu habis-habisan. Kamu punya harga diri dan kehormatan, itu yang membuatku jatuh cinta."
"Sudahlah..." kata Bayu mengembuskan napas pasrah, menyunggingkan senyum tipis yang getir. "Lagipula, kalau semisal aku menolakmu tadi pun ya percuma kan?
Kamu bosnya.
"Mendengar kalimat pasrah itu, raut wajah Mita langsung berubah serius. Nada suaranya yang manja seketika sedikit meninggi, menuntut kepastian.
"Apa kamu... sama sekali enggak menyukaiku, Bay?"
Bayu terkekeh pelan melihat ekspresi cemas wanita berkuasa di depannya.
"Hehe, bohong kalau aku bilang aku tidak menyukaimu," kata Bayu jujur.
Pria normal mana yang tidak akan terpikat oleh kecantikan, keseksian, dan perhatian yang diberikan Mita.
"Lalu... apa lagi yang membuatmu ragu...?" tanya Mita, menatap Bayu dengan pandangan yang mencari kejelasan.
"Status," kata Bayu singkat dan padat. Kalimat itu mewakili kenyataan pahit bahwa saat ini dia hanyalah seorang pelayan miskin yang digaji oleh Mita, sementara Mita adalah seorang direktur utama kaya raya.
Kasta sosial mereka saat ini terlampau jauh berbeda.
"Owh, urusan itu... Hahaha, Bayu... Bayu..." Tawa Mita pecah, terdengar begitu renyah di telinga Bayu. Dia menggelengkan kepalanya gemas melihat jalan pikiran lelakinya yang terlalu kaku. "Kamu tidak perlu memikirkan hal-hal seperti itu, Sayang. Urusan uang, perusahaan aku tidak kekurangan sedikit pun.
Harta bisa dicari.
Yang selama ini belum pernah aku miliki di dunia bisnisku yang kejam... hanyalah seorang pria yang benar-benar tulus.
"Bayu menaikkan sebelah alisnya, sengaja membalikkan pertanyaan untuk menggoda wanita di pelukannya.
"Apakah aku saat ini... belum dianggap sebagai pria yang memiliki ketulusan itu?"
Mita yang gemas mendengar pertanyaan retoris dan wajah polos Bayu tidak bisa lagi menahan hasrat wanitanya. Tanpa banyak bicara, dia langsung menyibak selimut, bergerak lincah menaiki tubuh kekar Bayu yang sedang bersandar, memosisikan dirinya duduk di atas perut tegap pria itu.
"Ya, sekarang aku sudah memilikinya!" kata Mita dengan tatapan mata yang berkilat penuh gairah yang kembali menyala.
Mita menundukkan kepalanya, mengunci bibir Bayu dengan sebuah ciuman yang panas dan menuntut. Dan dalam hitungan detik, atmosfer di dalam kamar nomor dua itu kembali memanas secara drastis. Runtuh sudah sisa-sisa keraguan finansial di antara mereka, dan pertempuran sengit di atas ranjang itu pun kembali berlanjut dengan jauh lebih membara hingga menjelang siang hari.