NovelToon NovelToon
Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Lukisan Dari Tahun Yang Belum Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: Diva Devira

SINOPSIS
.
.
.
.
.

Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.

Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.

Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.

Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.

Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.

Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?

Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: TAMU DARI JALAN TIMUR

Tiga hari setelah Ruyin menyalin sebait sajak di mejanya, rumah Shen menerima tamu yang tidak diundang tetapi disambut seolah sudah lama ditunggu.

Pagi itu berjalan seperti pagi-pagi lain. Pelayan mengepel serambi dengan kain basah, dapur mengepulkan bau kaldu, dan Nyonya Lin sedang memilih benang bersama seorang pelayan ketika pengurus rumah datang tergesa membawa kabar bahwa sebuah tandu berhenti di depan gerbang. Dari lambang di tirainya, itu tandu Nyonya Qiao dari Jalan Timur.

"Qiao?" Nyonya Lin meletakkan gulungan benangnya, dan wajahnya melunak. "Sudah hampir setahun ia tidak datang. Cepat, siapkan teh dan kue kacang yang kemarin."

Ruyin dipanggil dari serambi barat. Ia merapikan lengan bajunya sambil berjalan, dan tidak memikirkan apa pun kecuali bahwa ia belum pernah mendengar nama itu.

———

Nyonya Qiao berusia awal lima puluhan, bertubuh bundar, dengan pipi yang tampak selalu hendak tersenyum. Jubahnya cokelat tua berhias sulaman daun ginkgo, dan di tangannya ia menggenggam sebuah bungkusan kertas minyak yang diikat tali kapas. Begitu Ruyin melangkah masuk ke aula samping, ia bangkit dari bantalannya tanpa menunggu diperkenalkan.

"Ah. Ah, ini dia." Ia memandang Ruyin dari atas ke bawah, lalu kembali ke wajahnya. "Dagumu masih dagu yang sama. Kau tidak ingat aku, tentu saja. Waktu kau pergi kau baru setinggi pinggangku."

"Maafkan aku, Nyonya."

"Tidak, tidak. Duduklah." Ia menepuk bantalan di sampingnya. "Suamiku dulu bekerja satu ruang dengan ayahmu, sebelum ia pensiun dan menghabiskan hari-harinya memelihara jangkrik. Ibumu dan aku saling mengirim kain setiap pergantian musim. Ia selalu mengirim yang lebih bagus dan berpura-pura itu sisa."

Nyonya Lin tertawa kecil dari seberang. "Kau juga selalu mengirim manisan buah dan bilang itu gagal dibuat."

"Memang gagal. Hanya saja gagal dengan enak."

Ruyin duduk. Percakapan itu terdengar seperti kain yang sudah lama dipakai, lembut di bagian lipatan. Ia membiarkan dirinya menikmatinya, dan menuang teh untuk tamunya dengan kedua tangan.

"Ini oleh-oleh kecil," kata Nyonya Qiao sambil menyodorkan bungkusan itu. "Buah plum kering dari kebun adikku. Asam sekali, jadi jangan dimakan banyak-banyak."

Ruyin menerimanya. Kertas minyak itu dingin dan sedikit lengket di ujung jari, dan ketika ia mengangkatnya mendekat, tercium bau asam yang tajam bercampur garam. Sesuatu bergerak sebentar di belakang matanya, rasa asam di pangkal lidah dan bunyi gigi yang menggigit sesuatu keras, lalu pergi sebelum ia bisa menyentuhnya. Mungkin hanya karena ia membayangkan asamnya. Ia meletakkan bungkusan itu di meja dan tidak memikirkannya lagi.

———

"Kau tidak banyak berubah," kata Nyonya Qiao sambil menyesap tehnya. "Kau dulu juga begitu. Anak yang lebih banyak melihat daripada bicara."

"Benarkah?"

"Orang dewasa sedang bicara, kau duduk di tangga belakang aula, tidak masuk dan tidak pergi, hanya mendengarkan. Ibumu sampai menyuruh pelayan menaruh bantal di sana supaya kau tidak masuk angin." Ia tersenyum pada Nyonya Lin. "Ingat?"

"Tangga belakang." Nyonya Lin mengangguk pelan. "Ya. Ia memang suka di sana."

Ruyin tidak mengenali tangga itu. Ia tahu ada tangga di belakang aula, tetapi yang ia ingat dari rumah ini lebih banyak halaman timur dan koridor. "Mungkin," katanya.

"Satu kali," lanjut Nyonya Qiao, matanya menerawang geli, "ketika umurmu tujuh atau delapan tahun, suamiku dan beberapa rekannya sedang membicarakan seorang pejabat daerah yang dipindahkan. Kau duduk di tangga seperti biasa. Lalu kau masuk, begitu saja, dan bertanya kepada suamiku, 'Kalau orang pindah karena dihukum, apakah rumahnya ikut dihukum juga?'"

Beberapa pelayan di sudut menahan tawa. Ruyin ikut tersenyum, dan merasa pipinya sedikit panas.

"Suamiku tidak bisa menjawab. Ia terbatuk dan bilang itu urusan orang besar." Nyonya Qiao tertawa sampai bahunya berguncang. "Sampai sekarang ia masih menyebutnya setiap kali ada pejabat dipindahkan. Ia bilang anak Shen itu lebih tajam daripada separuh pegawai kantornya."

Nyonya Lin ikut tersenyum. Tetapi ketika Nyonya Qiao menyebut "tujuh atau delapan tahun", cawan di tangannya berhenti sebentar di udara, tidak lebih dari satu napas, lalu turun ke meja dengan tenang.

"Anak kecil memang suka bertanya yang aneh-aneh," katanya. "Dan mereka berubah. Yang tajam waktu kecil bisa menjadi sangat pendiam."

"Itu benar." Nyonya Qiao mengangguk. "Lihat saja Yucheng. Dulu ia anak paling berisik di Jalan Timur."

———

Yucheng muncul menjelang tengah hari, jubahnya sedikit kusut dari ruang baca, dan langsung memberi hormat dengan cara yang membuat Nyonya Qiao menepuk lututnya sambil tertawa.

"Lihat, lihat. Sudah setinggi pintu. Dulu kau memanjat pagar rumahku untuk mencuri jambu."

"Sekali saja, Nyonya, dan itu karena ditantang."

"Ditantang oleh siapa?"

"Oleh... kawan akademi." Yucheng tersenyum canggung, dan Ruyin menyadari ia tidak menjawab dengan nama. Nyonya Qiao tidak menanyakannya lagi.

Mereka berbincang sampai teh habis. Nyonya Qiao bercerita lagi tentang pertanyaan Ruyin kecil, dan menambahkan, "Aku ingat waktu itu kau memakai jubah merah dan sedang makan buah plum kering. Kau terus menggigitnya meski wajahmu mengerut."

"Bukan begitu." Yucheng menggeleng lembut sambil menuang teh untuk dirinya sendiri. "Kalau tidak salah, jubahnya hijau. Yang merah itu waktu tahun baru, dan plum keringnya bukan hari itu."

Nyonya Qiao mengerutkan dahi, lalu tertawa. "Ah, benar juga. Mungkin aku mencampur dua hari. Kau memang selalu mengingat pakaian adikmu lebih baik daripada ibumu sendiri."

"Aku hanya kebetulan melihat."

Ruyin memandang kakaknya sebentar, dan Yucheng meneguk tehnya tanpa menoleh.

———

Nyonya Qiao pamit ketika matahari sudah condong. Ruyin mengantarnya sampai gerbang, dan perempuan itu menggenggam tangannya sekali lagi dengan hangat sebelum naik ke tandu. "Datanglah ke Jalan Timur. Aku akan membuatkan manisan yang gagal."

Tandu itu bergoyang menjauh, dan Ruyin berdiri lama di serambi, memandang jalan yang kembali lengang.

Ia mencoba memanggil kembali kejadian yang baru diceritakan: seorang anak kecil di tangga belakang, pertanyaan tentang rumah yang ikut dihukum, jubah hijau atau merah, plum kering yang asam. Ia mencarinya dengan sungguh-sungguh. Tidak ada gambar yang muncul. Tidak ada suara. Hanya perasaan samar bahwa orang-orang sedang bercerita tentang seorang anak bernama Shen Ruyin yang seharusnya adalah dirinya, dan yang entah mengapa terasa sedikit jauh, seperti kenalan lama yang hanya ia dengar dari mulut orang lain.

Paman Gu, Nyonya Fang, Nyonya Cen, kakaknya, ibunya, dan kini Nyonya Qiao. Masing-masing memegang selembar masa kecilnya, dan tidak ada dua lembar yang berasal dari sudut yang sama.

Selama ini ia mencari bagian masa lalunya yang hilang. Mungkin yang lebih sulit adalah menerima bahwa masa lalu itu tidak pernah hanya miliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!