NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.

Namun, satu hal tak pernah berubah.

Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.

Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.

Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Ayah Dan Anak.

Setelah menempuh perjalanan panjang, Jun-seok sampai di penthouse-nya. Rumah itu menyambut Jun-seok dengan hening yang sudah akrab baginya. Lampu menyala otomatis saat pintu terbuka. Udara di dalam rumah terasa sejuk, bersih, dan sunyi. Tidak ada suara televisi, tidak ada langkah kaki, tidak ada sapaan.

Jun-seok menaruh sepatunya dengan rapi di rak, menggantung jaket tipisnya, lalu berjalan masuk tanpa tergesa.

Ia tidak memanggil siapa pun karena tidak perlu. Jam di dinding ruang tengah menunjukkan pukul enam lewat sedikit. Jun-seok menuju kamarnya, menaruh tas di meja belajar, lalu mengambil pakaian tidur, rutinitasnya jelas dan teratur, seolah telah dihafal oleh tubuhnya sendiri.

Ia mandi dengan cepat, mengeringkan rambutnya seadanya, lalu berganti piyama abu-abu yang longgar.

Beberapa menit kemudian, ia sudah duduk di depan laptop. Layar menampilkan kelas les daring yang telah dimulai. Jun-seok memasang earphone, menyapa singkat, lalu membuka buku catatan dan tabletnya. Tangannya bergerak cekatan, mencatat poin-poin penting dan sesekali ia mengangguk pelan saat pengajar menjelaskan.

Di sela jeda kelas, Jun-seok membuka aplikasi Baemin dari tabletnya, lalu memilih menu yang sudah biasa dipesannya dan mengatur waktu pengantaran. Ia selalu tahu apa yang harus ia lakukan, tidak banyak waktu terbuang percuma semuanya berjalan mengikuti rutinitas yang telah ia bangun sendiri.

Tanpa terasa, waktu berlalu cepat. Jarum jam merangkak perlahan menuju angka delapan.

Pintu depan terbuka dengan suara pelan.

Junho masuk tanpa banyak suara jasnya masih rapi, meskipun dasinya sudah dilepas dan beberapa kancing teratas kemejanya terbuka. Wajahnya tampak lelah setelah seharian bekerja, tetapi langkahnya tetap tenang.

Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap pemandangan di ruang tamu yang luas itu. Jun-seok ada di sana, duduk di meja ruang tamu dengan laptop menyala di hadapannya, buku terbuka, pensil berada di tangannya, dan wajahnya tampak begitu fokus.

Tatapannya tidak berkelana ke mana-mana, seolah seluruh perhatiannya hanya tertuju pada pelajaran di layar. Junho berdiri beberapa detik hanya untuk mengamati anak itu.

Ada rasa hangat yang perlahan naik di dada Junho, rasa bangga yang sederhana, tetapi sulit disembunyikan. Namun, di baliknya muncul sesuatu yang lebih berat tentang kesadaran bahwa putranya yang masih begitu muda telah terbiasa mengatur hidupnya sendiri tanpa banyak meminta bantuan.

Junho akhirnya melangkah mendekat.

“Adeul....” panggil Junho, suaranya rendah.

Panggilan itu membuat Jun-seok menoleh dia segera melepas salah satu sisi earphone dari telinganya.

“Kamu sedang les bahasa?” tanyanya, membuat Jun-seok mengangguk.

“Iya, Daddy... bahasa Jepang,” katanya, membuat Junho mengangguk pelan.

“Kamu sudah makan?” tanyanya lagi sembari menatap layar Zoom yang masih berlangsung.

“Belum. Makanannya sudah diantar tapi Seok akan menyelesaikan les-nya dulu. Masih ada satu kelas tambahan lagi.” Jawabannya tenang, seolah itu hal paling wajar di dunia.

“Baiklah... lalu Mommy?” tanya Junho lagi.

Jun-seok menatap layar sebentar, memastikan pengajarnya masih memberikan penjelasan, lalu kembali memandang ayahnya.

“Belum pulang. Tadi juga sopir bilang Daddy dan Mommy akan pulang malam,” jawabnya.

Junho menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan ada sedikit rasa kecewa yang mengendap di dadanya. Tadi, tanpa sadar, ia sempat berharap Nala sudah lebih dulu berada di rumah. Namun, untuk sekarang, ia hanya bisa menahan perasaan itu dan berusaha memaklumi kesibukan istrinya.

“Oh,” katanya singkat. “Baik. Lanjutkan belajarnya. Setelah selesai, panggil Daddy. Kita makan malam bersama.”

Junho tidak menunjukkan apa pun dari kekecewaan yang dirasakannya dia memilih melangkah menuju kamar, lalu menutup pintu tanpa suara berlebihan. Di balik pintu itu, ia bersandar sejenak matanya terpejam, sementara pikirannya kembali pada harapan sederhana yang tadi sempat muncul saat pertama kali memasuki rumah.

Ia sempat berpikir Nala sudah berada di rumah namun, ternyata tidak ada.

Junho mandi lebih lama dari biasanya air hangat mengalir membasahi tubuhnya, menutupi desah napas berat yang sesekali lolos dari bibirnya. Ia berdiri cukup lama di bawah pancuran, membiarkan air mengurai sedikit lelah yang menempel sejak pagi.

Setelah itu, ia mengenakan kaus rumah dan celana santai, lalu mengambil ponselnya dia kemudian mencari nomor Nala.

Satu panggilan.

Tidak terangkat.

Satu pesan.

Tidak terbaca.

Akhirnya, ia menyerah untuk sesaat Junho menatap layar ponselnya selama beberapa detik sebelum meletakkannya kembali. Ia tidak marah, tidak pula curiga, meskipun ada sedikit rasa kecewa yang sulit ia abaikan. Bagaimanapun, mereka memiliki kesepakatan dan batas waktu yang jelas.

Sejak awal, Junho dan Nala telah sepakat bahwa pukul sepuluh malam adalah batas waktu Nala berada di luar rumah. Jika lewat dari waktu tersebut apa pun alasannya Junho yang akan menjemputnya.

Tanpa menunggu Jun-seok memanggil Junho keluar untuk mengajaknya makan malam, Junho keluar dari kamarnya karena tahu les putranya sudah berakhir. Saat tiba di ruang makan, anak itu sudah duduk di sana. Ia hanya diam sambil menggerak-gerakkan kakinya yang menggantung dari kursi, jelas sedang menunggu ayahnya.

Junho ikut duduk berhadapan dalam keheningan yang terasa nyaman.

“Lesnya bagaimana?” tanya Junho akhirnya.

“Sulit, tetapi masih bisa dimengerti,” jawab Jun-seok jujur.

“Bagus... pelajaran mana yang sulit?” tanya Junho sembari menyodorkan piring dan sendok kepada putranya.

“Semua, tetapi yang paling-paling sulit itu... eum... les bahasa, terutama bahasa Indonesia dan Jepang.” Jun-seok berhenti sejenak, lalu menatap ayahnya yang sudah mulai makan. Junho tidak menyela, membiarkan putranya menyusun kalimatnya sendiri.

“Daddy... kenapa Seok harus les dua bahasa itu? Kenapa tidak bahasa Inggris saja? Bukankah itu cukup?” lanjutnya.

“Karena bahasa Indonesia adalah bahasa ibu dari Mommy. Kalau kamu mau main ke sana, kamu harus bisa berbahasa seperti orang-orang di sana agar dapat bersosialisasi. Tidak semua orang di sana mengerti bahasa Inggris dan Korea,” jawab Junho tenang.

Jun-seok menatap makanan di hadapannya yang sama sekali belum disentuh. Alisnya sedikit berkerut, seolah masih mencoba memahami alasan di balik pelajaran yang menurutnya tidak terlalu diperlukan. Tangannya hanya memainkan ujung sendok, sementara pikirannya sibuk mencerna penjelasan sang ayah.

"“Lalu bahasa Jepang? Untuk apa? Kita tidak tinggal di sana... Tetapi bahkan Mommy saja Daddy suruh belajar bahasa Jepang?” lanjutnya, yang membuat Junho benar-benar menghentikan gerakan sumpitnya.

Ia menatap Jun-seok bukan dengan ekspresi terkejut, melainkan dengan ketenangan seorang ayah yang sedang memilih jawaban paling jujur, tetapi tetap dapat diterima oleh logika anak sepuluh tahun yang terlalu pintar untuk dihindari dengan alasan seadanya.

“Karena hidup,” jawabnya akhirnya.

Jun-seok mengerjap.

“Karena hidup?” ulangnya pelan, seperti sedang menguji apakah kalimat itu benar-benar masuk akal. Junho mengangguk kecil lalu menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu melipat kedua tangannya di atas meja.

“Tidak semua hal dipelajari karena kita membutuhkannya sekarang. Beberapa hal dipelajari karena suatu hari... kita akan bersyukur sudah siap,” lanjutnya.

Jun-seok menunduk dia mengaduk nasi di piringnya dengan ujung sendok, membuat butiran nasi bergerak perlahan tanpa sedikit pun berniat untuk menyuapkannya ke mulut.

“Tapi Seok lelah,” gumamnya jujur. “Semua orang di sekolah les piano, biola, atau melukis. Atau hanya les pelajaran dasar saja. Seok malah les bahasa yang susah-susah,” lanjutnya ragu.

Suaranya mengecil di akhir kalimat, sejenak dia takut ayahnya akan marah karena mendengar keluhannya. Jemari kecilnya semakin erat menggenggam sendok, sementara matanya tetap tertunduk.

Junho memperhatikan perubahan kecil itu. Ia tahu putranya bukan sedang membangkang. Jun-seok hanya sedang mencoba mengatakan bahwa ia lelah tanpa tahu bagaimana cara mengatakannya.

“Karena Seok bukan semua orang,” jawab Junho tanpa ragu.

Jun-seok perlahan mengangkat wajahnya tatapannya bertemu dengan mata sang ayah, seolah masih menunggu penjelasan dari kalimat sederhana yang terdengar begitu tegas itu.

“Bahasa Jepang itu bukan soal tempat tinggal. Itu soal pintu. Beberapa pintu di dunia hanya terbuka jika kamu bisa mengetuknya dengan bahasa yang benar,” lanjutnya.

Jun-seok mengernyit tatapannya masih tertahan pada sang ayah, jelas sedang berusaha memahami maksud perkataan itu. Kalimat Junho terdengar sederhana, tetapi bagi anak berusia sepuluh tahun, maknanya terasa jauh lebih besar daripada sekadar alasan mengapa ia harus belajar bahasa Jepang.

“Mommy juga kelihatan lelah belajar itu. Aku sering melihat Mommy menguap,” katanya lirih.

Sudut bibir Junho bergerak tipis, ada rasa geli yang muncul saat membayangkan Nala berusaha tetap fokus belajar meskipun rasa lelah mulai menyerangnya.

“Mommy tidak belajar karena Daddy menyuruh. Mommy belajar karena dia tidak mau kalah dari dunia. Mommy itu wanita yang penuh ambisi... Dia tidak akan pernah menerima kalau dunia melewatinya begitu saja. Itu sebabnya Mommy tidak pernah berhenti belajar,” katanya.

Jun-seok terdiam dia menatap makanan di hadapannya, seolah perkataan ayahnya sedang ia simpan satu per satu di dalam pikirannya.

“Tapi Daddy... Mommy, kan, sudah tahu banyak hal. Untuk apa belajar lagi?” tanyanya sembari mengambil sendok. Kali ini ia mulai makan perlahan, meskipun sesekali masih melirik ayahnya.

Junho menggeleng pelan.

“Tahu banyak hal bukan berarti cukup, Adeul. Dunia ini terlalu luas jika kita berpuas diri hanya karena kita mampu berenang di satu kolam kecil. Pengetahuan itu bagaikan lautan yang luas... dan semakin jauh seseorang belajar, semakin dia sadar... betapa kecil yang dia tahu,” lanjut Junho.

Jun-seok kembali terdiam sendok di tangannya berhenti sejenak sebelum kembali bergerak perlahan. Ia belum sepenuhnya memahami perkataan itu, tetapi ada sesuatu dalam nada suara ayahnya yang membuatnya tidak ingin membantah.

Namun, setelah dua suapan, rasa penasarannya kembali muncul dan bibir kecilnya kembali terbuka.

“Daddy…”

“Hmm?”

“Kalau Seok besar nanti… Seok harus bisa semua bahasa itu juga?” tanyanya, membuat Junho menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya menggeleng pelan.

“Tidak harus. Tapi Seok harus punya pilihan, karena Daddy dan Mommy tidak ingin hidupmu ditentukan oleh hal-hal yang tidak bisa kamu mengerti,” jawabnya.

Jun-seok kembali menghentikan gerakan sumpitnya dia menatap makanan di hadapannya sesaat, kemudian kakinya kembali bergoyang kecil di bawah meja, seolah pertanyaan berikutnya masih sibuk berputar di dalam kepalanya.

“Berarti… Seok belajar bukan supaya jadi pintar?” tanyanya.

“Bukan. Kamu belajar supaya kamu tidak mudah dibodohi,” jawab Junho tenang.

Jun-seok mengerjapkan mata tampak mencerna jawaban itu, lalu kepalanya sedikit terangkat.

“Seperti koala di cerita Mommy itu?” tanyanya, membuat Junho mengangguk.

“Seperti itu,” jawabnya.

Kalimat sederhana itu membuat Jun-seok terdiam lebih lama dari sebelumnya. Tangannya yang semula hendak mengambil makanan kembali berhenti di udara sebelum perlahan turun.

Ia menatap ayahnya dengan wajah serius, mencoba memahami maksud di balik jawaban tersebut. Tatapan itu tampak terlalu dewasa untuk anak seusianya bukan karena ia telah kehilangan sisi kekanak-kanakannya, melainkan karena rasa ingin tahunya membuatnya selalu ingin memahami sesuatu hingga ke dasarnya.

Junho pun terdiam sesaat tatapan mata putranya membuatnya menyadari sesuatu yang selama ini sering luput dari perhatiannya.

Waktu benar-benar bergerak terlalu cepat, anak kecil yang dahulu masih berada dalam gendongannya kini sudah duduk di hadapannya, mengajukan pertanyaan tentang dunia, pengetahuan, dan alasan mengapa ia harus mempersiapkan diri untuk masa depan.

Tanpa sadar, sudut bibir Junho terangkat tipis ada rasa bangga yang hangat di dadanya, tetapi bersamaan dengan itu muncul kesadaran lain yang membuat dadanya terasa sedikit sesak.

Suatu hari nanti, Jun-seok tidak akan lagi membutuhkan semua jawaban darinya. Dan ketika hari itu tiba, Junho hanya bisa berharap bahwa semua yang ia ajarkan hari ini akan menjadi bekal bagi putranya untuk menemukan jawabannya sendiri.

“Daddy…” kata Jun-seok akhirnya, lebih pelan.

“Hmm?”

“Kalau Seok nanti tidak suka… boleh berhenti?” tanyanya serius, tetapi masih terdengar ragu.

Junho tidak langsung menjawab. Ia menghela napas pelan, meletakkan sumpitnya sejenak sebelum akhirnya berkata,

“Boleh. Tapi berhenti setelah kamu benar-benar mencoba bukan karena lelah di awal,” lanjutnya.

Jun-seok mengangguk kecil.

“Seok akan coba,” katanya. Namun, sesaat kemudian, ia kembali terdiam. “Tapi, Daddy…”

Anak itu berhenti sebentar, seolah masih ragu untuk melanjutkan ucapannya.

“Apa lagi?” Junho baru saja menyuapkan satu potong lauk ke mulutnya ketika suara kecil di seberang meja kembali terdengar. Ia menghela napas pelan, menelan makanannya, lalu mengangkat pandangan.

Jun-seok mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua tangannya bertumpu di tepi meja, sementara ekspresinya dipenuhi rasa ingin tahu—jenis ekspresi yang biasanya menjadi pertanda bahwa sebuah pertanyaan panjang dan melelahkan akan segera menyusul.

“Daddy kan tahu banyak hal, padahal Daddy tidak makan brokoli,” katanya perlahan, seperti sedang menyusun sebuah teori besar di dalam kepalanya.

Junho mengernyit tipis.

“…Apa hubungannya?” tanyanya.

“Belum selesai,” potong Jun-seok cepat, jelas tidak ingin alur pikirannya diganggu. Ia menarik napas kecil, lalu melanjutkan dengan wajah semakin serius. “Daddy juga tidak minum susu setiap hari. Dan Daddy tidak sekolah seperti Seok. Tapi Daddy pintar. Kenapa?”

Pertanyaan itu membuat Junho memejamkan mata sejenak.

Satu.

Dua.

Ia membuka matanya kembali tepat ketika Jun-seok melanjutkan dengan nada yang semakin serius.

“Jadi… apa benar kata Yul kalau orang dewasa punya kekuatan super?” katanya pelan, hampir berbisik membuat sumpit Junho berhenti di udara.

“Kekuatan super?” ulangnya datar. Hal itu membuat Jun-seok mengangguk cepat.

“Yul bilang begitu. Katanya kalau sudah dewasa, otak kita otomatis penuh pengetahuan. Seperti… di-download.” Jun-seok menatap ayahnya serius, seolah teori itu merupakan sesuatu yang benar-benar masuk akal. Junho hanya memijat pelipisnya dengan dua jari.

“Yul dan teori-teorinya… Ayah dan anak sama saja,” gumamnya lirih.

Junho menurunkan sumpitnya, bersandar ke kursi, lalu menatap putranya dengan wajah serius sampai Jun-seok ikut duduk lebih tegak.

“Tidak. Orang dewasa tidak memiliki kekuatan super,” jawab Junho tegas.

“Oh…” Jun-seok tampak sedikit kecewa.

“Tapi... kami memiliki satu hal.” Junho mengangkat satu jari. Mata Jun-seok langsung berbinar dia menatap ayahnya penuh antusias.

“Apa?” tanyanya.

“Pengalaman,” jawab Junho tenang.

Namun, Jun-seok justru mengernyit.

“Itu makanan?” tanyanya.

“Bukan.” Junho menggeleng.

“Minuman?” tanyanya lagi.

“Bukan.” Junho kembali menggeleng.

“Vitamin?” lanjutnya, masih berusaha menebak.

Junho tetap menggeleng.

“Pengalaman itu… hasil dari kesalahan, jatuh, gagal, dan mencoba kembali. Semua orang lahir dengan ketidaktahuan, tetapi pengalaman memberi mereka pelajaran. Dan orang-orang yang mau belajar dari pengalaman itu… pada akhirnya akan menjadi lebih mampu,” jawab Junho membuat Jun-seok terdiam sumpit kecil di tangannya berhenti sejenak di atas mangkuk.

“Berarti Daddy dulu juga tidak tahu apa-apa?” tanyanya.

“Daddy dulu bahkan tidak tahu cara makan dengan sumpit,” jawab Junho tenang.

Jun-seok langsung melotot.

“Serius?” tanyanya, benar-benar terkejut.

“Serius.” Junho mengangguk tanpa sedikit pun ragu.

“Daddy bodoh?” celetuknya spontan, membuat sudut bibir Junho terangkat tipis.

“Tidak bodoh. Hanya… belum tahu,” jawabnya.

Jawaban sederhana itu membuat Jun-seok menundukkan kepala. Ia kembali mengunyah makanannya perlahan, tetapi kali ini tidak langsung mengajukan pertanyaan lain. Seolah-olah kalimat ayahnya tadi sedang ia simpan baik-baik di dalam kepalanya.

“Kalau begitu… brokoli dan susu bohong? Kita hanya perlu pengalaman seperti Daddy, nanti akan pintar dan tahu semuanya sendiri?” tanyanya, membuat Junho hampir tersedak.

“Bukan bohong,” katanya cepat. “Brokoli dan susu membantu tubuhmu tumbuh sehat. Tapi otak…” Ia mengetuk pelan kepalanya sendiri dengan ujung jarinya. “Otak tumbuh karena bertanya,” lanjutnya.

Jun-seok mendongak.

“Makanya Seok tanya terus?” Jun-seok menatap lekat ayahnya.

“Iya. Itu bagus,” jawab Junho.

Anak itu tersenyum puas namun, senyumnya hanya bertahan sekitar tiga detik sebelum akhirnya ia kembali membuka mulut.

“Daddy…” ucapnya membuat Junho kembali memejamkan mata, entah sudah untuk yang keberapa kalinya malam itu.

“Apa lagi?” tanyanya, berusaha mempertahankan kesabarannya.

“Kalau Seok sudah dewasa nanti… Seok juga akan tahu banyak hal?” tanyanya.

“Iya.” Junho mengangguk.

“Meski Seok tidak suka brokoli?” tanyanya lagi.

Junho membuka satu matanya, lalu menatap putranya dengan tatapan datar.

“Kamu tetap harus makan brokoli,” jawabnya.

Jun-seok langsung menghela napas panjang dan dramatis. Bahunya turun seolah baru saja menerima keputusan paling berat dalam hidupnya.

“Jadi tidak ada kekuatan super? Sungguh?” tanyanya, masih menyimpan sedikit harapan. Junho menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan,

“Ada satu.” Junho tersenyum tipis membuat mata Jun-seok langsung berbinar.

“APA?” tanyanya hampir berteriak.

“Kemampuan berpura-pura tenang padahal ingin tidur. Orang dewasa ahli dalam berpura-pura. Jadi, itulah kekuatan super kami,” jawab Junho datar sambil melirik jam di dinding.

Jun-seok tertawa kecil, seolah puas dengan jawaban itu. Junho akhirnya bisa kembali mengambil sumpitnya, meskipun ia tahu ketenangan itu hanya sementara. Sebab, anak sepuluh tahun dengan rasa ingin tahu sebesar itu tidak akan pernah benar-benar kehabisan pertanyaan.

Setelah percakapan panjang itu, mereka kembali makan perlahan, tanpa terburu-buru. Suasana di meja makan kembali tenang. Hanya terdengar bunyi sumpit yang sesekali beradu dengan mangkuk dan suara kecil dari pendingin ruangan yang memenuhi ruang makan yang luas.

Di antara beberapa suapan, Junho melirik jam di dinding. Jarumnya menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh.

Masih ada waktu.

Jun-seok menghabiskan makanannya lebih dulu, kemudian meletakkan sumpitnya dan menatap ayahnya.

“Aku boleh lanjut belajar sebentar lagi?” tanyanya, membuat Junho mengangguk.

“Tentu.”

Jun-seok berdiri, merapikan bekas makannya, lalu kembali ke ruang tamu. Ia mengambil kembali bukunya dan duduk di tempat semula. Tidak butuh waktu lama sampai fokusnya kembali tertuju pada layar dan catatan di hadapannya.

Junho tetap duduk sendiri selama beberapa saat.

Tatapannya mengikuti punggung kecil itu dari kejauhan. Ada sesuatu yang hangat memenuhi dadanya ketika melihat putranya kembali tenggelam dalam pelajaran. Namun, di balik kebanggaan itu, terselip perasaan lain yang jauh lebih berat yaitu rasa bersalah.

Anaknya tumbuh terlalu cepat dan Junho tahu, semua itu bukan tanpa sebab. Kesibukan dirinya dan Nala perlahan telah menjadi bagian dari kehidupan Jun-seok. Anak itu terbiasa mengisi waktunya sendiri, terbiasa belajar tanpa harus selalu ditemani, bahkan terbiasa menunggu kedua orang tuanya pulang.

Junho menghela napas pelan, lalu kembali melirik jam di dinding.

Jarum terus bergerak.

Malam semakin pekat, sementara rumah itu perlahan tenggelam dalam keheningan. Hanya suara lembaran buku yang dibalik dan ketukan kecil jemari Jun-seok di atas meja yang sesekali terdengar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!