NovelToon NovelToon
Cinta Dijalur Misi

Cinta Dijalur Misi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: eka sundari

Revan (30), pimpinan tentara elit yang lima tahun tak pulang, mendapat misi mengintai kelompok pemberontak di hutan desa kelahirannya. Selama ini, Revan terlalu sibuk bertugas hingga tidak sempat memikirkan cinta, sang ibu khawatir dan ingin menjodohkan nya.

Di sisi lain, Nara ...bidan ASN cantik yang jago bela diri,pindah tugas ke desa tersebut. Karna menghindar dari beberapa laki laki yang selalu mendekatimya ,maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan membuat ia trauma hingga tak percaya cinta dan enggan menikah.

Takdir mempertemukan mereka di gerbong kereta api. Demi menghindari desakan nikah ibunya via telepon, Revan nekat mengambil diam diam gambar dengan wanita di sampingnya yang sedang tertidur,agar sang ibu tenang, Ia tak menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nara, bidan baru yang siap mengubah jalan hidup dan misinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

alasan pemberontakan

Seminggu telah berlalu sejak kepergian Kapten Revan ke markas besar. Suasana Polindes Desa Bejowangi kini berangsur normal, meski sisa-sisa ketegangan pasca penyerangan masih menyisakan garis kecemasan di hati warga. Di tengah kesibukan melayani pasien, Nara tidak pernah merasa sendiri. Ibu dan Nisa ,sering kali datang berkunjung, membawakan rantang berisi makanan hangat sekaligus menemani Nara berjaga di Polindes.

Namun, perhatian terbesar Nara justru tersita pada satu sudut ruangan tempat Aris, anak dari kelompok pemberontak itu, dirawat.

Seiring berjalannya hari, dinding es yang membekukan hati Aris perlahan luluh. Sentuhan lembut Nara saat membersihkan lukanya, kesabaran Bidan desa itu merawatnya tanpa pandang bulu, serta makanan yang selalu diberinya dengan telaten berhasil meruntuhkan rasa curiga sang remaja.

Sore itu, cahaya matahari temaram menyusup dari balik jendela Polindes yang setengah terbuka. Aris duduk bersandar di ranjang ruang inap, menatap nanar ke arah cairan infus yang berputar lambat.

Nara duduk di kursi kayu tepat di sebelah ranjang, mengupas sebuah apel dengan pisau kecil.

"Makanlah sedikit, Aris,"

ucap Nara lembut, memecah keheningan. Suaranya tidak lagi galak seperti hari pertama mereka bertemu.

Aris menggeleng pelan, lalu beralih menatap Nara. Matanya basah, menyembunyikan luka batin yang jauh lebih dalam ketimbang goresan fisik di tubuhnya.

"Mbak Nara..."

panggil Aris parau, suaranya bergetar hebat.

"Kenapa... kenapa Mbak tetap mau merawat saya? Padahal kelompok kami hampir membunuh orang-orang di desa ini... Padahal kami musuh kalian."

Nara menghentikan kegiatannya. Ia meletakkan pisau dan buah apel itu ke atas piring, lalu menatap lurus ke dalam mata remaja di hadapannya dengan tatapan penuh empati.

"Karena kamu masih anak-anak, Aris,"

jawab Nara pelan, suaranya sarat akan kehangatan seorang kakak.

"Kamu seharusnya memegang pensil dan buku di sekolah, bukan memegang parang beracun di tengah hutan."

Pertahanan Aris runtuh seketika. Air mata yang selama ini ia tahan mati-matian akhirnya tumpah begitu saja. Isakannya pecah, menggema lirih di ruangan yang sepi itu.

"Kami... kami terpaksa, Mbak..."

tangis Aris pecah, jemarinya mencengkeram erat selimut rumah sakit .

"Rumah kami... tanah tempat kakek moyang kami menguburkan pusaka keluarganya... dirampas paksa oleh orang-orang berdasi. Mereka mengusir kami demi proyek pembangunan demi perut mereka sendiri!"

Aris menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat menahan sesak yang teramat sangat.

"Kami tidak punya apa-apa lagi, Mbak! Kami kelaparan! Saat orang-orang itu datang membawa buldoser dan senjata, menutup mata atas tangisan ibu-ibu dan anak kecil... tidak ada hukum yang membela kami! Makanya... makanya kami bergabung dengan menjadi pemberontak. Kami cuma ingin keadilan... kami cuma ingin merebut kembali rumah kami..."

jerit Aris di sela-sela tangisannya, menyuarakan kepedihan hidup di tanah airnya sendiri.

Nara tertegun. Dadanya mendadak terasa sesak mendengar kisah pilu itu. Bayangan tentang ketidakadilan yang merenggut masa depan anak sekecil Aris membuatnya ikut merasakan perih yang luar biasa. Nara bergerak mendekat, lalu dengan perlahan membawa tubuh kurus remaja itu ke dalam pelukannya.

Aris, yang selama ini dibentuk untuk menjadi keras dan tanpa ampun oleh dunia yang kejam, menangis sejadi-jadinya di pelukan Nara. Ia memeluk pinggang Nara erat-erat, menumpahkan segala ketakutan, keputusasaan, dan rindu pada ibunya yang entah berada di mana.

Nara membelai rambut kotor Aris dengan penuh kelembutan, sementara air mata Nara sendiri ikut menetes membasahi bahu baju remaja itu.

"Aku tahu, Aris... aku mengerti betapa sakitnya kehilangan rumah dan keadilan,"

bisik Nara parau di dekat telinga Aris, air matanya menetes jatuh.

"Tapi... dengar suara Mbak..."

Nara melepaskan pelukan itu perlahan, menangkup kedua pipi Aris yang basah oleh air mata, memaksa anak itu menatap matanya yang basah.

"Apapun alasannya... rasa sakit yang kamu rasakan, ketidakadilan yang kalian terima... tidak pernah membenarkan cara kalian merenggut nyawa orang lain yang tidak bersalah,"

ucap Nara tegas namun teramat lembut, suaranya bergetar menahan tangis.

"Kalau kamu membalas kejahatan dengan kejahatan, lalu apa bedanya kamu dengan mereka yang merampas rumah kalian? Dendam hanya akan melahirkan lebih banyak air mata, Aris... lihat ibu kamu di luar sana, apa kamu ingin membuatnya menangis di atas makammu?"

Aris tertegun dalam isakannya. Kalimat itu menohok langsung ke lubuk hatinya yang paling dalam.

"Hidup ini memang tidak adil, Nak,"

lanjut Nara sambil mengusap sisa air mata di pipi Aris dengan ibu jarinya.

"Tapi menyerahkan nyawamu untuk jalan yang salah bukanlah keadilan. Tetaplah hidup... hiduplah untuk ibumu, dan buktikan bahwa kalian bisa bangkit dengan cara yang benar, bukan dengan darah dan air mata orang lain."

Aris menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan isakannya mereda, sementara dekap kehangatan dari seorang Bidan desa perlahan menyembuhkan luka batin yang selama ini membusuk di dadanya.

****

Sementara itu, di halaman markas besar, sengatan matahari siang menyiram tubuh para prajurit elit yang sedang menjalani latihan kebugaran ringan. Meski baru seminggu berlalu dan bahunya baru saja pulih total dari racun parang pemberontak,

Revan tidak betah hanya berdiam diri di kamar perawatan.

Tubuh tegapnya kembali dibasahi keringat, mengolah otot demi menjaga kebugaran fisik.

Di salah satu sudut area latihan, Revan tampak sedang mengangkat beban besi yang cukup berat dengan gerakan konstan. Matanya tetap fokus, namun pikirannya melayang entah ke mana.

Dika, salah satu kapten yang juga rekan seperjuangannya, mendekat sambil membawa handuk kecil di lehernya. Ia meregangkan otot bahunya sebelum melirik Revan dengan tatapan penuh selidik.

"Kapten Revan... kemarin sewaktu habis rapat besar, kenapa dipanggil khusus ke kantor Pimpinan Komandan Besar?"

tanya Dika penasaran. Ia menyeringai tipis, lalu menyenggol bahu Revan santai.

"Ada anak Bos lagi di dalam... Jangan-jangan mau dijodohkan lagi, ya?"

Revan menahan napas sejenak, menghentikan angkatan bebannya di udara. Ia melirik tajam ke arah Dika dengan tatapan dinginnya yang khas.

"Kurang kerjaan," cetus Revan singkat dan datar, lalu kembali menurunkan beban berat di tangannya ke atas matras dengan bunyi dentuman keras.

Dika yang mendadak disembur tatapan maut itu langsung menegakkan badan dan mengambil posisi sikap sempurna secara refleks.

"Siap, tidak Kapten! Siap salah!" seru Dika cepat dengan wajah panik menahan malu, takut kena hukuman push-up lima puluh kali karena lancang mencampuri urusan pribadi komandannya.

Revan tidak membalas lagi. Ia menghela napas panjang, mengusap keringat di dahinya dengan lengan kaos hitam militernya.

Tatapan matanya menerawang jauh menembus pagar pembatas markas. Suasana bising di sekitar area latihan mendadak tersamarkan oleh ingatan Revan pada percakapan penting di ruangan Komandan Besar minggu lalu.

( apakah Revan menerima lamaran pimpinannya atau terus mengejar dan menaklukkan nara,jangan lupa ditunggu bab selanjutnya 😉)

1
sakura
....
es moon: terima sudah mampir, semoga suka ,happy reading
total 1 replies
Rian Moontero
Mampiiirr
es moon: terima kasih, semoga suka..happy reading
total 1 replies
Apis
huuu revan belum jadian asal main kokop aj
es moon: Wkwkwk 😂 Revan emang gercep ya, Kak. Belum jadian udah berani macam-macam.
Terima kasih telah mengikuti kisah cinta Revan dan Nara ❤️ , DiTunggu ya kak kelanjutannya,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!