"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Kabur yang Gagal Total
Sorenya, siapa bilang Kate akan menunggu dengan tenang dan datang lebih awal seperti terakhir kali? Tidak. Kali ini Kate tidak akan melakukannya lagi. Sang putri sudah memiliki taktik yang menurutnya jauh lebih berguna di saat-saat seperti ini. Menemui Jenderal Ardan setelah dibuat malu di depan teman-temannya—meski sebenarnya itu bukan salah Sal—lalu duduk tenang di sini? Bukan tipikal seorang putri yang terkenal galak ini.
Saat ini, dia sebenarnya sudah duduk di tempat yang ditentukan sebagai lokasi bertemunya dia dan Sal, di taman belakang kediaman Ravental. Tetapi otak Kate sudah bekerja lebih awal daripada yang seharusnya.
"Rhea, aku ingin penganan manis yang di atasnya diberi stroberi asli. Ini kranberi, tolong kau ganti, ya," katanya sambil mengibaskan kipas.
Rhea, yang kali ini tidak menaruh curiga karena gerak-gerik Kate terlihat sangat normal, akhirnya mengangguk. "Baik, Nona. Saya akan mengambilnya. Namun mungkin akan memakan waktu yang lebih lama karena harus dibuat dari awal."
Kate mengangguk. Dalam hati ia bersorak. Tentu saja aku meminta itu agar kau meninggalkanku sendirian di sini lebih lama, Rhea! batinnya sembari terkikik kecil, menutup mulutnya dengan kipas.
Melihat tingkah sang nona, Rhea sempat bingung dan agak curiga. Namun seperti biasa, karena Rhea yakin seratus persen kalau rencana nonanya pasti konyol dan tidak akan berhasil, ia memilih mengabaikannya dan tetap melangkah menuju dapur.
Begitu Rhea sudah pergi, Kate bernapas lega. Putri Raventhal itu langsung menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan dirinya benar-benar sendirian.
"Sangat tepat aku memilih taman belakang ini sebagai tempat pertemuan. Kalau aku mendadak tidak mau menemuinya sekarang, jalan belakang adalah area yang tidak dijaga ketat!"
Lagi-lagi Kate terkikik, gerakannya terlihat sangat menggemaskan. Sambil berdiri dari kursi, Kate mengangkat gaun mewahnya dan berjalan pelan menuju gerbang belakang mansion Ravental.
"Kalau lewat sini kan dijamin tidak ada pengawal. Mereka pasti sedang istirahat makan dan berganti shift dengan penjaga selanjutnya." Kate bersorak dalam hati, merasa kemenangan sudah di depan mata. "Ayo, Kate. Kali ini kau pasti bisa lepas dari jeratan batu giok itu!"
Langkah kaki kecil Kate semakin cepat menapaki jalan setapak taman. Sepanjang jalan ia terus menggerutu—sangat selaras dengan julukannya selain putri galak: "putri penggerutu".
"Untung saja aku punya ide cemerlang ini. Tidak bisa dibayangkan kalau aku benar-benar duduk di sana, berhadapan dengan Jenderal yang tidak banyak bicara itu. Masa kita cuma mau saling tatap dan diam-diaman seperti sepasang patung yang kebetulan dijejerkan berhadapan?" gerutunya.
Kate merasa dirinya sangat pintar. Kini, kakinya membawanya mendekati gerbang belakang mansion yang lumayan tinggi. Namun begitu ia berdiri di depan pintu, alisnya langsung bertautan penuh kejengkelan.
Tangannya menggenggam gagang gerbang yang terkunci rapat. "Duh, bagaimana bisa gerbang ini dikunci? Mereka pasti memang sengaja menggagalkan rencanaku! Dasar para pengawal jahat yang tidak pernah berpihak padaku!" gerutu Kate untuk kesekian kalinya.
Padahal, jelas sekali bahwa jam-jam ini adalah waktu para pengawal beristirahat dan bertukar shift dengan penjaga malam. Tentu saja tanpa pengawalan ketat, gerbang belakang mansion harus dikunci agar keamanannya tetap terjaga. Justru aneh jika dibiarkan terbuka.
Namun kembali lagi, ini Kate. Dia akan menyalahkan semua orang atas tindakan yang menurutnya merugikan. Ia bersedekap dengan dada terangkat sombong. "Para pengawal itu berpikir mereka bisa mengunciku seperti ini? Kita lihat saja siapa yang lebih pintar," ujar Kate, diakhiri tawa pelan yang terdengar seperti tokoh antagonis di teater.
Setelah selesai menyusun ide baru, Kate menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari benda yang bisa membantunya keluar. "Di mana aku bisa menemukan tangga, ya?" gumamnya.
Semesta seolah sedang berpihak padanya. Kate melihat sebuah tangga kayu yang disandarkan di dekat tumpukan karung gandum. Dengan gesit ia mendekat dan mencoba mengangkat tangga lipat kayu itu dengan tangan kosong.
Sejenak ia lupa kalau tangga kayu itu sangat berat—sama sekali tidak cocok diangkat oleh gadis mungil yang jarang berolahraga seperti dirinya. Namun Kate tidak menyerah. Ia menarik lengan bajunya. "Aku tidak akan menyerah semudah itu. Lihat saja, Salvatore! Kau memilih wanita yang salah kalau mau aku bersikap anggun dan menerimamu apa adanya!"
Pemandangan itu sangat konyol bagi siapa pun yang melihatnya. Seorang putri dengan gaun megah sedang bersusah payah menarik tangga kayu, wajahnya memerah padam karena memaksakan diri, tetapi tangganya tidak bergeser sedikit pun.
"Duh, sial! Tangga ini terlalu berat untuk putri yang tidak pernah melakukan aktivitas fisik sepertiku," gumam Kate, akhirnya sadar diri.
Ia melepaskan tangga itu dan berkacak pinggang, memikirkan alternatif lain. Saat ia mendongak, ia menyadari sesuatu. Tumpukan karung gandum di sebelahnya sudah cukup tinggi dan berada persis di dekat dinding pembatas mansion dengan dunia luar. Ia tidak perlu menggeser tangga! Memanjat dari tumpukan karung gandum saja sudah cukup untuk membawanya ke puncak dinding.
"Aku memang jenius!"
Dengan semangat, Kate mengangkat gaunnya dan memanjat tumpukan karung gandum itu perlahan-lahan. Sambil terus waspada menatap sekeliling, Kate berhasil naik ke atas dinding.
Kini dirinya berdiri tepat di puncak dinding pembatas. Matanya bisa melihat ke belakang—ke arah taman mansion—dan ke depan, ke arah jalan luar. Hanya tinggal satu lompatan lagi menuju kebebasan.
"Masalahnya, bagaimana mungkin aku melompat dari dinding setinggi ini tanpa tangga? Aku bisa jatuh... atau paling parah kakiku patah," gumam Kate ragu.
Saat sedang berpikir keras sambil menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong, matanya mendadak menangkap sosok pria bertubuh tinggi, berbahu lebar, dan berwajah tampan yang sedang berjalan mendekati gerbang belakang mansion.
Kate melotot syok. Matanya dan mata Sal bersitatap secara langsung.
"Apa yang sedang Anda lakukan di atas sana, Yang Mulia?" suara berat Salvatore terdengar datar dari bawah.
Deg.
Kate merasa jantungnya berhenti berdetak seketika. Ia terkejut, malu, dan linglung karena tertangkap basah oleh calon suaminya—sang Jenderal kaku—dalam posisi yang sangat tidak berwibawa. Akibat mendadak mematung, Kate kehilangan keseimbangannya.
"AAAAA!"
BRUK!
Kate jatuh melewati dinding. Untungnya ia tidak jatuh ke jalan luar, melainkan terperosok kembali ke dalam area mansion dan mendarat tepat di atas tumpukan karung gandum. Tubuhnya aman karena tertahan gandum, tetapi harga dirinya hancur berkeping-keping.
Putri tunggal Raventhal itu mendarat dengan posisi yang sangat tragis: kepalanya terbenam di antara karung gandum, gaun mewahnya kotor bertaburan tepung gandum, dan kedua kakinya mencuat ke atas.
Baru saja Kate mencoba mencerna rasa malunya, suara cempreng yang sangat ia kenali membuat insting bertahan hidupnya langsung menyala.
"Ya ampun!! NONA!!"
Itu suara Rhea. Dayang pribadinya itu langsung meletakkan nampan penganan manisnya sembarangan dan berlari panik mendekatinya.
Sebelum Rhea benar-benar sampai, Kate buru-buru mengubah posisi jatuhnya yang konyol menjadi posisi terbaring yang terkesan 'estetik' dan elegan. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menolak untuk bangun karena otaknya terlalu penuh dengan rasa malu.
Sialan! Sial sekali! Ini Rhea... dia pasti tahu aku cuma pura-pura pingsan! Tapi kalau aku bangun sekarang, harga diriku benar-benar tamat! Apalagi ada dia...
Belum selesai Kate meratap dalam hati, suara gerbang belakang yang dibuka terdengar. Para pengawal yang baru berganti shift bergegas membuka kunci karena ketukan panik dari luar. Salvatore langsung melangkah masuk dan mendekati tumpukan gandum tempat Kate terbaring.
"Tuan Putri, Anda baik-baik saja?" tanya Salvatore. Meski nadanya tetap tenang seperti biasa, jika didengarkan lebih saksama, ada nada kekhawatiran yang tulus di sana.
Namun di saat-saat seperti ini, Kate tidak butuh kekhawatiran tulus. Yang ia butuhkan adalah lubang hitam untuk bersembunyi! Kenapa kau malah datang dan khawatir? Pergi! Pergi saja! Bagaimana aku bisa bangun dalam kondisi memalukan seperti ini?
Suara Salvatore kembali terdengar. "Bagaimana ini? Apa kita bawa Tuan Putri ke dalam saja? Sepertinya beliau pingsan."
Mendengar kata 'dibawa ke dalam', Kate makin panik. Itu artinya Sal akan menggendongnya bridal style? Tidak! Kate tidak sanggup membayangkannya!
"Itu tidak perlu dilakukan, Tuan Ardan."
Suara Rhea membuat Kate bersorak legah dalam hati. Benar, Rhea! Kau sangat membantu untuk kali ini! Syukurlah dia melarang Sal—
"Nona tidak pingsan. Beliau hanya sedang berpura-pura," lanjut Rhea polos dengan ekspresi datar. "Saya lihat sendiri beliau baru saja mengubah posisinya dari jatuh yang konyol menjadi posisi terbaring yang menurutnya indah."
RHEA SIALAN!! KAU MEMANG MUSUHKU! mengamuklah Kate dalam hati. Kalau begini, makin mustahil baginya untuk mendadak melek dan berkata, “Oh iya, aku cuma bercanda."
Mendengar ucapan Rhea, Salvatore menanggapi polos. "Apakah itu benar? Tetapi jika berpura-pura, mengapa beliau tidak kunjung bangun?"
"Beliau berpura-pura, Tuan. Percayalah pada saya. Lihat guratan di wajahnya, pipi dan telinganya bahkan sudah merah padam. Itu tanda-tanda beliau sedang menahan malu."
Celetukan Rhea benar-benar membuat Kate berada di puncak frustasi. BISA-BISANYA bukannya menutupi kebohongan nonanya, dayang itu malah memberikan analisis fakta yang sangat akurat! Rhea sialan, besok gajimu kupotong habis!
"Apa tidak sebaiknya kita papah ke dalam saja?" tawar Salvatore lagi, masih cemas.
"Tidak perlu, Tuan. Nona akan malu sendiri dan dalam hitungan detik pasti akan bangun. Apalagi kalau saya mulai menceritakan tentang Nona yang baru saja membuat daftar hitam berisi—"
"STOP!"
Kate mendadak duduk tegak, matanya terbuka lebar dengan urat leher yang hampir putus saking frustrasinya. Wajahnya sudah merah padam sempurna di hadapan Salvatore, Rhea, dan beberapa pengawal. Kate sadar, ia harus bangun sekarang sebelum Rhea membocorkan isi kertas itu!
Salvatore menatapnya lekat. "Putri, Anda baik-baik saja?"
"Ya! Ya, aku baik-baik saja!" ketus Kate galak untuk menutupi rasa malunya.
Dengan gerakan cepat, Kate langsung berdiri. Namun karena lupa ia baru saja mendarat keras dari atas dinding, kakinya yang memijak tanah dengan sentakan kuat itu langsung menimbulkan suara yang mengerikan.
KREK.
Mata Kate membelalak lebar. UGH! Sialan! Kakiku keseleo!
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭
jangan lupa mampir juga ya Thor di ceritaku🤗