Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 Tatapan yang Mengenali
Gavin Dewantara masih berdiri tegak di pojok paling temaram Grand Dewantara Ballroom, sibuk mengelap ujung lengan batik raksasa milik Dono yang sekarang sudah bertransformasi menjadi mahakarya abstrak bermotif mega mendung campur saus cokelat chocolate fountain. Piring porselen di tangan kanannya masih kokoh menampung piramida buah potong yang tingginya sudah hampir menyentuh dagunya sendiri.
"Gav, lu beneran gak mau pindah ke meja zupa soup?" Rian datang mendekat dengan mulut yang masih penuh mengunyah daging kambing guling, kedua tangannya memegang dua piring penuh jajaran kue-kue kecil. "Di sana sepi loh. Senior yang jasnya lu warnai pake cokelat tadi masih nangis di wastafel toilet."
"Gak usah, Yan. Di sini posisinya strategis," bisik Gavin rendah, matanya bergerak waspada di balik topi pet kanvasnya yang ditarik super rendah hingga menyentuh batang hidung. "Dekat pintu darurat. Kalau ada gempa, kebakaran, atau tagihan uang kosan mendadak, kita bisa langsung lompat ke basement."
"Alasan lu absurd banget, sumpah," cibir Rian, lalu kembali menusuk siomay di piringnya.
Namun, kedamaian semu di balik pohon imitasi itu hancur berantakan ketika pembawa acara di atas panggung utama berteriak menggunakan mikrofon dengan suara yang menggelegar. "Dan sekarang, mari kita berikan tepuk tangan yang paling meriah untuk General Manager Grand Dewantara Hotel yang telah memfasilitasi malam keakraban kita hari ini, Bapak Kurniawan Saputra!"
Plok! Plok! Plok!
Gemuruh tepuk tangan dari ratusan mahasiswa dan jajaran dekanat memenuhi seisi aula mewah tersebut. Dari arah pintu VIP lantai atas, muncul seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan potongan rambut klimis ala eksekutif papan atas. Ia mengenakan setelan jas custom-tailored berwarna biru gelap yang harganya setara dengan tiga puluh unit motor Astrea Grand milik Gavin. Di kerah jasnya, tersemat pin emas murni berbentuk logo Dewantara Group.
Gavin yang sedang mengunyah sepotong semangka langsung tersedak. Uhuk! Uhuk!
"Mampus gue," gumam Gavin dengan mata melotot.
Pak Kurniawan bukan sekadar staf biasa di lini bisnis keluarganya. Pria itu adalah salah satu anak didik tepercaya Baskoro Dewantara—ayah Gavin. Pak Kurniawan sudah sering datang ke rumah utama di Menteng sejak Gavin masih mengenakan celana seragam SMP, bahkan pria itulah yang sering membelikan Gavin mainan konsol game impor atas perintah ayahnya. Jika Pak Kurniawan melihat Gavin di sini, penyamarannya bukan cuma retak, tapi akan meledak menjadi serpihan debu jalanan.
Setelah memberikan kata sambutan singkat dan formal yang penuh dengan retorika korporat kelas atas di atas panggung, Pak Kurniawan turun. Didampingi oleh Dekan Fakultas Teknik dan beberapa dosen senior, Pak Kurniawan mulai melakukan ritual wajibnya: berjalan memutari area ballroom untuk memastikan kualitas pelayanan hotel dan menyapa para tamu penting secara langsung.
Sialnya, rute berjalan Pak Kurniawan berlawanan arah dengan pintu masuk utama, dan pria itu berjalan lurus menuju sudut katering buah tempat Gavin dan Rian sedang asyik merampok logistik gratis.
Di saat yang sama, Kirana berjalan mendekati meja Gavin dengan membawa papan klip panitia. Wajah gadis itu masih ditekuk kesal melihat lengan batik Gavin yang berlumuran cokelat. "Gavin, kamu—"
"Ran, diem dulu. Emergency militer level satu," potong Gavin dengan suara berbisik yang sangat panik. Ia langsung merosot turun, menekuk lututnya secara ekstrem di balik dekorasi pohon imitasi, mencoba menyembunyikan seluruh tubuh tegapnya di balik jubah batik Dono yang kedodoran.
"Kamu ngapain sih? Kayak ulat kekep gitu di bawah pohon!" ketus Kirana bingung melihat kelakuan konyol cowok itu.
Langkah kaki bersepatu kulit mewah oxford milik Pak Kurniawan semakin mendekat. Suara obrolannya dengan Pak Dekan terdengar semakin jelas di telinga Gavin. "Iya, Pak Dekan, kami dari manajemen Dewantara Group selalu berkomitmen untuk mendukung kegiatan akademis para generasi muda..."
Jarak Pak Kurniawan tinggal tiga meter dari meja buah. Gavin yang panik setengah mati karena ruang geraknya terkunci oleh piring piramida buahnya sendiri, langsung mengambil keputusan ugal-ugalan paling nekat sepanjang sejarah hidupnya. Ia bangkit berdiri dengan sentakan kilat, membalikkan badannya membelakangi Pak Kurniawan, lalu dengan sengaja menjejalkan sepotong melon ukuran raksasa ke dalam mulutnya sendiri hingga pipinya menggembung seperti ikan mas koki yang sedang sekarat.
Namun, takdir tampaknya sedang ingin bermain komedi slapstik malam ini. Ketika Gavin membalikkan badan dengan terburu-buru, ujung kemeja batik Dono yang sangat panjang dan longgar berkibar di udara, lalu tanpa sengaja tersangkut pada pengait taplak meja katering porselen.
SREEEET! TING! TING!
Taplak meja putih sutra itu tertarik sejauh tiga puluh sentimeter, membuat barisan gelas kaca tiruan di atasnya bergoyang hebat dan mengeluarkan bunyi dentingan nyaring yang langsung menarik perhatian semua orang di sekitar radius lima meter. Termasuk Pak Kurniawan.
Pak Kurniawan menghentikan kalimatnya di tengah jalan. Pandangannya yang tajam langsung terarah tepat ke arah meja buah. Di sana, berdiri seorang pemuda dengan kemeja batik mega mendung yang ukurannya tiga kali lipat lebih besar dari badannya, mengenakan topi pet kanvas murahan, dengan sisa saus cokelat kental yang melumuri lengan kirinya, dan mulut yang menggembung penuh berisi buah.
Mata Pak Kurniawan yang tadinya memancarkan kharisma seorang General Manager berkelas, mendadak melebar sempurna. Pria paruh baya itu mengerjap beberapa kali, menatap struktur rahang, tinggi badan, dan cara berdiri pemuda di depannya. Meskipun pakaian pemuda itu menyerupai berandalan jalanan yang salah masuk pesta, Pak Kurniawan tidak mungkin salah mengenakan struktur fisik dari pewaris tunggal seluruh kekayaan Dewantara Group yang fotonya terpajang di ruang kerjanya setiap hari.
Pak Kurniawan langsung melepaskan senyum formalnya. Wajahnya memucat karena terkejut sekaligus panik melihat sang Tuan Muda berada di tempat yang sangat tidak layak bagi kastanya. Pria itu reflek menegakkan posisi tubuhnya menjadi sangat kaku, lalu mulai membungkukkan badannya sedalam sembilan puluh derajat ke arah Gavin.
"S-Selamat malam, Tuan Mu—"
Sebelum kata "Muda" yang sakral itu sempat meluncur bebas dari bibir Pak Kurniawan dan didengar oleh Dekan di sebelahnya, Gavin langsung mengambil tindakan darurat jalanan yang brutal namun penuh unsur komedi. Ia menelan paksa melon raksasa di dalam mulutnya tanpa dikunyah terlebih dahulu—membuat tenggorokannya meletupkan suara GULP yang sangat keras dan wajahnya sempat memerah karena hampir mati lemas—lalu melompat maju dua langkah.
Gavin langsung menjulurkan tangan kanannya yang bersih, lalu dengan sangat kasar dan ugal-ugalan mencengkeram pundak Pak Kurniawan, menarik tubuh pria tua itu tegak kembali dengan paksa sebelum bungkukannya terlihat lebih aneh oleh orang lain. Gavin menjabat tangan Pak Kurniawan dengan sangat kencang, mengguncang-guncangnya seperti dua orang calo terminal yang baru saja berhasil membagi komisi tiket bus malam.
"Wah!!! Gila!!! Keren banget!!!" teriak Gavin dengan suara yang sengaja ditinggikan dua oktav, bergaya seperti mahasiswa udik yang norak dan sok akrab di depan pejabat. "Bapak General Manager mirip banget sama Om Sukijan yang jualan pecel lele di kampung saya, Pak! Sumpah, Pak! Pas Bapak jalan ke sini tadi, saya kira Om Sukijan saya mendadak tobat terus dapet lotre jadi bos hotel! Hahaha!"
Pak Kurniawan membeku di tempatnya berdiri dengan telapak tangan yang masih diguncang hebat oleh Gavin. Mata pria tua itu melirik liar ke arah cengkeraman tangan Gavin di jas birunya, lalu beralih menatap mata Gavin yang sedang melotot tajam memberikan kode darurat militer tingkat tinggi: “Kalau lu bocorin identitas gue malam ini, besok lu gue pecat!”
Dekan Fakultas Teknik yang berdiri di samping Pak Kurniawan langsung berdehem canggung, wajahnya memerah karena malu melihat kelakuan norak mahasiswanya di depan mitra penting universitas. "E-eh... Gavin! Jaga sopan santun kamu! Maaf ya, Pak Kurniawan, ini mahasiswa baru dari Teknik Kimia... emang agak... kurang pergaulan sosial di kota besar..."
Pak Kurniawan yang memiliki jam terbang tinggi di dunia korporat langsung menangkap kode ancaman terselubung dari sang Tuan Muda. Keringat dingin langsung mengucur deras di balik kerah kemeja sutranya. Ia buru-buru menarik tangannya dari jabat tangan Gavin, lalu memaksakan sebuah tawa canggung yang sangat kaku hingga otot wajahnya tampak bergetar.
"A-ah... iya... tidak apa-apa, Pak Dekan. Hahaha," sahut Pak Kurniawan dengan suara yang agak parau, sambil berkali-kali menyeka keningnya menggunakan saputangan. "Wajah saya memang... sangat pasaran. Sering mirip dengan... penjual pecel lele di berbagai daerah. Hahaha. Permisi, Pak Dekan, tiba-tiba asam lambung saya naik, saya harus ke ruang medis sekarang juga."
Tanpa menunggu balasan dari Pak Dekan, Pak Kurniawan langsung berbalik arah seratus delapan puluh derajat dan berjalan cepat setengah berlari menuju pintu VIP di belakang panggung, meninggalkan jajaran dekanat yang melongo kebingungan melihat sang General Manager mendadak kabur karena urusan pecel lele dan asam lambung.
Gavin mengembuskan napas panjang yang tertahan di dalam dadanya, tubuhnya langsung merosot kembali bersandar pada pilar marmer. Ia menyeka keringat dingin di dahinya dengan ujung kain batik Dono yang bebas dari cokelat. Jantungnya masih berdegup gila-gilaan karena ketegangan tingkat tinggi yang baru saja ia lalui di depan matanya sendiri.
Rian yang sejak tadi berdiri diam memegang piring siomay di samping Gavin, langsung menepuk pundak sahabatnya itu dengan tatapan ngeri sekaligus takjub. "Gav... lu bener-bener gila ya. Bisa-bisanya lu nyamain General Manager hotel bintang lima internasional sama penjual pecel lele kampung lu. Kalau lu diusir sama satpam abis ini, gue gak ikut-ikutan ya."
Sementara itu, Kirana Putri yang berdiri tepat di samping pilar marmer, melipat kedua tangannya di depan dada. Gadis itu tidak ikut tertawa. Matanya menyipit tajam, menatap lurus tepat ke arah mata Gavin dengan pandangan penuh selidik yang sangat dalam. Kirana mengingat dengan jelas bagaimana tubuh Pak Kurniawan yang terhormat tadi reflek membungkuk sembilan puluh derajat dan bagaimana mulut pria itu sempat membentuk suku kata "Tuan Mu..." sebelum dipotong kasar oleh aksi norak Gavin.
Kirana melangkah satu blok lebih dekat ke arah Gavin, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga aroma parfum melatinya kembali tercium oleh Gavin. "Om Sukijan penjual pecel lele, huh?" bisik Kirana dengan nada suara yang penuh dengan sarkasme cerdas dan senyuman miring yang penuh arti. "Alibi yang sangat bagus buat ukuran anak berandalan berbaju kedodoran, Gavin Dewantara. Tapi sayangnya... aku bukan Rian yang bisa kamu kibulin pake cerita pecel lele. Kita perlu bicara serius di kosan besok pagi."
Gavin hanya bisa melempar senyum miring pasrahnya, menyadari bahwa meskipun ia berhasil menipu seisi aula dan meloloskan diri dari cengkeraman protokol keluarganya malam ini lewat jalur komedi slapstik, topeng penyamarannya kini telah sepenuhnya transparan di depan mata gadis ambisius yang berdiri di hadapannya.