Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.
Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.
Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.
Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.
Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.
Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Cinta yang Harus Dilepaskan
Dandy.
Pria yang beberapa hari terakhir berusaha Zinnia hindari kini berdiri hanya beberapa langkah darinya.
“Zin, kita perlu bicara.”
Zinnia terdiam. Ia ingin menolak, tetapi jauh di dalam hati, ia tahu mereka memang perlu bicara. Ia tidak mungkin terus menghindar selamanya.
Ketika Dandy mengulurkan tangan, Zinnia tidak menolaknya. Jemari pria itu menggenggam tangannya dengan lembut, seperti yang selalu dilakukannya selama ini, lalu menuntunnya menuju mobil.
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara.
Dandy beberapa kali melirik ke samping. Zinnia hanya menatap keluar jendela, mengikuti lampu-lampu jalan yang berkelebat. Biasanya, ia akan bercerita tentang hal-hal kecil yang ditemuinya atau mengirimkan pesan singkat meskipun mereka duduk bersebelahan. Sekarang, perempuan itu bahkan tidak menoleh kepadanya.
Dandy mengeratkan genggaman pada kemudi. Ada sesuatu yang berubah. Ia hanya tidak tahu apa.
Mobil akhirnya berhenti di sebuah taman kota yang masih buka pada malam hari. Beberapa orang duduk di bangku-bangku yang berjauhan, sementara lampu taman menerangi jalan setapak.
Dandy turun, kemudian membukakan pintu untuk Zinnia.
Setelah mereka duduk di bangku yang agak jauh dari pengunjung lain, Zinnia mengangkat tangan dan mulai berisyarat.
Dari mana kamu tau alamat kontrakanku?
“Dari ibumu,” jawab Dandy. “Aku tanya karena mau mastiin kamu baik-baik aja.”
Zinnia menunduk. Jemarinya kembali bergerak.
Kamu gak perlu repot-repot datang. Aku baik-baik aja.
Dandy menatapnya lama. “Kamu selalu bilang begitu.”
Zinnia menghentikan gerakan tangannya.
“Tapi wajahmu gak bisa bohong, Zin. Kamu kelihatan pucet. Kamu juga berubah sejak aku pulang dari luar kota.”
Dandy bergeser menghadapnya.
“Kamu gak pernah lagi chat aku duluan. Kalo aku ngirim pesan, balesan kamu pendek-pendek. Kadang kamu cuma balas satu kata, lalu ngilang atau nyari alesan. Waktu aku bilang mau dateng, kamu selalu punya alasan biar aku gak perlu nemuin kamu.”
Ia menarik napas, berusaha menahan kekecewaannya. “Aku salah apa, Zin?”
Zinnia buru-buru menggeleng.
“Kalo aku salah, bilang. Kalo kamu marah karena sesuatu yang aku lakuin, kita bisa bicarain. Tapi jangan menjauh terus kayak gini.”
Mata Zinnia mulai memanas.
"Bukan salahmu."
Kalimat itu berulang kali muncul dalam pikirannya. Namun, ia tidak sanggup menyampaikannya dengan cara yang bisa dipahami Dandy. Ia menggerakkan tangan.
Sejak awal, orang tuamu gak pernah setuju sama hubungan kita.
Dandy mengembuskan napas panjang. “Kita udah bahas masalah itu sejak lama, Zin. Aku tau mereka pengen jodohin aku sama pilihan mereka. Tapi aku udah bilang, yang mau nikah itu aku, bukan mereka.”
Ia meraih tangan Zinnia. “Aku yang bakal jalanin rumah tangga itu. Aku yang milih pasangan hidupku. Dan aku udah milih kamu.”
Zinnia menarik tangannya perlahan, kemudian kembali berisyarat.
Itu dulu. Sekarang mereka pengen kamu nikah sama orang lain.
“Dan aku udah nolak.”
Zinnia mengangkat tangan, membuat bahasa isyarat.
Aku gak mau dibenci orang tuamu karena nekat nikah sama kamu.
“Zinnia—”
Zinnia kembali menggerakkan tangannya.
Kamu layak dapat seseorang yang lebih baik dariku. Lupain aja aku.
Dandy terdiam. Untuk sesaat, ia hanya menatap kedua tangan Zinnia yang perlahan turun ke pangkuannya.
“Apa maksudmu, seseorang yang lebih baik darimu?”
Zinnia tidak menjawab.
“Selama ini kamu tau aku cinta sama kamu. Kamu tau aku pengen nikah sama kamu. Lalu sekarang kamu tiba-tiba mutusin semuanya sendiri, seolah-olah perasaanku gak ada artinya?”
Zinnia menggeleng cepat. Air matanya mulai menggenang.
Bukan begitu.
Ia ingin menjelaskan bahwa ia masih mencintai Dandy. Bahwa tidak ada satu hari pun ia berhenti merindukannya. Bahwa setiap kali melihat pesan Dandy, ia harus menahan keinginan untuk membalas panjang lebar, bercerita tentang harinya, dan meminta pria itu segera menemuinya.
Namun, setiap kali membayangkan masa depan mereka, bayangan malam itu selalu datang lebih dahulu.
Bagaimana mungkin ia menikahi Dandy sambil menyimpan rahasia sebesar itu?
Bagaimana mungkin ia berdiri di hadapan pria yang dicintainya, mengenakan gaun pengantin, lalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa?
“Zin, lihat aku.”
Zinnia mengangkat wajah.
“Aku gak mau nikah sama perempuan lain. Aku cuma mau nikah sama kamu.”
Dandy menggenggam kedua tangannya.
“Kalo masalahnya orang tuaku, kita hadapi bersama. Kalo mereka tetep nolak, kita cari jalan keluarnya. Kamu gak harus ngadepin semuanya sendirian, Zin.”
Zinnia menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Justru itulah yang membuatnya semakin tidak sanggup.
Dandy masih menginginkannya. Masih menawarkan masa depan yang dahulu selalu mereka bicarakan. Pria itu bahkan bersedia menghadapi keluarganya demi mempertahankan hubungan mereka.
Sementara Zinnia merasa dirinya telah membawa sesuatu yang akan menghancurkan masa depan itu.
Ia menarik napas gemetar, lalu menggerakkan tangannya.
Besok, nikahlah sama aku.
Dandy membeku. “Apa?”
Zinnia menunduk sebelum melanjutkan isyaratnya.
Kalo kamu bener-bener mau nikah sama aku, kita bisa melakukannya. Tapi setelah itu, jangan pernah nyesel.
Dandy mengerutkan kening. “Aku gak mengerti. Bukankah selama ini, itu yang kita mau?”
Zinnia memejamkan mata sejenak.
Aku gak bisa nikah sama kamu.
“Kenapa?”
Zinnia tidak menjawab.
“Zin, kenapa kamu terus mengatakan hal yang beda? Kamu nyuruh aku nikahin kamu, lalu bilang gak bisa. Apa sebenarnya yang terjadi?”
Zinnia meremas jemarinya sendiri.
"Katakan," batinnya. "Katakan saja apa yang terjadi malam itu."
Namun, ketika ia mencoba menggerakkan tangan, jemarinya justru gemetar hebat. Ia tidak sanggup membentuk satu isyarat pun.
Dandy menunggu.
“Zinnia, aku di sini. Apa pun masalahnya, kamu bisa cerita sama aku.”
Air mata Zinnia akhirnya jatuh.
"Maaf," batinnya.
Kata itu ingin ia ucapkan, tetapi bahkan untuk sekadar meminta maaf pun rasanya terlalu sulit.
Dandy mengusap air mata di pipinya.
“Jangan nangis. Kita gak harus mutusin semuanya malam ini. Aku bisa nunggu sampai kamu siap bicara.”
Kalimat itu hampir meruntuhkan pertahanan Zinnia. Dandy masih memberinya waktu. Masih berusaha memahami. Masih mencintainya.
Dan justru karena itulah, ia merasa harus pergi sebelum pria itu semakin sulit melepaskannya.
Zinnia berdiri.
Dandy ikut berdiri. “Zin?”
Perempuan itu mengambil ponselnya, mengetik sesuatu, lalu memperlihatkan layarnya.
Maaf. Kita gak bisa bersama lagi.
Dandy membaca kalimat itu tanpa bergerak.
“Nggak.” Ia menggeleng. “Aku gak terima keputusan ini.”
Zinnia menunduk.
“Aku serius sama kamu, Zin. Besok kita nikah secara agama. Setelah itu, kita urus pencatatan pernikahan kita. Aku akan bicara lagi sama orang tuaku. Aku bakal lakuin apa pun agar kita bisa bersama.”
Zinnia menggeleng sambil menangis.
Jangan.
“Kenapa? Apa yang bikin kamu begitu takut nikah sama aku?”
Jemari Zinnia bergerak cepat.
Aku gak bisa jadi istrimu.
“Karena orang tuaku?”
Zinnia menggeleng.
“Lalu karena apa?”
Zinnia hanya menatapnya. Air matanya terus mengalir, tetapi ia tidak mampu mengungkapkan rahasia yang menghancurkan keberaniannya sendiri.
Dandy melangkah mendekat.
“Aku cinta kamu, Zin.”
Zinnia menutup mata sesaat.
Aku tau.
“Kalau kamu juga masih cinta sama aku, kenapa kamu pengen pergi?”
...🔸🔸🔸...
...“Tidak semua orang yang menjauh telah berhenti mencintai. Sebagian hanya sedang berjuang menghadapi luka yang bahkan belum sanggup mereka ceritakan kepada orang yang paling mereka percaya.”...
...“Tidak semua perpisahan terjadi karena cinta telah hilang. Ada yang memilih pergi justru karena masih mencintai, tetapi merasa dirinya hanya akan membawa luka bagi orang yang ingin dipertahankannya.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued