NovelToon NovelToon
Bisu, Tapi Membisu

Bisu, Tapi Membisu

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Hamil di luar nikah / CEO
Popularitas:86k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.

Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.

Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.

Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.

Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.

Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Cinta yang Harus Dilepaskan

Dandy.

Pria yang beberapa hari terakhir berusaha Zinnia hindari kini berdiri hanya beberapa langkah darinya.

“Zin, kita perlu bicara.”

Zinnia terdiam. Ia ingin menolak, tetapi jauh di dalam hati, ia tahu mereka memang perlu bicara. Ia tidak mungkin terus menghindar selamanya.

Ketika Dandy mengulurkan tangan, Zinnia tidak menolaknya. Jemari pria itu menggenggam tangannya dengan lembut, seperti yang selalu dilakukannya selama ini, lalu menuntunnya menuju mobil.

Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara.

Dandy beberapa kali melirik ke samping. Zinnia hanya menatap keluar jendela, mengikuti lampu-lampu jalan yang berkelebat. Biasanya, ia akan bercerita tentang hal-hal kecil yang ditemuinya atau mengirimkan pesan singkat meskipun mereka duduk bersebelahan. Sekarang, perempuan itu bahkan tidak menoleh kepadanya.

Dandy mengeratkan genggaman pada kemudi. Ada sesuatu yang berubah. Ia hanya tidak tahu apa.

Mobil akhirnya berhenti di sebuah taman kota yang masih buka pada malam hari. Beberapa orang duduk di bangku-bangku yang berjauhan, sementara lampu taman menerangi jalan setapak.

Dandy turun, kemudian membukakan pintu untuk Zinnia.

Setelah mereka duduk di bangku yang agak jauh dari pengunjung lain, Zinnia mengangkat tangan dan mulai berisyarat.

Dari mana kamu tau alamat kontrakanku?

“Dari ibumu,” jawab Dandy. “Aku tanya karena mau mastiin kamu baik-baik aja.”

Zinnia menunduk. Jemarinya kembali bergerak.

Kamu gak perlu repot-repot datang. Aku baik-baik aja.

Dandy menatapnya lama. “Kamu selalu bilang begitu.”

Zinnia menghentikan gerakan tangannya.

“Tapi wajahmu gak bisa bohong, Zin. Kamu kelihatan pucet. Kamu juga berubah sejak aku pulang dari luar kota.”

Dandy bergeser menghadapnya.

“Kamu gak pernah lagi chat aku duluan. Kalo aku ngirim pesan, balesan kamu pendek-pendek. Kadang kamu cuma balas satu kata, lalu ngilang atau nyari alesan. Waktu aku bilang mau dateng, kamu selalu punya alasan biar aku gak perlu nemuin kamu.”

Ia menarik napas, berusaha menahan kekecewaannya. “Aku salah apa, Zin?”

Zinnia buru-buru menggeleng.

“Kalo aku salah, bilang. Kalo kamu marah karena sesuatu yang aku lakuin, kita bisa bicarain. Tapi jangan menjauh terus kayak gini.”

Mata Zinnia mulai memanas.

"Bukan salahmu."

Kalimat itu berulang kali muncul dalam pikirannya. Namun, ia tidak sanggup menyampaikannya dengan cara yang bisa dipahami Dandy. Ia menggerakkan tangan.

Sejak awal, orang tuamu gak pernah setuju sama hubungan kita.

Dandy mengembuskan napas panjang. “Kita udah bahas masalah itu sejak lama, Zin. Aku tau mereka pengen jodohin aku sama pilihan mereka. Tapi aku udah bilang, yang mau nikah itu aku, bukan mereka.”

Ia meraih tangan Zinnia. “Aku yang bakal jalanin rumah tangga itu. Aku yang milih pasangan hidupku. Dan aku udah milih kamu.”

Zinnia menarik tangannya perlahan, kemudian kembali berisyarat.

Itu dulu. Sekarang mereka pengen kamu nikah sama orang lain.

“Dan aku udah nolak.”

Zinnia mengangkat tangan, membuat bahasa isyarat.

Aku gak mau dibenci orang tuamu karena nekat nikah sama kamu.

“Zinnia—”

Zinnia kembali menggerakkan tangannya.

Kamu layak dapat seseorang yang lebih baik dariku. Lupain aja aku.

Dandy terdiam. Untuk sesaat, ia hanya menatap kedua tangan Zinnia yang perlahan turun ke pangkuannya.

“Apa maksudmu, seseorang yang lebih baik darimu?”

Zinnia tidak menjawab.

“Selama ini kamu tau aku cinta sama kamu. Kamu tau aku pengen nikah sama kamu. Lalu sekarang kamu tiba-tiba mutusin semuanya sendiri, seolah-olah perasaanku gak ada artinya?”

Zinnia menggeleng cepat. Air matanya mulai menggenang.

Bukan begitu.

Ia ingin menjelaskan bahwa ia masih mencintai Dandy. Bahwa tidak ada satu hari pun ia berhenti merindukannya. Bahwa setiap kali melihat pesan Dandy, ia harus menahan keinginan untuk membalas panjang lebar, bercerita tentang harinya, dan meminta pria itu segera menemuinya.

Namun, setiap kali membayangkan masa depan mereka, bayangan malam itu selalu datang lebih dahulu.

Bagaimana mungkin ia menikahi Dandy sambil menyimpan rahasia sebesar itu?

Bagaimana mungkin ia berdiri di hadapan pria yang dicintainya, mengenakan gaun pengantin, lalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa?

“Zin, lihat aku.”

Zinnia mengangkat wajah.

“Aku gak mau nikah sama perempuan lain. Aku cuma mau nikah sama kamu.”

Dandy menggenggam kedua tangannya.

“Kalo masalahnya orang tuaku, kita hadapi bersama. Kalo mereka tetep nolak, kita cari jalan keluarnya. Kamu gak harus ngadepin semuanya sendirian, Zin.”

Zinnia menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Justru itulah yang membuatnya semakin tidak sanggup.

Dandy masih menginginkannya. Masih menawarkan masa depan yang dahulu selalu mereka bicarakan. Pria itu bahkan bersedia menghadapi keluarganya demi mempertahankan hubungan mereka.

Sementara Zinnia merasa dirinya telah membawa sesuatu yang akan menghancurkan masa depan itu.

Ia menarik napas gemetar, lalu menggerakkan tangannya.

Besok, nikahlah sama aku.

Dandy membeku. “Apa?”

Zinnia menunduk sebelum melanjutkan isyaratnya.

Kalo kamu bener-bener mau nikah sama aku, kita bisa melakukannya. Tapi setelah itu, jangan pernah nyesel.

Dandy mengerutkan kening. “Aku gak mengerti. Bukankah selama ini, itu yang kita mau?”

Zinnia memejamkan mata sejenak.

Aku gak bisa nikah sama kamu.

“Kenapa?”

Zinnia tidak menjawab.

“Zin, kenapa kamu terus mengatakan hal yang beda? Kamu nyuruh aku nikahin kamu, lalu bilang gak bisa. Apa sebenarnya yang terjadi?”

Zinnia meremas jemarinya sendiri.

"Katakan," batinnya. "Katakan saja apa yang terjadi malam itu."

Namun, ketika ia mencoba menggerakkan tangan, jemarinya justru gemetar hebat. Ia tidak sanggup membentuk satu isyarat pun.

Dandy menunggu.

“Zinnia, aku di sini. Apa pun masalahnya, kamu bisa cerita sama aku.”

Air mata Zinnia akhirnya jatuh.

"Maaf," batinnya.

Kata itu ingin ia ucapkan, tetapi bahkan untuk sekadar meminta maaf pun rasanya terlalu sulit.

Dandy mengusap air mata di pipinya.

“Jangan nangis. Kita gak harus mutusin semuanya malam ini. Aku bisa nunggu sampai kamu siap bicara.”

Kalimat itu hampir meruntuhkan pertahanan Zinnia. Dandy masih memberinya waktu. Masih berusaha memahami. Masih mencintainya.

Dan justru karena itulah, ia merasa harus pergi sebelum pria itu semakin sulit melepaskannya.

Zinnia berdiri.

Dandy ikut berdiri. “Zin?”

Perempuan itu mengambil ponselnya, mengetik sesuatu, lalu memperlihatkan layarnya.

Maaf. Kita gak bisa bersama lagi.

Dandy membaca kalimat itu tanpa bergerak.

“Nggak.” Ia menggeleng. “Aku gak terima keputusan ini.”

Zinnia menunduk.

“Aku serius sama kamu, Zin. Besok kita nikah secara agama. Setelah itu, kita urus pencatatan pernikahan kita. Aku akan bicara lagi sama orang tuaku. Aku bakal lakuin apa pun agar kita bisa bersama.”

Zinnia menggeleng sambil menangis.

Jangan.

“Kenapa? Apa yang bikin kamu begitu takut nikah sama aku?”

Jemari Zinnia bergerak cepat.

Aku gak bisa jadi istrimu.

“Karena orang tuaku?”

Zinnia menggeleng.

“Lalu karena apa?”

Zinnia hanya menatapnya. Air matanya terus mengalir, tetapi ia tidak mampu mengungkapkan rahasia yang menghancurkan keberaniannya sendiri.

Dandy melangkah mendekat.

“Aku cinta kamu, Zin.”

Zinnia menutup mata sesaat.

Aku tau.

“Kalau kamu juga masih cinta sama aku, kenapa kamu pengen pergi?”

 

...🔸🔸🔸...

...“Tidak semua orang yang menjauh telah berhenti mencintai. Sebagian hanya sedang berjuang menghadapi luka yang bahkan belum sanggup mereka ceritakan kepada orang yang paling mereka percaya.”...

...“Tidak semua perpisahan terjadi karena cinta telah hilang. Ada yang memilih pergi justru karena masih mencintai, tetapi merasa dirinya hanya akan membawa luka bagi orang yang ingin dipertahankannya.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anitha
Nah Zin,Arvid selalu minta izin jika ingin sesuatu dari...sekarang Arvid minta izin cium bibir kamu,,boleh ya Zin untuk pendekatan dan pemanasan🤣
Anitha
Tunggu penyesalannya aja kamu Merry sudah melewati batas,kamu ga lihat Arvid bahagia dengan Zinnia,Arvid bakal cinta mati sama Zinnia walpun kamu mau memisahkan Arvid dengan caramu tidak akan berhasil...
Zinnia kasihan Arvid izinkanlah untuk menyentuhmu
Siti Jumiati
up
Siti Jumiati
lanjuuuut
Sugiharti Rusli
semoga Zinnia semakin nyaman bersama Arvid, jadi kala Arvid mulai meminta mereka buat saling menyentuh meski belum hubungan suami-istri, Zinnia juga sudah mau yah,,,
Sugiharti Rusli
dan terbukti juga sih, Arvid juga mulai bisa terbuka pada Zinnia tentang hal" yang mungkin awalnya segan mereka bicarakan
Sugiharti Rusli
tapi memang sentuhan" dari sang suami memang harus dia biasakan yah, dan sang ibu juga lebih paham jadi beliau yang coba bicara pada menantunya,,,
Sugiharti Rusli
mungkin karena Zinnia juga masih kondisi hamil muda juga yah, jadi dia belum merasakan keinginan yang menggebu seperti kalo perempuan hamil sudah melewati trisemester pertama,,,
Sugiharti Rusli
karena pada dasarnya kebutuhan laki" dan perempuan memang sangat berbeda kalo sudah masalah urusan hubungan suami-istri sih,,,
Wardi's
bu mery gk sadar kalau tindakannya merugikan anaknya ... dia mengorbankan kebahagiaan anaknya demi menjaga perasaan keluarga calon mantu lain yg belum tentu lebih baik dari zinia...
Sugiharti Rusli
meski sampai sekarang Arvid masih menjaga batasannya sebelum Zinnia kasih lampu hijau, tapi hal itu juga harus jadi perhatian yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi sekarang Arvid dan Zinnia juga sudah tidur dalam satu ranjang yang sama
Sugiharti Rusli
sebagai orang yang dulu punya suami, bu Riri pasti juga tahu kebutuhan sang menantu sebagai laki" dewasa yah,,,
Wardi's
pelan2 pak sopir .....
Sugiharti Rusli
sepertinya Zinnia ingin meyakinkan dirinya dengan menghubungi ibunya yah dan konsultasi tentang hal ini,,,
Sugiharti Rusli
meski Arvid tidak terus terang meminta haknya, tapi Zinnia sadar kalo Arvid butuh hal itu setelah mereka sering bersentuhan fisik,,,
Sugiharti Rusli
padahal tidak semudah itu urusannya yah, apalagi baik Arvid dan Zinnia sebetulnya sudah selangkah lebih maju dalam hubungan rumah tangga mereka,,,
Sugiharti Rusli
padahal hal itu bisa jadi buat dia bisa menegosiasikan agar Dandy mau merebut kembali Zinnia dari tangan Arvid
Sugiharti Rusli
semoga saja nanti suaminya bisa mencium gelagat istrinya yah dengan menjadi investor tempat Dandy bekerja
Sugiharti Rusli
sepertinya mama Merry akan masuk terlalu jauh yah ke dalam konflik yang akan dia lakukan kepada putranya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!