NovelToon NovelToon
Takdir Kita Yang Belum Selesai

Takdir Kita Yang Belum Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nita_001

Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.

Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.

Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.

Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.

Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?

Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 - Kontrak Utusan Pelayan

“Apakah kau benar-benar tidak akan takut padaku?” tanya anak itu pelan.

“Aku berjanji tidak akan takut. Sekarang angkat kepalamu,” jawab Chongyue sambil tersenyum.

Perlahan, anak itu mulai mengangkat wajahnya.

Rambutnya yang kusut dan panjang masih menutupi hampir seluruh wajahnya. Chongyue mengulurkan tangan, lalu menyibakkan rambutnya ke samping.

Sepasang mata hijau terang yang indah langsung terlihat.

Chongyue tertegun.

Melihat perubahan ekspresinya, anak itu mengira Chongyue takut melihat wajahnya. Dia buru-buru menundukkan kepala lagi.

Chongyue mengerutkan kening. “Hei, kenapa kau menunduk lagi? Apakah aku terlihat ketakutan? Lagi pula, memangnya kenapa kalau matamu berwarna hijau?”

Tanpa menunggu jawaban, dia kembali mengangkat dagu anak itu, lalu memutar tubuh kecilnya agar menghadap Bei Mingye.

“Lihat pria ini,” katanya sambil menunjuk Bei Mingye. “Matanya berwarna abu-abu keunguan. Apa menurutmu dia terlihat menakutkan?”

Anak itu menggeleng pelan. “Tidak.”

Dia tidak menyangka pria setampan itu memiliki warna mata yang begitu unik.

Chongyue menatap anak itu lekat-lekat. “Kalau matanya saja tidak membuatmu takut, lalu kenapa kau harus merasa rendah diri hanya karena warna matamu berbeda?”

Pertanyaannya membuat anak itu terdiam.

Beberapa saat kemudian, dia kembali menatap Chongyue. Kedua matanya tiba-tiba berbinar.

“Matamu sangat indah... seperti langit,” ucapnya polos.

Mendengar itu, Chongyue dan Bei Mingye sama-sama terkejut.

Padahal Chongyue baru menggunakan ramuan untuk menyamarkan warna matanya beberapa hari yang lalu. Khasiat ramuan itu seharusnya masih bertahan.

Lalu, bagaimana mungkin anak ini bisa melihat warna matanya yang sebenarnya?

Bei Mingye juga mengerutkan kening. Dari sudut pandangnya, mata Chongyue masih tampak hitam seperti biasa. Terlebih lagi, anak ini baru pertama kali bertemu dengannya.

Bagaimana dia bisa tahu bahwa warna mata asli Chongyue adalah biru?

“Kau bisa melihat warna mataku yang sebenarnya?” tanya Chongyue penasaran sambil menatapnya serius.

Anak itu mengangguk. “Biru... sangat jernih. Persis seperti langit.”

“Bei Mingye, sebenarnya ada apa dengan anak ini?” Chongyue menoleh kepadanya dengan wajah bingung.

Bei Mingye memijat pelipisnya pelan. “Aku juga baru pertama kali menemui keadaan seperti ini.”

Tiba-tiba dia teringat beberapa batu yang diambilnya dari area Zuifeng. Dia mengeluarkan dua buah batu dari cincin penyimpanannya, lalu meletakkannya di atas meja.

“Coba perhatikan kedua batu ini,” ujar Bei Mingye sambil menunjuk keduanya. “Apa kau melihat perbedaan di antara keduanya?”

Meskipun tidak memahami maksud pertanyaannya, anak itu tetap menurut. Dia mengamati kedua batu itu dengan saksama.

Tak lama kemudian, jari mungilnya menunjuk batu yang lebih kecil. “Yang ini kosong.”

Setelah itu, dia menunjuk batu yang lebih besar. “Kalau yang ini, di dalamnya ada kristal berwarna biru.”

Chongyue hanya memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Karena jarang keluar dari Kediaman Jenderal, dia memang tidak mengenali jenis batu yang sedang diuji Bei Mingye.

Bei Mingye mengerahkan sedikit tenaga dalam, lalu meremukkan batu pertama.

Benar saja. Di dalamnya hanya terdapat batu biasa tanpa kandungan apa pun.

Kemudian, dia mengambil batu kedua dan mengikis permukaannya menggunakan belati kecil.

Beberapa saat kemudian, lapisan luar batu itu mulai terkelupas. Dari balik permukaannya perlahan muncul cahaya biru lembut.

Setelah seluruh bagian luarnya dibersihkan, terlihat sebuah kristal biru murni yang berkilau indah.

Bei Mingye memandang kristal di tangannya sejenak sebelum menoleh kepada Chongyue sambil tersenyum tipis. “Anak yang kau selamatkan ini ternyata bukan anak biasa. Matanya mampu melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat orang lain. Karena itulah dia bisa melihat warna matamu yang sebenarnya sekaligus mengetahui isi batu ini.”

Chongyue ikut terkejut.

Kemampuan untuk melihat sesuatu yang tersembunyi seperti itu benar-benar langka.

Merasa tidak nyaman terus diperhatikan oleh Chongyue dan Bei Mingye, anak itu kembali ingin menundukkan kepala.

Namun, mengingat ucapan Chongyue sebelumnya, dia memaksa dirinya tetap menegakkan kepala.

Seolah baru memikirkan sesuatu, Chongyue menoleh kepada Bei Mingye. “Apakah kau membawa uang?”

Bei Mingye menatapnya heran. “Untuk apa kau tiba-tiba membutuhkan uang?”

“Jangan banyak bertanya,” jawab Chongyue sambil mengibaskan tangannya. “Kalau ada, pinjamkan dulu kepadaku. Nanti akan kukembalikan setelah aku punya uang sendiri.”

Tanpa banyak bicara, Bei Mingye mengeluarkan sebuah kantong uang dari cincin penyimpanannya, lalu melemparkannya begitu saja ke pangkuan Chongyue.

Di dunia ini, mungkin hanya wanita ini dan kakak perempuannya yang berani bersikap serta berbicara sesuka hati kepadanya tanpa sedikit pun rasa takut.

Chongyue membuka tali kantong tersebut dan melihat beberapa koin emas berkilauan di dalamnya.

Dia mendecak pelan. “Sepertinya aku memang harus segera mencari cara menghasilkan uang sendiri.”

Bagaimanapun juga, uang adalah sesuatu yang sangat penting. Meskipun bukan segalanya, hidup tanpa uang jelas akan terasa jauh lebih sulit.

Sama seperti di kehidupannya dulu.

Begitu banyak orang rela membanting tulang siang dan malam hanya demi mengumpulkan pundi-pundi uang.

Setelah menghela napas pelan, Chongyue menyerahkan kantong uang itu kepada anak kecil di sampingnya. “Simpan uang ini. Setelah kereta berhenti nanti, pergilah dan jalani hidupmu dengan baik.”

Anak itu menatap Chongyue tanpa berkedip. Dia salah memahami maksud ucapannya, mengira gadis itu akan meninggalkannya.

Air mata langsung menggenang di kedua matanya. Kemudian, dia mulai terisak dan menangis keras.

“Berisik.”

Suara Bei Mingye terdengar dingin dan tajam hingga tangisan anak itu langsung terhenti.

Anak itu menatap Chongyue dengan tatapan memohon. Sepasang mata hijaunya dipenuhi air mata yang hampir jatuh.

Chongyue memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. “Ada apa?”

Kesabarannya tidak terlalu besar. Dia berharap anak ini tidak terus menguji batas kesabarannya.

Tatapan anak itu menyapu sekeliling kereta dengan cepat.

Entah apa yang terlintas di pikirannya, dia tiba-tiba menggigit ujung jarinya sendiri hingga mengeluarkan darah. Kemudian, tanpa memberi kesempatan kepada Chongyue untuk bereaksi, dia menerjang maju dan mengoleskan darahnya itu ke dahinya.

Jemarinya bergerak cepat, membentuk sebuah simbol aneh.

Tubuh Chongyue langsung menegang.

“Bei Mingye, tubuhku tidak bisa bergerak!” serunya terkejut.

Seluruh tubuhnya tiba-tiba membeku. Bahkan untuk mengangkat tangannya saja dia tidak mampu.

Tidak mungkin tubuh anak sekecil ini mampu menekan dirinya hingga tidak berdaya.

Bei Mingye hendak bergerak, tetapi pada saat itu simbol darah di dahi Chongyue telah selesai terbentuk.

Alisnya berkerut rapat menatap simbol tersebut. Dia belum pernah melihat simbol seperti itu.

Yang lebih aneh, begitu simbol itu selesai terbentuk, darah yang berada di dahi Chongyue seolah hidup. Darah itu perlahan meresap ke dalam kulitnya hingga menghilang tanpa meninggalkan bekas sedikit pun.

Begitu jemari anak itu terangkat, tubuh Chongyue kembali dapat digerakkan. Dia segera mendorong anak itu menjauh, lalu duduk tegak sambil mengusap dahinya dengan wajah muram.

“Apa yang baru saja kau lakukan padaku?” tanyanya bingung.

Dia merasakan dengan jelas adanya jejak energi asing yang tertinggal di dahinya.

“Kontrak Utusan Pelayan,” jawab anak itu lirih. “Begitu kontrak ini terbentuk, aku resmi menjadi pelayanmu. Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk melindungimu, dan hidupku sepenuhnya menjadi milikmu.”

“Apakah otakmu sudah rusak? Hidupmu adalah milikmu sendiri, bukan milik orang lain!” Tatapan Chongyue langsung berubah tajam. Amarah mulai membuncah di dalam dadanya.

Mendengar nada bicaranya yang dipenuhi amarah, anak itu kembali menundukkan kepala.

“Sejak aku mulai bisa mengingat dunia ini, sudah banyak orang yang mati demi melindungiku,” ucapnya lirih. “Ada yang ingin membunuhku, tetapi ada juga yang rela mengorbankan nyawanya agar aku tetap hidup.”

Dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan suara yang jauh lebih pelan, “Pada akhirnya, aku dibuang jauh dari tanah kelahiranku hingga terdampar di Kerajaan Dong. Sekarang, aku hanya ingin tetap berada di sisimu.”

Mendengar kalimat terakhirnya, Chongyue terdiam.

Dia menatap anak itu cukup lama. Pada akhirnya, hatinya tetap melunak.

“Kalau begitu, tetaplah di sisiku,” ucapnya dengan nada datar.

Bagaimanapun juga, dia tidak tega membiarkan anak sekecil ini hidup sendirian di jalanan.

Bei Mingye memperhatikan keduanya dalam diam.

Dia cukup memahami sifat Chongyue yang dingin dan tegas. Namun, entah mengapa, gadis itu justru bisa melunak ketika berhadapan dengan anak kecil ini.

Apakah semua itu berkaitan dengan pengalaman atau luka yang pernah dialaminya di masa lalu?

“Kau bilang banyak orang mati demi melindungimu,” kata Chongyue sambil menatap anak itu dengan rasa ingin tahu. “Apakah kau masih ingat dari mana kau berasal?”

Jelas sekali anak ini bukan anak jalanan biasa.

Fakta bahwa begitu banyak orang rela mengorbankan nyawa demi melindunginya sudah cukup membuktikan bahwa latar belakangnya tidak sederhana.

“Aku sudah lupa,” jawab anak itu sambil menggeleng pelan. “Aku hanya ingat kobaran api yang sangat besar... dan namaku.”

Chongyue mengusap pelan kepala anak itu. “Kalau begitu, siapa namamu?”

“Huang.”

“Huang...” Chongyue mengulang nama itu lalu tersenyum tipis. “Nama yang sederhana, tapi bagus.”

Melihat senyumnya, Huang akhirnya memberanikan diri bertanya dengan hati-hati, “Apakah... kau sudah tidak marah lagi padaku?”

Bagaimanapun juga, dia baru saja mengikatkan kontrak secara sepihak tanpa meminta persetujuan Chongyue terlebih dahulu.

1
marlaina marliana
beraninya main keroyokan dasar iblis
marlaina marliana
semangat chongyue, balas dendam musnahkan semua musuh 💪💪
marlaina marliana
nah baru tau cerita awalnya pertemuan mereka ternyata seperti itu ya 🤔
marlaina marliana
masih menyimak 😊😊❤❤
marlaina marliana
kakak syantik ini sama seperti yg yg f**z* ya.
Author Nita_001: Iya kak say, aku pindah kesini, karena disana sepi pembacanya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!