Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Sang Bos
Mendengar hal itu, Dinda menatap Rangga dengan cermat, lalu mencoba mengurai situasi dengan kepala dingin.
"Pak Rangga, tenang dulu,"
potong Dinda pelan tapi mantap.
"Bu Viona tidak akan tahu siapa wanita yang Anda bawa ke restoran tadi. Bu Viona juga tidak pernah tahu kalau Mama adalah ibu saya. Jadi, Anda tidak perlu khawatir berlebihan sampai harus memindahkan kami dari rumah ini."
Dinda kemudian beralih menatap ibunya. "Mama tenang saja, mulai hari ini Mama tidak usah keluar rumah dulu. Tetap di dalam, kunci pintu, dan jangan pancing perhatian siapa pun."
Winta yang masih dilanda kecemasan langsung menyela dengan nada panik,
"Dinda! Kamu tidak mengerti seberapa nekatnya Bu Viona! Kalau dia sampai menyewa orang untuk melacak Mama bagaimana? Lebih baik Mama pergi sementara waktu."
"Ma, listen to me!"
panggil Dinda sedikit menaikkan intonasi suaranya, memotong kepanikan ibunya.
"Kalau Mama tiba-tiba kabur atau mengungsi, itu justru bikin orang curiga! Rumah ini aman selama kita tidak bertindak aneh. Mama mau makin memperkeruh keadaan dengan berlari tanpa arah?"
Winta terdiam, bibirnya gemetar.
"Tapi Mama takut menyeret kamu ke dalam masalah kantor..."
"Dinda benar, Ma,"
lanjut Dinda dengan nada yang melunak namun tetap tegas.
"Dinda yang kerja di kantor Pak Rangga, Dinda tahu betul situasinya. Selama Mama penurut dan diam di rumah, Bu Viona tidak punya jejak apa pun menuju Mama."
Rangga mengamati interaksi ibu dan anak itu. Penjelasan Dinda masuk akal dan berhasil meredam emosi panik yang sempat menguasai mereka. Rangga mengangguk setuju.
"Dinda betul, Umi,"
paut Rangga menatap Winta lembut.
"Tolong dengarkan Dinda. Untuk sementara, tetaplah di dalam rumah dan jangan bepergian ke mana pun."
Setelah menyakinkan diri bahwa Winta aman di bawah penjagaan Dinda dan situasi sudah terkendali, Rangga pamit dan bergegas kembali ke kantor untuk menghadapi apa pun yang sudah menunggu di sana.
Setelah Rangga pergi, tinggalah Winta dan anaknya berdua.
" Ma, apa pak Rangga gak salah sudah jatuh cinta sama mama?."
" Entahlah Dinda."
" Apa mama juga jatuh cinta sama pak Rangga?"
" Iya, Dinda."
" Sudah berapa lama ma ?"
" Sudah tiga bulan ."
" Aduh ma, pak Rangga itu suami orang."
" Waktu kenalan,dia ngaku duda sama mama."
" hmmm, dasar laki laki, trus mama percaya."
" Tadinya mama percaya, tapi setelah mama selidiki ternyata dia punya istri, mama menjauh, mama blokir handphone nya, tapi dia ganti nomor, dia betul² memohon agar mama tidak menolaknya, agar mama mau menjalaninya."
" trus ?"
" Trus, mama kasihan dan kami menjalaninya sampai saat ini ."
" Ma, mungkin jarak umur mama sama pak Rangga itu 20 tahun."
" Mama tahu, sudah mama jelaskan tapi dia terus ngeyel, gak mau lepasin mama."
" Hmm, ya udah jalani aja, Dinda takut nanti mama kecewa dan habis itu sakit, karena gimanapun juga , ada apa² dia pasti akan kembali pada istri dan anaknya, apa mama yakin nanti mama akan kuat ?"
" Entahlah."
" Ya udahlah ma, intinya sakit senang nanti mama yang akan merasakan."
" Iya."
Sementara itu, di tempat terpisah, Viona berdiri di ruang kontrol restoran Pak Hartono dengan wajah merah padam akibat menahan amarah. Layar monitor di hadapannya hanya menampilkan warna hitam polos. Pengurus restoran dengan sopan menginformasikan bahwa server CCTV sedang mengalami gangguan teknis sejak sore tadi.
Viona mengepalkan tangannya erat-erat. Ia gagal mendapatkan rekaman CCTV maupun identitas wanita yang makan siang bersama suaminya, tanpa menyadari bahwa jejak itu telah dihapus rapat-rapat.
Sore ketika Rangga pulang ke rumah, Viona sudah menunggu di ruang tamu.
" Kok lama pulangnya ."
" Kamu kenapa Vio kayak cacing kepanasan aja."
" kok kamu gak respek sih sama gosip tentang kami dan wanita berumur itu ?"
" Kamu aja yang risih, masak Rangga segagah ini naksir cewek tua ."
Rangga tertawa kecil sambil berjalan ke kamarnya."
" Sudahlah Viona, aku sudah jenuh dengan hal seperti itu, bukannya kamu sering ninggalin aku dan aku biasa aja."
Kata Rangga sambil berlalu.
Viona terdiam, dia kembali teringat akan kesalahannya selama ini, mengabaikan suaminya, begitu lama.
" Akh...sudahlah, gak akan aku bahas lagi, bikin sakit kepala, selama ini Rangga pun tidak macam macam walaupun tidak aku pedulikan."
Viona ikut masuk ke kamarnya dan menunggu Rangga yang sedang mandi.
" Pa.."
" Hmmm, kanapa ?"
" Kamu beneran gak lagi jatuh cinta kan ?"
" Gak."
Jawab Rangga dingin.
" Kasihan Celsy anak kita kalau seandainya terjadi apa apa sama kita ."
" Loh, dulu waktu kamu cuekin aku apa gak mikir kesana, tiap hari anak kamu antar ketempat mama."
" Iya, pa, tapi sekarang aku sudah sadar."
" Hmm...sudah terlambat Viona, hatiku sudah mati untukmu, aku lebih mencintai wanita tua tapi sanget penyayang dan perhatian."
Rangga berbisik dalam hatinya.
" Pa, kamu kok diam ?"
" Aku mau rebahan sebentar, menjelang magrib, bolehkan ?"
" Iya pa, biar aku temanin."
"iya."
Rangga merebahkan badannya di ranjang, Viona memeluk pinggangnya, Viona tidak tahu kalau pikiran Rangga sedang melayang pada Wanita lain, Winta yang begitu anggun, lembut, manja.
Bersambung