Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.
Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Mansion Grahansa
Ruang tengah Mansion Grahansa yang biasanya megah dan tenang, mendadak berubah menjadi neraka bagi siapa saja yang berada di dalamnya.
Jam dinding besar di sudut ruangan menunjukkan pukul tiga pagi. Suasana hening kota metropolitan terputus total oleh jeritan dan tangisan yang memilukan.
Baskara, dengan kepala tertunduk dalam dan seragam lapangan yang kotor oleh tanah merah, berdiri kaku di depan meja marmer. Di belakangnya, Kevin dan Amara berdiri dengan tubuh gemetar hebat.
Wajah Amara sudah sembap karena tangis yang tidak kunjung berhenti sejak mereka keluar dari perbatasan Alas Purba. Kevin sendiri hanya bisa menatap lantai, meremas jemarinya dengan cemas. Kacamata berbingkai hitamnya tampak buram oleh keringat dingin.
"Apa kau bilang?! Hilang?!" Suara Leonardo Grahansa menggelegar, bergetar hebat antara amarah yang meluap dan ketakutan yang teramat sangat.
Pria paruh baya itu mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. Mata tuanya membelalak, menatap Baskara dengan pandangan membunuh.
"Aku membayarmu mahal, Baskara! Aku memercayakan keselamatan putri tunggalku kepadamu! Dan sekarang kau kembali ke rumah ini untuk memintaku menerima kenyataan bahwa dia lenyap?!"
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan Leonardo," suara Baskara terdengar berat dan serak. Dia tidak mencoba membela diri. "Kami sudah memperketat penjagaan.
Namun, Profesor Hera menyelinap keluar tepat tengah malam tanpa alat penerangan apa pun. Saat kami menyadari kepergiannya dan mengejar ke titik pembatas, Profesor sudah tidak ada. Alat pelacak satelit dan sensor termal kami lumpuh total di area itu."
"Aku tidak butuh alasan teknismu yang tidak masuk akal!" raung Leonardo.
Tiba-tiba, air mata pria berkuasa itu pecah. Dia menangis histeris, menangkupkan kedua tangan ke wajahnya. Bahunya yang tegap terguncang hebat. Keangkuhan seorang pemilik Grahansa Corp runtuh seketika.
"Hera, putriku, ke mana kamu, Sayang? Papa sudah melarangmu."
Di atas sofa panjang, Soraya terduduk lemas. Wajah ibunda Hera itu kini pucat pasi, jauh lebih putih daripada kain turban sutra marun yang membungkus kepalanya. Kanker otak stadium 3 yang menggerogoti tubuhnya seolah langsung menyerang sisa-sisa kekuatan terakhirnya malam itu.
Napasnya tersengal-sengal, pendek dan berat. Gelas air hangat yang dipegangnya terlepas, jatuh menghantam karpet beludru impor dengan bunyi plop yang tumpul, menumpahkan isinya.
"Mama!" Leonardo langsung berbalik, berlutut di depan istrinya dan menggenggam tangan Soraya yang mendadak sedingin es. "Mama, tenanglah. Pikirkan kesehatanmu, kumohon."
Soraya tidak menangis dengan bersuara. Air matanya mengalir lambat menembus kerutan di pipinya yang cekung. Dada wanita itu naik-turun dengan cepat, tangannya mencengkeram dada kirinya sendiri. "Hera anakku dia pergi ke hutan itu demi Mama, Leo. Ini semua salahku, andai saja aku tidak sakit..."
"Tidak, Mah! Jangan bicara begitu!" Leonardo memeluk istrinya dengan erat, ikut menangis di pundak Soraya. "Ini bukan salah Mama. Ini salah anak nakal itu! Sifat keras kepalanya yang keterlaluan!"
Leonardo mendadak melepaskan pelukannya. Dia berdiri, membalikkan badan dengan mata merah yang menyalang penuh amarah,
langsung menunjuk ke arah Kevin dan Amara yang sejak tadi bergeming di sudut ruangan.
"Dan kalian berdua!" bentak Leonardo, suaranya naik satu oktav, mengarah langsung pada kedua asisten muda itu. "Kalian adalah asistennya! Kalian tahu persis bahaya hutan itu! Mengapa kalian tidak menghentikannya?! Mengapa kalian membiarkan profesor kalian yang keras kepala itu berjalan menuju maut?!"
Amara langsung jatuh berlutut di atas karpet, tangisnya kembali meledak histeris. Dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada ke arah Leonardo.
"Maafkan kami, Tuan. maafkan kami! Kami sudah memohon pada Prof Hera di dekat pembatas itu. Kami sudah melarangnya! Tapi... tapi Prof Hera tetap nekat. Dia bilang ini satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Ibu Soraya
Kami benar-benar merasa bersalah., andai saja saya menahan pintunya."
Kevin maju satu langkah, mencoba melindungi Amara meskipun tubuhnya sendiri tidak berhenti gemetar.
Dia membetulkan posisi kacamatanya yang melorot dengan tangan yang basah oleh keringat. Wajahnya dipenuhi penyesalan yang mendalam.
"Tuan Leonardo, ini adalah kelalaian terbesar saya sebagai asisten senior," ucap Kevin dengan suara bergetar namun diusahakan tetap runtut.
"Secara logis, saya seharusnya bisa memprediksi bahwa Prof Hera tidak akan menyerah hanya karena peringatan lisan. Sensor magnetik saya sudah membaca adanya distorsi aneh di sekitar dua pohon pembatas itu, tapi saya terlambat mengambil tindakan preventif untuk mengunci tendanya. Saya siap menerima hukuman apa pun dari perusahaan."
"Hukuman?!" Leonardo tertawa sumbang, sebuah tawa yang dipenuhi rasa frustrasi yang teramat sangat. Pria itu melangkah maju, mencengkeram kerah jaket lapangan Kevin dengan kasar, memaksa pria berkacamata itu menatap matanya yang merah.
"Jika terjadi sesuatu pada putriku di dalam hutan purba itu, hukuman apa pun dari pengadilan tidak akan pernah cukup untuk membayar nyawanya! Kau paham?!"
"Leo, sudah, jangan dengan kekerasan," bisik Soraya dari sofa, suaranya sangat lemah hingga hampir tenggelam oleh suara tangisan Amara.
Leonardo melepaskan cengkeraman tangannya pada kerah Kevin dengan sentakan kasar, membuat asisten muda itu terhuyung mundur beberapa langkah. Leonardo kembali ke samping istrinya, mengusap pelipis Soraya yang mulai berkeringat dingin.
"Baskara!" perintah Leonardo tanpa menoleh, suaranya kembali berubah menjadi dingin dan penuh otoritas mutlak. "Hubungi tim SAR terbesar di kota ini. Bawa seluruh peralatan canggih, anjing pelacak, helikopter, apa pun! Aku akan mendanai operasi ini secara penuh tanpa batas.
Besok pagi-pagi sekali, kalian harus kembali ke Alas Purba. Hancurkan pohon pembatas itu jika perlu! Temukan putriku!"
"Siap, Tuan. Koordinasi dengan tim evakuasi udara sedang berjalan," jawab Baskara tegas, memberikan penghormatan militer sebelum berbalik dan melangkah cepat keluar dari mansion untuk mengatur strategi pencarian besar-besaran.
Di dalam ruangan yang kini hanya menyisakan gema isak tangis, Kevin dan Amara masih terpaku dalam rasa bersalah yang teramat pekat.
Mereka tahu, meski tim SAR terbaik dikerahkan, hilangnya jejak kaki Hera secara misterius tepat di garis pembatas pita merah Alas Purba bukanlah teka-teki yang bisa diselesaikan oleh teknologi modern
kotaPenyesalan itu mengunci lidah mereka, sementara badai kecemasan kini sepenuhnya mengurung masa depan keluarga Grahansa di dunia nyata.