Seri ini adalah lanjutan dari novel Story/the wandering witch Serena.
——Di dunia bernama Cardinal.
Seorang gadis bernama Serena tinggal di kota Wistoria. Ia bercita-cita menjadi penyihir pengembara yang dikenal banyak orang, namun setiap perjalanan tidak selalu membawa kebahagiaan.
Di balik dunia yang indah, terdapat berbagai konflik, misteri, dan kisah yang perlahan mengubah perjalanan Serena.
Inilah kisah perjalanan seorang penyihir muda dalam menemukan arti dari dunia yang ia tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizz the writter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 22—KARTU
Sekarang, tersisa dua bulan sebelum kelulusan Serena.
Kembali lagi pada ruang kelas yang santai, geng troublemaker kembali berkumpul.
"Kacau!"
Lylian menggaruk rambut dengan kedua tangannya.
"Santai aja kali, hal begini masih tergolong normal untuk grade kita." sahut Allwin yang duduk di jendela terbuka sambil bersandar membiarkan angin menerpa rambut merahnya itu.
"Hah!? Normal apanya? Satu bulan lagi kita akan menghadapi ujian akhir sebelum lulus, dan sebelum hal itu terjadi kita sudah dapat tugas bikin teknik sihir sendiri!" jawab Lylian dengan nada keras menganggap seolah tugas yang diberikan Kael adalah kiamat akhir zaman.
Serena, Michael dan Celia hanya menatap santai Lylian yang terlalu berlebihan.
"Bener kata Allwin, kok kurasa tugas ini ngga begitu sulit, karena kita cuma perlu nunjukin skill sihir yang kita ciptakan sendiri, sihir tingkat rendah pun tak apa."
"Ya, lagian tahun terakhir kita sudah bukan teori lagi, tapi praktik akhir pelajaran." celetuk Serena. "Jadi... Ya, ngga heran kalau lebih banyak praktik lagian beberapa bulan yang lalu juga kita udah sempat magang jadi tentara perang." lanjutnya untuk meyakinkan Lylian bahwa tugas ini tidak sesulit yang dibayangkan.
"Hm... Ok, deh gw bakal positif tugas ini gampang." ucap Lylian dengan nada lesu.
Allwin terkekeh dengan wajah percaya dirinya. "Daripada bahas beginian yang ngga ada manfaatnya, mending cari tren atau permainan yang bisa kita mainin di jam kosong ini."
"Apa?" sahut Michael.
"Gw ada satu permainan yang menarik dan menantang, kalian mau?" Allwin mengalihkan pandangannya pada seluruh temannya. Namun senyum tipis yang ditampilkannya itu sudah membuat perasaan Serena berteriak bahaya.
"Halah, lu lagi Ngga percaya gw, terakhir kali kita ngikutin saran lu, hutan belakang akademi hampir kebakaran tau? Lagian lu dapet bom segede itu dari mana?" sangkal Serena sebelum Allwin menyuarakan sarannya.
"Hah... Udah gw bilang waktu itu cuma kecelakaan doang, lagian yang kali ini lebih aman, kok. ngga bakal ngerugiin sekitar." sanggah Allwin mencoba membenarkan perilakunya di masa lampau.
"Ngga bakal ngerugiin sekitar katamu. Berarti hal itu ngga ada jaminan keselamatan bagi kita, kan?" ucap Michael dengan santai, namun perkataan itu terasa seperti palu yang menghancurkan seluruh rencananya.
Allwin terdiam, begitu juga dengan yang lainnya. Namun, yang namanya Allwin jelas dia tidak bisa tinggal diam ketika rasa bosan menginvasi dirinya.
"Ok, deal. Gw akui ide sebelumnya emang berbahaya, tapi gw punya satu permainan lagi yang bisa dimainkan berlima. Dan ini 100 persen aman." ia kembali mengajukan sarannya untuk mengusir rasa bosan dalam dirinya.
Celia dan Lylian hanya mengangguk. Sedangkan Serena dan Michael masih curiga dengannya.
"Permainan apa yang lu maksud? Jelaskan dengan detail." kata Serena berusaha menginterogasi Allwin demi memastikan keselamatan mereka.
Tanpa pikir panjang, Allwin memanifestasikan sebuah gate di sampingnya, Tuk. Segepok kartu muncul dan jatuh ke tangannya.
"Kartu?" gumam yang lainnya.
"Ya, kita akan main uno no mercy, yang kalah harus loncat dari lantai dua, ya." ucap Allwin sambil menutup kembali Gate-nya, sementara dirinya turun dan langsung duduk di meja.
Beberapa orang tidak setuju dengan konsekuensinya terutama Serena dan Michael, setelah perdebatan yang cukup panjang tentang hukuman bagi yang kalah, akhirnya mereka sepakat bahwa yang kalah harus menjawab truth or dare dari semua pemenangnya.
Setelah hal itu ditetapkan akhirnya Allwin memulai penjelasan tentang aturan dan cara bermain kartunya.
Kartu dibagikan dan dadu telah dilempar, permainan pun dimulai dengan Lylian sebagai pemain yang meletakkan kartu pertama. Sedangkan Allwin mendapatkan bagian terakhir. Entah kenapa, senyum liciknya tetap tidak hilang.
Lylian memulainya dengan kartu 4 merah, dan giliran berikutnya Serena mengeluarkan kartu 4 hijau, Michael 8 hijau dan disusul Celia dengan kartu 8 biru.
Dan Allwin langsung mengeluarkan kartu block biru, melewati giliran Lylian dan mengarahkannya ke Serena.
Beberapa menit berjalan dan konflik kartu masih tetap terkendali, masih belum ada yang memulai perang kartu plus.
Sampai, ketika Michael mengeluarkan kartu plus satu biru pada Celia.
"Hm?" gumam Allwin dengan tenang.
Celia terlihat sedikit ragu jika ia membalas dengan kartu plus maka perang akan dimulai dan disitulah salah satu dari mereka akan tereliminasi.
Pada akhirnya Celia yang tidak tega memilih mengambil satu kartu.
Namun... Di saat yang bersamaan, Allwin tertawa keras seperti tokoh antagonis yang baru saja mengalahkan sang protagonis.
"Sekarang, lah waktunya. Bersiaplah."
Plak!
Allwin langsung menampar kartu plus 10 di atas tumpukan kartu lain.
"—!"
Lylian terbelalak, sementara yang lain hanya terkejut dan berdoa bahwa kartu plus mereka cukup untuk bertahan.
"Ok, gw ngga bakal kalah semudah itu!"
Plak!
Lylian menyangkalnya dengan plus 4.
Serena plus 2—Michael plus 2—Celia plus 10—Allwin plus 1—Lylian plus 4—Serena plus 2.
Michael tidak langsung membalas, ia menelan ludah sambil mengamati kembali kartunya. 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘸𝘪𝘯 𝘵𝘢𝘥𝘪, 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘵𝘶 𝘴𝘱𝘦𝘴𝘪𝘢𝘭 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘵𝘶 𝘱𝘭𝘶𝘴, 𝘮𝘢𝘬𝘢... 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵𝘪 𝘊𝘦𝘭𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘭𝘭𝘸𝘪𝘯. Dengan rencana itu, Michael sudah jelas ia berencana untuk menyelamatkan Celia dan mengalahkan Allwin di saat itu juga.
Plak!
Dua kartu sekaligus, kartu block dan kartu plus 2.
Allwin tidak mengambil pusing hal itu namun... Strategi yang ia gunakan justru digunakan oleh Michael terlebih dahulu, karena ia tahu bahwa sebenarnya kartu plus tidak bisa dikombinasikan oleh kartu spesial namun karena ini adalah tongkrongan mereka maka, aturannya juga terserah mereka.
Allwin berdecak sebelum meletakkan kartu plus 4.
Sepertinya Lylian sudah berada di ujung tanduk. Karena menyadari bahwa pemain sebelumnya adalah Allwin, jadi tidak seorang pun yang bisa menyelamatkannya dengan kartu block. Secara Allwin adalah musuh utama dalam permainan ini, ya. Mungkin Allwin sudah banyak melakukan dosa pada mereka sehingga semuanya kompak untuk mengalahkannya.
Pada akhirnya Lylian hanya bisa menelan ludah melihat kartu plusnya hanya tersisa empat.
"Cepat! Atau lu mau langsung nyerah aja?" gertak Allwin pada Lylian.
"Ya, ya... Sabar, dong!"
Akhirnya dengan berat Lylian mengeluarkan kartu plus 10-nya.
Dilanjutkan oleh Serena yang juga mengeluarkan dua kartu block dan satu kartu plus 10.
𝘉𝘢𝘫𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯... 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘬𝘰𝘮𝘱𝘢𝘬 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶? 𝘋𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘴𝘪𝘢𝘭𝘢𝘯. Pikir Allwin sambil mengerutkan dahinya. Namun senyumnya masih tidak hilang, ia berpikir bahwa kompetisi ini sangat menarik karena mengubah permainannya menjadi empat versus satu.
Kartu masing-masing pemain masih terlihat banyak, Allwin masih memiliki 12 kartu, Lylian 10, Serena 11, Michael 12 dan Celia 12.
Allwin kembali meletakkan plus 2 dan dilanjutkan oleh Lylian dengan kartu yang sama.
Pertukaran plus terus berlangsung sampai...
Akhirnya Lylian kehabisan kartu plus dan terpaksa kalah pertama, kalahnya Lylian membuat situasi menjadi tenang kembali namun tidak dengan pikiran mereka.
Setelah Lylian tereliminasi, permainan kembali berlangsung tanpa kartu plus. namun, jatuhnya Lylian masih belum mengakhiri konflik.
Allwin semakin perhitungan dengan kartunya. Strategi Allwin adalah terus menambah jumlah kartu peserta sehingga menyisakan dirinya dengan lima kartu finisher. Yaitu 3 kartu skip dan 2 kartu plus.
Satu menit, dua menit berlalu sampai akhirnya seluruh peserta menyisakan 7 kartu masing-masing.
𝘐𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘔𝘪𝘤𝘩𝘢𝘦𝘭 𝘥𝘢𝘯 𝘊𝘦𝘭𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘸𝘪𝘯. Pikir Serena sambil bertukar tatapan dengan Michael.
Serena akhirnya mengeluarkan 6 kartu skip dan satu merah 4.
"Uno. Gw menang." Serena mengangkat tangannya dengan wajah lega, sementara Lylian murung menatap langit-langit dengan pasrah.
Akhirnya pertarungan tiga terakhir dimulai, pertukaran kartu paling sengit terjadi pada Michael dan Allwin sementara Celia sering mendapatkan skip dari Allwin, jelas membiarkan Michael terus kehilangan kartu bagusnya.
Sampai ketika Celia selesai menaruh kartu plus 4. Allwin mulai melancarkan seluruh serangannya.
Namun Michael masih dapat menyangkalnya, dan sebagai gantinya Celia harus kehabisan kartu plus dan tereliminasi.
"Haha, ketemu juga akhirnya. Udah siap kalah?" gertak Allwin dengan senyum percaya dirinya itu.
"Tidak, aku tidak akan kalah." jawab Michael tegas, namun...
"Ucapkan itu di ronde berikutnya, karena lima kartu gw ini sudah sesuai dengan apa yang gw rencanain."
Michael hanya menelan ludah. Ketika Allwin bersiap meletakkan seluruh kartunya.
"Uno...game."
Lima kartu sekaligus, dan semuanya adalah kartu dengan nomor yang sama yaitu enam.
Sekarang pemenangnya adalah, Serena juara satu, Allwin kedua dan Michael ketiga, sementara Celia dan Lylian harus menyiapkan dirinya untuk dihukum.
Beberapa detik berikutnya, akhirnya mereka mulai melakukan hukuman pada yang kalah,
"Ok, karena gw menang pertama jadi gw duluan." Serena mengajukan diri sebagai yang pertama.
"Silahkan." sahut Allwin santai.
"Ok, Lylian, Celia. Truth or Dare?"
Keduanya saling mengangguk dan memilih truth.
"Ok, jujur. Gimana perasaan kalian tentang Allwin?" tanya Serena dengan tatapan jahil ke arah Allwin.
"Dia! Binatang, mati aja sana!" celetuk Lylian dengan keras.
"Wah, bangsat! Ngajak ribut lu!?" Allwin sedikit terpancing namun ia tetap duduk santai di jendela.
"Celia?"
"Menurutku... Eh... Dia baik, namun... Sifatnya masih terlalu iblis untuk disebut manusia... Mungkin... Iblis pun tidak begini... " jawab Celia dengan ragu sementara wajahnya tidak berani menatap Allwin.
"Hm, gw setuju kayaknya iblis juga kalah iblis ama ini orang." imbuh Serena.
"Kalo mau ngehina pelan-pelan dong, ntar gw bales nangis." jawab Allwin dengan candaan sarkasnya.
Sementara pertanyaan Michael lebih mudah karena mereka memilih dare, Michael hanya memberikan hukuman ringan berupa keduanya harus melakukan push up 10 kali, sementara Allwin...
Keduanya sepakat untuk memilih truth karena lebih aman.
Namun pertanyaan Allwin sangat tidak manusiawi, yang ia tanyakan adalah: "apa hal yang paling kalian takuti? Atau hal yang paling kalian hindari, lah gampangnya." senyum licik dibalik tatapan santainya itu menandakan bencana akan datang tidak lama setelah itu.
Celia terlihat sedikit ragu, namun ia tetap menjawab: "aku takut kehilangan orang yang menurutku berharga."
Allwin terdiam, karena dengan jawaban itu, ia tidak mendapatkan petunjuk untuk niatnya.
Sedangkan Lylian, "aku takut... Ketika aku lapar ternyata tidak ada makanan di manapun." ucapnya dengan percaya diri.
Pada akhirnya Allwin hanya bisa menghela napas, namun ia tetap bersyukur karena dirinya tidak mati bosan.
◆◆◆
Beberapa hari berikutnya pun tetap sama, ketika istirahat dan ada waktu luang bersama, mereka selalu memainkan uno, dengan posisi pemenang yang selalu didominasi Allwin dan Serena.
Pada hari ini, tepat setelah selesainya jam belajar dan mengajar.
Kael pergi ke pusat pemerintahan kerajaan untuk menyampaikan hasil observasinya mengenai proyek pembangunan besar-besaran yang sedang dilakukan kerajaan.
Di sebuah ruangan yang luas dan tenang, Kael duduk bersama Victor, Rui, Veronica, dan Edens, seorang perdana menteri kerajaan yang mengenakan pakaian formal khas bangsawan.
"Baiklah kalau begitu, aku akan memulai rapat ini." ucap Victor dengan santai.
"Pertama-tama, kita mulai dari kondisi ekonomi kerajaan. Baiklah, Edens, bisakah kau memberikan laporan tentang pengeluaran dan pemasukan kerajaan secara detail saat ini? Dan sekalian berikan kekurangan dan kelebihannya, kita akan membahas sarannya secara musyawarah." jelas Victor dengan posisi tangan melipat, sementara kedua matanya melirik santai kepada Edens yang tepat di depannya.
"Baik, terimakasih yang mulia." Edens membuka beberapa lembar dokumen di hadapannya, "yang pertama, untuk kondisi ekonomi dan keuangan kerajaan saat ini sudah cukup stabil, ekspor barang keluar negeri juga meningkat, terutama dari ekspor gandum, emas, besi dan beberapa produk buatan kerajaan." jelas Edens dengan lantang.
Mendengar hal itu Victor terdiam sejenak, ada sedikit kelegaan dalam dirinya, mengingat beberapa bulan yang lalu kondisi ekonomi kerajaan benar-benar sangat buruk akibat perang, dan juga beberapa proyek besar sempat berhenti beroperasi karena kurangnya biaya operasional, namun setelah masa pemulihan awal selesai, kini beberapa pusat produsen mulai kembali bekerja dan menjual hasilnya keluar negeri.
Tapi meskipun begitu kondisi ekonomi mereka masih belum sebaik seperti kondisi sebelum mulai perang.
Edens menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. "Tidak hanya itu, beberapa eksperimen teknologi juga ada yang berhasil, terutama Aether Vox, lampu dan Thunder Hammer." ia berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan. "Untuk barang impor yang masuk ke kerajaan saat ini adalah tembaga, bumbu rempah, minyak bumi dan batu bara. Dan saat ini, tembaga menjadi hasil tambang yang paling banyak dibeli kerajaan."
Kael memiringkan kepalanya. "Tunggu, kau bilang apa tadi? Thunder Hammer? Apa aku tidak salah dengar?" Kael mencoba memastikan hal itu, apakah senjata itu murni menggunakan teknologi atau menggunakan bantuan sihir?
"Untuk itu... " ucap Edens sedikit ragu.
"Biar kujelaskan," celetuk Victor memotong dialog Edens. "Thunder Hammer atau yang bisa disebut Thummer, ini adalah ide yang disarankan oleh Serena lalu dikembangkan lagi oleh Chiel dan Oruzhiev."
jelasnya sambil meletakkan sebuah kertas print dengan gambar Thunder Hammer yang lengkap dengan penjelasan dan setiap bagian-bagiannya.
"Karena biayanya cukup murah, industri senjata mungkin sudah bisa memproduksinya secara massal sekarang, ya, walaupun ngga banyak." lanjutnya sambil menunjuk salah satu dokumen yang berisi biaya pengembangan Thunder Hammer.
Kael menatap serius print senjata tersebut. "Thunder Hammer... " gumamnya dengan sangat pelan.
"Dengan beberapa penemuan baru ini, kerajaan kita mungkin akan mampu atau bisa saja menandingi beberapa negara adidaya lainnya, seperti Thyrion, Kekaisaran Langit dan Dutchland." Victor terlihat begitu percaya diri dan semangat ketika mengatakan itu, mengingat kembali tujuan dan janjinya dulu kepada rakyat jika ia menjadi raja, maka ia akan membawa kerajaan ini menuju puncak kejayaannya sepanjang sejarah. Itu adalah obsesi dan janjinya terhadap ibundanya.
"Ya, aku setuju dengan hal itu." kata Kael diikuti anggota lainnya yang juga mengangguk dengan senyum percaya diri di wajahnya.
"Tapi... " hening, anggota lainnya hanya menatap Rui penasaran. "Aku juga punya kabar buruk."
"Apa itu? Ada yang ingin memulai perang?" sahut Veronica.
"Bisa jadi begitu," jawab Rui dengan wajah serius. Hal itu membuat yang lainnya juga merasa tegang, karena Rui adalah pemimpin agen mata-mata di kerajaan. Jelas kabar buruk darinya tidak bisa dianggap remeh sama sekali. "Dalam beberapa bulan pengintaian, saya melihat bahwa Kekaisaran langit, Dutchland dan Kekaisaran matahari sedang meningkatkan kekuatan militernya secara besar-besaran." jelas Rui,
ia meneguk segelas tehnya lalu melanjutkan. "dan juga saya mendapatkan informasi bahwa Kekaisaran matahari sedang mencoba mencari berbagai hubungan diplomatik ke banyak kerajaan besar terutama pada persatuan Kekaisaran barat." penjelasan itu cukup untuk membuat ruangan seketika hening.
Mengingat kembali bahwa Dutchland adalah kerajaan paling berpengaruh di benua Eurania, sementara persatuan Kekaisaran barat adalah kumpulan delapan Kekaisaran berdaulat yang mengendalikan jalur perdagangan laut antara benua Chalsia, Elariam dan Theria.
Tidak hanya mendominasi di sektor ekonomi dan perdagangan. Mereka juga memiliki kekuatan militer yang sangat kuat,
Angkatan darat dan laut kedelapan Kekaisaran tersebut dapat menyatukan seluruh kekuatan mereka menciptakan sebuah pertahanan militer yang absolut.
"Gawat juga, apakah mereka sedang merencanakan suatu perang besar?" ucap Victor pelan.
"Kurasa begitu, tapi... Kuharap hal itu tidak terjadi." harap Kael dengan wajah yang ragu namun tetap mencoba serius.
Hal itu terasa begitu buruk ketika mereka mengingat bahwa tiga dari delapan anggota Persatuan Kekaisaran Barat(PKB) Atau blok barat, adalah tiga Kekaisaran adidaya yang sangat berpengaruh di dunia. Di antaranya adalah Kekaisaran Leonis, Kekaisaran Borgheus dan Kekaisaran Cervant.
Tentu saja jika Great war kembali terjadi pada masa kini, itu sudah cukup untuk menghabiskan jutaan populasi Cardinal.
"Ya, dengan keadaan ini... Kita terpaksa harus meningkatkan sistem militer kita, untuk berjaga-jaga jika perang itu memang terjadi." kata Victor dengan tegas. "Lalu, Rui. Kau jangan berhenti mencari informasi tentang pergerakan mereka, aliansi kuat kita di sini hanya Thyrion, Babylon dan Dynasty Shen."
"Ya, baiklah saya juga akan berusaha semaksimal mungkin." jawab Rui dengan tenang.
Beberapa menit berlalu setelah pembahasan tentang perkembangan kerajaan lain, Kael mulai memberikan beberapa informasi tentang perkembangan pembangunan jalan dan beberapa jembatan di sungai-sungai besar Asteria.
◆◆◆
Di sisi yang jauh, sebuah tempat yang gelap dengan hanya dimodalkan pencahayaan dari obor dan cahaya yang entah dari mana mampu menerangi ruangan tersebut.
Ditengah ruangan bulat tersebut terdapat sebuah meja bundar yang terbuat dari batu dengan berbagai jenis ukiran pada permukaan meja.
Terdapat lima orang yang duduk mengelilingi meja tersebut.
Seorang pria dengan armor abu-abu gelap bercorak merah di sekujur armor bagaikan urat nadi yang mengalirkan kekuatan, pria berambut blonde gelap itu menyilangkan tangannya dengan wajah yang sangat amat tidak ramah.
Livyathan sang kesombongan.
"Dengar!" ucap pria itu dengan nada keras yang sangat mengintimidasi. Sementara mata merahnya yang tajam menatap erat pada seluruh anggota. "Dua anggota kita baru saja mati dua bulan lalu, sungguh memalukan. Dan kau! Zhanobia, kau tahu kenapa mereka bisa mati?"
Zhanobia berusaha tenang walaupun seluruh tubuhnya ketakutan setengah mati. Di hadapan sang kesombongan, keserakahannya bukanlah apa-apa. "Ya, saya tahu itu. Tapi saya tidak bermaksud menumbalkan mereka." ucapnya dengan suara pelan.
"Begitu? Kudengar kau sedang mencoba membangun aliansi besar dan memulai perang? Kau tahu itu adalah tindakan yang sangat bodoh?" sahut Livyathan dengan lantang.
Ucapan itu jelas merujuk pada perang yang terjadi di Asteria lalu, hal itu bukanlah hal yang dapat diremehkan begitu saja baginya, karena seluruh pemimpin negara besar telah mengetahui adanya raja iblis sins secara publik dan jika salah satu dari mereka membuat masalah maka anggota yang lainnya juga akan mendapat masalah.
Seorang wanita dengan rambut merah muda panjang terurai hingga punggung duduk dengan anggun. Riasan wajahnya yang sempurna membuat parasnya tampak bak bidadari, kontras dengan pakaian turtleneck hitam tanpa lengan yang membentuk siluet tubuhnya.
Bagian depan pakaiannya memiliki potongan berbentuk hati yang memberikan kesan berani sekaligus mencolok.
Velicera si nafsu.
Ia menghela napas sebelum berbicara.
"Jadi, Livyathan, tidakkah kau bisa berhenti marah dan berikan solusi untuk kebijakan berikutnya? Lagi pula setelah anggota sins lama mati... Mungkin penggantinya juga akan datang sendiri." ucapnya dengan suara yang anggun bagaikan panggilan bidadari mengajak pasangannya keliling surga.
"Oh? Solusi, ya?" pria itu memiringkan kepalanya namun sedikit mengangkat wajahnya dan tetap menunjukkan harga diri tingginya tersebut. "Kalau begi—tunggu dulu, apa ini?"
Livyathan menghentikan ucapannya dan melirik sekitar.
Bersamaan dengan itu, sebuah riak emas muncul di udara dengan putaran yang perlahan semakin cepat menciptakan sebuah halo emas yang berputar setiap bagiannya.
Divine utility. Halo itu berputar semakin cepat seolah sedang mencoba untuk menembak.
"Dimana, dimana keberadaan hawa sialan ini."
Mata Livyathan melirik semakin cepat.
Dan—####
####
◆◆◆
Suara pecahan kaca bercampur dengan bau kertas yang terbakar—
◆◆◆
Serena berbaring—
Ia meletakkan novelnya di meja sebelah kasurnya.
—
Serena berjalan perlahan menuju balkon asramanya.
Srek...
Pintu balkon terbuka.
Di hadapannya, terbentang langit malam dengan bulan yang dikelilingi ribuan bintang.
“Cantiknya...” gumamnya tanpa sadar sambil memandangi langit malam di Wistoria.
“Waktu gw sekarang nggak banyak. Gw harus lebih siap buat perjalanan gw nantinya.” gumam Serena dengan senyuman penuh harapan sambil memandangi bintang-bintang di langit.
Parivrajaka.
Sebuah rasi bintang di Cardinal.
Beberapa kumpulan bintang membentuk sebuah kepala serigala di langit malam. Bentuknya memang terlihat samar, tetapi bagi Serena, rasi itu tampak begitu jelas.