NovelToon NovelToon
TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Mata Batin
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: diana mainur

Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Jejak Tersembunyi

Suara sirine mobil perlahan melenyapkan di kejauhan, menyisakan keheningan yang tak biasa di pelataran parkir restoran.

Bima masih berdiri mematung di dekat pintu samping restoran. Napasnya terengah-engah, dadanya bergemuruh hebat saat menyaksikan Fadel dan Ibu tirinya menghilang di dalam mobil tahanan. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh juga membasahi pipinya.

Langkah kaki Rayven teratur mendekat paling depan dengan setelan jas hitamnya yang anggun, didampingi Rhea dan Zora di sisi kiri dan kanannya.

"Bima.." panggil Rhea lembut.

Bima mendongak menatap ketiga orang di hadapannya dengan tatapan penuh rasa hari yang tak terkira. Tanpa aba-aba, tubuh Bima mendadak membungkuk dalam-dalam, menundukkan kepalanya hingga hampir sembilan puluh derajat di hadapan Rayven, Rhea dan Zora.

"Mbak Rhea... Mbak Zora... Mas Rayven... Terima kasih banyak sudah menyelamatkan hidup saya," bisik Bima dengan suara terisak parah.

Rhea melangkah cepat, memegang kedua baju Bima dan menatapnya dengan binar mata yang hangat.

"Bima berdiri tegak. Jangan menunduk lagi. Mulai hari ini gak bakal ada lagi yang bisa nyakitin dan merendahkan kamu," ujar Rhea pelan dengan penuh penekanan.

"Iya, Bim. Air mata kamu itu udah terlalu banyak keluar buat orang-orang jahat itu. Sekarang waktunya kamu tersenyum, Bima," Zora tersenyum lebar.

Ia menyapu sudut matanya yang ikut berair lalu menepuk punggung Bima kencang.

Bima menyapu air matanya, mengangguk perlahan dengan senyum tulus yang akhirnya mengembang bebas di wajahnya. Pak Yudi yang berdiri di samping Bima ikut tersenyum lega, mengelus baju anak atasannya itu dengan rasa bangga.

Tiba-tiba, Rayven memajukan langkahnya. Dia menatap dingin Pak Yudi lurus-lurus, lalu sedikit menundukkan kepalanya memberi hormat.

"Pak Yudi, Terima kasih banyak atas bantuan bapak, berkat bapak semuanya berjalan lancar," jelas Rayven dengan suara tenang.

Sontak Rhea dan Zora saling pandang dengan dahi berkerut heran.

"Bantuan Pak Yudi?" Zora memiringkan kepalanya.

"Kamu ada rahasia yang nggak kamu ceritain ke kita?" tanya Rhea ikut menatap Rayven curiga.

Rayven menyunggingkan senyum tipis sebuah senyuman misterius khas dirinya. Ia memutar kembali ingatan beberapa malam sebelumnya.

Flashback - Tiga Hari Lalu.

Sinar lampu jalanan remang-remang menimpa pelataran parkir restoran yang baru saja tutup. Pak Yudi tampak keluar dari pintu depak sambil mengunci selot pintu dan membawa tas selempangnya.

Tiba-tiba, sebuah langkah kaki mendekat dari balik kegelapan malam.

"Selamat malam, Pak," sapa sebuah suara yang tenang.

"Eh... Masnya. Restoran sudah tutup, Mas," jelas Pak Yudi heran sekaligus waspada.

Rayven mengeluarkan katu namanya dan menyerahkannya dengan sopan. "Saya Rayven Mahesa, pengacara yang mendampingi Bima Sutejo. Saya datang kemari secara khusus untuk meminta bantuan Bapak.

Mendengar nama Bima, raut wajah Pak Yudi seketika melunak. " Mas Bima? Ada apa dengan Mas Bima, Mas?"

"Saya tahu selama ini Bima mengalami penganiayaan dan penyiksaan di dalam restoran ini oleh Fadel dan ibunya. Saya butuh bantuan Bapak untuk menyelamatkan Bima dan merebut kembali restoran ini dari tangan mereka," ujar Rayven lurus dan basa-basi.

"Saya kasihan sekali sama Mas Bima, Mas. Tapi, saya gak punya keberanian apa-apa buat melawan Mas Fadel,"

"Tapi sekarang bapak punya," potong Rayven tegas.

Rayven merogoh saku jasnya, mengeluarkan tiga unit kamera CCTV tersembunyi berukuran sangat kecil seukuran kancing kemeja.

"Saya minta tolong Pak, pasangkan kamera mikro ini. Kamera ini bergerak secara nirkabel dan langsung terhubung ke laptop saya. Ini satu-satunya cara untuk merekam semua tindakan keji mereka terhadap Bima secara real time tanpa mereka sadari," terang Rayven.

Pak Yudi menatap kamera kecil itu di telapak tangan Rayven, lalu mengepalkan tangannya mantap.

"Baik, Mas. Demi Mas Bima, saya siap bantu," jawab Pak Yudi dengan semangat.

End Of Flashback-

Rhea dan Zora melongo tak percaya mendengarnya. "Jadi Mas Rayven diam-diam bergerak sendiri dan memasang CCTV ke dalam resto lewat bantuan Pak Yudi," seru Zora takjub.

"Itu alasan kenapa bukti penganiayaan dan dokumen medis Bima bisa terkumpul sangat cepat dan akurat," sahut Rayven tenang.

Rhea menggelengkan kepalanya sambil tersenyum takjub, menatap Rayven dengan binar kekaguman yang tak bisa disembunyikan.

"Sekarang, giliran kita menyelesaikan tahap akhirnya. Saya segera harus ke kantor polisi sekarang," kata Rayven.

Di ruang interogasi markas kepolisian, hawa dingin menusuk tulang menyelimuti ruangan. Di balik meja besi, Fadel dan ibunya duduk kaki dengan kedua tangan diborgol. Rambut Rika sudah berantakan, sementara Fadel terus-menerus menghentakkan kakinya ke lantai dengan napas memburu panik.

"Mana pengacara kami. Kalian gak bisa menahan kami sembarangan seperti ini. Kami butuh pengacara kami sekarang juga," bentak Fadel murka pada petugas penyidik yang berdiri di dekat pintu.

"Iya, Pak. Ini namanya penyalahgunaan wewenang. Siapa yang berani menuduh kami ini membunuh," jerit Rika histeris.

KLIKK.

Pintu besi ruang interogasi mendadak terbuka. Langkah kaki teratur bergema di dalam ruangan. Rayven melangkah masuk dengan balutan jas hitamnya yang begitu rapi, memegang sebuah map kulit tebal di tangannya.

Melihat sosok Rayven melangkah masuk ke dalam ruangan, wajah Rika dan Fadel yang tadinya panik seketika diterpa secercah harapan. Rika bahkan langsung tegak, menyunggingkan senyum lega.

"Pak Rayven. Tolong kami, Pak. Tolong kami. Kami gak bersalah. Tolong jelaskan sama polisi-polisi bodoh ini kalau kamu ini di fitnah," seru Rika dengan suara bergetar gembira.

Fadel ikut memajukan tubuhnya sejauh rentangan borgol. "Iya, Pak Rayven. Kamu kan pengacara hebat. Tolong urus surat penangguhan penahanan kami sekarang. Kami ditangkap tanpa alasan jelas."

Di luar kaca yang Zora mendengus geli melihat kepolosan Rika dan Fadel.

"Kasihan banget, mereka pikir Mas Rayven datang buat jadi pahlawan mereka," Zora tersenyum menyunggingkan dari bibirnya.

Rayven tidak langsung menjawab. Dia berjalan santai menuju ujung meja, menarik kursi besi, lalu duduk bersandar dengan tenang di hadapan mereka berdua. Ia membetulkan posisinya, menatap Fadel dan ibunya secara bergantian dengan tatapan dingin dan sangat menindas.

"Menolong kalian? Sejak kapan saya bilang saya datang kemari sebagai pengacara kalian?" gumam Rayven pelan.

Senyum di wajah Rika seketika membeku. Fadel mengerutkan dahi. "M-maksud Pak Rayven apa ya?"

Rayven menyandarkan punggungnya, lalu membeberkan selembar surat kuasa resmi berstempel hukum di atas meja besi. Nama Bima Sutejo tertulis jelas di sana sebagai klien utamanya.

"Saya berdiri disini sebagai kuasa hukum tunggal Bima Sutejo. Dan maaf kasus ini bukan lagi sengketa surat warisan yang bisa diselesaikan dengan uang. Kasus ini resmi dialihkan menjadi kasus pembunuhan berencana," tegas Rayven dengan nada rendah namun mematikan.

1
Dwi rohma irjani
laannjuutt..👍
Eka P
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!