"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"
Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.
Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.
Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.
PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 KELUYURAN
Keesokan harinya...
Srak. Srak. Srak.
Suara sapu lidi yang bergesekan dengan konblok halaman rumah memecah keheningan pagi.
Angin pukul setengah enam yang biasanya terasa sejuk, bagi Wira, bagaikan embusan napas naga yang menyebalkan. Ia menyapu dengan gerakan kasar, menerbangkan debu-debu halus serta daun mangga kering ke udara, sebagian malah kembali jatuh ke tempat semula.
Di teras, Bude Ning duduk tenang di kursi rotannya. Beliau tidak mengatakan apa-apa, tangannya hanya memegang secangkir teh poci hangat, namun sepasang mata di balik kacamata baca itu mengawasi setiap gerak-gerik Wira dengan ketajaman setara pisau jagal.
Wira menggertakkan giginya. Telapak tangannya yang terbiasa memegang stik PlayStation atau gagang sapu di warung sate (itu pun jarang), kini terasa panas dan perih.
"Udah, Bude." ucap Wira setengah bersungut-sungut, menyandarkan sapu lidi ke batang pohon mangga.
Bude Ning menyesap tehnya perlahan sebelum menjawab. "Mandi. Seragammu sudah disetrika Mbok Darmi di atas kasur. Sarapan, lalu berangkat sekolah."
Satu jam kemudian, Wira sudah duduk di jok belakang mobil Kijang kapsul Pak Tris. Penampilannya pagi ini sungguh membuat dirinya sendiri muak jika melihat ke cermin.
Kemeja putihnya dimasukkan rapi ke dalam celana abu-abu. Ikat pinggang hitamnya terpasang lurus. Dasinya terikat sempurna di kerah, mencekik lehernya layaknya tali gantungan.
Ia harus berdandan rapi seperti anak culun begini murni karena Bude Ning berdiri di pintu depan, menginspeksi penampilannya dari atas sampai bawah sebelum mengizinkannya masuk ke mobil.
"Hari pertama di sekolah baru, sing semangat nggih, Mas Wira," ucap Pak Tris ramah dari balik kemudi, memecah kesunyian di dalam mobil yang melaju membelah jalanan pagi Jogja yang mulai ramai oleh sepeda, motor, dan andong.
"SMA Budi Bangsa niku sekolah bagus, Mas. Murite pinter-pinter, disiplin." (SMA Budi Bangsa itu sekolah yang bagus, Mas. Muridnya pinter-pinter, disiplin.) kata Pak Tris.
Wira hanya mendengus, membuang pandangan ke luar jendela.
Semangat?
Disiplin?
Dua kata itu tidak ada dalam kamusnya pagi ini. Otaknya justru sedang menyusun rencana gerilya.
Mobil akhirnya menepi di depan gerbang besi tinggi berwarna hijau tua. Plang besar bertuliskan SMA Budi Bangsa Yogyakarta menyambutnya.
Beberapa siswa yang berseragam persis seperti Wira berjalan masuk dengan tertib. Tidak ada yang nongkrong di depan gerbang, tidak ada yang merokok di warung seberang jalan seperti di sekolah lamanya di Bogor.
Semuanya tampak terlalu lurus. Terlalu membosankan.
"Sampun dugi, Mas Wira. Nanti siang pulangnya jam berapa biar Bapak jemput?" tanya Pak Tris.
"Nggak usah dijemput, Pak. Wira bisa pulang sendiri!" potong Wira cepat, membuka pintu mobil.
"Lho, tapi pesan Ndoro Ning—"
"Wira udah gede, Pak Tris! Bukan anak TK yang harus dianter-jemput. Nanti Wira naik ojek. Udah ya, Wira masuk dulu!" ucap Wira asal, langsung menutup pintu mobil tanpa menunggu jawaban Pak Tris.
Ia berjalan gontai mendekati gerbang sekolah, membaur dengan beberapa siswa yang meliriknya penuh rasa ingin tahu karena wajah barunya.
Namun, begitu Wira melihat dari sudut matanya bahwa Kijang kapsul Pak Tris sudah berbelok di ujung jalan dan menghilang dari pandangan, langkah Wira terhenti seketika.
Senyum miring yang licik perlahan terbentuk di bibirnya.
"Sekolah? Sori aja, Bude. Wira butuh liburan!" gumamnya pelan.
Dengan gerakan cepat, Wira berbalik arah. Ia melangkah menjauhi gerbang, berjalan melawan arus para siswa yang datang.
Begitu merasa jaraknya sudah cukup aman dari pantauan satpam sekolah, tangan Wira bergerak lincah.
Ia menarik paksa kemeja putihnya keluar dari celana abu-abunya. Ia mengendurkan ikatan dasinya hingga menggantung longgar di dada, lalu membuka tiga kancing teratas kemejanya, membiarkan angin pagi menerpa kaus oblong hitam di baliknya.
Kebebasan. Itulah yang ia rasakan.
Vonis bapaknya boleh saja melemparnya ke kota tua ini, Bude Ning boleh saja menyiksanya dengan sapu lidi, tapi tidak ada yang bisa mengurung jiwa begajulan seorang Wira Aji Pratama.
Alih-alih mencari angkutan umum atau ojek, Wira memutuskan untuk berjalan kaki mengikuti instingnya. Ia tidak tahu arah, tapi ia ingat saat di stasiun kemarin, ia melihat petunjuk jalan menuju pusat kota.
Matahari perlahan naik, mulai menyengatkan panasnya yang lengket khas dataran rendah ke kulit Wira. Kota ini memang aneh, batinnya. Pagi terasa damai, tapi panasnya luar biasa menusuk.
Setelah berjalan hampir dua kilometer dan menolak tawaran tiga tukang becak yang dianggapnya terlalu pelan, Wira akhirnya tiba di sebuah kawasan yang sangat luas.
Matanya menyapu hamparan tanah berpasir yang dibingkai oleh jalan beraspal dan bangunan-bangunan beraksen keraton.
Di tengah-tengah lapangan luas itu, berdiri dua pohon beringin raksasa yang dikelilingi pagar persegi.
"Alun-alun Utara..." gumam Wira, membaca papan petunjuk jalan di dekatnya.
Suasana di sana tidak terlalu padat. Hanya ada beberapa turis lokal yang berfoto, sekumpulan orang tua yang bersepeda, dan barisan pedagang kaki lima yang baru mulai menggelar lapaknya di bawah pohon-pohon rindang pinggir lapangan.
Wira mengusap keringat di dahinya. Kerongkongannya terasa kering kerontang.
Ia menghampiri seorang ibu paruh baya yang berjualan minuman ringan dari sebuah gerobak sederhana di dekat pendopo besar.
"Bu, es teh manis satu. Tehnya yang pekat ya!" pesan Wira sambil menghempaskan tubuhnya duduk di atas tembok rendah pembatas jalan, kakinya sengaja ia naikkan satu ke atas pembatas.
Gaya tengil andalannya saat nongkrong di Bogor kembali keluar.
"Nggih, Mas. Sekedap..." (Iya, Mas. Tunggu sebentar...) jawab ibu itu dengan senyum ramah yang lagi-lagi membuat Wira merasa mual karena terlalu sopan.
Tak lama, segelas es teh di dalam plastik berpindah ke tangan Wira. Ia menyedotnya dalam-dalam, berharap kesegaran instan. Namun, detik berikutnya, Wira nyaris menyemburkan kembali teh tersebut.
"Buset!!! Apaan, Nih???" Wira terbatuk pelan, menatap plastik teh di tangannya dengan horor.
"Ini teh apa sirup gula, Bu?! Manis banget sampai bikin gigi ngilu!"
Ibu penjual itu terkekeh pelan. "Lho, namine nggih es teh manis to, Mas. Tiyang Jogja niku pancen remen sing legi-legi. Biar hidupnya juga manis, mboten pait terus." (Loh, namanya juga es teh manis, Mas. Di Jogja itu banyak yang suka sama manis-manis. Biar hidupnya juga manis, nggak pahit terus.) jawab si Ibu penjual.
Wira mendengus, malas berdebat. Ia meletakkan selembar uang dua puluh ribuan ke gerobak ibu itu.
"Kembaliannya ambil aja, Bu!" ucapnya angkuh, layaknya bos besar yang sedang menebar recehan. Tanpa menunggu ucapan terima kasih, Wira beranjak pergi, menenteng teh super manisnya dengan sebelah tangan.
Ia melangkah masuk ke area berpasir Alun-alun, mendekati bangunan keraton. Rasa bangga menyelimuti dadanya.
Di saat teman-teman barunya yang culun sedang mengikuti upacara bendera yang membosankan atau mendengarkan pidato kepala sekolah, ia berdiri di sini, menantang aturan, menjadi raja atas dirinya sendiri.
Wira berjalan mengitari area Pagelaran, mencari tempat bernaung dari sinar matahari yang makin beringas. Ia menemukan sebuah undakan berbatu yang sedikit terlindung dari keramaian, persis di dekat sebuah gapura kecil bernuansa sakral yang entah apa namanya.
Tanpa peduli dengan papan peringatan kecil berbahasa Jawa yang tak ia pahami maknanya, Wira melompat naik ke undakan itu.
Ia duduk santai, menyandarkan punggungnya ke dinding ukiran kuno tersebut. Kakinya dijulurkan ke depan, menyilang dengan angkuh.
Dari saku celananya, ia mengeluarkan sebungkus rokok yang berhasil ia selundupkan dari Bogor, beserta sebuah korek gas.
Pemuda itu memantik korek, menyalakan rokoknya, dan mengembuskan kepulan asap tebal ke udara Jogja yang bersih.
Ia menatap hamparan Alun-alun Utara dari posisinya yang agak tinggi, merasa seperti sedang menginvasi dan menaklukkan kota yang selama ini meremehkan sifat liarnya.
Ia tertawa kecil, menertawakan ayahnya, menertawakan Bude Ning, dan menertawakan segala aturan yang mengikatnya.
Wira merasa menang. Ia merasa menguasai dunia.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di tempat ia berpijak dan bertingkah sembrono saat ini, ada ribuan pasang mata tak kasat mata dari sejarah masa lalu.
Dan sebentar lagi...
Sepasang mata teduh milik seorang gadis yang akan meruntuhkan kesombongannya berkeping-keping.