Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 : BINTANG FRIENDLY
Seminggu sudah Jingga jadi asisten Bintang.
Bintang beneran tipe yang gak mau banyak tau. Setelah malam itu Angkasa bilang "Gak kenal, satu angkatan aja 300 anak, mana hafal", Bintang langsung percaya. Gak ditanya lagi. Gak diungkit lagi.
Malas berisik.
Malah sekarang Bintang makin sayang sama Jingga.
Pagi ini, jam 09.00, Bintang dan Jingga lagi beresin sample kitchen set di ruang kerja Bintang. Ketawa-ketiwi.
"Mbak Jingga, coba deh liat ini, warna sage green ini bagus gak buat dapur minimalis?" Bintang nunjukin katalog.
"Bagus Bu, adem. Kayak warna sawah," jawab Jingga tulus. Rambutnya dicepol sederhana, tanpa poni, wajah tanpa make up tapi bersih.
Bintang seneng.
Jingga beda. Gak neko-neko. Gak kayak Mentari yang dulu dikit-dikit "Pak Angkasa, Pak Angkasa".
Siang, jam 12.30, waktu makan siang kantor.
"Sa, pulang makan gak? Bibi WA ada masak sop iga.”
“Gak keburu Tang. Aku ada janji ketemu klien di luar. Kek gak liat jadwal ku aja ibu sekretaris ini.” Ketik Angkasa.
“Oke.” Balas Bintang singkat.
“Mbak Jingga. Mau temani aku makan?” aku bosan makan di kantin.” Ajaknya saat melihat Jingga merapikan meja akan keluar makan siang.
“Dimana?”
“Di rumah. Ayo.” Bintang tuh kek gitu. Friendly banget kalo udah suka sama seseorang.
Jingga sungkan sebenarnya, tapi Bintang memang se maksa itu padanya. Sehingga susah menolak ajakan Bintang untuk makan bersama di rumah mereka. Menikmati sop Iga buatan Bi Inah yang kata Angkasa biasanya selalu juara.
Bintang dan Jingga sudah kembali ke kantor, melanjutkan beberapa pekerjaan yang belum selesai tadi.
“Mbak Jing. Sore ini Pak Dirut ada jadwal kemana?” tanya Bintang setelah menengok ruangan suaminya, tetapi kosong.
“Sebentar.” Jingga buru-buru membuka dokumen jadwal Angkasa.
“Ketemu Klien yang mau buka lahan bikin rusun, bu.” Jawab Jingga membaca catatannya.
“Oh … yang sama PT. Rahayu. Paling di ajak tenis tuh.” Tebak Bintang yang sudah hafal dengan kebiasaan klien mereka.
“Bu Bintang tau semua ya, siapa aja dan kebiasaan klien pak Angkasa.”
“Bukan tau aja. Tapi harus tau banget. Sebab itu kunci keberhasilan dalam bekerja sama. Narik investor itu harus riset. Persis kayak kita lagi milih suami. Kita harus tau banyak, apa yang dia suka dan tidak. Supaya selalu nyambung.” Bintang memberikan tipsnya pada Jingga.
“Iya, sih bener. Harusnya sebelum nikah harus banyak riset dulu.” Jingga tertunduk. Ingat dengan dirinya yang asal menikah saja. Coba dulu dia tentang saja ayahnya, mungkin dial ah istri Angkasa sekarang.
“Emang pernikahan mbak Jingga kenapa?” Bintang tergerak untuk tau tentang rumah tangga Jingga.
“Aku tuh kawin paksa Bu. Aku gak kenal dia, tiba di haruskan nikah saja dengannya. Ternyata dia waktu itu masih suami orang. Aku pernah di labrak istri sahnya. Huh, trauma aku tuh.” Cerita Jingga sudah mulai akrab dengan Bintang.
“Kasiannya. Pernah jadi pelakor dong. Maaf mbak, bercanda." nada Bintang sungguh bercanda.
"Iya lagi. Haduh malunya waktu itu."
"Kek di drama ya mbak. Terus akhirnya gimana?" Lanjut Bintang penasaran.
"Ya... Hadi bilang rumah tangga sebelumnya emang udah nunggu sidang putusan cerai aja. Istrinya melabrak hanya cari perhatian soal tunjangan untuk anak mereka yang ada 4 itu.'
"Wah, banyak juga."
"Iya, sekarang dua udah nikah. Sudah jadi kakek sih dia." Bintang mengangguk.
"Kami beda 11 tahun bu. Bener sih, ku gak riset sebelum memutuskan untuk menerima perjodohan itu. Perangai suamiku juga kasar. Mungkin itu sebabnya, kami tidak di kasih keturunan. Dari pada punya ayah seperti dia. Bisa kurang kasih sayang dari ayahnya nanti anakku.” Lanjut Jingga semakin membuat Bintang iba padanya.
“Tuhan gak kasih anak itu, gak selalu karena kita salah kok Mbak. Belum waktunya aja.” Hibur Bintang pada Jingga. Sambil menghibur dirinya sendiri juga.
“Maaf. Kalo ibu dan Pak Angkasa sudah berapa tahun menikah?” Pura-pura aja Jingga tanya. Dia kan tau, Angkasa dan Bintang sudah tiga tahun menikah dan belum punya anak.
“Ini tahun ke 3 pernikahan kami mbak dan sampai sekarang Tuhan belum mempercayakan anak pada kami. Mungkin, kami di suruh pacaran dulu kali, sebelum besok di kasih yang banyak.” Itu kata-kata sepaket sama jeritan doa Bintang.
Begitulah Bintang dan Jingga. Kadang bekerja bersama, ngobrol banyak bahkan kadang mulai terlihat pergi shoping bersama.
Sementara Angkasa sudah 3 pekan ini, terlihat mulai jarang makan malam di rumah. Tiap kali Bintang tanya, jawabannya sudah makan dengan klien.
“Mbak Jingga, jadwal temu Angkasa padat banget ya akhir-akhir ini. Kok sekarang jarang makan malam di rumah?” tanya Bintang pada Jingga pada minggu ke tiga.
Bersambung …
Hayooo kira-kira Angkasa kemana niih?
Jempol jangan lupa yaaak
Makasih