Bobby seorang pelajar SMA, umur 18 tahun. Jatuh cinta dengan Nia, 32 tahun. Sahabat dari Tante nya Bobby yang bernama Farah.
Tante Nia yang cantik, cuek,dan konyol mampu membuat Bobby jatuh cinta pada pandangan pertama.
Sayangnya Bobby harus bersaing dengan lelaki bernama Roy, yang juga menyukai Tante Nia.
Bagaimana Bobby bisa menaklukkan hati Tante Nia?
Ikuti kisahnya ya. :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de'rini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21# Bapak
"Nia Boss lu naksir sama lu ya?" Tanya Bapak, saat Nia sedang memanjat pohon jambu di belakang rumah nya.
Hari ini adalah hari minggu, karena tidak ada kegiatan apapun, akhirnya Nia mengajak Emak untuk membuat rujak. Emak menyetujui untuk membuat bumbu rujak, asal Nia mau memetik buah-buahan yang di perlukan dalam membuat rujak di halaman belakang rumahnya.
Di halaman belakang rumah Nia, banyak sekali pepohonan. Seperti jambu air, belimbing, mangga, nangka, dan banyak lagi.
Nia menatap Bapak nya yang sedang duduk di beranda teras halaman belakang.
"Emang kenapa Pak?" Ucap Nia yang sedang beranjak turun dengan sepelastik jambu air di tangan nya.
"Kelihatan saja dari tatapan nya. Bapak lu ini kan laki-laki, gue bisa merasakan siapa saja yang naksir sama siapa." Ucap Bapak.
Nia tersenyum, lalu menghampiri Bapaknya. Lalu ia duduk di bangku tepat sebelah Bapaknya.
"Pak Nia mau nanya nih. Kenapa Bapak sama Emak, tidak pernah mendesak Nia untuk segera menikah?" Tanya Nia, penasaran.
"Ngapain gue mendesak-desak elu untuk menikah? Tetapi, bukan berarti gue nggak ingin elu cepat-cepat menikah. Tetapi, untuk apa gua mempertanyakan? Sedangkan elu masih betah sendirian. Lagian jodoh itu kan di tangan Allah. Lah, ngapain dipertanyakan?" Ucap Bapak.
Nia memandang wajah Bapak dengan tatapan haru.
"Bapak memang beda sama orang tua yang lainnya." Ucap Nia, bangga.
"Pertanyaan seperti itu sensitif. Lagian ngapain kita mempertanyakan rencana Allah? Biarin aja, hidup itu berjalan apa adanya mengalir mengikuti arus yang ada. Asal tetap positif saja." Ucap Bapak, sambil meraih gelas kopi buatan Emak yang terletak di atas meja.
Nia tersenyum menatap Bapak. Begitulah Bapak nya Nia, lelaki paruh baya itu memang orang tua yang asik bagi Nia dan menurut teman-teman Nia yang sudah bertemu dengan Bapak.
Bapak memang sudah tua, tetapi pemikiran nya sungguh modern dan selalu berpikiran positif dan terbuka. Hal itu lah yang membuat Nia sangat dekat dengan Bapak nya.
Dari kecil, Nia memang anak kesayangan. Karena ia adalah anak satu-satunya. Tetapi, hal itu tidak membuat Nia dimanja secara berlebihan oleh Bapak dan Emak nya. Mereka tetap mengajarkan hal yang baik dan selalu mendukung Nia selama itu adalah benar. Tetapi mereka tidak akan membela Nia apa bila Nia memang bersalah melakukan hal yang tidak baik.
Keluarga mereka sangat bahagia. Walaupun, Bapak lebih muda tujuh tahun dari pada Emak. Tetapi sikap dewasa Bapak cukup bisa mengimbangi Emak yang cerewet dan gampang sekali panik.
Nia sangat mengagumi Bapak yang cerdas, lucu, asik dan berwibawa. Hal itu lah yang membuat Nia menjadikan Bapak adalah patokan lelaki idaman nya. Hal itu dulu ia temukan dalam diri Fathur. Tetapi, sayang nya Fathur hanya menganggap dirinya hanya teman semata.
"Bila memang Boss nya Nia suka sama Nia, gimana Pak?"
Bapak menatap wajah Nia dengan seksama. Lalu, Bapak tersenyum sambil mengusap rambut Nia.
"Nia, gue sebagai orang tua tidak berhak untuk memilah milih atau mengatur ngatur jodoh lu. Yang berhak memilih dan menilai calon lu, ya lu sendiri. Kalau dia baik menurut lu, dia pantas untuk lu, ya lu jalani."
"Kita sebagai orangtua, tinggal merestui mendoakan yang baik-baik dan mendukung lu. Percuma juga kalau kita yang memilih dan ternyata salah. Dan lu nggak suka, jadinya apa? elu gak bahagia. Kebahagiaan elu, nomor satu bagi gue." Ucap Bapak, lalu menyeruput kopi nya dan kembali meletakan gelas kopi nya di atas meja.
Nia tertegun mendengar kata-kata Bapak nya.
"Jadi, memang benar dia naksir lu?" Pertanyaan Bapak, membuyarkan lamunan Nia.
"Iya Pak, Roy memang naksir Nia. Tetapi, kita belum jadian." Ucap Nia.
"Kenapa?" Tanya Bapak, lelaki paruh baya tersebut terlihat sangat penasaran.
"Nia kan baru kenal sama dia, belum ada dua minggu. Masa di tembak terus langsung terima sih Pak? belum kenal juga bagaimana sikapnya, sifatnya dan orangnya. Nia mau mempelajari dahulu, bagaimana orangnya. Nia ini sudah tiga puluh dua tahun, tidak mungkin Nia ingin pacaran enggak jelas. Nia tidak mau salah pilih hanya gara-gara usia sudah mepet." Terang Nia.
Bapak tersenyum dan mengangkat kedua jempol nya.
"Itu baru namanya anak Bapak..! Bapak tahu, kamu tidak pernah mengecewakan Bapak." Ucap Bapak.
Nia tersenyum menatap Bapak, lalu ia memeluk tubuh tua Bapak nya dengan erat.
"Nia..! sudah belum? Et dah...! mana itu anak ya?" Emak yang muncul dari dalam rumah bergegas menuju pohon jambu air yang tadi di panjat oleh Nia.
"Mak, ngapain di situ." Ucap Nia sambil tertawa geli.
"Lah, elu ada di situ. Gue kira masih nangkring di atas pohon." Ucap Emak sambil menghampiri Nia dan Bapak.
"Sudah? mana jambu nya?" Ucap Emak sambil mengulurkan tangan nya, untuk meminta pelastik penuh buah jambu yang tadi di petik oleh Nia.
"Nih." Ucap Nia.
Emak meraih pelastik tersebut lalu membawa nya masuk kedalam rumah.
"Bocah yang waktu itu apa kabar nya?"
Pertanyaan Bapak, membuat Nia mengurungkan niat nya untuk menyusul Emak ke dapur.
"Dia lagi dirawat di rumah sakit Pak." Ucap Nia dengan raut wajah yang sedih.
"Lah, sakit apaan?"
"Dia di keroyok orang Pak. Kasihan, bonyok dan patah tulang." Ucap Nia.
Bapak terlihat sangat khawatir mendengar ucapan Nia.
"Kok bisa? dia tawuran?" Tanya Bapak.
"Enggak sih katanya. Jadi dia itu, malam-malam di jalan. Tiba-tiba saja ada empat motor yang memepet dia ke pinggir jalan. Katanya sih, tanpa basa-basi langsung di keroyok." Terang Nia.
"Wah, kok begitu. Itu anak kudu gue ajarin silat. Kasihan gue kalau begini cerita nya." Ucap Bapak, terlihat wajah Bapak yang sangat khawatir dan gelisah.
"Pak, Kenapa sih nanyain dia terus?" Tanya Nia kepada Bapak.
Bapak menatap Nia, lalu ia tersenyum kecil.
"Kalau ingat dia, gue jadi ingat masa-masa mengejar cinta Emak lu dulu." Ucap Bapak sambil tersenyum malu-malu.
"Lah, iya ya. Emak juga lebih tua dari Bapak." Ucap Nia sambil tertawa.
"Tapi cobaan gue lebih berat dari anak itu, kalau gue mah santai saja kalau ada yang mendekati anak gue. Lah dulu, engkong lu galak nya nauzubillah. Gue pernah di uber-uber pake golok." Cerita Bapak sambil mengenang masa muda nya.
Nia tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Bapak.
"Memang nya apa alasan Bapak bisa suka sama Emak?" Tanya Nia, penasaran.
"Memangnya cinta harus ada alasannya? Cinta itu anugerah, gue cuma mengikuti kata hati saja. Buktinya benar kan? Gue langgeng sama Emak lu, saling cinta sampai sekarang. Walaupun, godaan cewek-cewek bejibun. Tapi, gue menghargai Emak lu yang sudi membalas cinta gue dulu. Kebayang sams gue, kalau Emak lu nolak gue dulu. Bisa gila gue." Ucap Bapak.
Nia tersenyum mendengar kisah cinta Bapak dan Emak nya.
"Jadi, kalau anak itu suka sama Nia juga, terus Nia balas cinta nya. Bapak setuju?" Tanya Nia, ia hanya ingin tahu pendapat Bapak nya.
"Dia anak baik, tidak ada alasan gue menolak dia. Tapi, memang nya lu suka sama dia?"
Nia mendadak terdiam dan salah tingkah dengan pertanyaan Bapak.