NovelToon NovelToon
Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Tunangan Adiknya, Kekasih Gelapku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.

Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.

Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.

Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.

Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Longgarkan, Kau Menjepit Tanganku

Pecahan kaca yang masih menancap di paha Amaya bergerak setiap kali ia melangkah.

Hujan mengguyur Jakarta tanpa ampun. Gaun putih tipisnya melekat pada kulit, nyaris tembus pandang di bawah lampu UGD RS Amerta. Air menetes dari ujung rambutnya. Darah yang merembes di paha bagian dalam sudah bercampur air hujan, membentuk garis merah muda sampai ke lutut.

Amaya mencengkeram meja pendaftaran agar tidak jatuh.

"Saya mau Dokter Sebastian."

Perawat jaga menatap luka di kakinya, lalu wajahnya yang pucat. "Mbak, kami tangani dulu di triase. Dokter bedah yang berjaga akan dipanggil."

"Hubungi Dokter Sebastian." Napas Amaya bergetar, tetapi suaranya tetap lembut. "Bilang Amaya Halim ada di UGD."

Nama Halim membuat tangan perawat berhenti di atas papan ketik.

Lima menit kemudian, sebuah kursi roda datang. Amaya dibawa melewati pintu otomatis dan lorong yang berbau antiseptik. Suara roda beradu dengan lantai mengilap, bersaing dengan gemuruh hujan di balik dinding kaca.

Ia menunduk, melihat noda merah yang makin lebar di gaunnya.

Sakitnya nyata. Pendarahannya juga nyata.

Namun memilih rumah sakit ini, pada malam ketika Sebastian sedang bertugas, sama sekali bukan kebetulan.

Pintu ruang tindakan terbuka.

Pria berkacamata bingkai emas masuk sambil mengenakan sarung tangan. Masker medis menutupi sebagian besar wajahnya. Jas dokternya putih tanpa satu lipatan pun, seolah badai dan kekacauan di UGD tidak punya izin menyentuhnya.

Tatapan mata berwarna terang itu jatuh pada gaun basah Amaya, lalu berhenti di darah pada pahanya.

"Keluar," katanya kepada perawat.

Perawat itu ragu. "Dok, pasien belum selesai didata."

"Saya yang isi. Siapkan anestesi lokal dan set jahit."

Tidak keras. Tidak perlu.

Perawat segera bergerak. Setelah pintu tertutup, Sebastian menarik tirai pembatas sampai rapat dan berdiri di samping ranjang tindakan.

"Naikkan gaunnya sampai lukanya terlihat."

Amaya mengangkat wajah. "Koh sendiri yang periksa?"

"Di sini saya dokter."

"Baik, Dokter Sebastian."

Ujung bibirnya seperti ingin tersenyum. Sebastian melihatnya, lalu memilih memusatkan perhatian pada lukanya.

Ia membantu memotong bagian kain yang menempel pada darah kering. Luka itu memanjang di paha bagian dalam, cukup dalam di satu sisi. Beberapa serpihan kecil menempel pada kulit, sementara satu pecahan lebih besar masih tertancap miring.

Rahang Sebastian mengeras.

"Bagaimana ini bisa terjadi?"

"Tadi ada makan malam keluarga di Pondok Indah." Amaya mencengkeram seprai saat cairan pembersih menyentuh kulitnya. "Ci Selena tiba-tiba sesak napas karena alergi kacang. Semua orang panik. Ada yang mendorongku, aku jatuh ke meja kaca yang pecah."

"Siapa yang mendorongmu?"

"Nggak tahu. Ramai sekali."

"Lalu keluargamu?"

Amaya menatap lampu putih di atas kepala. Bulu matanya basah, entah oleh hujan atau air mata yang tidak sempat jatuh.

"Mereka membawa Ci Selena ke rumah sakit."

"Dan meninggalkanmu dalam keadaan begini?"

"Koh Nathan bilang kondisi Ci Selena lebih gawat. Katanya dia akan menghubungi Koh setelah sampai." Amaya menelan ludah. "Aku cari taksi sendiri. Sopirnya malah memutar lewat jalan yang macet. Mungkin dia kira aku terlalu kesakitan untuk memperhatikan rute."

Tangan Sebastian berhenti sepersekian detik.

Nathan selalu pandai terlihat baik. Cukup baik untuk membuat orang sulit membencinya, tidak pernah cukup baik untuk memilih Amaya ketika Selena membutuhkan perhatian.

"Kamu seharusnya masuk UGD terdekat."

"Aku maunya Koh."

Jawaban itu terlalu cepat.

Sebastian mengangkat mata. Amaya sedang menatapnya dengan wajah pucat dan mata bulat yang tampak terlalu bersih untuk kalimat semacam itu.

Calon istri Nathan.

Tiga kata itu sudah ia pakai seperti garis merah sejak pertama kali melihat Amaya di sebuah jamuan keluarga. Perempuan itu berdiri di bawah lampu gantung dengan gaun warna persik dan senyum patuh. Semua orang menyebutnya anak manis.

Sebastian justru sempat membayangkan betapa mudahnya senyum itu berubah jika ia menahannya terlalu dekat dan membuatnya menangis.

Pikiran tersebut membuatnya menjaga jarak berbulan-bulan.

Malam ini, perempuan yang sama datang dalam keadaan basah kuyup, terluka, lalu meminta tangannya secara khusus.

"Berbaring yang benar," ucapnya datar. "Saya akan memberi anestesi."

Amaya menurut. Jarum menembus kulit di sekitar luka. Ia hanya mengerutkan hidung, tidak mengeluh. Sebastian membersihkan serpihan kecil satu per satu, membilas luka, lalu memeriksa kedalamannya.

Di balik wajah lemah itu, Amaya menghitung.

Cara pria itu bekerja tenang. Tangannya stabil. Tatapannya tidak berkeliaran meski posisi lukanya bisa membuat laki-laki lain salah tingkah. Bahkan ketika ujung gaun basah bergeser lebih tinggi, Sebastian hanya menarik kain penutup dan menaruhnya dengan rapi di atas pinggulnya.

Nilai profesionalisme: sempurna.

Nilai wajah masih tertutup masker.

Nilai reaksi terhadapnya belum selesai diuji.

"Pecahan besarnya harus dicabut sekarang," kata Sebastian. "Anestesinya sudah bekerja, tapi kamu mungkin masih merasakan tekanan. Jangan bergerak."

Amaya mengangguk.

Pinset bedah menjepit ujung kaca. Tangan Sebastian yang lain menahan sisi dalam pahanya agar jaringan tidak ikut tertarik.

Ia mencabutnya dalam satu gerakan terukur.

Rasa tajam meledak menembus kebas.

"Sakit!"

Kedua paha Amaya refleks merapat.

Tangan Sebastian terjepit di antaranya.

Udara di ruang tindakan mendadak terasa terlalu tipis.

Sebastian tidak bergerak. Sarung tangannya masih basah oleh cairan antiseptik dan setitik darah. Di balik masker, napasnya tertahan. Tekanan hangat dari paha Amaya menembus lapisan kain dan lateks, menjalar ke tempat yang tidak punya urusan dengan prosedur medis.

Amaya menatapnya, seolah baru menyadari apa yang terjadi. Namun ia tidak segera membuka kaki.

"Koh?"

Suara Sebastian turun satu tingkat.

"Longgarkan. Kau menjepit tanganku."

"Oh." Amaya merenggangkan paha perlahan. "Maaf, refleks."

Kebohongan kecil.

Mungkin hanya separuh kebohongan, tetapi Sebastian menangkap kilatan puas di matanya.

Gila.

Ia menarik tangannya, mengganti sarung tangan, lalu menjahit luka dengan ketelitian yang sedikit terlalu kaku. Amaya memperhatikan urat di punggung tangannya, garis rahangnya di atas masker, juga cara pria itu tidak lagi menatap matanya.

"Sudah." Sebastian menutup jahitan dengan kasa steril dan perban tahan geser. "Lukanya jangan kena air. Tiga hari lagi ganti perban. Tujuh hari lagi kontrol untuk lepas jahitan kalau penyembuhannya baik."

"Akan berbekas?"

"Mungkin ada garis tipis. Pakai gel silikon setelah lukanya menutup."

Amaya mengusap tepi perban. "Kalau nanti ada orang yang mau lihat, bagaimana?"

Sebastian menatapnya tajam. "Orang mana yang perlu melihat paha bagian dalammu?"

"Belum tahu." Mata Amaya melengkung. "Makanya aku tanya dokternya dulu."

Sebastian membuang sarung tangan ke tempat sampah medis. Ia seharusnya pergi, memanggil perawat, dan menyelesaikan malam ini sebagai satu prosedur biasa.

Sebaliknya, ia berdiri di sana dan melepas masker.

Amaya akhirnya melihat wajahnya secara utuh.

Hidung tegas. Bibir tipis. Kulit bersih dan tatapan dingin di balik kacamata emas. Wajah seorang pria yang tidak perlu bersikap ramah agar orang lain menurut.

Jauh lebih berbahaya daripada yang ia harapkan.

Juga jauh lebih layak.

Sebastian menangkap perubahan kecil dalam sorot matanya. "Kenapa?"

"Nggak apa-apa." Amaya tersenyum manis. "Baru tahu dokterku ternyata tampan."

"Tengah malam, basah kuyup, terluka, lalu berbaring di ranjang tindakan seorang laki-laki." Sebastian menumpukan satu tangan di sisi tubuhnya. Jarak mereka menyusut. "Kamu tahu artinya?"

Amaya mencium aroma sabun bersih bercampur antiseptik dari kerahnya. Tidak ada parfum. Tidak ada kehangatan palsu.

"Tahu, Koh."

Langkah kaki terdengar di luar.

"Koh?" Suara Nathan menembus pintu. "Papa Robert menyuruhku mencari Koh. Selena sudah dipindahkan ke kamar VIP."

Tangan Sebastian langsung terangkat dari ranjang.

Gagang pintu bergerak.

Amaya mengaitkan kedua lengannya ke leher Sebastian dan menariknya turun. Ia berhenti hanya sejengkal dari wajah pria itu, cukup lama untuk memberinya kesempatan menjauh.

Sebastian tidak melakukannya.

Pintu terbuka selebar dua jari.

Bibir Amaya menempel pada bibirnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!