NovelToon NovelToon
Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu Tiri
Popularitas:65
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.

*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*

Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**

Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

BAB 15

TISU DARI PAK BRAM

"Ganti bajumu."

Bu Suminah berdiri di pintu kamar sambil menilai Wulan dari kerudung sampai sepatu. "Itu terlalu sederhana untuk acara kantor Dimas. Nanti orang pikir anak saya nggak mampu membelikan istrinya pakaian."

Wulan melihat blus warna krem yang baru disetrikanya. "Undangannya bilang pakaian santai, Bu."

"Santai bukan berarti seperti mau ke pasar. Pakai gamis biru yang saya pilih."

Gamis itu sempit di bahu dan penuh payet. Wulan tidak menyukainya, tetapi Dimas sudah membunyikan klakson dari luar.

"Cepat," katanya ketika Wulan masuk mobil. "Jangan sampai kita datang setelah Pak Bram."

Bu Suminah duduk di belakang bersama beberapa bingkisan untuk rekan Dimas. "Di sana jangan diam terus, Nak Wulan. Istri harus bantu suami membangun koneksi. Sama kalau orang tanya anak kedua, jawab yang baik. Jangan bilang soal biaya seperti kemarin."

Wulan memasang sabuk pengaman. "Inggih, Bu."

"Dan jangan bikin malu Dimas."

Dimas tidak mengatakan ibunya berlebihan. Ia hanya memeriksa rambut di kaca tengah.

***

Family gathering Nusantara Interactive diadakan di ballroom sebuah hotel kawasan SCBD. Layar besar menampilkan gim-gim perusahaan, sementara meja dipenuhi hadiah undian dan makanan prasmanan.

Bram membuka acara dengan pidato singkat. Ia mengenakan batik gelap dan berbicara tanpa membaca teks. Para pegawai mendengarkan, termasuk Dimas yang berkali-kali merapikan kerah.

"Aku mau kenalkan diri ke tim produk baru," katanya setelah pidato. "Kamu tunggu di sini."

"Aku ikut?"

"Mereka bahas kerjaan. Kamu nggak nyambung diajak ngobrol."

Kalimat itu terdengar oleh istri seorang pegawai di sebelah mereka. Perempuan tersebut pura-pura menyesap minuman, tetapi alisnya terangkat.

Dimas pergi tanpa menyadari.

Wulan berdiri sendiri di tengah ratusan orang. Bu Suminah sudah menemukan kelompok ibu-ibu dan sibuk membanggakan jabatan anaknya. Dika tidak diajak karena acara berakhir malam dan ia dititipkan kepada Pak Warto.

Wulan mencoba mendekati Dimas satu kali. Suaminya sedang tertawa bersama tiga rekan dan seorang manajer.

"Mas, mau aku ambilkan makan?"

Dimas melirik sekeliling. "Nanti. Kamu duduk saja. Jangan menempel terus, aku lagi networking."

Seorang rekan terkekeh. "Istrinya perhatian, Pak Dimas."

"Dia memang nggak biasa acara kantor," jawab Dimas. "Kalau diajak ngomong produk juga bingung."

Mereka tertawa kecil. Wulan tersenyum agar tidak ada yang merasa canggung, lalu mundur.

Seorang perempuan bernama Rini, istri pegawai bagian keuangan, mencoba mengajaknya bicara. Mereka membahas sekolah anak dan harga bahan makanan. Untuk beberapa menit Wulan merasa normal, sampai Dimas kembali membawa seorang kepala divisi.

"Ini istri saya," katanya. "Ibu rumah tangga."

"Bu Wulan punya kegiatan lain? Usaha kecil mungkin?" tanya kepala divisi itu ramah.

Wulan hendak bercerita bahwa ia sesekali membantu tetangga membuat kue pesanan dan mengatur belanja keluarga besar dengan uang yang sangat terbatas. Dimas menjawab lebih dulu.

"Nggak ada, Pak. Di rumah saja. Dia paling sibuk nonton resep sama grup ibu-ibu."

Kepala divisi tertawa sopan. Wulan menutup mulut yang sempat terbuka.

"Padahal mengurus rumah itu kerja penuh waktu," kata Rini.

"Kalau dia kerja kantoran, rumah bisa berantakan," balas Dimas. "Lagi pula dia nggak cocok sama tekanan kantor."

Wulan menatap suaminya. Laki-laki itu tidak sedang bercanda untuk melukainya. Lebih buruk, ia benar-benar percaya hidup Wulan terlalu kecil untuk diceritakan.

Di sisi lain ruangan, Bram sedang berbicara dengan investor. Pandangannya sempat melewati kelompok mereka. Wulan tidak tahu apakah ia mendengar, tetapi laki-laki itu berhenti sesaat sebelum kembali pada percakapannya.

Di dekat panggung, dua pegawai perempuan berbisik.

"Kasihan, dari tadi sendirian."

"Mungkin memang nggak bisa bergaul."

Wulan berjalan ke meja minuman. Tangannya sudah gemetar ketika seorang pelayan lewat terlalu dekat. Gelas punch merah tersenggol dan tumpah ke bagian depan gamis birunya.

"Aduh, maaf, Bu!"

Beberapa kepala menoleh.

Wulan menahan kain dengan satu tangan. Payet membuat cairan menyebar ke mana-mana. Ia mencari Dimas, tetapi suaminya sedang berfoto bersama tim.

"Mbak Sekar," terdengar suara laki-laki. "Tolong minta staf hotel menyiapkan air soda dan kain bersih."

Bram berdiri di sampingnya.

Ia mengambil beberapa lembar tisu dari meja, tetapi tidak langsung menyentuh pakaian Wulan. Tangannya hanya terulur.

"Silakan, Bu. Tekan pelan, jangan digosok. Warnanya nanti makin lebar."

Wulan menerima tisu. "Terima kasih, Pak."

Seorang manajer mendekat sambil membawa dokumen. Bram mengangkat telapak tangan.

"Sebentar. Tamu kita perlu dibantu dulu."

Kata `tamu` mengubah tatapan orang-orang. Wulan bukan lagi istri kikuk yang menumpahkan minuman, melainkan seseorang yang dianggap penting oleh pemilik acara.

Bram menoleh kepada pelayan yang panik. "Tidak apa-apa. Ini kecelakaan, bukan kesalahan besar."

Kalimat itu tampaknya ditujukan kepada pelayan, tetapi Wulan merasa diberi jalan untuk bernapas.

Mbak Sekar datang membawa kain dan menawarkan ruang rias agar Wulan bisa membersihkan noda. Bram mundur memberi ruang.

"Hati-hati, Bu. Lantainya licin."

Tidak ada rayuan. Tidak ada perhatian yang berlebihan. Hanya tisu, dua kalimat tenang, dan seseorang yang melihat bahwa ia sedang kesulitan.

Mata Wulan justru terasa semakin panas.

***

Saat kembali ke ballroom, Dimas akhirnya menghampiri.

"Kamu menumpahkan minuman di depan Pak Bram?"

"Pelayan menyenggolku."

"Sama saja. Semua orang lihat."

"Pak Bram nggak marah."

"Ya tentu dia nggak akan marah di depan tamu. Tapi kamu bikin aku kelihatan nggak bisa mengurus istri."

Wulan menatapnya. "Aku bukan barang yang perlu kamu urus agar terlihat bagus."

Dimas terdiam, kaget mendengar bantahan itu.

Bu Suminah datang sebelum ia menjawab. "Sudah saya bilang pakai baju yang benar. Lihat, nodanya kelihatan sekali."

Wulan meremas tisu yang masih berada di tangannya.

Sepanjang perjalanan pulang, Dimas mengeluh tentang tatapan rekan kerja. Bu Suminah mengulang betapa memalukannya noda merah di gamis mahal. Wulan duduk di kursi penumpang dan melihat lampu Jakarta lewat di kaca.

Tidak ada yang bertanya apakah ia terluka atau ketakutan.

Di rumah, ia melepas gamis, mencucinya, lalu menemukan tisu kusut di dalam saku. Seharusnya benda itu dibuang.

Wulan justru meratakannya di atas meja.

`Ini kecelakaan, bukan kesalahan besar.`

Ia mengingat suara Bram dan cara laki-laki itu menunggu izin sebelum memberikan bantuan.

Kehangatan kecil muncul di dada. Wulan segera beristigfar, merasa bersalah karena perhatian biasa dari laki-laki lain bisa tinggal begitu lama di pikirannya.

Namun saat hendak membuang tisu itu, tangannya berhenti.

Ia melipatnya menjadi kotak kecil dan menyelipkannya ke belakang kotak jahit, tempat Bu Suminah maupun Dimas tidak pernah mencari apa pun. Tindakan itu begitu sepele, tetapi jantungnya berdebar seperti baru menyimpan sebuah rahasia.

Kertas tipis itu mendadak terasa lebih berharga daripada gamisnya.

Untuk sekali ini, seseorang telah melihatnya.

Dan Wulan tidak mampu melupakannya begitu saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!