Sinopsis
Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.
Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.
Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.
Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.
Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.
Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4
Gadis Geng Motor Adalah Istriku
Bab 4 — Menikah
Dua minggu berlalu begitu cepat.
Bagi Clara, waktu terasa seperti berlari tanpa memberinya kesempatan untuk bernapas.
Sejak keputusan pernikahan diumumkan, rumah keluarga Evellyn berubah menjadi sangat sibuk. Para pelayan mondar-mandir menyiapkan berbagai keperluan. Mami Clara berkali-kali mengajaknya memilih gaun, perhiasan, hingga undangan.
Namun di tengah semua kesibukan itu, Clara justru merasa seperti sedang menyaksikan kehidupan orang lain.
Hari ini adalah hari pernikahannya.
Hari ketika seorang gadis yang selama ini tidak suka diatur akan resmi menjadi istri Fedro Alexsander.
Clara berdiri di depan cermin.
Gaun putih panjang membalut tubuhnya dengan anggun. Rambut panjangnya ditata sederhana dengan beberapa helai rambut dibiarkan jatuh di sisi wajah.
Mami berdiri di belakangnya.
“Kamu cantik sekali.”
Clara menatap pantulan dirinya.
“Aku terlihat seperti orang yang akan menikah?”
Mami tersenyum.
“Memangnya kamu mau menikah dengan pakaian balap?”
Clara tertawa kecil.
“Kalau boleh memilih, aku lebih nyaman memakai jaket kulit.”
Mami mendekat dan membenarkan rambut Clara.
“Mulai hari ini, kehidupanmu akan berubah.”
Clara terdiam.
“Itu yang membuatku takut.”
Mami menggenggam kedua tangannya.
“Jangan takut. Fedro pria yang baik.”
“Kita belum tahu.”
“Kamu sudah mengenalnya selama dua minggu.”
“Dua minggu bukan waktu yang lama.”
Mami tersenyum.
“Kalau begitu, kenali dia setelah kalian menikah.”
Clara menghela napas.
“Sepertinya aku tidak punya pilihan.”
Mami menatap putrinya dengan lembut.
“Kamu punya pilihan. Tapi kamu memilih untuk menyelamatkan keluarga.”
Clara menunduk.
“Aku hanya tidak ingin melihat Papi dan Mami kehilangan semua yang mereka bangun.”
Mami memeluknya.
“Terima kasih, Sayang.”
Clara membalas pelukan itu.
Namun di dalam hatinya, masih ada satu pertanyaan.
Apakah ia akan menyesal?
---
Di tempat lain, Fedro berdiri di depan cermin.
Ia mengenakan jas hitam dengan kemeja putih.
Rambutnya ditata rapi.
Wajahnya tetap tenang seperti biasanya.
Namun ayahnya yang berdiri di belakangnya tahu bahwa putranya sedang memikirkan sesuatu.
“Kamu masih bisa membatalkan pernikahan ini,” kata ayahnya.
Fedro menatap pantulan dirinya.
“Aku tahu.”
“Lalu?”
“Aku tidak akan membatalkannya.”
Ayahnya mengangguk.
“Karena Clara?”
Fedro diam.
“Karena keluarga.”
Ayahnya tersenyum tipis.
“Jangan bohong kepada dirimu sendiri.”
Fedro menoleh.
“Apa maksud Ayah?”
“Selama dua minggu terakhir, kamu selalu mencari tahu tentang Clara.”
Fedro tidak menjawab.
“Ayah tahu kamu sudah mulai menyukainya.”
Fedro menghela napas.
“Dia sulit ditebak.”
“Justru itu yang membuatmu tertarik.”
Fedro kembali menatap cermin.
Ia teringat Clara yang selalu keras kepala.
Gadis itu berbeda dari semua wanita yang pernah ia kenal.
Clara tidak pernah takut mengatakan apa yang ia pikirkan.
Bahkan kepadanya.
Fedro tersenyum kecil.
“Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja.”
Ayahnya tertawa.
“Semoga setelah menikah, kamu tidak menyesal.”
Fedro menggeleng.
“Aku tidak menyesal.”
---
Pesta pernikahan berlangsung di sebuah gedung mewah.
Para tamu dari kedua keluarga telah memenuhi ruangan.
Lampu kristal menggantung di langit-langit.
Bunga putih menghiasi sepanjang jalan menuju altar.
Suasana terasa elegan dan hangat.
Inara dan Icha berdiri di samping Clara.
Keduanya mengenakan gaun dengan warna senada.
Icha terus menatap Clara dengan mata berbinar.
“Clara…”
“Apa?”
“Kamu benar-benar menikah.”
Clara menghela napas.
“Jangan mengingatkanku.”
Inara tertawa.
“Semalam kamu masih bilang ingin kabur.”
“Aku bercanda.”
Icha mendekat.
“Kalau kamu berubah pikiran, kita punya motor di parkiran.”
Clara langsung tertawa.
“Jangan membuatku benar-benar kabur.”
Inara memegang tangan Clara.
“Kami serius. Kalau kamu tidak bahagia, bilang kepada kami.”
Clara mengangguk.
“Aku tahu.”
Icha tersenyum.
“Dan satu lagi.”
“Apa?”
“Jangan lupa bahwa kamu tetap Clara.”
Clara tersenyum.
“Terima kasih.”
Tiba-tiba musik mulai terdengar.
Semua tamu berdiri.
Pintu besar terbuka.
Clara menarik napas panjang.
Papi berdiri di sampingnya.
“Siap?”
Clara mengangguk.
“Siap.”
Mereka berjalan perlahan menuju altar.
Clara menatap ke depan.
Di sana, Fedro sudah menunggunya.
Tatapan pria itu langsung tertuju kepadanya.
Untuk beberapa detik, Clara merasa waktu berhenti.
Fedro terlihat berbeda hari ini.
Lebih tampan.
Lebih dewasa.
Dan entah mengapa, tatapannya membuat Clara merasa sedikit tenang.
Ketika Clara sampai di depan altar, Papi menyerahkan tangannya kepada Fedro.
“Jaga putriku.”
Fedro menggenggam tangan Clara.
“Aku akan menjaganya.”
Clara menatap Fedro.
“Jangan terlalu percaya diri.”
Fedro tersenyum tipis.
“Aku serius.”
Papi Clara tersenyum sebelum kembali ke tempatnya.
Prosesi pernikahan dimulai.
Clara mendengarkan setiap kata dengan hati berdebar.
Ketika tiba saatnya mengucapkan janji, Clara menarik napas.
“Aku, Clara Evellyn, bersedia menjadi istri Fedro Alexsander.”
Suara Clara terdengar jelas.
Fedro kemudian berkata,
“Aku, Fedro Alexsander, bersedia menjadi suami Clara Evellyn.”
Keduanya saling menatap.
Cincin disematkan.
Tepuk tangan memenuhi ruangan.
Clara resmi menjadi istri Fedro.
Namun ketika mereka berjalan meninggalkan altar, Clara berbisik,
“Sekarang kita benar-benar menikah.”
Fedro menjawab pelan,
“Ya.”
“Jangan lupa kesepakatan kita.”
“Aku ingat.”
“Bagus.”
Fedro tersenyum.
“Selamat datang di hidupku, Clara.”
Clara terdiam.
Entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat jantungnya berdebar.
---
Setelah acara utama selesai, Clara duduk bersama Inara dan Icha.
Keduanya terus menggoda.
“Jadi, bagaimana rasanya menjadi istri?” tanya Icha.
Clara memutar mata.
“Biasa saja.”
Inara tertawa.
“Biasa saja? Padahal wajahmu merah.”
“Panas.”
“Ruangan ini dingin.”
Clara mengambil bantal kecil dan melemparkannya.
“Diam!”
Mereka bertiga tertawa.
Tidak jauh dari sana, Fedro memperhatikan mereka.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
Seorang pria menghampirinya.
“Pak Fedro.”
“Hm?”
“Semua sudah sesuai rencana.”
Fedro menatapnya.
“Bagaimana dengan orang yang kita cari?”
“Belum ditemukan.”
Wajah Fedro berubah serius.
“Terus cari.”
“Baik.”
Pria itu pergi.
Fedro kembali melihat Clara.
Ia tidak ingin Clara mengetahui masalah tersebut terlalu cepat.
Namun ia juga sadar bahwa waktunya semakin sedikit.
---
Malam semakin larut.
Setelah pesta selesai, Clara dan Fedro akhirnya tiba di rumah yang akan mereka tempati bersama.
Rumah tersebut sangat besar.
Clara turun dari mobil dan menatap bangunan di depannya.
“Ini rumahmu?”
“Rumah kita.”
Clara langsung menoleh.
“Jangan terlalu cepat mengatakan rumah kita.”
Fedro tersenyum.
“Kamu sekarang istriku.”
Clara menghela napas.
“Aku masih belum terbiasa.”
“Aku juga.”
Mereka masuk ke dalam.
Clara melihat ruang tamu yang luas, tangga besar, dan berbagai ruangan yang terlihat sangat mewah.
“Kamarku di mana?”
Fedro menunjuk ke arah tangga.
“Lantai dua.”
Clara berjalan naik.
“Bagus.”
Fedro mengikuti.
Sesampainya di lantai dua, Clara membuka sebuah pintu.
Ia terkejut.
Ruangan itu besar dengan jendela yang menghadap taman.
“Ini kamarku?”
Fedro mengangguk.
“Ya.”
Clara menatapnya.
“Terima kasih.”
“Tidak masalah.”
Clara meletakkan tasnya.
“Kalau begitu, aku tidur di sini.”
Fedro mengangguk.
“Aku di kamar sebelah.”
Clara terkejut.
“Kamu tidak tidur di sini?”
“Tidak.”
Clara sedikit lega.
“Bagus.”
Fedro hendak pergi.
Namun Clara memanggilnya.
“Fedro.”
“Hm?”
“Terima kasih.”
Fedro menatapnya.
“Untuk apa?”
“Karena tidak memaksaku.”
Fedro tersenyum.
“Itu memang kesepakatan kita.”
Setelah Fedro pergi, Clara duduk di tempat tidur.
Ia melihat cincin di jarinya.
Cincin itu terasa berat.
Bukan karena ukurannya.
Tetapi karena tanggung jawab yang mengikutinya.
Ia kini memiliki seorang suami.
Dan suaminya adalah pria yang belum sepenuhnya ia pahami.
---
Di kamar lain, Fedro berdiri di depan jendela.
Ponselnya berdering.
Ia mengangkatnya.
“Ya?”
Suara seseorang terdengar dari seberang.
“Pak, kami menemukan informasi baru.”
Fedro langsung serius.
“Apa?”
“Orang yang membeli saham perusahaan keluarga Evellyn bukan investor biasa.”
“Siapa?”
“Namanya belum bisa dipastikan. Tapi ada kemungkinan dia memiliki hubungan dengan keluarga Clara.”
Fedro terdiam.
“Pastikan.”
“Baik.”
Sambungan terputus.
Fedro menatap malam.
Jadi ancaman itu mungkin berada sangat dekat.
Dan sekarang Clara adalah istrinya.
Ia tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya.
---
Keesokan paginya, Clara terbangun karena suara ketukan pintu.
Ia membuka mata.
“Siapa?”
“Fedro.”
Clara langsung bangun.
“Sebentar.”
Ia merapikan rambut dan membuka pintu.
Fedro berdiri sambil membawa sebuah kotak kecil.
“Apa itu?”
“Untukmu.”
Clara menerima kotak tersebut.
Ketika dibuka, terdapat sebuah kunci motor.
Clara menatap Fedro.
“Motor?”
“Aku tahu kamu kehilangan kebebasanmu setelah menikah.”
Clara menatapnya.
“Jadi?”
“Aku ingin memberikan sesuatu yang bisa membuatmu tetap menjadi dirimu sendiri.”
Clara membuka kotak itu sepenuhnya.
Di dalamnya terdapat sebuah kunci dengan gantungan berbentuk helm kecil.
“Di garasi ada motor baru.”
Clara langsung tersenyum.
“Serius?”
Fedro mengangguk.
Clara untuk pertama kalinya terlihat sangat bahagia.
“Fedro!”
Ia hampir memeluk pria itu, tetapi berhenti tepat sebelum menyentuhnya.
“Terima kasih.”
Fedro tersenyum.
“Aku tahu kamu menyukai motor.”
Clara memegang kunci tersebut erat.
“Boleh aku lihat?”
“Tentu.”
Clara berlari kecil menuju tangga.
Fedro mengikuti sambil tersenyum.
Namun saat mereka sampai di garasi, Clara terdiam.
Sebuah motor sport hitam terlihat berdiri di tengah garasi.
Desainnya elegan.
Warnanya hitam mengilap.
Clara mendekatinya dengan mata berbinar.
“Ini…”
“Untukmu.”
Clara menoleh.
“Kamu benar-benar tahu caranya membuat orang bahagia.”
Fedro tertawa kecil.
“Baru kali ini aku mendengar pujian darimu.”
“Jangan besar kepala.”
Clara menyentuh stang motor.
Namun sebelum ia sempat menyalakannya, ponsel Fedro berbunyi.
Senyumnya langsung menghilang.
Ia mengangkat telepon.
“Apa?”
Wajahnya berubah serius.
Clara memperhatikan.
“Siapa?”
Fedro tidak menjawab.
Setelah panggilan berakhir, ia memasukkan ponselnya ke saku.
“Kita harus pergi.”
“Ke mana?”
“Ada masalah.”
Clara mengerutkan kening.
“Masalah apa?”
Fedro menatapnya.
“Perusahaan keluargamu.”
Clara langsung terdiam.
“Apa yang terjadi?”
Fedro menjawab dengan suara rendah.
“Seseorang baru saja mengambil alih sebagian besar saham perusahaan.”
Clara membeku.
“Siapa?”
Fedro menatapnya dalam-dalam.
“Itulah yang harus kita cari tahu.”
Clara menggenggam kunci motor di tangannya.
Hari pernikahannya baru saja selesai.
Namun masalah baru sudah datang.
Dan kali ini, Clara tahu bahwa dirinya tidak bisa lagi hanya menjadi gadis yang hidup bebas dan menghindari masalah keluarga.
Ia adalah istri Fedro Alexsander.
Dan mulai hari ini, masalah keluarganya juga menjadi masalah Fedro.
Tanpa mereka sadari, seseorang sedang memperhatikan dari kejauhan.
Seseorang yang sudah menunggu momen ketika Clara dan Fedro bersatu.
Karena sejak mereka menikah, permainan sebenarnya baru dimulai.
Bersambung…