NovelToon NovelToon
Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.

Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?

#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Dimas sendiri sebenarnya tidak pernah benar-benar mengerti kenapa selama delapan tahun ia tidak juga menikahi Tira. Kalau ada yang bertanya apakah ia mencintai perempuan itu, jawabannya mudah. Sangat mencintai.

Tira bukan perempuan yang pernah ia anggap untuk main-main. Sejak awal mengenalnya di kampus, Dimas sudah membayangkan perempuan itu menjadi istrinya. Ia ingin pulang kerja dan menemukan Tira di rumah. Ingin punya anak yang memanggilnya Ayah dan memiliki ibu seperti Tira. Bahkan secara iseng ia sudah membuat gambaran akan seperti apa anaknya dan Tira nantinya kalau mereka sudah menikah.

Perempuan yang menurutnya lembut, baik, menjaga diri, dan bisa menjadi ibu yang ia banggakan. Bahkan selama delapan tahun berpacaran, Dimas sengaja menjaga batas dengan Tira. Ia tidak ingin hubungan mereka berjalan terlalu jauh. "Pokoknya kalau anak kami laki-laki, kemungkinan kulitnya akan putih seperti Tira, hidungnya mancung, wajahnya oval. Sementara kalau perempuan, wajahnya akan imut-imut, apalagi kalau punya lesung pipi seperti ibunya."

Dalam pikirannya, Tira adalah calon istri. Ia ingin perempuan itu tetap terjaga sampai mereka menikah. Itu pula sebabnya setiap kali pembicaraan tentang pernikahan muncul, Dimas selalu merasa waktunya masih panjang. Anehnya, semakin ia mencintai Tira, semakin sulit pula ia menjelaskan mengapa ia tidak kunjung membawanya ke pelaminan.

Bukan karena tidak punya uang. Bukan karena tidak mendapat restu. Bukan karena ada perempuan lain yang ingin dinikahinya. Bahkan Dimas sendiri sering kesal kepada dirinya ketika memikirkan hal itu.

Lalu bagaimana dengan Amanda? Amanda adalah persoalan yang berbeda. Ia tidak pernah memasukkan perempuan itu ke dalam bayangan masa depannya. Amanda datang sebagai kesalahan yang awalnya ingin ia lupakan, tetapi kemudian berubah menjadi sesuatu yang sulit ia lepaskan.

Bersama Amanda, Dimas tidak perlu berpikir tentang menjadi suami yang baik. Tidak perlu memikirkan rumah, anak, tanggung jawab, atau masa depan. Hubungan itu menjadi tempatnya melarikan diri. Kenikmatan sesaat yang seharusnya bisa ia tinggalkan, tetapi justru semakin lama semakin menjerat.

Yang membuat semuanya lebih buruk, Dimas memiliki standar yang berbeda untuk kedua perempuan itu. Tira ia jaga karena ingin menjadikannya istri. Amanda ia dekati karena ia menginginkan sesuatu yang tidak ia dapatkan dari Tira. Tetapi setelah semua yang terjadi, Dimas justru memandang Amanda sebagai perempuan yang sudah “rusak”.

Bahkan Dimas pernah mengatakan, "Jangan pernah berpikir kalau aku akan menikahimu, Man. Itu nggak akan mungkin. Sebab kamu bukan tipe perempuan idamanku. Makanya jangan sampai hamil. Hubungan kita hanya untuk senang-senang!"

Amanda kala itu menangis kecewa. Padahal ia sudah memberikan semuanya. Menghancurkan harga dirinya sendiri. Karena itu juga Amanda ingin pergi dari Dimas, tetapi laki-laki itu pintar melakukan manipulasi sehingga Amanda tak bisa lepas.

Ia tahu siapa yang membuatnya seperti itu. Ia tahu dirinya sendiri yang menyeret Amanda ke dalam hubungan terlarang tersebut. Namun anehnya, ia tetap merasa tidak rela jika Amanda menjadi milik lelaki lain.

Ketika Arga datang dan serius ingin menikahi Amanda, Dimas mulai mencari alasan agar hubungan itu tidak segera berakhir. “Kamu yakin mau menikah sama dia?”

“Jangan buru-buru.”

“Kamu masih bisa membatalkannya.”

Kadang Dimas bahkan tidak sadar bahwa kalimat-kalimat itu bukan lagi ungkapan sayang. Itu adalah cara untuk menahan Amanda agar tetap berada dalam jangkauannya. Ia tidak mau menikahi Amanda, tetapi juga tidak mau Amanda menikah dengan Arga.

Ia ingin Tira tetap menjadi perempuan yang menunggunya, sementara Amanda tetap menjadi perempuan yang bisa ia datangi ketika ia menginginkannya. Barangkali itulah sebabnya Dimas begitu marah ketika Tira akhirnya menerima Fahri.

Bukan semata-mata karena cintanya tiba-tiba membesar. Cintanya kepada Tira memang sudah besar sejak awal. Yang berubah adalah rasa memiliki. Selama delapan tahun, Dimas terbiasa berpikir bahwa Tira akan selalu ada.

Ia bisa menunda lamaran, bisa meminta waktu, bisa pulang ke tempat lain ketika sedang bosan, dan tetap percaya bahwa Tira akan menerima dirinya kembali. Sekarang semuanya berubah. Tira memilih lelaki lain. Dan yang lebih membuat Dimas gelisah, ia tidak tahu apakah Amanda juga akan segera memilih Arga setelah ini karena terakhir bertemu ia diusir dari kosan Amanda.

Pikiran itu membuatnya tidak tenang. Bahkan ada sisi dirinya yang berharap semuanya berjalan seperti yang ia mau. Tira menikah, Amanda menikah, lalu kehidupan berjalan masing-masing. Tetapi jauh di dalam dirinya, Dimas masih membayangkan bisa sesekali mencari Amanda ketika ia merasa ingin kembali pada kehidupan lamanya.

Ia ingin memiliki rumah tangga yang baik bersama Tira, tetapi pada saat yang sama tidak ingin kehilangan pintu menuju kesenangan yang selama ini ia sembunyikan. Ia ingin menjadi suami yang dihormati, ayah yang dibanggakan anak-anaknya, tetapi juga ingin menyimpan rahasia yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Dimas tidak melihat betapa busuknya keinginan itu. Ia hanya merasa semua yang ia inginkan seharusnya bisa berjalan bersamaan. Sampai Tira benar-benar pergi. Sampai Amanda mengusirnya. Sampai untuk pertama kalinya ia berdiri sendirian dan tidak ada satu pun perempuan yang menunggunya. Saat itulah Dimas mulai melihat sesuatu yang selama ini sengaja ia tutup-tutupi, ia tidak sedang kehilangan dua perempuan. Ia sedang kehilangan kendali atas dua perempuan yang selama ini ia kira bisa ia pertahankan sesuka hati. Dan mungkin, jauh di dalam hati, Dimas tahu itulah alasan sebenarnya mengapa ia begitu takut.

***

Dimas tidak tahu harus ke mana setelah Tira pergi. Ia mengemudikan mobil tanpa tujuan, berputar beberapa kali di jalan yang sama sampai akhirnya tangannya sendiri membelokkan setir ke arah kos Amanda.

Ia tahu seharusnya tidak datang. Apalagi tadi pagi Amanda sudah mengusirnya. Bahkan dengan jelas perempuan itu mengatakan agar dirinya tidak kembali lagi. Namun dalam keadaan seperti sekarang, Dimas tidak sanggup memikirkan harga diri. Ia hanya butuh tempat untuk menenangkan kepala. Dan selama ini, kalau dunia terasa terlalu berisik, Amanda selalu menjadi tempatnya bersembunyi. “Sekali ini saja,” gumamnya. “Aku cuma mau bicara.”

Mobil berhenti di depan gang kecil tempat kos Amanda. Dimas turun, lalu berjalan cepat menuju bangunan itu. Ia sudah membayangkan Amanda akan membuka pintu dengan wajah kesal, mungkin memarahinya lagi, tetapi setidaknya perempuan itu ada. Setidaknya ia bisa duduk sebentar dan mengeluarkan semua yang sejak tadi menyesakkan dadanya.

Namun begitu sampai di depan kamar Amanda, langkahnya berhenti. Pintu kamar itu tertutup rapat. Dimas mengetuk. Sekali. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi. “Man?”

Sunyi. Dimas mengernyit. Ia mencoba memutar gagang pintu, tetapi terkunci. “Amanda?” Seorang ibu yang kebetulan lewat di lorong menoleh. Dimas langsung bertanya, “Bu, Amanda ada?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!