Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35
Dipuji Sampai Meleleh
Damar akhirnya meletakkan palu.
Ia berjalan ke tikar dan berdiri di samping Senja. Jarak di antara bahu mereka masih cukup untuk dilewati Bintang.
"Dekat sedikit, Pak," kata gadis yang membantu memotret. "Biar masuk semua."
Bintang langsung mendorong pinggang ayahnya. Damar bergeser sampai lengannya menyentuh lengan Senja. Keduanya menegang pada saat bersamaan.
"Senyum!"
Bintang mengangkat dua jari. Senja tersenyum ke kamera, sedangkan Damar hanya berhasil mengurangi dingin di wajahnya.
Gadis itu mengambil beberapa foto, lalu memperlihatkan hasilnya. "Ayah-ibunya cakep banget. Ibunya muda kayak anak kuliahan, tapi cocok kok. Anaknya juga lucu."
"Satu lagi, Kak," pinta Bintang. "Yang Papa pegang Mama."
Senja tersedak napas. "Foto tadi sudah bagus."
"Teman Bintang fotonya dipeluk."
Damar mengulurkan tangan ke belakang bahu Senja, tetapi berhenti beberapa sentimeter sebelum menyentuh. "Boleh?"
Pertanyaan pelan itu hanya terdengar oleh Senja. Ia mengangguk. Lengan Damar kemudian melingkari bahunya dengan hati-hati, tidak menekan bekas cedera. Kehangatan tubuh lelaki itu menyusup melalui jaket tipisnya.
Bintang berdiri di depan mereka dan memegang tangan keduanya. Pada jepretan pertama Senja masih kaku. Pada jepretan kedua, Bintang berseru bahwa ada burung di kepala Papa. Senja spontan menoleh dan tertawa. Kamera menangkap Damar yang tidak melihat burung, melainkan menatap wajah istrinya.
"Yang ini bagus sekali," kata gadis itu. "Kelihatan sayang banget."
Senja ingin menjelaskan, tetapi Damar sudah mengambil ponsel dan mengucapkan terima kasih. Tangannya baru turun dari bahu Senja beberapa detik kemudian, seolah ia juga enggan mengakhiri pose.
Satu kalimat itu menghapus sebagian kerutan di dahi Damar. Ia tidak lagi disebut ayah dari Senja. Gadis tersebut justru melihat mereka sebagai pasangan.
"Terima kasih," kata Senja.
Bintang memeluk ponsel setelah menerimanya. "Ini foto keluarga pertama yang ada gunungnya."
"Itu pohon pinus, bukan gunung," kata Damar.
"Di belakang ada gunung sedikit."
Anak itu berlari menunjukkan foto kepada petugas tenda. Senja dan Damar ditinggalkan berdiri berdekatan.
"Mas," panggil Senja pelan. "Soal semalam, saya minta maaf."
Wajah Damar yang baru membaik kembali kaku. "Kenapa?"
"Saya mencium tanpa izin, lalu langsung pergi. Saya takut Mas marah."
"Kamu pergi untuk mencuci muka."
"Iya, karena malu."
"Bukan karena jijik?"
Senja menatapnya. Untuk pertama kali ia mendengar luka yang jujur di balik nada datar Damar.
"Kenapa saya harus jijik?"
"Kamu menghindar seperti aku membawa penyakit."
"Saya gugup."
"Kamu pernah punya pacar. Satu ciuman seharusnya bukan hal baru."
"Yang baru itu mencium Mas."
"Apa bedanya?"
Senja menatap danau. "Dengan Reza, saya selalu tahu apa yang dia pikirkan. Kalau senang, dia bilang. Kalau enggak suka, dia pergi. Mas berbeda. Wajah Mas waktu marah, malu, atau senang hampir sama."
"Kamu sedang bilang aku membosankan?"
"Saya bilang Mas sulit dibaca. Setelah saya cium, Mas diam seperti batu. Saya kira sebentar lagi saya disuruh keluar."
Damar mengingat kedua tangannya yang sengaja tidak menyentuh Senja. Pengendalian diri yang ia anggap menghormati justru terbaca sebagai penolakan.
"Aku diam karena kalau bergerak, kamu mungkin ketakutan."
Senja menoleh cepat. "Mas mau bergerak?"
Damar membiarkan pertanyaan itu menggantung. "Aku tidak jijik. Itu cukup."
Wajah Senja kembali panas. Namun beban yang sejak semalam berada di dadanya perlahan terangkat.
Damar terdiam.
Senja memetik ujung rumput agar tangannya punya pekerjaan. "Mas tinggi, ganteng, badannya bagus, pakai baju apa pun cocok. Mas juga dewasa, gentleman, dan dari kita menikah sampai sekarang enggak pernah menyentuh saya dengan paksa. Bahkan waktu marah, Mas tetap menjaga saya. Jadi enggak ada alasan saya jijik."
Ia seharusnya berhenti, tetapi setelah pintu pujian terbuka, hal-hal kecil lain ikut keluar.
"Mas hafal jadwal obat saya. Mas selalu memastikan Bintang makan hangat. Waktu keluarga saya minta uang, Mas enggak ikut merendahkan saya. Mas beli alat musik hanya karena dengar kami menyanyi. Dan meskipun omongan Mas sering menyakitkan, tindakan Mas enggak pernah benar-benar meninggalkan kami saat butuh."
Damar tidak lagi tersenyum tipis. Tatapannya melembut sepenuhnya. Selama ini orang memuji kekayaan, ketegasan, atau wajahnya karena ingin memperoleh sesuatu. Senja justru menyebut semua perhatian yang ia lakukan diam-diam.
"Kamu memperhatikan sebanyak itu," katanya.
"Sulit enggak memperhatikan orang yang tiap hari menyuruh saya makan dan jangan angkat barang."
"Berarti aku berhasil."
"Berhasil membuat saya kesal."
"Tapi tetap dianggap baik."
Senja tidak dapat menyangkal.
Satu demi satu pujian itu memukul pertahanan Damar dari arah yang menyenangkan. Sudut bibirnya terangkat.
"Lanjutkan."
Senja membelalak. "Apa?"
"Tadi kamu belum selesai."
"Sudah."
"Katanya pakai baju apa pun cocok."
"Mas jangan besar kepala."
"Terlambat."
Senja menahan senyum. "Mas adalah laki-laki paling baik yang pernah saya temui. Puas?"
Damar memandangnya dengan ekspresi yang begitu lembut sampai Senja lupa bernapas.
"Di matamu aku sebaik itu?"
"Kalau mulut Mas sedang diam."
Damar tertawa pendek. Suara itu jarang terdengar dan membuat wajahnya tampak beberapa tahun lebih muda.
"Berarti semalam kamu tidak menyesal?"
Senja menunduk. "Saya enggak bilang begitu."
"Tapi juga tidak bilang menyesal."
"Mas ini suka menang sendiri."
"Kali ini aku memang menang."
Bintang kembali sambil membawa tiga gelas cokelat hangat. "Papa senyum! Mama bilang apa?"
"Mama memuji Papa," jawab Damar sebelum Senja bisa mencegah.
"Papa ganteng?"
"Sangat," kata Damar.
Senja menutup wajah. "Jangan didengar."
"Sudah telanjur."
Mereka minum cokelat di tikar sambil melihat foto. Damar memilih satu gambar ketika Senja sedang menoleh kepada Bintang dan diam-diam mengirimkannya ke ponselnya sendiri.
Ia menjadikannya favorit, lalu hampir memasangnya sebagai latar layar. Bayangan foto itu terlihat oleh Senja sebelum ponsel dikunci.
"Mas kirim ke siapa?"
"Diriku sendiri."
"Katanya enggak suka foto."
"Bintang suka. Kalau ponselmu hilang, masih ada salinan."
Alasannya masuk akal, tetapi foto yang dipilih justru bukan gambar Bintang melihat kamera. Itu gambar Damar sedang menatap Senja tertawa. Senja melihat detail tersebut dan tidak berani bertanya.
Beberapa saat kemudian Bintang ingin ke toilet. Senja membawanya menuju fasilitas umum yang berjarak beberapa menit dari tenda.
"Jangan lama," pesan Damar.
"Kami bukan pergi ke Jakarta."
Setelah mereka hilang di balik jalur pinus, Damar duduk sendirian. Ia membuka foto keluarga dan memperbesar wajah Senja. Perempuan itu benar-benar tersenyum, tidak tampak jijik atau terpaksa.
"Om Damar?"
Suara yang dikenalnya membuat ia mengunci layar. Rayhan berdiri beberapa meter dari tenda dengan ransel dan jaket motor.
"Ngapain Om camping?" Rayhan melihat sekeliling. "Sendirian?"
"Pergi."
"Aku sama teman-teman di area sebelah. Ini keajaiban. Om Damar yang sedingin es mau tidur di tenda. Jangan-jangan lagi pacaran?"
"Bukan urusanmu."
Rayhan duduk di kursi lipat tanpa diundang. "Mana pacarnya? Aku lihat dulu baru pergi."
Damar berdiri. "Rayhan."
"Santai, Om. Aku cuma penasaran. Di rumah besar semua orang bilang Om nggak suka perempuan. Kalau ternyata bawa pacar camping, Eyang bisa syukuran."
"Kalau kamu menghubungi siapa pun, ponselmu masuk danau."
Rayhan tertawa, mengira itu lelucon. Damar justru menghitung waktu. Senja dan Bintang dapat kembali kapan saja. Rayhan belum pernah melihat wajah Bintang dan tidak tahu Senja tinggal sebagai istrinya.
"Kenapa tegang?" Rayhan menyipitkan mata. "Jangan-jangan aku kenal perempuannya."
Damar memindahkan tas Bintang ke dalam tenda agar namanya tidak terlihat. "Kembali ke temanmu."
"Aku tunggu lima menit."
Rayhan mengambil satu gelas cokelat yang belum diminum. Damar merebutnya sebelum bibir keponakannya menyentuh gelas.
"Itu punya orang."
"Nah, benar ada orang." Rayhan semakin bersemangat. "Perempuan?"
"Anak kecil."
"Om bawa Bintang? Serius?"
Damar tidak menjawab, tetapi kesalahan kecil itu sudah cukup. Rayhan memandang tenda, tas, dan sepasang sandal anak di dekat tikar.
"Semua orang keluarga tahu Om punya anak, tapi nggak ada yang pernah lihat. Aku boleh ketemu? Aku enggak akan foto."
"Tidak."
"Kenapa disembunyikan terus?"
"Untuk melindunginya dari orang yang tidak tahu batas."
Rayhan mengangkat kedua tangan. "Aku tahu batas. Cuma lihat, salam, selesai."
Damar menatap ponsel di saku jaket Rayhan. Ia tahu keponakannya tidak jahat, tetapi satu foto yang dikirim tanpa pikir panjang dapat membawa seluruh keluarga ke pintu Bintang Residence.
"Pergi sebelum mereka kembali."
Kata mereka membuat Rayhan tersenyum lebar. "Berarti ada perempuan juga."
Di jalur menuju tenda, Senja menggandeng Bintang sambil tertawa karena anak itu salah memasang kancing jaket. Tawa itu berhenti ketika ia melihat seorang laki-laki duduk di kursi mereka.
Rayhan.
Bintang hendak memanggil Papa. Senja cepat berjongkok dan menempelkan jari di bibir.
"Kita harus main sandiwara sebentar," bisiknya.
"Sandiwara apa?"
"Bintang pura-pura tersesat, lalu Mama mengantar kembali ke Papa. Jangan panggil Mama. Panggil Mbak saja."
Anak itu mengerutkan dahi. "Kenapa bohong sama Om Rayhan?"
"Karena Papa belum mau keluarga besar tahu tempat Bintang. Ini untuk menjaga Bintang, bukan untuk mengambil milik orang. Nanti Mama jelaskan lagi di rumah."
Bintang menatap Damar dari jauh, lalu mengangguk serius. "Bintang jago sandiwara."
"Jangan terlalu jago. Cukup bilang tadi kesasar."
"Terus Mama pergi?"
"Pura-pura mau pergi. Kalau Papa minta tinggal, Mama tinggal."
Rencana itu memiliki terlalu banyak celah, tetapi Rayhan sudah melihat mereka. Senja tidak punya waktu menyusun yang lebih baik.
Ia berdiri lagi, menggenggam tangan Bintang, dan berjalan menuju tenda dengan jantung berdebar.