Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.
Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.
Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5:Percobaan pengabungan Mana dan Aura
Beberapa hari kemudian, tirai hujan yang dingin mulai turun, memeluk seluruh hamparan tanah keluarga Ashford, Arlen duduk bersila di lantai ruang kerja kecil ibunya. Di hadapannya terbentang tumpukan buku tebal bersampul kulit yang sudah mulai memudar warnanya—koleksi peninggalan keluarga Elena sejak masa ia masih menjadi penyihir.
Elena berdiri di sana sambil mengelus sampul buku paling atas dengan rindu.
“Dulu buku-buku ini adalah harta paling berharga di kawasan ini,” ujarnya pelan. "Namun sejak aku menikah dengan ayahmu dan berhenti mendalami sihir, buku-buku ini hanya tersimpan di sudut ruangan yang berdebu. Kau tertarik membacanya, Nak?"
Arlen mengangguk antusias sambil menatap tulisan di sampul buku itu: Dasar-Dasar Pengumpulan dan Pengendalian Mana.
"Aku ingin tahu apa yang membuat orang-orang begitu mengagumi kekuatan ini, Bu," jawabnya jujur namun hati-hati. "Jika aku tidak bisa memilikinya, setidaknya aku harus mengerti cara kerjanya."
Elena sedih namun bangga akan keinginan tahuan putranya. Ia duduk di samping Arlen dan membuka halaman pertama buku itu.
"Baiklah. Mari ibu jelaskan apa yang ibu ketahui. Ingatlah ini baik-baik: Mana adalah energi dasar yang ada di mana-mana, tersebar bebas di udara, tanah, udara, dan bahkan di dalam makhluk hidup. Kita tidak menciptakannya, kita hanya meminjamnya dari alam."
Arlen mendengarkan sambil menyimak setiap kalimat dengan perhatian luar biasa. Dalam kehidupan pertamanya, ia sudah dihadapkan dengan ribuan penyihir hebat, namun ia tidak pernah benar-benar duduk mempelajari teori di balik kekuatan mereka secara mendalam. Baginya dulu, cukup tahu cara mengalahkan mereka. Kali ini, ia ingin memahami akar masalahnya.
Menurut buku itu, setiap manusia memiliki apa yang disebut Inti Mana—seperti wadah kecil yang terbentuk secara alami di dalam tubuh sejak lahir. Ukuran dan ketahanan itulah yang menentukan seberapa berbakatnya seseorang. Jika intinya kecil, seberapa keras pun ia berlatih, ia tidak akan pernah bisa menyimpan banyak energi.
Penyihir mengumpulkan energi dari luar, memasukkannya ke dalam inti itu, lalu mengubahnya menjadi elemen atau kekuatan serangan sesuai keinginan mereka.
Arlen mengernyitkan dahi setelah membaca beberapa bab penjelasan. Ia membandingkan cara kerjanya dengan apa yang ia miliki—Aura yang lahir dari pembakaran tenaga jiwa sendiri, tanpa bergantung sedikit pun pada apa yang ada di sekitarnya.
Sangat bergantung pada lingkungan, batin Arlen berkomentar. Jika berada di tempat yang tandus atau terkepung oleh penghalang penyerapan energi, kekuatan penyihir akan turun drastis. Belum lagi proses pengumpulannya membutuhkan waktu lama dan sangat lambat. Tapi ada kelebihannya: begitu energi terkumpul, daya ledaknya bisa sangat besar karena berasal dari sumber yang jauh lebih masif dari pada tubuh manusia.
Ia juga membaca tentang tingkatan kekuatan penyihir, dari Inisiasi hingga Penyihir Ilahi, dan menyadari bahwa tingkat tertinggi pun belum tentu bisa menandingi kekuatan tingkat menengah dari kaum Kesatria dulu—asalkan Kesatria itu memiliki dasar yang kokoh.
Namun yang paling membuatnya berpikir adalah sebuah catatan kecil di halaman belakang buku yang sudah pudar tulisannya:
"Ada batas tak terlihat yang tidak bisa dilewati oleh siapa pun yang hanya mengandalkan Mana. Seolah-olah alam semesta sendiri hanya mengizinkan kita menggunakan setengah dari kekuatannya. Konon ada cara lain yang sudah terlupakan..."
Catatan itu terhenti di situ saja, seolah penulisnya takut atau dilarang melanjutkannya.
Arlen menutup buku itu perlahan. Jadi ibunya benar, bahkan penulis buku kuno itu pun menyadari ada sesuatu yang hilang dari pengetahuan dunia ini.
"Bu... apakah pernah ada orang yang mencoba menggabungkan kekuatan diri sendiri dengan Mana alam?" tanyanya tiba-tiba.
Elena menggeleng ragu. "Ada legenda kuno yang menyebutkan hal itu, tapi dianggap hanya dongeng belaka. Dikatakan jika seseorang mencampurkan keduanya tanpa pengetahuan yang tepat, tubuhnya akan meledak seketika karena benturan sifat energi yang berbeda. Satu berasal dari luar, satu lagi dari dalam—sangat sulit menyatukannya."
Arlen diam saja. Ia tahu hal itu benar, namun ia juga tahu ada cara untuk melakukannya—cara yang hanya diketahui oleh pemimpin kaum Kesatria ribuan tahun lalu, dan ia adalah satu-satunya yang masih mengingat rahasia itu.
Siang berganti menjadi sore. Langit di luar jendela mulai memerah, menandakan berakhirnya hari yang panas. Saat Elena keluar sebentar ke halaman belakang untuk menjemur pakaian, Arlen melihat ini sebagai kesempatan emas. Ia segera duduk bersila di atas karpet usang, menutup matanya, dan membuka batinnya.
Ia tidak berniat menarik Mana masuk ke dalam tubuh—ia tahu risikonya terlalu besar bagi fisik anak enam tahun saat ini. Sebaliknya, ia hanya ingin merasakan dan menguji interaksi antara energi internalnya dengan energi eksternal.
Sesuai teori dasar sihir, ia merasakan jutaan partikel halus melayang di udara. Mana. Mereka bergerak liar, tak berbentuk, seperti debu cahaya yang terbawa angin.
Perlahan, Arlen membangkitkan Auranya. Cahaya keemasan samar—tingkat Perunggu—mulai menyelimuti kulitnya. Namun kali ini, ia tidak menggunakannya untuk memperkuat otot atau senjata. Ia mendorong Aura itu keluar sedikit saja, menciptakan medan tekanan halus di sekeliling tubuhnya, lalu mencoba "menyentuh" butiran-butiran Mana yang melayang di dekatnya.
Ekspektasi awalnya sederhana: apakah Aura akan mendominasi Mana?
Namun, apa yang terjadi justru di luar dugaan.
Saat Aura Perunggu itu bersentuhan dengan kabut Mana, Arlen merasakan getaran resonansi yang aneh. Bukan penolakan, bukan juga ketakutan. Melainkan... keakraban.
Sejenak, batas antara cahaya keemasan Aura dan kabut biru pucat Mana seolah melebur. Arlen terkejut. Dalam sepersekian detik, ia menyadari bahwa frekuensi dasar keduanya hampir identik. Seolah-olah ribuan tahun lalu, sebelum perang besar dan perpecahan ilmu pengetahuan, Mana dan Aura adalah satu entitas yang sama. Sumber energi tunggal yang kemudian terbelah menjadi dua jalur berbeda: Jalur Eksternal (Sihir) dan Jalur Internal (Kesatria).
Jadi, mereka setara, pikir Arlen, matanya masih tertutup rapat namun alisnya berkerut. Bukan hierarki tuan dan pelayan. Tapi dua sisi dari koin yang sama.
Dengan rasa penasaran yang memuncak, Arlen mencoba langkah lebih jauh. Ia berusaha menyatukan keduanya secara aktif. Ia menarik benang tipis Mana dari udara dan mencoba mengikatnya erat dengan aliran Aura di telapak tangannya, berharap bisa menciptakan evolusi energi yang lebih kuat.
"Menyatu..." bisiknya dalam hati, memusatkan seluruh konsentrasinya.
Awalnya, berhasil. Bola kecil energi terbentuk, berputar stabil. Namun, begitu Arlen meningkatkan intensitasnya—berniat memadatkan energi itu—sesuatu yang kacau terjadi.
Alih-alih bergabung menjadi satu kekuatan yang kokoh, kedua energi itu tiba-tiba bereaksi keras. Aura yang bersifat padat dan terstruktur tiba-tiba "terganggu" oleh sifat Mana yang cair dan ekspansif. Sebaliknya, Mana yang mencoba masuk ke dalam struktur Aura justru merasa terhimpit.
BOOM! (dalam skala mikro)
Energi itu meledak halus. Mana tersebut tidak terserap, melainkan tercerai-berai dan menyebar ke segala arah dengan cepat, meninggalkan Aura Arlen yang bergetar tidak stabil. Percikan-percikan mana liar beterbangan di ruangan, membuat bulu-bulu halus di lengan Arlen berdiri.
Arlen membuka matanya, napasnya sedikit tersengal. Wajahnya dipenuhi kebingungan murni.
Apa yang salah? tanyanya pada diri sendiri. Jika mereka berasal dari sumber yang sama, mengapa mereka menolak penyatuan paksa? Mengapa Mana justru menyebar ketika dipaksa masuk ke dalam struktur Aura?
Ia menatap telapak tangannya kosong. Teori lama mengatakan Aura lebih tinggi karena bersumber langsung dari dalam jiwa, tapi eksperimen barusan membuktikan bahwa level dasarnya hampir sama. Masalahnya bukan pada tingkat kekuatan, tapi pada kompatibilitas struktur. Aura itu kaku dan disiplin; Mana itu bebas dan chaos. Memaksanya bersatu tanpa jembatan penghubung justru menyebabkan disonansi.
"Arlen?"
Suara lembut ibunya membuyarkan lamunannya. Arlen seketika menarik kembali Auranya, menyembunyikan kebingungannya di balik senyuman polos.
Elena masuk membawa nampan berisi dua gelas teh hangat. "Kau terlihat sangat serius tadi, Nak. Sedang memikirkan apa?"
"Sedang berpikir tentang teka-teki, Bu," jawab Arlen sambil mengambil gelas tehnya. Matanya yang tajam kini tampak tenang, meski otaknya masih bekerja keras menganalisis kegagalan eksperimen tadi. "Ternyata, menyatukan dua hal yang berbeda itu tidak semudah kelihatannya. Kadang, mereka butuh cara khusus agar tidak saling menolak."
Elena tersenyum, mengelus kepala putranya. "Kau selalu punya cara bicara yang unik. Jangan terlalu berat berpikir, ya. Kau masih kecil."
Arlen mengangguk patuh, namun di dalam hatinya, pertanyaan itu terus bergema. Jembatan penghubung... Jika ia bisa menemukan apa yang menjembatani Aura dan Mana, ia mungkin bisa mencapai tingkat kekuatan yang bahkan tidak terbayangkan oleh penyihir atau ksatria era kuno.
Namun, renungan mendalam nya harus tertunda. Sore itu juga membawa kabar buruk yang menghantam realitas keluarga mereka.