NovelToon NovelToon
Baskara Lelaki Yang Memilihku

Baskara Lelaki Yang Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Beda Usia
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Selesai mandi, Alena melangkah keluar dengan rambut yang masih agak basah dan pakaian tidur yang tertutup rapat.

Matanya mendadak membelalak saat mendapati sosok Baskara sudah merebahkan tubuh tegapnya di atas tempat tidur utama, bersandar santai pada sandaran ranjang dengan dada bidang yang setengah terekspos dari balik piyama yang kancing atasnya terbuka.

Alena menghentikan langkahnya di ujung karpet, menatap pria itu dengan kening berkerut tajam.

"Kenapa kamu tidur di sini?" tanya Alena dengan nada penuh penolakan.

Baskara menoleh perlahan, menyunggingkan senyum tipis yang terkesan nakal sekaligus memprovokasi.

Ia menepuk sisi tempat tidur yang kosong di sebelahnya dengan gerakan lambat.

"Sayang, ini tempat tidur kita," sahut Baskara santai, mengalunkan kata panggilan itu dengan penuh penekanan.

Sorot matanya bertualang menyapu penampilan Alena dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Atau jangan bilang... istriku ini sudah tidak tahan berdua dengan brondongnya?"

Pipi Alena seketika memanas. Campuran antara rasa jengkel, malu, dan emosi yang meluap membuat napasnya memburu.

"BASKARA!!" pekik Alena tertahan, matanya menatap tajam pria di hadapannya.

Belum sempat Alena berbalik untuk beranjak menuju sofa di sudut ruangan, gerakan Baskara terlampau cepat.

Pria itu sudah beranjak dari posisi berbaringnya, meraih pergelangan tangan Alena dengan cengkeraman yang kuat namun terukur, lalu menariknya lembut hingga tubuh wanita itu limbung dan jatuh terduduk di tepi ranjang, tepat di sampingnya.

Baskara menahan pergerakan Alena, mengunci pandangan wanita itu dalam jarak yang teramat dekat.

"Lepaskan, Bas! Aku tidak bisa tidur dengan orang asing!" ucap Alena setengah berbisik, berusaha menyentakkan tangannya meski sia-sia.

Baskara terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar dingin dan dipenuhi dominasi mutlak.

Ia merapatkan jarak wajahnya ke telinga Alena, membuat hembusan napas hangatnya menyapu kulit leher wanita itu hingga bulu kuduknya meremang.

"Orang asing?" bisik Baskara tajam, ibu jarinya mengusap lembut bibir Alena yang gemetar.

"Aku suamimu, Sayang. Atau perlu aku ikat kamu di ranjang ini supaya kamu ingat siapa pemilikmu sekarang?"

Ancamannya menggantung tajam di udara, membuat kerongkongan Alena terasa menyempit seketika.

Alena menelan salivanya dengan susah payah, merasakan desakan kepanikan yang kian merayapi dadanya.

Sorot mata Baskara yang kelam dan tak tertembus memberi sinyal jelas bahwa pria muda itu sama sekali tidak berniat bercanda dengan ucapannya.

Melihat reaksi Alena yang membeku, Baskara tidak melanjutkan intimidasinya.

Kebekuan di wajahnya berangsur melunak, berganti menjadi sebuah ekspresi datar yang penuh kendali.

Ia melepaskan cengkeraman pada pergelangan tangan Alena, lalu menepuk pelan bagian kasur di sebelahnya.

"Ayo, sekarang tidur," ujar Baskara dengan nada suara yang berbalik tenang, seolah ancaman gila tadi tak pernah terucap dari bibirnya.

"Karena besok pagi kamu harus menyiapkan pakaian dan yang lainnya untuk suamimu mencari nafkah."

Kalimat itu meluncur begitu saja, bernada perintah mutlak yang tak membukakan ruang untuk bantahan.

Baskara kemudian menarik selimut tebal hingga sebatas dada, membalikkan badan memunggungi Alena, dan memejamkan mata dengan sangat tenang—seolah kehadiran wanita yang baru dipaksanya menikah itu sama sekali tak mengganggu tidur malamnya.

Alena masih terpaku di tepi ranjang. Ia menatap punggung tegap Baskara dengan perasaan campur aduk.

Amarah, rasa takut, dan kelelahan mental yang bertubi-tubi sejak sore tadi akhirnya menguras sisa-sisa tenaganya.

Sadar bahwa melarikan diri ke sofa hanya akan memicu perdebatan baru yang tidak akan pernah ia peroleh kemenangannya, Alena menghembuskan napas pasrah.

Dengan gerakan sehalus mungkin, ia merebahkan tubuhnya di ujung ranjang yang paling jauh dari Baskara.

Menarik pinggiran selimut untuk menutupi tubuhnya sendiri, Alena memiringkan badan memunggungi pria itu, menatap kosong ke arah kegelapan kamar sambil memikirkan takdir gila apa yang akan menyambutnya begitu matahari terbit besok pagi.

Keesokan paginya, Alena perlahan membuka matanya.

Sinar matahari pagi menerobos tipis di sela-sela tirai jendela kamar yang tinggi.

Ketika jemarinya meraba sisi kasur di sebelahnya, tempat itu sudah dingin dan kosong.

"Ke mana dia?" gumam Alena lirih pada diri sendiri, mengusap wajahnya yang masih diliputi sisa-sisa kantuk.

Belum sempat ia mengubah posisinya untuk duduk, bunyi engsel pintu kamar mandi yang terbuka memecah keheningan.

Spontan, kepanikan kecil menyerangnya. Tanpa berpikir panjang, Alena kembali merebahkan tubuhnya dan cepat-cepat memejamkan mata, berpura-pura masih tertidur lelap.

Langkah kaki bertelanjang menyeret pelan di atas lantai kayu tebal, makin mendekat ke arah tempat tidur.

Melalui celah bulu matanya yang sedikit terbuka, Alena mengintip keberadaan Baskara.

Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi, bertelanjang dada dengan tetesan air yang masih membasahi kulitnya, dan hanya selembar handuk putih yang melilit ketat di tubuh bagian bawahnya.

Tiba-tiba, tanpa ragu sedikit pun, Baskara melepas lilitan handuk itu untuk mengganti pakaian.

Sontak jantung Alena berdetak kencang, melompat liar di dalam dadanya.

Rasa kaget dan syok yang teramat sangat spontan menghancurkan aksi pura-pura tidurnya.

"BAS!!" teriak Alena histeris, reflex menutupi wajahnya rapat-rapat dengan kedua telapak tangan.

Suara tawa menggelegar langsung memecah suasana kamar.

Baskara tertawa terbahak-bahak melihat reaksi heboh wanita yang kini resmi menjadi istrinya itu.

Tawa yang terdengar sangat lepas dan puas.

"Nakal kamu, Sayang. Ternyata sudah bangun, hm?" goda Baskara, suaranya dipenuhi nada geli yang begitu kentara.

"Baskara gila!! Bas, tutup itu, Bas!! Mataku ternodai!" seru Alena panik dari balik sela-sela jarinya, wajahnya sudah memerah padam dari pipi hingga ke ujung telinga.

Dengan gerakan cepat, Baskara menarik celana pendek santainya, lalu melangkah lebar mendekati tempat tidur.

Sebelum Alena sempat berteriak lebih keras atau melontarkan omelan lanjutan, Baskara menundukkan tubuhnya dan langsung menangkep separuh wajah Alena.

"Sshhhh... jangan teriak-teriak..." bisik Baskara rendah.

Ia menutup rapat mulut istrinya menggunakan telapak tangan kanannya yang lebar dan hangat, menghentikan jeritan Alena seketika dan mengunci tatapan mata wanita itu yang membelalak penuh kekesalan.

"Buka matamu dan jangan berteriak," bisik Baskara tepat di depan wajah Alena, nada suaranya mengalun penuh penekanan yang tak bisa diabaikan.

Alena menggelengkan kepalanya keras-keras dari balik bekapan tangan Baskara, menolak mentah-mentah perintah itu.

Tangannya sibuk memukul-mukul pelan lengan tegap Baskara yang menguncinya.

Baskara terkekeh rendah, merasakan kepanikan istrinya yang teramat sangat.

"Aku sudah memakai boxer. Dan sekarang, ayo mandi lalu siapkan pakaian suamimu ini," ucapnya santai seraya perlahan melepaskan telapak tangannya dari mulut Alena.

Begitu bekapan itu terlepas, Alena langsung menghirup udara segar banyak-banyak.

Matanya mendelik tajam menatap Baskara yang kini memang sudah mengenakan celana boxer hitam, bertelanjang dada dengan rambut basah yang masih berantakan.

"Dasar mesum!" semprot Alena dengan pipi merona merah padam.

Tanpa memberi kesempatan pada Baskara untuk merespons, Alena menyibak selimut dengan gerakan kilat, menyambar handuknya, dan langsung berlari cepat menuju kamar mandi seperti tengah dikejar binatang buas.

Baskara memandangi pintu kamar mandi yang tertutup rapat dengan dentuman keras. Tawa kecil kembali lolos dari bibirnya.

"Meskipun mesum, kamu suka kan, Sayangku?" seru Baskara setengah berteriak dari luar, sengaja memprovokasi agar suaranya menembus pintu kayu tebal itu.

Dari dalam kamar mandi, hanya terdengar suara gemericik air pancuran yang langsung dinyalakan kencang—sebuah usaha jelas dari Alena untuk memekakkan telinganya sendiri dari godaan suami mudanya.

Baskara menyunggingkan senyum tipis yang penuh kemenangan.

Ia berjalan melangkah menuju sofa empuk di sudut kamar, mendaratkan tubuhnya di sana, lalu menyilangkan kaki dengan santai.

Dengan tenang, Baskara duduk menunggu istrinya yang sedang mandi, siap melanjutkan babak baru dari permainan rumah tangga gila yang baru saja mereka mulai.

1
Aghitsna Agis
udah bilang aja baskara dan iztrinya meninggal.jad ngungsi dulu sambil selidiki siapa yg telah membakar toko rotinya
sri hastuti
habis kan keluargamu baskara yg spt iblis itu, keterlaluan membahayakan nyawa orang, sikat semua ,bila perlu masukkan ke penjara semua 😡😡😡😡
sri hastuti
kok double???
Manis
kok di ulang?
Bunga Andthea
up lgi kak
lilik indah
ttp semangat walau sdikit yg komen kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Ghiffari Zaka
ih kok kejam banget ya baskara??? apa setelah menikah nnt Alena akan seperti di kisah novel2 yg lain,tersiksa,di acuhkan ,di sia-siakan bahkan di anggap tidak ada,kok AQ jadi ke sn ya mikirnya Thor....
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
semoga ceritanya asyik ya Thor...dan semoga sukses di karya barunya🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!