NovelToon NovelToon
Terikat Cinta Sang Mafia

Terikat Cinta Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.

‎Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.

‎"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.

‎Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 : Malam yang tak berakhir tenang.

‎Suasana di apartemen mewah itu terasa semakin sesak, meski jendela kaca dari lantai hingga langit-langit itu memperlihatkan pemandangan kota yang luas.

‎‎BRAK!

‎‎Tinju Jason menghantam tembok dinding dengan keras, membuat lukisan di sana bergeser sedikit. Sendi-sendinya memerah, namun rasa sakit itu tak sebanding dengan amarah yang meluap di dadanya. Napasnya memburu, mata merah menatap lembaran dokumen yang baru saja ia tanda tangani—selembar kertas yang seolah merampas haknya atas Celine, satu per satu.

‎‎"Sialan... sialan!" geramnya pelan, suaranya bergetar menahan kekesalan yang tak bisa dilampiaskan pada siapa pun lagi. Ia terpaksa melakukannya. Demi perusahaan, demi nama baik keluarganya, ia harus melepaskan. Tapi hatinya menolak untuk menerima kenyataan itu.

‎‎"Jay?"

‎‎Suara lembut terdengar dari arah pintu kamar. Renata melangkah masuk perlahan, wajahnya tampak cemas namun terselip secercah harap yang tak ia sembunyikan sepenuhnya. Ia berjalan mendekat, meletakkan tangannya di bahu pria itu pelan.

‎‎"Ada apa? Kau terlihat sangat... hancur. Apa yang terjadi?"

‎‎Jason menghela napas panjang, lalu menoleh ke arahnya dengan tatapan kosong namun penuh kepahitan.

‎‎"Celine..." suaranya tercekat sejenak. "Celine sekarang di bawah perlindungan Damian Salvatore. Pria yang memegang kendali atas hampir separuh bisnis di kota ini. Dia... dia bahkan sudah menganggap Celine miliknya secara sah."

‎‎Renata membelalakkan mata, tak percaya mendengar nama itu disebut. "Damian Salvatore? Sang Don? Itu... itu pria yang ditakuti banyak orang itu? Celine benar-benar bersamanya?"

‎‎Jason mengangguk lemah. "Bukan sekedar bersamanya. Dia menikahinya, Renata. Dan sekarang Damian memintaku pergi dari hidup Celine, dengan ancaman yang tak bisa aku tolak."

‎‎Hening sejenak. Renata menunduk sebentar, lalu kembali menatapnya, namun kali ini ada kilau kemenangan tersembunyi di balik matanya yang lembut.

‎‎"Kalau begitu..." ucapnya pelan, seakan berhati-hati menyusun kata. "Kalau Celine sudah memilih jalan itu... bukankah berarti sekarang tidak ada lagi yang menghalangi kita? Sekarang hanya kau dan aku, Jay."

‎‎Jason terdiam menatapnya. Kata-kata itu benar, namun rasanya masih terasa pahit di lidahnya. Ia mengusap wajah dengan kasar, napasnya masih berat.

‎‎"Aku tidak terima, Renata. Aku tidak bisa begitu saja melepaskan dua tahun kebersamaan hanya karena selembar perjanjian dari pria yang punya kekuasaan lebih besar. Aku harus bertemu dengannya. Aku harus bertanya langsung pada Celine apakah dia benar-benar memilihnya dengan sadar, atau dia dipaksa."

‎‎"Tapi kau tahu siapa Damian, kan?" Renata mencoba menasihatinya, suaranya lembut namun tegas. "Pria itu tidak main-main. Kalau kau bertindak gegabah, kau bisa menghancurkan dirimu sendiri, bahkan orang-orang di sekitarmu. Biarkan saja, Jay. Kalau dia mencintaimu, dia pasti akan kembali padamu."

‎‎Jason menatap wanita di hadapannya itu lekat-lekat. Di tengah kekacauan dan rasa sakit yang ia rasakan, Renata selalu ada. Selalu memahami, selalu menenangkan.

‎‎"Kau memang yang paling memahamiku..." gumamnya pelan, mengusap lembut pipi Renata.

‎‎Renata tersenyum tipis, lalu perlahan melingkarkan kedua lengannya di leher pria itu, menariknya sedikit mendekat.

‎‎"Aku akan selalu ada untukmu, Jason. Selalu. Jangan biarkan satu orang yang pergi membuatmu lupa bahwa ada orang lain yang rela memberikan segalanya hanya untuk melihatmu tersenyum."

‎‎Jason menatap bibirnya sejenak, lalu tanpa kata lagi, ia menunduk dan menyatukan bibir mereka. Ciumannya tidak penuh gairah seperti dulu, melainkan penuh kebutuhan akan pelarian—pelarian dari rasa sakit, rasa malu, dan rasa kehilangan yang menghantui kepalanya. Renata membalasnya dengan lembut, seakan menyambut kemenangan yang perlahan ia raih, meski di hati pria itu masih terselip nama wanita lain yang tak bisa ia sebut dengan lantang.

‎‎Ciuman itu semakin dalam dan penuh gairah, napas mereka mulai memburu di ruangan yang sama panasnya dengan perasaan yang meluap. Tangan Renata menyentuh dada Jason dengan lembut namun mendesak, sementara Jason memejamkan mata, seakan ingin melupakan segala rasa sakit dan kekalahan yang baru saja ia alami.

‎‎"Ah!" Jason menggeram nikmat, malam ini ia kembali membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan wanita yang selalu ia beri status sebagai teman.

‎‎-

‎-

‎-

‎‎Air hangat terus mengalir membasahi tubuhnya, membawa rasa hangat sekaligus kelelahan yang merambat ke setiap sendi. Celine menyandarkan punggungnya ke dinding keramik yang hangat, napasnya masih teratur namun terasa berat, pipinya merona lembut.

‎‎"Damian..." suaranya terdengar lembut dan sedikit terengah, "Sudah... aku lelah..."

‎‎Pria yang sedari tadi berada di dekatnya perlahan berdiri tegak. Di bawah guyuran air yang jatuh membasahi rambut dan bahunya, sepasang mata gelap itu menatapnya penuh kelembutan bercampur kepuasan yang tenang. Ia meraih tubuh Celine dan memeluknya erat, seakan ingin memastikan bahwa wanita itu benar-benar baik-baik saja.

‎‎"Kau puas, Amore?" bisiknya pelan di telinga Celine, lalu mengecup puncak kepalanya dengan lembut. "Kau sudah melakukannya dengan sangat baik."

‎‎Ia meraih handuk lembut yang tersedia di luar bilik mandi, lalu dengan hati-hati membungkus tubuh Celine dan mengeringkannya pelan, seakan menangkap sesuatu yang sangat berharga dan rapuh. Setelah itu ia membawanya kembali ke ranjang, menurunkan wanita itu dengan lembut.

‎‎Damian menopang tubuhnya di atas kedua lengan, menatap wajah wanita di bawahnya. Ia menyentuh pipi Celine dengan punggung jarinya, lalu berbisik parau, penuh dan tulus.

‎‎"Kau milikku, Celine. Hanya milikku."

‎‎Celine mengangkat tangannya, menyentuh rahang pria itu, jari-jemarinya menelusuri garis wajah yang kini begitu ia kenal. Garis yang keras di luar, namun lembut untuknya.

‎‎"Bisakah kau tidak pernah pergi malam lagi dan tetap selalu di sini menemaniku tidur?"

‎‎Damian tersenyum, "Aku—"

‎‎Baru saja ia membuka mulut untuk menjawab, tiba-tiba suara deringan tajam memecah keheningan terdengar jelas.

‎‎TRING! TRING!

‎‎Sumbernya dari atas meja nakas. Ponsel hitamnya bergetar hebat di atas kayu, di samping pistol dan dompetnya yang tadi ia letakkan saat masuk.

‎‎Damian terhenti sejenak. Tubuhnya masih menopang berat badan di atas Celine, namun matanya menyipit tajam ke arah nakas. Ekspresinya berubah, hangat dan lembut yang baru saja ada di sana perlahan berganti kembali menjadi dingin, tegas, dan waspada yang tak bisa dipadamkan.

‎‎Celine juga menegang. Tangannya yang masih terangkat di rahang Damian perlahan menurun, matanya kembali terisi keraguan dan ketakutan yang baru saja mulai ia buang jauh-jauh.

‎‎Damian menatapnya sebentar, seolah ingin berkata 'Aku akan mematikannya', namun deringan itu tidak berhenti. Justru menjadi lebih keras dan terus berulang, seolah penelepon itu tidak akan menyerah.

‎‎Dengan napas masih berat, Damian menurunkan tubuhnya sedikit. Tidak sepenuhnya menjauh. Tangannya yang tadinya menyentuh pipi Celine kini meraih ke atas nakas, mengambil ponsel itu dengan gerakan lambat namun penuh ketidakpuasan.

‎‎Layar menyala. Nama yang tertulis di sana membuat rahangnya semakin mengeras.

‎‎LUCA

‎‎Damian menatap nama itu selama beberapa detik, matanya gelap. Ia tidak menjawab panggilan itu. Sebaliknya, ia menekan tombol speaker dan menaruh ponsel di samping bantal, sehingga suara dari seberang terdengar jelas dan tajam memenuhi ruangan.

‎"Don... maaf mengganggu." Napas Luca terdengar berat, seperti habis lari. "Ada masalah di gudang pelabuhan. Pintu gudang B dibuka jam 23.40 tadi. Pakai kode internal."

‎‎Damian langsung menegakkan tubuhnya, wajahnya mengeras, garis rahangnya menegang tajam, dan mata gelapnya kembali menyala dengan ketajaman yang mematikan.

‎‎"Siapa?" tanyanya, suaranya rendah namun berat.

‎‎"Itu dia masalahnya, Don." Luca menelan ludah dengan susah, napasnya masih terengah-engah, terdengar jelas lewat speaker ponsel. "Yang membuka pintu... Martin. Kepala divisi logistik kita. Sidik jari dan pemindaian retina, semuanya cocok 100%."

‎‎Hening seketika menimpa ruangan. Bahkan angin yang sempat berdesir pelan di luar seolah berhenti bergerak.

‎‎"Dan Don..." Suara Luca perlahan menjadi lebih pelan, namun makin menakutkan. "Empat orang pengawal kita tewas. Ditembak dari belakang, tanpa sempat berteriak. Senjata mereka semua hilang tanpa jejak. Dan dari rekaman CCTV... Martinlah yang mematikan sistem keamanan dua menit tepat sebelum kejadian itu terjadi."

‎‎Celine menutup mulutnya dengan tangan yang tiba-tiba gemetar hebat. Tanpa sadar, tangannya meraih lengan Damian dengan kuat, jari-jarinya mencengkeram kain kemeja yang baru saja ia pakai, seolah itulah satu-satunya jangkar yang bisa menahannya dari jatuh ke dalam kegelapan yang baru saja terungkap.

‎‎"Semua orang sudah menunggu di ruang bawah tanah," lanjut Luca, suaranya kini penuh ketegangan. "Termasuk tiga kepala divisi lainnya. Mereka semua mengaku tidak tahu apa-apa, Don. Tapi saya tahu... kita harus menyelesaikan ini sekarang. Sebelum kabar ini sampai ke telinga Romano atau bahkan Vincenzo. Kalau mereka tahu ada pengkhianat di dalam, semuanya akan berantakan."

‎Tut.

‎‎Suara putusnya panggilan itu memecah keheningan yang membeku.

‎‎Damian menaruh ponsel di samping bantal perlahan, namun matanya tak berkedip sekejap pun. Ia mengancingkan kemeja hitamnya dengan gerakan cepat dan rapi, lalu menoleh ke arah Celine.

‎‎"Tetap di sini," tanyanya, "Atau ikut?"

‎‎-

‎‎-

‎‎-

‎Bersambung...

1
🍓ADIRA🍓
Yuuhuuuuu 💃 selamat buat kalian berdua yang mau jadi orang tua 🤗
🍓ADIRA🍓
Etdah ini si nona,,, masih aja banyak bacot gak jelas 🙄🙄🙄 perlu diseruduk banteng dulu kayaknya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
bakalan ada Don junior kah 😱
〈⎳ FT. Zira
kecebong sudah berkembang beneran kann🤭
🍓ADIRA🍓
Kalaupun si Matt tak balik, masih ada yang nganggur di depan mu noh Val 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Masih aja dirimu Val /Proud/
〈⎳ FT. Zira
bales aja Cel.. doakan juga yaa sambil ngelus perut🤣
〈⎳ FT. Zira
ketika kekakuan berubah menjdi jelly🤭🤭
🍓ADIRA🍓
Kwkwkwkwk... diriku cuma intip dikit Thoorrr 🫣😂😂
🍓ADIRA🍓: Diriku masih polos Thorrrr 😂😂 janganlah kau nodai dengan kelakuan messyyumm si Revan 😂😂😂
total 2 replies
🍓ADIRA🍓
jawab apa hayo 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Seketika Val pun lupa dengan gengsinya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Pamer 🤮🤮🤮
🍓ADIRA🍓
Oh si remote toh 😂😂
MamDeyh
Aku bukan bocil tp emak yg punya bocil, jadi boleh yaaa/Grin/
🔥Violetta🔥: boleh banget... diwajibkan malah /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
Siapa. pulak ini /CoolGuy/
🍓ADIRA🍓
Yeeee suka^ Oma donk /Tongue/
MamDeyh
Siapa itu yaaaa
🍓ADIRA🍓
Nah 👏👏👏
🍓ADIRA🍓
Semoga si Oma melunak kali ini
🍓ADIRA🍓
main peran jadi ceo dulu y Dam 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!