NovelToon NovelToon
Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Kapten
Popularitas:8
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**

Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.

Malam itu mengubah segalanya.

Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.

*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.

Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.

Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6

Negosiasi Perjanjian Pranikah

"Syarat pertamaku, keluargaku tidak boleh tahu siapa keluargamu."

Adrian menatap Kayla dari seberang meja. "Mereka sudah tahu aku cucu Oma Melly."

"Itu tidak sama dengan tahu kau anggota keluarga Gunawan."

Kayla baru memahami seberapa besar nama itu setelah Adrian menjelaskan hubungan Grand Regalia, Angkasa Timur, RS Sentosa, dan Argatama Group. Semuanya terhubung kepada satu keluarga.

Keluarga Adrian.

"Kalau Rosa atau Vera tahu," lanjut Kayla, "mereka akan menempel padamu seperti lintah. Katakan kau hanya kapten yang masih mencicil rumah dan mobil. Kalau perlu, mengeluh soal utang."

"Kau ingin aku berpura-pura miskin?"

"Aku ingin kau terlihat tidak menguntungkan. Itu berbeda."

Sudut bibir Adrian bergerak tipis. "Baik. Di depan keluarga Halim, aku kapten dengan banyak cicilan."

"Kedua, aku tetap bekerja. Jadwal jaga dan keputusan karierku bukan urusan keluargamu."

"Setuju."

"Ketiga, keuangan kita terpisah. Utang sebelum menikah menjadi tanggung jawab masing-masing. Kalau bercerai, aku tidak menuntut saham, perusahaan, atau warisan keluargamu."

Adrian menyilangkan tangan. "Kau yakin?"

"Sangat yakin."

"Banyak orang akan menganggapmu bodoh."

"Banyak orang juga menganggap hidup sebagai simpanan orang kaya itu keberuntungan. Pendapat mereka tidak penting."

Jawaban itu menghapus sisa senyum dari wajah Adrian. Ia mengangguk sekali, kali ini tanpa nada mengejek.

"Giliranku," katanya. "Pernikahan ini harus terlihat nyata. Kita tinggal di rumah yang sama dan hadir bersama dalam acara keluarga yang tidak bisa dihindari. Tidak boleh ada hubungan dengan orang lain selama kita masih menikah."

"Aku tidak punya waktu untuk satu hubungan, apalagi dua."

"Bagus."

"Kamar terpisah."

"Sampai kita berdua sepakat mengubahnya."

Kayla mengangkat mata. Adrian mengucapkannya tanpa senyum, tetapi kalimat itu membuat udara di antara mereka terasa berbeda.

"Kamar terpisah," ulang Kayla tegas.

"Dicatat."

Adrian mengirim pesan kepada Nico. Kurang dari lima menit kemudian, sebuah dokumen masuk ke surel Kayla.

"Itu terlalu cepat," katanya.

"Pengacara keluarga sudah menyiapkan kerangka perjanjian sejak Engkong mulai menjodohkanku."

Kayla membuka dokumen tersebut di tablet. Nama Vanessa belum pernah dimasukkan, tetapi ruang untuk calon istri sudah tersedia.

"Romantis sekali."

"Keluargaku tidak dibangun dengan romantisme."

"Aku mulai takut bertanya."

Adrian menuang teh untuknya sebelum menjawab. "Orang tua kandungku bercerai ketika aku kecil karena Papa berselingkuh. Sekarang dia tinggal bersama istri keduanya dan anak-anak mereka. Aku dibesarkan Papa Hendra dan Mama Winnie, adik Papa beserta istrinya. Engkong memegang keputusan terbesar keluarga. Ema mengurus siapa pantas menikah dengan siapa."

Kayla menghitung hubungan itu dalam kepala, lalu menyerah. "Ada bagan keluarganya?"

"Nico bisa membuatkan."

"Aku bercanda."

"Aku tidak."

Ponsel Kayla berbunyi. Oma Melly menelepon melalui panggilan video. Begitu Kayla menjawab, wajah perempuan tua itu memenuhi layar.

"Bagaimana? Kalian sudah bertengkar?"

"Sedang negosiasi," jawab Adrian.

"Negosiasi apa?"

"Pernikahan," kata Kayla.

Oma Melly terdiam selama dua detik, lalu berteriak memanggil seseorang di luar layar. "Sianto! Cucu kita akhirnya laku!"

Adrian memejamkan mata.

Kayla menahan tawa.

"Oma, belum selesai," kata Adrian.

"Selesaikan. Jangan pulang sebelum selesai." Oma Melly lalu menatap Kayla. "Kalau dia membuatmu kesal, telepon Oma. Semua rahasia masa kecilnya ada pada Oma."

Panggilan ditutup sebelum Adrian sempat membalas.

"Aku mulai memahami kenapa kau bersedia datang ke kencan buta," kata Kayla.

"Sekarang kau tahu tekanan yang kuhadapi."

Seorang pelayan mengantar makanan ringan. Setelah pintu kembali tertutup, Adrian menggeser sebuah kartu hitam tanpa logo mencolok ke depan Kayla.

"Untuk kebutuhan rumah tangga. Tidak ada batas penggunaan."

Kayla tidak mengambilnya. "Aku punya gaji."

"Aku tahu. Ini bukan pengganti gajimu. Kalau kita harus terlihat sebagai pasangan, pengeluaran bersama tidak perlu kau tanggung sendiri."

"Kartu dengan batas wajar sudah cukup."

"Tidak ada versi lain."

"Masalah orang kaya ternyata aneh."

Adrian membiarkan kartu itu di meja. "Ada satu apartemen tiga kamar di dekat RS Sentosa. Akan dialihkan atas namamu sebagai hadiah pernikahan. Apartemen itu tetap milikmu kalau kita bercerai."

"Tidak perlu."

"Perlu. Kau tidak boleh kembali ke rumah Halim, dan tempat tinggalmu sekarang kamar dinas. Anggap itu perlindungan jika kontrak ini berakhir."

Kayla menatapnya. Untuk laki-laki yang beberapa jam lalu mengatakan ia tidak membuatnya muak, Adrian menawarkan perlindungan dengan nilai yang mungkin tidak akan dicapai Kayla dari gaji bertahun-tahun.

"Lalu kita akan tinggal di apartemen itu?"

"Tidak. Rumah utama kita di Cluster Peony, PIK. Lebih dekat ke bandara untuk jadwalku. Apartemen dekat rumah sakit tetap atas namamu. Kalau kau selesai jaga tengah malam dan terlalu lelah menyetir, kau bisa menginap di sana."

"Jadi kau sudah punya rumah pernikahan sebelum punya calon istri."

"Aku punya rumah. Fungsi pernikahannya baru diputuskan lima menit lalu."

Kayla mengetuk layar tablet. "Aku tidak mau status dokter atau nama profesionalku berubah hanya karena menikah. Di rumah sakit aku tetap dr. Kayla Halim sampai aku sendiri memutuskan lain."

"Aku tidak berniat mengganti papan namamu."

"Dan aku tidak akan berhenti jaga malam untuk menyesuaikan jadwal penerbanganmu."

"Aku juga tidak akan membatalkan penerbangan hanya untuk makan malam. Kalau salah satu dari kita tidak pulang, beri kabar. Bukan meminta izin."

Itu aturan yang dapat diterima Kayla. Tidak romantis, tetapi jelas. Jauh lebih jelas daripada semua kewajiban tanpa batas yang selama ini disebut keluarganya sebagai kasih sayang.

"Satu lagi," kata Adrian. "Tidak ada tamu keluarga yang boleh menginap tanpa persetujuan kita berdua."

"Untuk mencegah keluargaku pindah masuk?"

"Untuk mencegah seluruh keluarga kita. Aku tidak yakin pihak mana yang lebih berbahaya."

Kayla akhirnya tertawa. "Setuju. Masukkan juga."

"Masukkan semuanya ke perjanjian," katanya. "Apartemen, kartu, dan bahwa aku tidak berhak atas aset lain. Aku akan meminta notaris independen memeriksanya sebelum tanda tangan."

"Silakan."

Mereka membahas jadwal, privasi, dan cara menghadapi keluarga sampai matahari di luar jendela berubah jingga. Nico mengirim revisi dokumen dua kali. Kayla meneruskannya kepada notaris yang direkomendasikan rekan rumah sakit dan baru melanjutkan setelah mendapat konfirmasi bahwa tidak ada klausul tersembunyi yang merugikannya.

"Kalau sepakat malam ini," kata Adrian, "besok pagi kita mendaftar di Catatan Sipil. Dokumen dasar sudah lengkap dan ada jadwal pencatatan yang kosong."

"Besok?"

"Kau ingin Wilson punya waktu lebih banyak?"

Tidak.

Kayla mengambil tablet lagi. "Sebelum aku setuju, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Apa?"

"Setelah mendengar soal Engkong, Ema, Papa kandung, Papa yang membesarkanmu, istri kedua, dan perjodohan antarkeluarga... apakah aku masih boleh mundur?"

"Boleh."

Jawaban itu datang terlalu cepat.

"Tapi?"

"Tapi kau tidak akan menemukan kandidat lain yang sudah tahu rahasia terburukmu dan tetap tidak tertarik memanfaatkannya."

Kayla mengembuskan napas. "Sayangnya, itu argumen yang bagus."

Versi terakhir perjanjian masuk ke surelnya. Ia membaca dari awal, berhenti pada bagian tunjangan pribadi, lalu mengangkat kepala.

"Rp 30 miliar setiap tahun?"

Adrian tidak terlihat terganggu. "Ada masalah?"

Kayla menggulir halaman berikutnya. Kalimat lain dicetak tebal.

`Kedua pihak tidak dapat mengajukan perceraian selama tiga tahun pertama pernikahan, kecuali terjadi kekerasan, perselingkuhan, atau tindak pidana.`

"Tiga tahun tidak boleh bercerai," baca Kayla. "Kau serius?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!