Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.
Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.
Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.
Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HALAMAN TIGA PULUH SATU
Di dalam kelasnya, Rindu yang sudah duduk ditempat duduknya sedang mengenakan kalung miliknya yang terbawa oleh Langit. Sahabat Rindu merasa aneh melihat Rindu yang tersenyum-senyum sendiri tanpa sebab. Ada apa gerangan? Kira-kira seperti itulah pertanyaan yang timbul pada benak sahabat Rindu. Disaat sahabat Rindu penuh dengan tanya, Rindu masih saja sibuk tersenyum seorang diri mengingat kejadian tadi disaat Langit datang menolongnya dari kelompok pemuda yang mengganggu dirinya.
Waktu istirahat telah tiba, terihat seluruh siswa dan siswi keluar dari kelasnya masing-masing , tak terkecuali Rindu cs. Mereka keluar kelas langsung menuju kantin sekolah. Tak seperti biasanya, disaat di perjalanan menuju kantin Rindu berpapasan dengan Langit yang baru saja keluar kelas , Rindu malah memberikan senyumannya. Padahal sebelum-sebelumnya, jangankan memberi senyuman, yang ada malah mengerjai atau mengejek Langit. Itu juga yang di rasakan oleh sahabat Rindu, mereka heran melihat sikap Rindu yang seperti itu, semua membuat mereka ingin bertanya kepada Rindu namun terasa sungkan. Mereka akhirnya mengacuhkan itu semua dan melanjutkan langkahnya kembali.
Hingga akhirnya mereka tiba dikantin sekolah dan langsung menduduki salah satu meja disana. Setelah memesan makan, tanpa sungkan Gina memberanikan diri untuk bertanya kepada Rindu. "Rin, lu nggak sakit kan?" tanya Gina.
"Nggak kok, kenapa emang?" jawab Rindu.
"Kayak ada yang beda aja dari lu dihari ini" ucap Gina.
"Apaan sih lu, gue nggak kenapa-kenapa kali, ada-ada aja lu gin" sanggah Rindu.
Belum selesai Gina dengan rasa penasaran atas perubahan sikap Rindu, makanan yang dipesan pun datang ke meja mereka. "Makanan gue akhirnya sampai juga, makan duluan ya gue" potong Rindu sambil langsung menyantap makanannya.
Melihat tingkah Rindu seperti itu , teman-temannya malah semakin merasa curiga ada sesuatu dengan Rindu. Ingin rasanya mereka mencari tahu, tapi bagaimana caranya. Sementara Rindu asik menyantap makanannya, menghiraukan teman-temannya yang sedari tadi menatap curiga kepadanya.
"Jes, lu ngerasa ada yang aneh nggak sih sama Rindu?" bisik Gina kepada Jessika.
"Iya Gin, tadi aja pas ketemu si Langit cuek aja Rindu, biasanya kan ngusilin" bisik Jessika.
"Nggak mungkin kan Rindu damai sama Langit , atau bener kali tuh berdua jadian" bisik Chintia.
"Nggak mungkin lah, pake pellet apa si Langit bisa ngerubah Rindu" Bisik Gina.
"Ya kali aja, di film-film aja kebanyakan gitu musuhan bla bla bla terus tau-tau jadian kan" bisik Chintia.
"Et dah nih anak, percaya gitu sama film-film" bisik Jessika.
Di tengah ketiga sahabat Rindu sedang saling berbisik satu sama lain, Rindu menyadari hal tersebut hingga akhirnya memotong percakapan tersebut. "Woi woi dari tadi asik banget lu pada bisik-bisik, ngomongin apa sih lu pada? Pasti ngomongin gue" curiga Rindu.
Menyadari Rindu curiga terhadap mereka bertiga, mereka pun berusaha meyakinkan Rindu bahwa ukan apa-apa yang mereka bicarakan, ya walaupun dengan sedikit rasa grogi dan kata-kata yang terbata-bata.
"Idih kepedean lu Rin, siapa juga yang ngomongin lu,gue lagi curhat soal cowok yang di Instagram itu, yang ngeDM DM gue" sanggah Gina dengan gugup.
"Alasan aja lu, gue tau paling ngomongin gue kan, ngaku aja kali" balas Rindu.
Gina mengeluarkan handphone miliknya dan menunjukkan DM di Instagram miliknya yang berasal dari seorang laki-laki yang mengajaknya berkenalan.
"Nih yang gue omongin Rin, ah kan lu jadi tau, gue kan males sebenernya kalo lu tau" ucap Gina.
"Ya elah Gin, cowok gitu aja masih mau lu ladenin, cowok omes itu sih, paling niat DM lu gara-gara postingan lu , lu kan kadang-kadang foto kayak cewek kurang bahan pake bajunya" ucap Rindu.
"Tuh kan gini nih malesnya kalo lu sampe tau" ucap Gina.
Rindu dan yang lainnya pun menertawakan ucapan Rindu kepada gina tersebut.
"Nggak apa-apa dah dari pada Rindu curiga ato ngomel-ngomel kalau tau dari tadi dia diomongin" ucap Gina dalam hatinya.
Chintia dan Jessika pun mensyukuri bahwa Gina bisa mengalihkan Rindu hingga tak beranggapan kembali dirinya sedang dibicarakan oleh mereka bertiga. Disaat mereka sedang menyantap makanan masing-masing, Langit melintas di depan meja mereka sambal membawa sepiring siomay dan segelas es the manis. Chintia, Jessika, dan Gina semakin curiga ketika melihat Rindu membalah senyuman Langit yang seolah menawarkan makanan yang dibawanya.
Dengan duduk di meja yang berberda, Langit dan Rindu menyantap makanannya masing-masing sambal sesekali sambal melihat dan memberikan senyuman hingga wajah konyol yang membuat mereka tertawa kecil satu sama lain. Bingung , kesal, semua bercampur aduk dalam pikiran Rindu cs. hingga akhirnya Gina bangun dari duduknya berpamitan untuk ke toilet, diikuti oleh Jessika.
Di dalam toilet sekolah Gina dan Jessika yang sebenarnya hanya berpura-pura ke toilet pun mulai merencanakan untuk mencari tahu ada apa antara Langit dan Rindu sebenarnya.
"Lu liat kan barusan, nhgak demen banget gue ngeliatnya, mana Rindu yang dulu, ya emang sih itu haknya Rindu , tapi sumpah nggak ikhlas aja gue kalau cowok kayak Langit bisa deket sama Rindu" ucap Gina.
"Sama gue juga, Langit kan deket tuh sama Allisya, mau poligami emang dia? Sok kecakepan banget dia, masih inget gue kata-kata dia yang bikin gue sakit hati, nggak bakal bisa gue maafin dia sampai kapan juga" balas Jessika.
"Iya Jes, semenjak balik dari Bandung si Rindu jadi gitu, apa di Bandung ada sesuatu yang nggak Rindu ceritain ke kita ya" ucap Gina.
"Ya udah kita tanyain aja ke anak kelas XI yang ikut ke Bandung juga" ajak Jessika.
"Setuju gue Jes sama lu" jawab Gina.
Di tengah-tengah mereka sedang berbincang-bincang, pintu kamar mandi terbuka , dan masuklah seorang siswi kelas XI. Gina tak menyianyiakan situasi tersebut, dia berinisiatif bertanya kepada siswa kelas XI tersebut yang kebetulan ikut ke Bandung.
"Permisi kak" ucap siswa kelas XI saat melintas depan Gina dan Jessika.
Siswa kelas XI tersebut masuk kedalam bilik toilet, selang beberapa menit , siswi tersebut pun keluar dari bilik toilet . Gina dan Jessika yang sedari tadi menunggu siswi tersebut akhirnya menanyakan hal yang menjadi tanda tanya tentang Rindu dan Langit.
"Eh de, lu pas ke Bandung kemarin itu ikut kan?" tanya Gina.
"Iya kak, aku ikut kan dari ekskul PMR, emang kenapa kak?" tanya kembali siswi kelas XI.
"Nggak kenapa-kenapa sih cuma mau nanya-nanya aja" ucap Jessika.
"Tanya apaan kak emangnya?" tanya Siswi kelas XI.
"Lu kenal Rindu sama Langit kan? Mereka kan iku ke Bandung juga, pas disana tuh mereka gimana sih? Berantem apa deket banget gitu?" Tanya Gina.
"Oh iya kak kenal kok, biasa aja sih kak nggak pernah berantem disana , ya deket gimana ya ,kayak orang pacaran biasa aja, mereka emang pacaran kan kak?" jawab Siswi kelas XI. Siswi tersebutpun meninggalkan kamar mandi.
"Tuh kan bener Gin, Rindu ternyata nggak bisa dipegang omongannya, katanya boro-boro bakalan suka, mau kenal aja ogah, tapi nyatanya kan" ucap Jessika.
"Udah jes mendingan sekarang-sekarang kita biarin aja dulu biarin mereka akrab disekolah ya seminggu 2 minggu maksimal sebulan lah, abis itu baru bikin rencana" ucap Gina.
Gina dan Jessika meninggalkan kamar mandi, mereka kembali berjalan ke kantin bergabung dengan Rindu dan Chintia kembali melanjutkan istirahat sekolahnya.
Hari demi hari kian berlalu, Rindu dan Langit makin terlihat dekat disekolah, dari mulai hanya sekedar berbalas senyum hingga tak malu lagi duduk bersama dikantin untuk beristirahat. Allisya terlihat senang melihat hari-hari Langit yang akur dan makin dekat dengan Rindu, karena memang itu niat Allisya dari awal yang sudah menganggap Langit kakaknya sendiri.
Semakin hari Langit makin dekat dengan Rindu, dan itu semakin membuat Rindu cs. merasa dibodohi dan dibohongi oleh Rindu. Tak ada lagi pertengkaran disekolah antara Langit dengan Rindu, beberapa hari juga terlihat Langit datang kesekolah bersama Rindu berboncengan sepeda motor.
Kedekatan tersebut semakin hari semakin membuat Gina , Jessika, dan Chintia merasa sakit oleh kepalsuan dari Rindu. Gina takut kalau Langit mendekati Rindu ada maksud tak baik, dia merasa kasian kepada Rindu jika kedekatannya dengan Langit hanya untuk mempermainkan perasaan Rindu saja. Mereka tidak rela jika sahabat mereka dimainkan hidup dan perasaannya.