Di dunia modern di mana kultivasi berjalan beriringan dengan teknologi, Chen Mo adalah siswa jenius dengan nilai teori sempurna yang bermimpi menjadi kultivator hebat.
Namun, kenyataan pahit menghantam di hari kelulusan saat Upacara Kebangkitan menunjukkan bahwa dia hanya memiliki Bakat Rank F—level terendah yang dicap sebagai "sampah".
Kekecewaannya bertambah ketika teman masa kecilnya, Su Mengqi, yang membangkitkan Bakat Rank S, langsung memutuskannya demi mengejar masa depan bersama para elit.
Meskipun diremehkan oleh semua orang dan masuk ke Akademi Naga Bintang yang bergengsi hanya karena jalur akademis, Chen Mo tidak putus asa, terutama setelah dia secara tak terduga membangkitkan "Sistem Check-in".
Melalui sistem ini, dia mendapatkan hadiah tak terbatas mulai dari pil langka, teknik kuno, hingga uang tunai hanya dengan melakukan check-in di berbagai lokasi akademi.
Diam-diam, di balik tembok akademi yang penuh cemoohan, Chen Mo mulai menumpuk kekuatan dan kekayaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
"Ya. Lakukan Check-in," ucap Chen Mo tanpa ragu.
Suara mekanis yang dingin itu kembali bergema di dalam kepalanya.
Ding!
[Check-in hari pertama berhasil.]
[Karena ini adalah check-in pertama Host, Host mendapatkan Hadiah Pemula Kritis.]
[Mendapatkan: Pil Pembersih Sumsum Tingkat Sempurna x1.]
[Mendapatkan: Poin Atribut Fisik x10.]
Sebuah botol giok kecil berukir naga tiba-tiba muncul dari udara kosong dan jatuh tepat di atas telapak tangan Chen Mo.
Chen Mo menatap botol giok itu dengan mata sedikit melebar.
"Pil Pembersih Sumsum? Dan tingkat sempurna?" gumamnya pelan.
Dia adalah juara satu ujian teori di sekolah, tentu saja dia tahu apa arti pil ini.
Pil Pembersih Sumsum adalah harta karun yang biasanya hanya bisa dibeli oleh keluarga konglomerat di pelelangan elit.
Fungsinya adalah untuk membuang kotoran dari dalam tubuh dan memperlebar saluran energi spiritual.
Apalagi ini adalah tingkat sempurna, barang yang bahkan tidak pernah terlihat di Kota Jinghai.
"Jika ini nyata, maka Rank F milikku hanyalah sebuah lelucon," batin Chen Mo dengan tenang.
Dia membuka tutup botol giok itu tanpa ragu sedikit pun.
Aroma herbal yang sangat harum dan menyegarkan langsung memenuhi seluruh ruangan kamarnya.
Hanya dengan mencium aromanya saja, Chen Mo merasa pikirannya menjadi sangat jernih.
Dia menuangkan sebuah pil bundar seukuran kelereng yang memancarkan cahaya keemasan redup ke telapak tangannya.
Glek.
Tanpa berpikir panjang, Chen Mo langsung menelan pil tersebut.
Satu detik pertama, tidak ada yang terjadi.
Namun pada detik berikutnya, suhu tubuhnya melonjak drastis seolah-olah dia baru saja dilempar ke dalam kawah gunung berapi.
Syuuut!
Arus energi yang sangat panas meledak dari perutnya dan menyebar dengan ganas ke seluruh pembuluh darahnya.
Chen Mo menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga berdarah untuk menahan teriakannya.
Dia tidak ingin membangunkan kedua orang tuanya yang sedang tidur di kamar sebelah.
Rasa sakitnya luar biasa, seakan-akan tulang-tulangnya sedang dihancurkan dan disusun kembali satu per satu.
Keringat hitam berbau busuk mulai keluar dari pori-pori kulitnya.
Itu adalah racun dan kotoran yang mengendap di dalam tubuhnya selama belasan tahun.
Proses penyiksaan itu berlangsung selama hampir dua jam sebelum akhirnya energi panas itu perlahan mereda.
Bruk.
Chen Mo jatuh terlentang di atas kasurnya dengan napas terengah-engah.
Tubuhnya dipenuhi lapisan kotoran hitam yang lengket, bau busuknya sangat menyengat hidung.
Namun anehnya, dia belum pernah merasa seringan dan sekuat ini seumur hidupnya.
"Sistem, buka panel statusku," ucap Chen Mo di dalam hati.
Layar biru transparan kembali muncul di hadapannya.
[Status Host]
Nama: Chen Mo
Kekuatan Fisik: 25 (Rata-rata manusia dewasa adalah 10)
Kelincahan: 24
Kekuatan Spiritual: 15
Bakat Tersembunyi: Tubuh Emas Tanpa Noda (Tahap Awal)
Chen Mo menatap panel itu dengan senyum tipis yang memuaskan.
Kekuatan fisiknya telah melonjak lebih dari dua kali lipat dalam satu malam berkat sistem ini.
Bahkan dia sekarang memiliki bakat tersembunyi yang terdengar sangat luar biasa.
"Ternyata begini rasanya menjadi karakter utama," gumam Chen Mo pelan.
Dia bangkit dari kasur dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Air dingin yang mengguyur tubuhnya terasa sangat menyegarkan.
Saat dia melihat ke cermin, Chen Mo sedikit terkejut dengan pantulan dirinya sendiri.
Otot-otot tubuhnya kini terbentuk dengan sangat proporsional dan padat.
Kulitnya yang tadinya sedikit pucat kini terlihat sehat dan bersinar, matanya juga tampak lebih tajam dari biasanya.
Dia mengepalkan tangannya dan bisa mendengar suara retakan kecil dari tulang-tulangnya yang dipenuhi tenaga.
Keesokan paginya, suasana di meja makan terasa sedikit canggung.
Ibu Chen Mo menyajikan sarapan dengan senyum yang dipaksakan.
"Mo-er, makanlah yang banyak. Hari ini kau harus mengurus dokumen pendaftaran ke Akademi Naga Bintang, kan?" tanya ibunya lembut.
"Iya, Ibu. Hari ini hanya penyerahan formulir terakhir," jawab Chen Mo sambil melahap buburnya dengan santai.
Ayahnya yang sedang membaca koran pagi melirik ke arahnya.
"Jika ada yang mengolok-olokmu di sekolah, abaikan saja mereka."
"Kau masuk akademi dengan nilai jerih payahmu sendiri, bukan karena belas kasihan siapa pun," ucap ayahnya dengan nada tegas.
"Tenang saja, Ayah. Aku tahu apa yang harus kulakukan," Chen Mo tersenyum menenangkan.
Selesai sarapan, Chen Mo berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki seperti biasa.
Udara pagi terasa lebih segar, dan pendengarannya kini jauh lebih tajam.
Dia bahkan bisa mendengar kepakan sayap burung dari jarak puluhan meter di atas pohon.
Sesampainya di gerbang SMA Pertama Kota Jinghai, suasana langsung berubah drastis.
Tatapan mata dari para siswa yang melewatinya penuh dengan cemoohan dan ejekan yang tidak ditutupi.
"Eh, lihat. Itu si jenius Rank F kita."
"Muka tembok sekali dia masih berani datang ke sekolah."
"Kalau aku jadi dia, aku pasti sudah mengurung diri di kamar sambil menangis meratapi nasib."
Bisik-bisik itu terdengar sangat jelas di telinga Chen Mo, namun dia sama sekali tidak peduli.
Dia berjalan menyusuri koridor dengan langkah teratur menuju ruang tata usaha.
Namun, langkahnya terhenti saat sebuah kaki tiba-tiba dijulurkan ke tengah lorong untuk menjegalnya.
Chen Mo berhenti tepat satu inci sebelum kakinya menyandung kaki tersebut.
Dia menoleh perlahan dan melihat Lin Feng berdiri menyandar di loker dengan senyum arogan.
Di sebelah Lin Feng, berdiri Su Mengqi yang hanya menatap Chen Mo dengan ekspresi rumit.
"Ups, maaf. Kakiku terlalu panjang, aku tidak melihat ada lalat lewat di bawah sana," ucap Lin Feng memancing tawa dari kroni-kroninya.
Su Mengqi menghela napas pelan.
"Chen Mo, jangan buat masalah. Cukup jalan memutar saja," ucap gadis itu dengan nada memerintah yang dingin.
Chen Mo menatap Su Mengqi sejenak, lalu beralih menatap Lin Feng.
"Tarik kakimu," ucap Chen Mo datar.
Lin Feng tertawa keras dengan nada meremehkan.
"Oh? Berani juga kau sekarang? Bagaimana kalau aku tidak mau?"
Lin Feng sengaja melepaskan sedikit tekanan energi spiritual dari tubuhnya.
Sebagai seseorang yang membangkitkan bakat Rank A, tekanannya cukup untuk membuat orang biasa kesulitan bernapas.
Namun, Chen Mo bahkan tidak berkedip.
Tekanan energi Lin Feng terasa seperti hembusan angin sepoi-sepoi bagi tubuhnya yang telah dibersihkan oleh pil tingkat sempurna.
"Kubilang, tarik kakimu," ulang Chen Mo, kali ini nadanya terdengar sedikit lebih mengancam.
Lin Feng merasa terhina karena tekanannya tidak berdampak sama sekali pada siswa sampah di depannya.
Pemuda arogan itu mendengus marah dan mencoba mendorong dada Chen Mo dengan tangannya yang dilapisi energi spiritual.
"Jangan sombong kau, sampah!" teriak Lin Feng.
Wuuussh!
Tangan Lin Feng melesat dengan cepat ke arah dada Chen Mo.
Bagi murid lain, gerakan itu terlalu cepat untuk dilihat oleh mata telanjang.
Namun di mata Chen Mo, gerakan Lin Feng terlihat lambat seperti adegan gerak lambat di film aksi murahan.
Plaak!
Sebuah suara tamparan keras bergema di sepanjang koridor sekolah.
Bukan menampar pipi, tapi Chen Mo dengan santai menepis pergelangan tangan Lin Feng dengan punggung tangannya sendiri.
Tepisan itu terlihat sangat biasa, tapi tenaga fisiknya yang telah mencapai angka 25 langsung bekerja.
Krak!
"Arghhh!"
Lin Feng menjerit kesakitan sambil memegangi pergelangan tangannya yang kini terkilir dengan sudut yang tidak wajar.
Tubuhnya terhuyung mundur hingga menabrak deretan loker besi di belakangnya.
Brak!
Koridor itu seketika menjadi hening dan sunyi senyap.
Semua orang melebarkan mata mereka, menatap kejadian itu seolah-olah mereka baru saja melihat hantu di siang bolong.
Lin Feng, murid jenius Rank A, baru saja ditepis hingga tangannya terkilir oleh seorang siswa Rank F?
"Tuan Muda Lin!" teriak kroni-kroninya panik sambil bergegas menolong.
Su Mengqi menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya menatap Chen Mo dengan penuh ketidakpercayaan.
"C-Chen Mo, apa yang baru saja kau lakukan?!" seru Su Mengqi dengan suara bergetar.
Chen Mo hanya merapikan lengan seragamnya yang sama sekali tidak kusut.
"Dia mencoba menyerangku, aku hanya menepisnya. Sesederhana itu," jawab Chen Mo datar tanpa rasa bersalah.
Dia melangkah maju mendekati Lin Feng yang masih meringis kesakitan di lantai.
Chen Mo membungkukkan badannya sedikit, menatap tepat ke mata Lin Feng yang kini dipenuhi rasa kaget dan takut.
"Ini area sekolah, Lin Feng. Gunakan otakmu sedikit sebelum bertindak seperti preman," bisik Chen Mo dengan nada dingin.
Tanpa menunggu balasan apa pun, Chen Mo kembali berdiri tegak.
Dia berjalan melewati Su Mengqi dan Lin Feng begitu saja, melanjutkan langkahnya menuju ruang tata usaha.
Langkah kakinya bergema pelan di koridor yang masih diselimuti keheningan panjang.
Di belakangnya, Su Mengqi menatap punggung pemuda itu dengan perasaan gundah yang sangat aneh.
"Apakah dia benar-benar Chen Mo yang kukenal?" batin Su Mengqi kebingungan.
Sementara itu, Chen Mo terus berjalan menyusuri sekolah sambil menatap layar biru yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
[Anda telah memasuki area Ruang Tata Usaha yang berdekatan dengan Brankas Sekolah.]
[Mendeteksi lokasi check-in khusus.]
[Apakah Anda ingin melakukan Check-in di lokasi ini?]
Chen Mo tersenyum tipis, matanya memancarkan ketertarikan.
"Tentu saja. Lakukan check-in," ucapnya dalam hati.