NovelToon NovelToon
Angsa Cantikku

Angsa Cantikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Myz Pena

​"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
​Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"

​Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.

​Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.

Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...

siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 : KAMU MENYELAMATKAN KU

Di tengah keramaian acara di depan tangga utama, Angga terpaksa berpisah sejenak dari Lulu. Mahendra memanggilnya ke area foyer untuk diperkenalkan kepada beberapa relasi bisnis penting keluarga. Dengan berat hati, Angga melangkah pergi, meninggalkan Lulu yang duduk sendirian di sofa area keluarga.

​Fokus Lulu seketika terpecah sepenuhnya pada obrolan di telepon. Ia berdiri dari sofa, melangkah pelan mendekati area koridor tengah yang agak sepi untuk memperjelas suara si kurir.

​Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di balik pilar lantai dua, Riko mengawasinya bagai elang yang melihat mangsa.

​Melihat Angga yang sibuk tertahan bersama ayahnya dan Lulu yang sedang lengah memegang ponsel, Riko menyunggingkan senyum kemenangan. Ia memberi isyarat mata yang dingin kepada seorang pelayan muda di sudut pantry.

​Pelayan itu mengangguk paham. Dengan nampan berisi gelas-gelas kristal penuh cairan jus buah berwarna gelap dan anggur pekat, sang pelayan mulai melangkah. Ia berjalan sangat natural di atas lantai marmer, berpura-pura hendak melintas menuju meja tamu.

​Lulu masih menempelkan ponsel di telinganya, tubuhnya membelakangi jalur melintas pelayan.

Namun belum sempat Lulu berjalan meninggalkan kerumunan, bayangan tubuh seseorang mendadak menutupi pendar chandelier di atas kepalanya.

​"Sret!"

​Pelayan itu berpura-pura menyangkutkan ujung sepatunya pada pinggiran karpet tebal. Tubuhnya meliuk kaku, dan dalam hitungan detik

​"PRANG!"

​Nampan itu miring tajam. Cairan pekat berwarna gelap berserta pecahan gelas meluncur deras dari udara, tumpah ruah menghantam bagian depan gaun cantik yang dikenakan Lulu!

​Ponsel di tangan Lulu hampir terlepas. Bau manis anggur dan pekatnya cairan dingin seketika meresap menembus kain gaunnya, meninggalkan noda besar yang sangat mencolok di bawah pendar lampu pesta.

"Ya Tuhan, gaunku" lirih Luluh menahan tangis dengan apa yang barusan di alaminya

Darah di tubuh Lulu seolah berhenti mengalir seketika. Dingin dan basahnya cairan pekat itu meresap cepat menembus serat kain gaunnya, meninggalkan noda gelap yang mencolok tepat di bagian dada dan perutnya. Bau manis anggur yang menyengat langsung merebak di udara. Di atas lantai marmer yang mengilap, pecahan gelas kristal berantakan bersama tumpahan minuman.

​"M-maaf, Mbak! Saya benar-benar tidak sengaja! Karpetnya tadi..." Ucap pelayan itu membungkuk berkali-kali dengan wajah pucat yang dipaksakan.

​Namun, Lulu bahkan tidak sanggup mendengar suara pelayan itu. Suara dengung hebat memenuhi telinganya. Tatapan kaget dari beberapa tamu yang berdiri di sekitar koridor mulai menghantamnya bagai ribuan jarum. Rasa malu yang membakar menjalar dari leher hingga puncak kepalanya, membuat napasnya tersedak di tenggorokan. Ini seperti terulang kembali momen yang sama namun di tempat yang berbeda.

​"Aku harus ke toilet... aku harus sembunyi sekarang juga! " batin Lulu menjerit panik. Tangannya yang gemetar refleks menutupi noda besar di gaunnya, berniat mencuci kain itu sebelum nodanya membekas permanen.

​Namun, tepat di saat langkahnya hendak terayun panik mencari toilet, suara dari ponsel di genggamannya memecah keheningan.

​"Halo? Nona Lulu? Nona masih di sana? Saya sudah di depan pagar, tapi satpamnya menanyakan konfirmasi bu..." ​Lulu terpaku di tempat dan tubuhnya kaku membeku.

​Dilema hebat menghantam pikirannya tanpa ampun. Di satu sisi, ia sangat ingin berlari ke toilet, mengunci diri, dan membersihkan gumpalan basah di bajunya agar tidak menjadi tontonan keluarga Angga yang mewah ini. Namun di sisi lain, kurir bunga di luar sana menunggunya—membawa paket atas namanya yang tak bisa masuk tanpa konfirmasinya.

​Jika ia keluar menghampiri kurir dengan gaun bernoda pekat seperti ini, ia akan dipandang aneh oleh para penjaga gerbang dan orang luar. Tapi jika ia membiarkan kurir itu menunggu terlalu lama, situasi di depan pagar bisa memicu kegaduhan baru yang menarik perhatian Mahendra atau Riko.

​"P- pak... sebentar ya, saya..." suara Lulu terdengar sangat kecil, gemetar dan hampir menangis.

​Dengan jemari yang dingin dan mata yang mulai berkaca-kaca menahan malu, Lulu berdiri gamang di tengah koridor rumah besar itu terjepit di antara rasa ingin menghilang ke dalam toilet dan kewajiban untuk menyelesaikan urusan kurir di luar.

​Sejak awal melangkah masuk ke rumah mewah ini, Lulu sudah merasa amat kerdil. Ia sudah berusaha setengah mati untuk sembunyi di sudut remang agar tidak mencolok. Namun, noda gelap yang kini membentang lebar di bagian depan gaunnya seolah menjadi lampu sorot tajam yang memaksa semua pasang mata menatapnya. Gaun mewahnya yang baru diberikan oleh atasannya itu kini basah kuyup dan ternoda tampak begitu kontras, memalukan dan mengerikan di tengah kemewahan lantai marmer dan pendar chandelier.

​Bau manis anggur yang menyengat di dadanya seketika memicu kilas balik yang menyakitkan.

​Déjà vu itu menghantam batinnya tanpa ampun. Dua tahun lalu dalam sebuah acara perayaan di kantor, ia pernah berdiri dalam posisi yang sama persis. Baju basah, noda memalukan dan tatapan merendahkan dari orang-orang di sekitarnya yang menjadikannya bahan lelucon. Sensasi ketakutan dan rasa Insecure yang sama kini memutar kembali kaset kotor masa lalu itu, membuat sekujur tubuh Lulu meremang dan jantungnya berdegup liar karena panik.

​"Nona Lulu? Halo? Pak Satpamnya minta konfirmasi Ibu sekarang..." suara kurir dari gagang telepon di telinganya terdengar makin mendesak.

​Lulu hanya bisa berdiri mematung di tengah koridor, meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata yang siap tumpah.

​Dengan pakaian biasa yang kini rusak parah, ia berada di titik paling rapuh. terlalu malu untuk melangkah keluar menghadapi penjaga gerbang dan kurir dengan penampilan seperti ini, tetapi juga terlalu takut untuk tetap berdiri di sana menjadi tontonan keluarga besar Angga.

Saat udara di sekeliling Lulu terasa makin menipis dan air mata kepanikan hampir menetes di pipinya, sebuah bayangan tinggi mendadak memotong lampu sorot tajam yang menghakimi dirinya.

​Sebelum Lulu sempat mencerna apa yang terjadi, sebuah jas formal bernuansa gelap yang masih hangat melayang dan mendarat sempurna di atas bahunya, Jas milik Angga.

​Aroma woody khas pria itu langsung membungkus tubuh Lulu, seketika menyamarkan bau anggur yang menyengat dan menutup rapat noda memalukan di bagian depan gaun sederhananya. Dalam satu gerakan cepat namun terukur, Angga berdiri tepat di hadapan Lulu dan menjadikan tubuh tegapnya sebagai benteng kokoh yang memutus total pandangan tajam para tamu, Riko, maupun pelayan yang panik.

​"Pakai ini," suara berat Angga terdengar begitu dekat, rendah, dan bergetar oleh emosi tertahan.

​Dua tangan Angga yang berurat merapikan kerah jasnya di leher Lulu, menarik kedua sisinya agar tertutup rapat. Untuk beberapa detik yang terasa berjalan lambat, pandangan mereka bertemu. Di balik ketegangan dan kemarahan Angga pada situasi ini, Lulu melihat kilatan rasa bersalah dan kelembutan yang sangat dalam di mata pria itu.

​"Kamu tidak apa-apa?" bisik Angga, mengabaikan kasak-kusuk para tamu di sekitar mereka. Lulu hanya bisa mengangguk kaku, jemarinya yang dingin refleks meremas kain jas hangat Angga yang kebesaran di tubuhnya. Ponsel di tangannya masih memancarkan suara kurir yang samar, namun kehadiran Angga membuat gema déjà vu traumatik lima tahun lalu perlahan memudar dari kepalanya.

​Tanpa membuang waktu, Angga mengambil alih ponsel dari genggaman jemari Lulu yang gemetar.

​"Halo? Saya Angga," ucap Angga tegas ke gagang telepon, suaranya tenang namun penuh otoritas.

"Tolong izinkan kurir bunga itu masuk ke area depan pintu utama. Saya yang bertanggung jawab."

​Angga mematikan sambungan telepon, lalu mengembalikan pandangannya pada Lulu. Tanpa memedulikan tatapan Riko dari balik pilar atau bisikan orang-orang, Angga memegang lembut lengan Lulu, membimbing wanita itu melangkah.

​"Ayo," bisik Angga posesif namun lembut, menyelaraskan langkah kakinya yang lebar dengan langkah ragu Lulu.

"Kita ambil bunganya bersama, setelah itu aku antar kamu ke toilet pribadi di lantai atas. Tidak akan ada yang bisa mengganggumu lagi di sini."

Dari balik pilar berukir di lantai atas, Riko berdiri dengan postur santai, meski gelas di dalam jarinya diremas cukup erat hingga nyaris retak. Melihat Angga yang bergerak cepat memakaikan jasnya dan merengkuh Lulu dari kekacauan, rencana liciknya memang gagal total. Namun, alih-alih meledakkan amarah atau mengumpat kasar, sudut bibir Riko justru terangkat membentuk sebuah senyum tipis yang penuh teka-teki.

​Matanya menyipit, mengamati betapa protektifnya sang saudara tiri terhadap wanita biasa itu.

​"Menarik..." gumam Riko sangat pelan, suaranya nyaris tenggelam di antara denting musik pesta.

​Bukannya kesal hingga merusak suasana hatinya, Riko justru merasa tergelitik. Kegagalan kecil ini sama sekali tidak membuatnya ciut. sebaliknya, ini memberinya sebuah informasi berharga. Riko kini tahu persis di mana titik lemah Angga. Anggota keluarga yang selalu kaku dan dingin itu ternyata punya satu hal yang bisa diguncang dengan mudah.

Meski napasnya menyiratkan sisa-sisa kejengkelan karena rencananya dipatahkan dalam hitungan detik, senyum di wajah Riko tidak kunjung luntur. Ia meneguk sisa minumannya dengan anggun, lalu melambaikan sebelah tangan kecilnya pada pelayan yang tadi ketakutan seolah mengisyaratkan bahwa tidak ada masalah besar yang terjadi.

​Bagi Riko, permainan baru saja dimulai. Dan senyum di bibirnya adalah janji bahwa ia tidak akan membiarkan Angga menikmati kemenangan kecil itu terlalu lama.

​Sementara Ami, yang tadinya sedang tertawa riang sambil memegang piring kue ulang tahunnya, mendadak menghentikan tawa. Mata bulat gadis 12 tahun itu membelalak kaget saat melihat keributan di koridor dekat sofa. Begitu menyadari bahwa wanita yang bajunya ternoda cairan gelap itu adalah Kak Lulu, orang yang baru saja mengobrol hangat dengannya. Ami refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan.

​"Oh my God, Kak Lulu!" jerit Ami pelan, nada suaranya dipenuhi rasa cemas dan kasihan.

​Di sampingnya, Bu Marni yang sejak awal memantau acara dari dekat tangga, seketika menghentikan langkahnya. Wajah anggun sang ibu berubah cemas. Sebagai tuan rumah yang hangat, naluri keibuannya langsung bergejolak melihat seorang tamu undangan, apalagi itu adalah teman dekat putranya yang mengalami kejadian sesulit dan memalukan itu di rumah mereka sendiri.

​Bu Marni baru saja hendak melangkah cepat untuk menolong, namun langkahnya terhenti sejenak. Matanya menangkap sosok Angga yang sudah lebih dulu bergerak bagai kilat memakaikan jas mewahnya ke bahu Lulu, memotong pandangan orang-orang, dan mengambil alih situasi dengan begitu tenang dan sigap.

​Senyum tipis yang sarat makna terukir samar di bibir Bu Marni. Ada rasa lega sekaligus takjub melihat bagaimana putra sulungnya itu begitu protektif menjaga harga diri Lulu.

​"Ami, bisakah kamu tolong ambilkan tisu basah dan minta pelayan siapkan handuk bersih di toilet lantai atas?" bisik Bu Marni lembut namun cekatan pada putri bungsunya.

​"Siap, Ma! Aku juga mau antar Kak Lulu ke lantai atas!" jawab Ami cepat tanpa ragu. Kepolosan dan kepedulian Ami yang jujur membuat suasana tegang itu perlahan mencair. Tanpa memedulikan gaun ulang tahunnya yang mekar, Ami langsung berlari kecil menuju pantry, siap menjadi 'penyelamat' kecil bagi Kak Lulu yang sangat disukainya.

Di luar rumah, Angga menerima buket mawar merah yang sangat besar dan segar itu dari tangan sang kurir. Kelopak-kelopak mawar merah merona yang merekah indah memancarkan wangi yang begitu harum di udara malam persis seperti yang ia pesan khusus di toko bunga tersebut.

Angga tersenyum tipis, ia tahu betul dari seluruh hal di dunia ini, adik kecilnya yang berusia 12 tahun itu paling menyukai bunga mawar.

Dengan kedua tangan kekarnya memeluk buket mawar raksasa yang cantik itu, Angga melangkah kembali masuk ke dalam rumah. Ia berdiri menanti di dekat tangga utama, menatap ke arah lantai atas dengan senyum hangat yang jarang sekali terpancar di wajah tegasnya.

Sementara itu, di lantai atas, suasana kamar Ami yang bernuansa pastel terasa sangat aman dan hangat bagi Lulu. Rasa malu yang tadi membakar perlahan meluruh berkat keramahan Bu Marni dan kehebohan kecil Ami.

​"Nah, coba yang ini, Sayang," ujar Bu Marni lembut sambil menyerahkan sebuah gaun anggun berwarna dusty rose dengan potongan simpel namun sangat elegan.

"Ini gaun koleksi Mama yang baru dibeli minggu lalu. Belum pernah dipakai sama sekali. Mama rasa ukurannya pas untuk tubuhmu yang langsing."

​Lulu sempat menolak dengan halus karena merasa tidak enak hati, tetapi Ami langsung memegang tangannya.

"Go ahead and use it, Nanti kita kembaran warna bajunya! Kan Kak Lulu tamu spesialku malam ini," bujuk Ami dengan mata bulatnya yang mengatup penuh harap.

​Lulu tak kuasa menolak kebaikan mereka. Saat ia keluar dari kamar mandi setelah berganti pakaian, Bu Marni dan Ami kompak menahan napas sejenak sebelum tersenyum lebar. Gaun itu jatuh dengan sangat sempurna di tubuh Lulu. Warnanya yang lembut membuat kulit halus Lulu tampak makin bersinar di bawah pendar lampu kamar, memancarkan keanggunan alami yang selama ini tersembunyi di balik pakaian sederhananya.

"See, I told you! You look so pretty!" seru Ami gembira sambil menepuk tangannya.

​Bu Marni merapikan sedikit bagian bahu gaun tersebut dengan tatapan seorang ibu yang penuh kasih.

"Kamu cantik sekali, Lulu. Jangan merasa canggung lagi, ya? Pesta di bawah masih menunggu perayaan untukmu juga."

​Air mata haru hampir menetes di sudut mata Lulu. Rasa terasing dan trauma memalukan 2 tahun lalu seketika sirna, tergantikan oleh rasa hangat yang meresap jauh ke dalam dadanya.

1
Filan
indah udah ngaku aja daripada semua jadi korban
Filan
pembunuhan ini. kirain perkaosan...
Myz Pena: Bukan 😭🙏🙏
total 1 replies
ali
Pak Angga bukan tuh yang nyamperin?
MayAyunda
bagus
Cimol krispy
vibesnya mengerikan sekali. jadi apakah pria itu adalah tokoh utama atau justru sang villaines?
Myz Pena: ini rahasia ... baca selanjtnya yuuk biar nggak penasaran🤭
total 1 replies
-Thiea-
kenapa wanita itu bisa sampai dibunuh? Apa yang menjadi dasar dari tindakannya itu kira-kira?"
ginevra
astaga!!! tokoh utamanya meninggal dari episode pertama.
Myz Pena: penasaran kan.. ?? 🤭
total 1 replies
ginevra
ada apa ini? awal udah disuguhi adegan bekap membekap.
sinnox
Hayoloh lulu🫢
Myz Pena: Lulu OTW kerja keras 💪
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Lulu 💪✍️
Wawan
Waow /Toasted/
Myz Pena: ini karya pertama ku,, mohon selalu dukungannya ya... dan mari kita saling mendukung 🥹❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
ciber ara
makin suka sama ceritanya
semangat thor
Myz Pena: mohon dukungannya ya,, jalan ceritanya akan tetap mendebarkan hanya saya menyesuaikan bab2 sebelumnya karena terlalu panjang..terimah kasih sudah memberi banyk dukungan 🥹❤️❤️
total 2 replies
Anisa Nur Afifah
haii kak mampir lagi nih aku, semangat yaa . jngan lup mampir lagi di novelku🥰
Myz Pena: siap 🤩🤩
total 2 replies
Myz Pena
terimah kasih 😍❤️❤️❤️
Anisa Nur Afifah
seruu banget kaa, aku balik lagiii nih🥰
ciber ara
lnjut💪
Myz Pena: siap, updatenya setiap hari ya.. 😍
total 1 replies
Nisaicha
wah menarik kak ada visualnya juga 😍
jadi penasaran nih lanjut baca..
Myz Pena: di tunggu ya... updatenya tiap hari 😍
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakkk
Myz Pena: terimah,, kasih ❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!