Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 — ADRIAN MEMPERTANYAKAN MIRA
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu menembus kosen jendela batu di koridor barat Menara Arsip. Udara di lorong tua itu terasa dingin dan berbau kertas lapuk, terpisah dari riuk pikuk kehidupan utama istana.
Mira berjalan cepat menyusuri koridor tersebut sembari membawa sebundel kain linen bersih dan keranjang ramuan herbal untuk kebutuhan Paviliun Barat. Langkah kakinya teratur, walau matanya yang cermat terus mengamati sekeliling—sebuah kebiasaan baru yang muncul sejak teror surat misteri dua hari lalu.
Namun, saat ia sampai di belokan lorong dekat perpustakaan tua, dua prajurit pengawal pribadi berseragam perak mendadak melangkah keluar dari balik pilar batu, menghalangi jalurnya.
"Nona Mira Lorien?" tanya salah satu pengawal dengan suara datar.
Mira menegang kaku, menghentikan langkahnya. "Ya... saya. Ada apa, Tuan-tuan?"
"Putra Mahkota meminta kehadiran Anda di ruang kerja pribadi Beliau. Segera."
Jantung Mira melompat ke tenggorokan. Rasa cemas yang mendalam membakar dadanya. Ia tahu betul apa arti panggilan ini. Adrian tidak sedang memanggil pelayan biasa—pria itu sedang memanggil orang yang paling mengetahui rahasia Alena selama tujuh tahun terakhir.
"Saya harus mengantarkan kain ini ke Paviliun Barat dulu—"
"Tugas itu bisa diserahkan pada pelayan lain, Nona," sela pengawal kedua kaku. "Mari ikut kami."
Tidak ada ruang untuk bernegosiasi. Mira mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menyerahkan keranjangnya pada pelayan lain yang melintas dengan tangan gemetar, lalu mengekor di antara dua pengawal tersebut menuju kediaman Putra Mahkota.
Pintu kayu ek tebal ruang kerja Pangeran Adrian ditutup dengan dentuman kencang yang bergema di dalam ruangan.
Di balik meja kayu ek raksasa yang tertimbun berkas dan peta perbatasan, Pangeran Adrian berdiri. Pria itu tidak mengenakan zirahnya, hanya kemeja katun hitam berlengan panjang yang digulung hingga siku. Wajahnya yang tampan tampak kusam, namun mata abu-abu pekatnya memancarkan aura ketegasan yang sangat mengintimidasi.
Gareth berdiri kaku di sudut ruangan di dekat pintu, bertindak sebagai saksi yang membisu.
Mira berdiri di tengah ruangan, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jemari tangannya meremas erat lipatan apron putihnya.
"Duduklah, Nona Lorien," kata Adrian, suaranya tenang namun memiliki gema otoritas yang tak dapat dibantah.
"Saya lebih memilih berdiri, Yang Mulia Pangeran," sahut Mira, berusaha sekuat tenaga menjaga suaranya agar tidak bergetar.
Adrian menatap Mira cukup lama. Pria itu melangkah mengelilingi meja kerjanya, berhenti hanya beberapa langkah dari hadapan Mira.
"Kau adalah sahabat terbaik Alena," Adrian memulai, suaranya melunak sedikit. "Kau adalah satu-satunya orang yang mendampinginya sejak ia melarikan diri dari istana ini tujuh tahun lalu. Kau membantunya menyewa rumah di Bellmare, kau berada di sisinya saat ia melahirkan Elian, dan kau membantunya membesarkan anak itu."
Setiap kata yang diucapkan Adrian terasa seperti dentupan drum perang bagi Mira. Pria ini telah mengumpulkan semua detail kehidupan mereka di Bellmare dengan sangat teliti.
"Saya hanya melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang sahabat, Yang Mulia," sahut Mira kaku, tetap menatap lantai batu.
"Dan sebagai seorang sahabat yang setia," lanjut Adrian, langkahnya makin mendekati Mira, "apakah kau tidak merasa kasihan padanya?"
Mira mendongak refleks, matanya membelalak kaget menatap Pangeran Aveloria itu. "Apa maksud Anda, Yang Mulia?"
"Tujuh tahun," bisik Adrian, suaranya kini dipenuhi oleh luka dan kekecewaan yang teramat sangat. "Selama tujuh tahun Alena hidup dalam kemiskinan di desa terpencil. Dia menenun kain hingga larut malam, menjual obat herbal hanya untuk membeli beras, dan menanggung penderitaan membesarkan seorang anak sendirian tanpa perlindungan."
Adrian menundukkan wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Mira.
"Apakah kau pikir aku percaya pada surat kejam yang ditinggalkannya tujuh tahun lalu? Apakah kau pikir aku percaya bahwa Alena pergi karena ia berpaling pada pria lain?"
Mira mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengatupkan bibirnya. Jangan katakan apa-apa, Mira. Ingat janji pada Alena, batinnya berteriak histeris.
"Aku sudah melihat Elian, Mira," tegas Adrian, suaranya menajam oleh intensitas emosi yang meluap. "Aku melihat matanya. Aku melihat darahku mengalir di dalam tubuh anak itu! Tidak ada pedagang anonim di Bellmare. Anak itu adalah putraku!"
Pernyataan terbuka dari bibir sang Putra Mahkota membuat napas Mira tercekat seketika. Meskipun ia sudah tahu Adrian menyadarinya, mendengar pengakuan langsung itu dalam ruangan yang sunyi ini membuat seluruh persendiannya gemetar.
"Jika Anda sudah tahu..." suara Mira akhirnya keluar, parau dan bergetar, "lalu mengapa Anda terus menekan Alena? Mengapa Anda tidak membiarkan kami hidup tenang seperti dulu?!"
"Karena aku ingin tahu alasannya!" bentak Adrian pelan, kemarahan dan frustrasi yang dipendamnya selama bertahun-tahun pecah seketika. "Aku ingin tahu mengapa wanita yang kuajak berjanji di Taman Mawar mendadak melarikan diri dalam keadaan hamil! Aku ingin tahu siapa yang membuatnya begitu ketakutan hingga ia rela menghancurkan hatiku dan menyembunyikan anakku!"
Adrian maju satu langkah lebar, memangkas jarak di antara mereka hingga aura kepemimpinannya menekan seluruh ruangan.
"Katakan padaku, Mira," desak Adrian, suaranya merendah menjadi bisikan rahasia yang teramat berbahaya. "Apakah Alena pergi secara sukarela... atau karena seseorang di istana ini mengancam akan membunuhnya dan bayinya jika ia tidak pergi?"
Pertanyaan itu menghantam Mira seperti pukulan fisik di dadanya.
Mata Mira membelalak lebar. Perubahan ekpresi di wajah wanita itu—dari ketakutan menjadi keterkejutan yang murni dan kepanikan liar—tidak terlepas dari pengamatan tajam mata abu-abu milik Adrian.
Mira membeku. Bibirnya terbuka sedikit, namun tidak ada kata yang sanggup diucapkannya. Bayangan ancaman Penasihat Rowan tujuh tahun lalu, dan bayangan surat teror misterius yang baru saja mereka terima dua hari lalu, berputar liar di kepalanya.
Kebisuan Mira, serta kilatan kepanikan murni yang terpancar di matanya, adalah jawaban yang paling nyata bagi seorang taktik seperti Adrian.
Adrian mundur satu langkah perlahan. Wajah kaku dan dinginnya mendadak pucat, matanya memancarkan kesadaran yang teramat menyakitkan sekaligus mengerikan.
Dugaannya selama ini seratus persen benar.
Alena tidak pernah mengkhianatinya. Alena tidak pernah berniat meninggalkannya. Wanita muda berumur tujuh belas tahun itu melarikan diri dalam ketakutan yang luar biasa karena ada kekuatan jahat di dalam istana ini yang mengancam nyawa buah hati mereka.
"Dia... dia diancam..." bisik Adrian pada keheningan ruangan. Suaranya pecah, dipenuhi oleh kepedihan dan penyesalan yang membakar jiwanya dari dalam.
"Yang Mulia, tolong..." goda Mira, air mata akhirnya meluncur bebas melintasi pipinya. Ia jatuh berlutut di atas lantai batu, menatap Adrian dengan wajah memohon. "Jangan tanyakan hal ini lagi pada Alena! Jika Anda memaksanya... jika Anda membongkar rahasia ini sekarang... orang-orang yang mengancamnya dulu akan bertindak lagi! Elian berada dalam bahaya besar di istana ini!"
Adrian menatap wanita yang sedang berlutut di hadapannya. Kemarahan pada masa lalu yang sempat melingkupi dadanya mendadak sirna sepenuhnya, digantikan oleh ikrar dingin dari seorang calon raja yang siap membakar dunia demi melindungi keluarganya.
Adrian melangkah mendekati Mira, mengulurkan tangannya dan membantu wanita itu berdiri.
"Berdirilah, Mira," kata Adrian, suaranya kini teramat tenang—sebuah ketenangan mematikan dari seorang serigala yang telah menemukan jejak buruannya. "Terima kasih karena telah menjadi sahabat yang setia untuk Alena dan menjaga anakku selama tujuh tahun ini."
Mira mengusap air matanya dengan apron, menatap Adrian dengan bingung. "Anda... Anda tidak akan memaksa Alena mengaku?"
"Aku tidak perlu memaksa Alena berbicara lagi," tegas Adrian, matanya memancarkan kilatan baja yang tak tergoyahkan. "Karena aku sendiri yang akan mencari tahu siapa bangsat di istana ini yang berani mengancam wanita dan anakku. Dan ketika aku menemukannya... tidak ada satu pun dewan atau mahkota yang bisa menyelamatkannya dari pedangku."
Adrian berpaling menatap Gareth di sudut ruangan. "Gareth. Alokasikan empat pengawal terbaikmu untuk mengawasi Paviliun Barat dari jarak jauh secara rahasia. Tidak ada satu pun orang asing yang boleh mendekati Alena dan Elian tanpa izin dariku."
"Diterima, Pangeran!" jawab Gareth tegas.
Mira menatap sang Putra Mahkota yang kini berdiri tegap di dekat jendela, memancarkan aura perlindungan yang tak tertandingi. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, Mira merasakan secercah harapan bahwa Alena dan Elian mungkin tidak lagi bertarung sendirian di dalam kegelapan.