NovelToon NovelToon
Suamiku Spesial

Suamiku Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Fantasi / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Liora terpaksa menandatangani perjanjian pranikah dan dinikahkan dengan Alexander, seorang pria berkebutuhan khusus yang diasingkan keluarganya di sebuah desa terpencil. Ia pun pergi ke desa itu untuk merawat suaminya yang asing baginya. Namun, semakin lama merawat Alex, Liora mulai menyadari ada keanehan dan ketakutan dari warga sekitar terhadap pria itu. Ia pun curiga, jangan-jangan Alex tidak seperti yang terlihat. Di balik keterbatasannya, Alex ternyata menyimpan rahasia besar yang menjadi alasan keluarganya membuangnya. Liora kini harus mengungkap kebenaran di balik pengasingan suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Malam Pertama Bersama

Malam telah tiba dengan sempurna. Cahaya bulan purnama bersinar terang di langit desa yang bersih dari polusi kota, menerangi halaman rumah besar itu dengan cahaya perak yang lembut. Suara jangkrik bersahut-sahutan, menemani keheningan malam yang hanya sesekali dipecahkan oleh suara angin yang berembus pelan di antara dedaunan pohon anggur di belakang rumah.

Liora baru saja selesai membereskan meja makan. Makan malam tadi berjalan cukup lancar. Ia memasak nasi goreng sederhana dengan telur dan sayuran, dan Alex memakannya dengan lahap seperti biasa. Setelah makan, Alex sempat bermain sebentar dengan mobil-mobilannya di ruang tamu, tetapi Liora melihat matanya sudah mulai sayu. Tanda-tanda mengantuk mulai terlihat jelas di wajah polos itu.

"Alex, sudah waktunya tidur," kata Liora lembut setelah ia mencuci piring.

Alex menguap lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Alex ngantuk, Liora."

Liora mengantarnya naik ke lantai dua, membantunya membersihkan wajah dan menggosok gigi seperti yang diajarkan Emi. Setelah Alex mengenakan piyama tidurnya yang bergambar mobil balap, ia naik ke tempat tidur dan menarik selimutnya hingga ke dagu.

"Selamat tidur, Alex," bisik Liora sambil menutup pintu kamar Alex setengah terbuka, seperti biasanya. "Jangan lupa berdoa ya."

"Mmm," jawab Alex dengan suara yang sudah mengantuk.

Liora berjalan menuju kamarnya sendiri dengan langkah yang pelan. Setelah melewati hari yang cukup panjang—mulai dari panen anggur pagi tadi, membuka kotak-kotak buku yang membuatnya malu, hingga mengurus Alex sepanjang hari—tubuhnya terasa sangat lelah. Namun, ada kelegaan di dalam hatinya. Kelegaan karena ia bisa bertahan melewati hari ini. Kelegaan karena Alex tidak membuat masalah.

Ia masuk ke kamarnya, menutup pintu rapat-rapat, dan berganti pakaian tidur. Sebuah daster katun berwarna krem muda yang nyaman ia kenakan. Setelah itu, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk, menarik selimut tebal, dan mematikan lampu meja di samping tempat tidur.

Kegelapan menyelimuti kamar. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui celah tirai, membentuk garis-garis perak di lantai. Liora memejamkan matanya, mencoba menenangkan pikiran yang masih dipenuhi oleh buku-buku pernikahan dan parenting tadi.

Namun, baru saja ia akan terlelap, suara ketukan kecil terdengar dari pintu kamarnya.

Tok. Tok. Tok.

Liora membuka matanya. Ia mengerjapkan mata, merasa bingung. Mungkin ia salah dengar? Mungkin hanya suara kayu rumah yang mengembang di malam hari?

Tok. Tok. Tok. Lagi-lagi suara itu terdengar, kali ini sedikit lebih jelas. Dan suara itu diikuti oleh sebuah suara kecil yang sangat dikenalnya.

"Liora..."

Liora bangkit dari tempat tidurnya. Ia meraih lampu meja dan menyalakannya. Cahaya kuning hangat segera memenuhi ruangan. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya.

Dan di sana, di ambang pintu, berdiri Alex.

Pria berusia 25 tahun itu masih mengenakan piyama tidurnya yang bergambar mobil balap. Rambutnya sedikit berantakan karena bergesekan dengan bantal, dan matanya setengah terbuka, menunjukkan bahwa ia baru saja terbangun atau mungkin belum benar-benar tidur. Namun, yang membuat Liora terdiam adalah apa yang ada di pelukan Alex. Ia memeluk erat sebuah buku cerita bergambar berwarna-warni—buku yang sama yang ia lihat dan baca saat mereka membuka kotak tadi sore.

"Liora," ulang Alex dengan suara yang sedikit cadel karena mengantuk. "Alex belum bisa tidur. Alex mau Liora bacakan buku cerita. Tolong, Liora."

Liora menatap Alex dengan tatapan campur aduk. Ia ingin marah karena sudah mengganggu tidurnya, tetapi melihat ekspresi polos dan mata sayu Alex di depan pintu, rasa marah itu langsung lenyap. Alex terlihat sangat kecil, sangat membutuhkan perlindungan, meskipun tubuhnya sudah dewasa.

"Kamu belum tidur, Alex?" tanya Liora lembut.

Alex menggeleng. "Tidak bisa. Kalau tidak dibacakan buku cerita, Alex susah tidur. Emi biasanya bacain, tapi Emi tidak ada. Sekarang Liora ada. Tolong Liora, bacain cerita untuk Alex."

Liora menghela napas panjang. Ia menatap buku cerita itu, lalu menatap wajah Alex yang penuh harap. Ia tidak punya hati untuk menolak.

"Baiklah, Alex. Masuklah," ucap Liora sambil membuka pintu lebih lebar.

Wajah Alex langsung berseri-seri. Ia berjalan masuk ke kamar Liora dengan langkah kecil yang riang, seolah rasa kantuknya hilang sejenak karena kegembiraan. Ia melompat ke atas tempat tidur Liora dan segera merebahkan dirinya di atas ranjang, persis di sebelah kiri Liora, menempati setengah bagian tempat tidur yang kosong.

Liora terbelalak. Ia tidak menyangka Alex akan langsung naik ke tempat tidurnya. Ia membayangkan Alex akan duduk di kursi atau di lantai, mendengarkan cerita, lalu kembali ke kamarnya sendiri. Tetapi Alex sudah berbaring dengan nyaman, menarik selimut hingga ke dadanya, dan membuka buku cerita itu di atas lututnya.

"Ayo, Liora! Bacain!" desak Alex dengan wajah yang sangat meles—seperti anak kecil yang sangat bersemangat untuk mendengar dongeng sebelum tidur.

Liora berdiri di samping tempat tidur untuk beberapa saat, tidak bergerak. Jantungnya berdegup kencang. Ini adalah pertama kalinya ia berbagi tempat tidur dengan seorang pria—dan pria itu adalah suaminya. Walaupun Alex bersikap seperti anak kecil, secara fisik ia adalah pria dewasa berusia 25 tahun. Tubuhnya lebar, lengannya besar, dan tinggi badannya jauh melebihi Liora. Perasaan canggung dan malu memenuhi dadanya.

Namun, Alex tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mengerti situasi itu. Ia hanya menatap Liora dengan tatapan lugu, menunggu dengan sabar.

Liora menggigit bibirnya. Akhirnya, ia menyerah. Ia berjalan perlahan ke sisi lain tempat tidur, duduk dengan posisi bersandar pada kepala ranjang, dan mengambil buku cerita itu dari tangan Alex.

"Baiklah. Aku akan bacakan satu cerita saja. Setelah itu, kamu harus tidur, ya?" kata Liora dengan suara tegas tetapi lembut.

Alex mengangguk semangat. "Iya, Liora! Satu cerita saja!"

Liora membuka halaman pertama buku cerita itu. Buku itu berjudul "Kelinci Kecil yang Kehilangan Sarangnya". Ceritanya cukup sederhana, dengan ilustrasi yang penuh warna. Dengan suara yang perlahan dan jelas, Liora mulai membacakan cerita itu.

"...Dan kelinci kecil itu pun mencari sarangnya ke mana-mana. Ia bertemu dengan burung pipit, ia bertemu dengan tupai, tetapi tidak ada yang melihat sarangnya yang hilang..."

Suara Liora mengalun tenang di dalam kamar yang diterangi cahaya lampu kuning. Alex mendengarkan dengan penuh perhatian. Matanya tidak berkedip, fokus pada gambar-gambar di buku yang diperlihatkan Liora. Sesekali ia tersenyum, sesekali ia mengernyitkan dahi saat mendengar tokoh kelinci itu bingung.

Beberapa halaman terus dibacakan. Dan seiring waktu, napas Alex perlahan mulai berubah. Teratur. Dalam. Dan pelan.

Liora menghentikan suaranya sejenak. Ia menatap wajah Alex di sampingnya.

Alex telah tertidur. Matanya tertutup rapat. Dadanya turun naik dengan ritme yang tenang. Ekspresi wajahnya sangat damai—seperti anak kecil yang baru saja mendengar dongeng terindah dalam hidupnya. Tangannya yang tadinya memegang selimut kini sudah lepas, dan mulutnya sedikit terbuka dengan suara napas yang halus.

Liora menutup buku cerita itu dan meletakkannya di atas meja rias. Ia menarik selimut sedikit lebih tinggi hingga menutupi bahu Alex dengan hati-hati, agar tidak kedinginan.

Kemudian, Liora menatap Alex untuk waktu yang lama. Ia melihat wajah tidur suaminya. Wajah yang seharusnya menjadi wajah pria dewasa yang bertanggung jawab. Wajah yang seharusnya memimpin perusahaan Theodore. Namun di depannya, hanya ada seorang pria yang polos, yang mencari kenyamanan dengan cara yang paling sederhana—dengan meminta bacaan cerita sebelum tidur.

Liora menarik napas panjang. Perasaannya sangat rumit.

Ia tidak bisa tidur sekasur dengan Alex. Ia belum siap. Meskipun Alex tidak melakukan apa-apa dan hanya tidur, Liora merasa ini adalah langkah yang terlalu jauh untuk malam pertama mereka. Ia takut. Takut akan apa yang mungkin terjadi, atau takut akan perasaannya sendiri yang mulai berubah.

Dengan perlahan, Liora bangkit dari tempat tidur. Ia mengambil bantal ekstra yang ada di lemari, lalu menarik selimut tipis yang biasa ia gunakan untuk tidur siang. Ia berjalan menuju sofa panjang di sudut kamar, di dekat jendela.

Sofa itu tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk ia berbaring. Liora merebahkan tubuhnya di sana, menutupi tubuhnya dengan selimut tipis, dan meletakkan kepalanya di atas bantal.

Ia memandang ke arah tempat tidur. Alex masih tertidur pulas, tidak menyadari bahwa istrinya telah pindah ke sofa. Tidak menyadari bahwa ia tidur sendirian di ranjang itu.

"Ini pertama kalinya aku tidur dengan suamiku," bisik Liora dalam hati. "Tapi bukan seperti yang ada di buku-buku pernikahan itu."

Air matanya perlahan mengalir di pipinya. Ia menangis dalam diam, menangis karena kebingungannya sendiri.

Malam perlahan berganti semakin larut. Angin malam berembus melalui celah jendela, dan suara jangkrik terus bernyanyi di luar. Liora memejamkan matanya, memeluk dirinya sendiri, dan akhirnya jatuh tertidur di sofa itu—sementara Alex tidur lelap di atas ranjangnya, dengan senyuman kecil di wajahnya yang polos.

Bab lima berakhir, dengan Liora yang masih belajar untuk menerima suaminya yang istimewa.

1
Ilfa Yarni
oooo jadi gitu tp syukurlah udah ga ada rahasia lg diantara mereka dan jg bisa bersikap sebagaimana mestinya dan skr kalian bisa menghadapi masalah bersama2
Ilfa Yarni
aku jg penasaran bukan km saja liora
wulaniii
gais like dan komen kalo bisa tonton yah biar dapet komisi 🤣
Alia Chans
Hadir Thor, penasaran banget ama lanjutan nya ...🤭🤭

saling support sabi kali😉
Muhajir Al musyaffa
halo kak aku punya karya loh mampir yu kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!