𝐇𝐈𝐀𝐓𝐔𝐒‼️‼️‼️‼️‼️‼️‼️
Di siang hari, Rania adalah sekretaris magang yang paling menyedihkan. Berkacamata bulat, rambut di Cepol asal dan baju yang kedodoran selalu menjadi makanan empuk sang CEO perusahaan yang tampann namun berdarah dingin, perfeksionis dan tak memiliki belas kasihan.
Namun, demi melunasi hutang ibunya yang menumpuk, Rania dengan ikhlas menjalani hidupnya di bawah tekanan bahkan Rania rela melakukan pekerjaan lainnya yang cukup ekstrem di malam hari.
Dengan berubah menjadi sosok gadis bernama "milky" bermata abu-abu yang imut dan kostum gotik yang menggemaskan di sebuah Dark Moon Maid Cafe.
Petaka berawal ketika seorang pelanggan VVIP misterius bermasker hitam datang dan memesan tempat khusus bersamanya.
Begitu pria itu membuka suara, Rania nyaris terkena serangan jantung.
Pria yang meminta pelayanan imut bermantra 'Moe-moe Kyun' tidak lain adalah bosnya sendiri di kantor yang paling dia benci !
Untungnya, Arkan bosnya sama sekali tidak mengenalinya.
bac
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Aroma yang Sama
...Pagi itu, suasana kantor terasa lebih sibuk dari biasanya. ...
...Rania baru saja kembali bekerja setelah cuti sakit setengah hari kemarin. ...
...Dia merasa jauh lebih bugar, meski sebenarnya dia masih merasa sedikit lemas. ...
...Karena terburu-buru menyiapkan diri agar tidak terlambat, Rania melakukan kesalahan fatal....
...Di meja riasnya, ada dua botol parfum yang letaknya berdekatan....
... Satu botol adalah parfum kantor yang aromanya netral, dan satu lagi adalah parfum stroberi-vanila yang selalu dia pakai saat menjadi Milky....
... Karena tidak memakai kacamata, Rania asal menyambar botol dan menyemprotkannya berkali-kali ke seragam kantornya....
...Sesampainya di kantor, dia tidak menyadari apa-apa. Dia hanya merasa wangi saja....
...Rania masuk ke ruangan Arkan dengan membawa tumpukan dokumen penting. ...
...Arkan sedang menatap layar komputer dengan wajah datar seperti biasanya. Rania melangkah masuk dengan tenang....
..."Ini dokumen yang Bapak minta untuk proyek di Surabaya," kata Rania sambil meletakkan map biru di atas meja....
...Arkan tidak langsung menjawab. ...
...Dia masih membaca laporan di layarnya....
... "Bagus. Kamu sudah merasa lebih sehat?"...
..."Sudah jauh lebih baik, Pak. Terima kasih banyak atas izinnya kemarin," jawab Rania....
...Arkan menghentikan ketukannya di keyboard. ...
...Dia menghirup udara di sekitarnya dalam-dalam....
... Dahinya berkerut. ...
...Dia mencium aroma yang sangat manis, seperti permen stroberi yang bercampur dengan sedikit vanila. ...
...Aroma itu terasa sangat familiar, sangat dekat, dan sangat spesifik....
...Arkan memutar kursinya perlahan menghadap Rania. Matanya menajam....
... Dia memperhatikan Rania dari atas sampai bawah....
..."Rania," panggil Arkan dengan suara pelan....
..."Ya, Pak?" tanya Rania heran melihat perubahan sikap Arkan yang mendadak serius....
..."Kamu pakai parfum apa hari ini?" tanya Arkan....
...Rania tertegun sejenak. ...
...Dia tidak merasa memakai parfum yang aneh. "Hanya parfum biasa, Pak. Kenapa?"...
...Arkan berdiri dari kursinya. ...
...Dia berjalan mendekati Rania....
... Rania merasa gugup karena jarak mereka menjadi terlalu dekat. ...
...Arkan berhenti tepat di depan Rania, membuat gadis itu harus menahan napas. ...
...Arkan menghirup udara lagi di dekat rambut Rania....
..."Ini bukan parfum kantor," kata Arkan dengan suara dingin. ...
..."Ini wangi yang sama dengan..." Arkan berhenti bicara....
...Jantung Rania berdegup kencang. Dia baru sadar apa yang terjadi. Dia salah memakai parfum!...
..."Oh, ini? Iya, saya baru beli parfum baru di pasar malam kemarin," jawab Rania seadanya, mencoba untuk tenang....
...Arkan menatap mata Rania dengan sangat dalam....
... Tatapannya tidak seperti bos ke sekretarisnya, tapi seperti seorang detektif yang sedang menginterogasi tersangka....
... "Pasar malam lagi? Kamu selalu beli barang dari pasar malam?"...
...Rania mencoba mundur selangkah, tapi dia sudah tertahan oleh meja kerja Arkan....
... "Iya, Pak. Harganya murah dan wanginya cukup tahan lama."...
...Arkan tidak percaya. ...
...Dia tahu aroma itu. Itu bukan aroma murah. Itu adalah aroma yang selalu membuat dia merasa tenang setiap malam di kafe. ...
...Aroma yang membuatnya bisa melupakan semua beban pekerjaannya....
..."Coba mendekat lagi," perintah Arkan....
..."Pak?" Rania merasa suaranya tercekat....
..."Mendekat. Saya ingin memastikan sesuatu," kata Arkan dengan nada perintah yang tidak bisa dibantah....
...Rania memberanikan diri untuk maju satu langkah. ...
...Arkan kembali mencium aroma di seragam Rania. Matanya yang tadinya tajam, perlahan-lahan mulai berubah menjadi tatapan yang sulit diartikan. ...
...Dia tegang. Dia merasa ada sesuatu yang sangat aneh di sini....
..."Kenapa Bapak mencium wangi saya?" tanya Rania dengan nada yang dibuat setenang mungkin, meski tangannya di balik punggung sudah gemetar hebat....
...Arkan menarik diri dengan cepat. Dia kembali ke posisi berdiri tegak. ...
...Dia terlihat seperti orang yang sedang berusaha menenangkan diri sendiri. ...
..."Tidak ada. Hanya... wanginya terlalu menyengat. Lain kali jangan pakai parfum yang berlebihan ke kantor. Ini tempat kerja, bukan tempat jualan permen."...
...Rania mengembuskan napas lega....
... "Baik, Pak. Saya mengerti. Saya tidak akan memakainya lagi."...
..."Sudah, pergi sana. Kerjakan laporan yang lain," kata Arkan sambil berbalik membelakangi Rania....
...Rania segera mengambil map miliknya dan melangkah cepat keluar dari ruangan. ...
...Begitu pintu tertutup, Rania bersandar di pintu sambil memegangi dadanya. Hampir saja, pikirnya....
...Di dalam ruangan, Arkan berdiri mematung di depan jendela....
... Dia masih bisa merasakan wangi stroberi itu menempel di indra penciumannya. ...
...Wangi yang sama persis. ...
...Tidak mungkin ini hanya kebetulan....
...Arkan meraih ponselnya dan mengirim pesan ke Manajer Tedi di kafe....
...Arkan: Milky masuk malam ini?...
...Tidak sampai satu menit, ponselnya bergetar....
...Tedi: Masuk, Tuan. Milky sudah sehat....
...Arkan meletakkan ponselnya....
... Dia menatap bayangannya sendiri di kaca jendela. Dia merasa sangat kacau....
... Bagaimana mungkin sekretarisnya yang culun dan pelayan kafe yang manis itu memiliki aroma tubuh yang sama?...
...Apakah mereka orang yang sama? pikirnya lagi....
...Dia mencoba mencari alasan untuk menepis pikiran itu. Mungkin ini merk parfum yang populer? Mungkin banyak gadis yang memakainya?...
...Tapi Arkan tahu itu alasan yang lemah. Aroma itu terlalu unik. Terlalu spesial....
...Arkan kembali duduk di kursinya, tapi dia tidak bisa fokus bekerja. Dia memutar kursi ke arah pintu, menatap pintu yang baru saja dilewati Rania....
..."Kalau benar kamu adalah orang yang sama," gumam Arkan pelan, "kenapa harus menyembunyikannya?"...
...Arkan merasa dia sedang dipermainkan. ...
...Dia merasa marah, tapi di sisi lain, dia juga merasa penasaran. Dia ingin tahu jawabannya sekarang juga....
...Dia memanggil Rania lewat intercom....
..."Rania, masuk sebentar."...
...Tak lama kemudian, pintu terbuka. ...
...Rania masuk lagi dengan wajah cemas. "Ada apa, Pak? Apa ada dokumen yang salah?"...
...Arkan menatap Rania. Dia ingin langsung bertanya, 'Apakah kamu Milky?' Tapi dia menahannya. ...
...Dia tidak ingin terlihat seperti pria bodoh yang terobsesi pada seorang pelayan kafe....
..."Tolong buatkan saya teh hangat. Teh yang rasanya seperti yang biasa saya minum di kafe," kata Arkan sambil menatap Rania dengan tajam....
...Rania membeku. "Teh... teh seperti di kafe?"...
..."Ya. Bukannya kamu bilang suka belanja di pasar malam? Mungkin kamu tahu teh yang enak untuk diminum malam-malam?" pancing Arkan....
...Rania berusaha menenangkan diri. Dia tidak boleh terpancing. ...
..."Saya akan coba buatkan yang terbaik, Pak. Tapi saya tidak tahu teh apa yang Bapak maksud."...
...Arkan mendengus. "Ya sudah, buatkan saja apa pun yang menurutmu enak."...
...Rania keluar lagi....
... Arkan memperhatikan setiap gerak-gerik Rania. Dia memperhatikan cara Rania berjalan, cara Rania memegang map, dan cara Rania menatapnya....
... Semuanya terasa sangat berbeda dari pengamatannya yang dulu....
...Dia terlihat jauh lebih cantik kalau dia tidak memakai kacamata setebal itu, pikir Arkan tanpa sadar....
...Arkan kembali bekerja, tapi dia tahu dia tidak akan bisa bekerja dengan tenang hari ini. Dia sudah memutuskan satu hal, dia akan mencari tahu kebenarannya malam ini. ...
...Dia akan memperhatikan Milky di kafe dengan lebih teliti. Jika ada satu saja hal yang membuat dia yakin, dia tidak akan membiarkan Rania berbohong lagi padanya....
...Sementara itu, Rania di pantri sedang membuat teh dengan tangan gemetar. ...
...Dia tahu Arkan sedang mencurigainya. Dia tahu dia harus sangat berhati-hati....
..."Harus lebih teliti," bisiknya pada diri sendiri....
... "Besok-besok aku tidak boleh memakai parfum itu lagi."...
...Rania tahu bahaya mulai mendekat. ...
...Dia tahu rahasianya tidak akan bisa bertahan selamanya. Tapi dia juga tahu, dia harus terus berakting sampai tujuannya tercapai. ...
...Sampai ibunya benar-benar sembuh total....
...Dia membawa teh itu kembali ke ruangan Arkan....
... Saat dia meletakkannya, jemarinya tidak sengaja menyentuh tangan Arkan. Keduanya sama-sama terkejut....
... Ada percikan aneh yang dirasakan oleh Arkan. Rania segera menarik tangannya....
..."Ini tehnya, Pak," kata Rania sambil menunduk....
...Arkan menatap Rania lama sekali. Dia tidak mengambil teh itu. ...
..."Kamu tahu, Rania? Kadang-kadang, kebenaran itu jauh lebih menarik daripada kebohongan."...
...Rania mematung. "Apa maksud Bapak?"...
..."Tidak ada. Sudah sana kerja," jawab Arkan sambil akhirnya meraih cangkir teh tersebut....
...Rania keluar ruangan dengan perasaan tidak menentu. Arkan mulai bicara aneh. Dia merasa bosnya itu sedang memancingnya. ...
...Rania mempercepat langkahnya kembali ke meja kerjanya. Dia harus menyelesaikan pekerjaan hari ini dengan sempurna, tanpa kesalahan sedikit pun....
... Dia tidak boleh memberikan alasan apa pun kepada Arkan untuk terus menyelidikinya....
yang banyak update nya 😉😉😉