Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Gifarka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.
Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.
Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, yang terjadi adalah...
Dada gadis itu naik-turun dengan napas yang terasa luar biasa sesak.
"Serend*h itu gue di mata lu, Arka? Lu nggak pernah ngaca?! Adu bac*t kita dari dulu selalu dimulai dari lu yang cemburuan gak jelas!" teriak Lintang frustrasi, air matanya mengalir deras membasahi pipi.
"GUE CUMAN NGAMANIN APA YANG MASIH GUE PUNYA!"
Bentakan bariton Arka kali ini menggema begitu kencang di sepanjang koridor rumah.
Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyusup
Di dalam ruang kerja Dokter Fandy yang senyap, Papi Leno berdiri memandangi layar monitor komputer dengan tatapan mata yang menajam lurus.
Sudah satu bulan lebih berlalu sejak kematian tragis Frina, namun ruangan ini masih menjadi saksi bisu pencarian keadilan yang belum juga menemui titik terang.
"Beneran nggak ada rekaman di jam itu, Dok?" tanya Leno. Suaranya terdengar berat, menuntut kepastian yang sudah dia tunggu berminggu-minggu.
Dokter Fandy yang duduk di balik meja kerja langsung menghela napas panjang sembari menggelengkan kepalanya pasrah.
"Nggak ada, Pak. Saya berulang kali nyari, tapi beneran udah hilang total karena sistem pusat hari itu sengaja dirusak," jawab Dokter Fandy dengan ekspresi wajah yang sangat lelah.
Leno mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam saku celana. Amarahnya kembali menyulut mengetahui betapa rapinya pembunuh Frina menghilangkan jejak sebulan yang lalu.
Namun, sebelum Leno sempat melayangkan protes, Dokter Fandy mendadak menegakkan posisi duduknya. Beliau menarik sebuah map arsip lama dari dalam laci meja, lalu membukanya tepat di hadapan Leno.
"Tapi... setelah sebulan saya periksa ulang seluruh berkas administrasi medis hari itu, saya baru menemukan satu kejanggalan besar, Pak Leno," ujar Dokter Fandy, merendahkan intonasi suaranya menjadi sangat serius.
Leno mengernyitkan dahi, melangkah mendekat untuk melihat kertas yang ditunjuk. "Kejanggalan apa?"
"Ini adalah lembar laporan pemberian obat harian pasien VIP sebulan lalu. Di sini tertera tanda tangan Suster Amita pada pukul dua siang lewat lima belas menit, tepat di jam kejadian kritis Ibu Frina," Dokter Fandy menunjuk sebuah kolom bertanda tangan.
"Lalu? Apa yang salah? Dia kan perawat yang bertugas di koridor VIP hari itu," sahut Leno belum menangkap maksudnya.
Dokter Fandy menatap Leno lurus, dengan sorot mata yang mendadak berubah menjadi sangat tegang.
"Masalahnya, Pak... saya ingat betul kalau sebulan lalu, tepat di jam dua siang lewat sepuluh menit, saya sempat berpapasan dengan Suster Amita di kantin bawah. Dia sedang makan siang di sana sampai jam istirahatnya selesai pada pukul tiga sore."
Deg.
Ruangan dokter itu seketika dilingkupi oleh keheningan yang luar biasa mencekam.
"Maksud Dokter... Suster Amita punya alibi kuat kalau dia tidak ada di koridor VIP saat jam kejadian?" tanya Leno memastikan, detak jantungnya mulai berpacu cepat.
"Betul, Pak. Suster Amita tidak pernah naik ke lantai VIP di jam dua siang itu," tegas Dokter Fandy penuh keyakinan.
"Artinya, perawat yang masuk ke kamar Ibu Frina sebulan lalu dan memalsukan tanda tangan ini... adalah orang lain yang menyamar menggunakan seragam dan nametag milik Suster Amita.
Leno menarik napas panjang, garis rahang tegasnya mengeras kokoh. Potongan teka-teki gila yang selama sebulan ini terkubur, kini mendadak mencuat paksa ke permukaan.
"Periksa CCTV area loker karyawan atau toilet umum sebulan lalu, Dok," perintah Leno. Suaranya terdengar lempeng dan tenang, namun sarat akan ketegasan. "Kita cari tahu di mana orang itu mencuri seragam Suster Amita."
Dokter Fandy langsung mengangguk cepat. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard, membuka folder cadangan video CCTV area umum rumah sakit dari bulan lalu yang berada di server berbeda.
Layar monitor kini menampilkan rekaman hitam-putih dari area lorong dekat ruang loker perawat. Angka digital di sudut atas layar menunjukkan pukul 13.45 siang—tepat tiga puluh menit sebelum kejadian kritis Ibu Frina sebulan lalu.
"Coba percepat di menit ke empat puluh, Dok," ujar Leno, matanya menyipit fokus menatap layar sembari melipat kedua tangannya di dada.
Dokter Fandy mengklik tombol fast-forward, lalu menekan tombol pause. "Pak, lihat ini."
Di dalam rekaman area loker itu, terlihat seorang wanita keluar dari arah toilet umum yang posisinya berada tepat di sebelah ruang loker perawat. Wanita itu sudah mengenakan seragam putih khas perawat Rumah Sakit Healthy Hope lengkap dengan masker medis.
Namun, ada dua detail yang langsung ditangkap oleh mata jeli Leno.
Pertama, wanita itu memakai sebuah topi hitam yang ditarik rendah untuk menutupi rambutnya—atribut yang tidak lazim bagi seorang perawat yang bersiap dinas. Kedua, postur tubuh dan cara berjalannya melangkah dengan sangat tegap dan angkuh, memegang nametag curian di tangannya.
"Dia orangnya," ucap Leno tenang. Wajahnya datar tanpa ekspresi, namun otaknya langsung bekerja dengan kecepatan penuh.
"Dia menyelinap ke toilet, mencuri seragam Amita yang ditinggal di sana, lalu keluar dalam keadaan sudah menyamar sebelum naik ke lantai VIP."
Dokter Fandy menghela napas tegang. "Benar, Pak. Meskipun rekaman di koridor VIP dan saat dia melakukan aksi di dalam kamar Ibu Frina sudah dihapus total oleh komplotannya, rekaman di area loker ini luput dari pemeriksaan mereka."
Leno mundur selangkah, lalu mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja, berpikir taktis.
Meskipun dia tidak memiliki hubungan kedekatan khusus dengan almarhumah Frina, fakta bahwa ini adalah pembunuhan berencana tetap tidak bisa dia abaikan. Terlebih lagi, Arka kini sudah menjadi menantunya yang sah. Sebagai kepala keluarga, Leno harus memastikan keamanan lingkungan sekitarnya bersih dari ancaman.
"Dok, simpan berkas ini di dalam flashdisk rahasia," perintah Leno dengan nada santai namun tidak menerima penolakan. "Jangan sampai ada satu pun staf rumah sakit atau orang luar yang tahu kalau kita sedang membuka kembali kasus ini."
"Baik, Pak Leno. Saya mengerti," sahut Dokter Fandy sembari dengan cekatan menyalin file video tersebut.
Leno mengambil flashdisk yang disodorkan Dokter Fandy, lalu memasukkannya ke dalam saku celana bahannya dengan gerakan tenang. Dia membetulkan letak jam tangan mewahnya sebelum melangkah menuju pintu keluar.
"Saya pamit dulu, Dok. Terima kasih informasinya," ujar Leno ramah.
Leno berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang dingin dengan langkah kaki yang konstan dan tegap. Alih-alih mengumpat atau emosi di jalan, dia langsung merogoh ponselnya, menekan satu tombol panggilan cepat untuk asisten pribadinya di kantor.
Panggilan langsung terhubung di deringan kedua.
"Halo, Pak Leno," sahut suara dari seberang telepon.
"Tolong lacak semua aktivitas bisnis dan kehidupan pribadi Hansanto dalam sebulan terakhir," perintah Leno, nadanya terdengar sangat santai seolah-olah sedang menanyakan menu makan siang.
"Cari tahu siapa saja wanita di sekelilingnya, terutama yang punya akses atau koneksi ke tim IT rumah sakit. Saya mau laporannya sudah ada di meja saya besok pagi."
"Baik, Pak. Segera dilaksanakan."
Leno menutup panggilan teleponnya, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Sebuah senyuman tipis yang dingin terukir di wajah tenangnya saat dia melangkah keluar menuju area parkir VIP tempat mobil BYD-nya berada.