NovelToon NovelToon
Joni Fighter

Joni Fighter

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Game
Popularitas:951
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia telah berubah sejak terbukanya Arcane Nexus—sebuah celah dimensi misterius yang menghubungkan bumi dengan dunia monster yang ganas. Demi bertahan hidup, umat manusia mendirikan tiga akademi elit untuk melatih para petarung faksi (Brawler, Swordsman, Archer, dan Shaman) agar mampu menyelaraskan getaran energi Ki mereka, yang dikenal sebagai sistem RAN (Resonance of Arcane Nexus).
​Joni, seorang mahasiswa baru faksi Brawler di Kampus Sacred Gate, awalnya hanya ingin fokus berlatih demi meneruskan jejak mendiang ayahnya. Namun, ia justru terseret ke dalam pusaran konspirasi gelap yang melibatkan kekuatan korporasi raksasa, militer kampus saingan, hingga ambisi berbahaya yang mengancam kestabilan dinding dimensi. Di tengah ancaman duel hidup-mati melawan rivalnya yang menggunakan kekuatan terlarang, Joni harus menjalani penempaan ekstrem di kedalaman wilayah tak bertuan untuk membangkitkan resonansi murni tubuhnya dan mengungkap kebusukan yang terstruktur di puncak kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

​Di sudut gelap luar area arena Sacred Gate, Tian berdiri bersandar pada pilar beton. Tangannya mengepal begitu keras hingga kuku-kukunya memutih. Matanya yang merah menatap nanar ke arah ambulans kampus yang baru saja membawa Rian, sepupunya, ke ruang medis.

​"Sampah! Level 16 Critical Assassin kalah dalam waktu kurang dari satu menit oleh Brawler rongsokan?!" desis Tian tajam, suaranya bergetar menahan malu yang amat sangat. Kekalahan Rian otomatis mencoreng namanya yang selama ini dikenal sebagai salah satu ninja senior berbakat di kampus.

​SREEEKK...

​Tanpa ada suara langkah kaki, sesosok pria bertubuh tegap tiba-tiba muncul dari balik bayangan pilar. Pria itu mengenakan zirah hitam legam dengan pelindung bahu baja berukir naga, tipikal seorang Shogun tingkat tinggi. Topeng logamnya hanya memperlihatkan sepasang mata dingin tanpa emosi.

​"Tuan Muda Tian," suara pria itu berat dan bergema rendah, membawa tekanan aura yang membuat napas Tian mendadak sesak. "Ketua Besar tidak senang dengan berita kekalahan hari ini. Anda diminta segera menghadap."

​Tian tersentak, jakunnya naik-turun menelan ludah. "Paman... sampai turun tangan sendiri? Tapi ini masih di lingkungan akademi."

​"Limusin sudah menunggu di gerbang belakang. Bergeraklah sebelum faksi pengawas Sacred Gate menyadari kehadiran saya," perintah sang Shogun dingin, lalu kembali lenyap menyatu dengan kegelapan seperti asap.

​Tian tidak punya pilihan. Dengan langkah tegang, ia berjalan menuju area parkir VIP tersembunyi di luar pagar akademi. Sebuah limusin hitam dengan kaca antipeluru dan tanpa pelat nomor sudah bersiap dengan pintu yang terbuka otomatis. Begitu Tian masuk, mobil mewah itu melesat membelah jalanan kota, menuju sebuah lokasi yang sama sekali tidak terdeteksi oleh radar tiga kampus besar—Sacred Gate, Mythic Peak, ataupun Phoenix.

​Limusin itu akhirnya berhenti di bawah sebuah terowongan air bawah tanah yang terbengkalai di pinggiran kota. Di balik dinding beton yang tampaknya buntu, sebuah mekanisme pintu batu hidrolik bergeser lambat, memperlihatkan jalan masuk tersembunyi menuju markas utama Sekte Bayangan Hitam—sekte ninja bawah tanah ilegal milik keluarga Tian.

​Tian berjalan menyusuri lorong yang remang-remang, hanya diterangi oleh obor api biru spiritual yang menyala konstan di sepanjang dinding kayu jati kuno. Suasana di dalam markas sangat mencekam. Puluhan ninja berpakaian hitam berdiri kaku di sepanjang koridor bagai patung, masing-masing membawa hawa membunuh (killing intent) yang pekat.

​Pintu geser kayu (shoji) berukuran raksasa terbuka di ujung lorong, memperlihatkan sebuah aula utama yang megah namun gelap. Di ujung ruangan, duduk di atas altar tinggi beralaskan kulit monster harimau purba, sesosok pria paruh baya dengan jubah merah marun bermotif pusaran angin hitam. Dia adalah ayah Tian, sang Ketua Sekte tertinggi.

​BRAKKK!

​Belum sempat Tian menekuk lututnya untuk memberi hormat, sebuah cangkir teh keramik kuno melesat secepat peluru dan hancur berkeping-keping tepat di depan ujung kaki Tian.

​"Anak tidak berguna!" gema suara ayahnya menggelegar, menggetarkan seluruh tiang kayu di aula tersebut. Aura Critical Level 130 miliknya meledak, menekan tubuh Tian hingga lututnya terpaksa menghantam lantai batu dengan keras.

​"Maafkan saya, Ayah..." bisik Tian dengan kepala tertunduk dalam, keringat dingin bercucuran dari dahinya.

​"Aku membiayaimu masuk ke Sacred Gate bukan untuk melihatmu mempermalukan nama darah sekte kita!" geram ayahnya, matanya menyalang tajam. "Kamu malah menyuruh Rian—yang otaknya hanya berisi otot—untuk menguji anak dari bajingan Jaka itu?! Dan lebih parahnya, dia kalah telak dari anak ingusan yang bahkan belum genap seminggu memegang gauntlet?!"

​"Joni... dia memiliki koordinasi yang aneh dengan adiknya si Gondrong, Ayah. Levelnya melompat terlalu cepat ke Level 17—"

​"Cukup alasanmu!" potong sang Ketua Sekte, berdiri dari duduknya hingga jubahnya berkibar. "Keluarga Brawler itu sudah merusak rencana sekte kita puluhan tahun lalu saat Jaka menolak tunduk pada kita di gerbang dimensi. Dan sekarang, anaknya mulai memperlihatkan taring?"

​Sang ayah melangkah turun dari altar, mendekati Tian dengan langkah perlahan namun terasa seperti hantaman palu di dada Tian. Ia berhenti tepat di depan putranya, lalu mencengkeram dagu Tian dengan jari-jarinya yang sekeras baja.

​"Dengar, Tian. Exhibition Match senin depan adalah panggung utama kita untuk menyusupkan pengaruh sekte ke divisi elit kampus. Jika sampai kamu, atau tim unggulan yang kamu mentori, kalah lagi dari tim Brawler rongsokan itu..."

​Ayahnya mendekatkan wajahnya, membisikkan kata-kata yang membuat darah Tian mendadak membeku.

​"...Aku sendiri yang akan menghapus namamu dari silsilah darah keluarga ini, dan memastikan kamu berakhir menjadi pakan monster di dasar jurang dimensi bawah tanah. Paham?!"

​Tian menahan napas, seluruh tubuhnya gemetaran menghadapi ancaman mati dari ayahnya sendiri. "P-paham, Ayah. Saya bersumpah... di Exhibition Match nanti, saya sendiri yang akan memastikan Joni dan seluruh anggota party-nya merangkak tanpa kaki di arena."

​"Bagus. Keluar dari hadapanku dan persiapkan senjatamu!"

​Tian berdiri dengan kaki lemas, membungkuk hormat, lalu berjalan mundur keluar dari aula yang mencekam itu. Di dalam hatinya, rasa kecewa pada Rian kini telah berubah menjadi dendam kesumat yang murni kepada Joni. Senin depan bukan lagi sekadar taruhan harga diri antar-mahasiswa, melainkan pertarungan hidup dan mati demi keselamatannya sendiri.

Setelah pintu gerbang kayu raksasa bergeser menutup dan menyembunyikan langkah kaki Tian yang bergetar, aula utama Sekte Bayangan Hitam kembali tenggelam dalam keheningan yang mencekam. Obor api biru spiritual di dinding berkedip samar, memantulkan bayangan panjang dari tujuh sosok jubah hitam yang tiba-tiba muncul dan duduk melingkar di bawah altar utama.

​Mereka adalah para penasihat dan panglima tinggi sekte—para eksekutor tingkat atas yang bergerak di bawah komando langsung sang Ketua Sekte, Kurogane Baskoro.

​Baskoro kembali ke singgasananya. Wajahnya yang tegas dengan garis rahang keras mencerminkan darah campuran lokal dan klan ninja seberang yang mengalir di tubuhnya. Ia mengibaskan tangannya, mengisyaratkan rapat rahasia dimulai.

​"Laporkan perkembangan proyek penyobekan dimensi di sektor luar Sacred Gate," perintah Baskoro, suaranya dingin tanpa riak.

​Seorang petinggi sekte dengan emblem belati perak di dadanya maju selangkah, membuka sebuah gulungan perkamen hitam yang memancarkan energi magis gelap.

​"Melapor, Ketua Besar. Usaha tim penyusup kita untuk merobek paksa dinding pembatas Dimensi Monster di sektor selatan dan barat kembali menemui kegagalan total. Tiga titik robekan buatan yang sudah kita rakit selama sebulan terakhir berhasil diredam dan dirajut kembali hanya dalam hitungan jam."

​Baskoro menyipitkan matanya, auranya menekan hebat. "Gagal lagi? Siapa yang bertanggung jawab atas patroli di sektor itu?"

​Petinggi itu menelan ludah sebelum membaca baris berikutnya di perkamen. "Dalam semua laporan tim lapangan... nama yang sama selalu muncul sebagai pelakunya. Remon. Mantan Panglima DEX itu memimpin divisi penyelarasan luar. Dia bergerak terlalu cepat, seolah tahu ke mana arah robekan kita sebelum monster-monster sempat tumpah sepenuhnya."

​BRAKKK!

​Tangan kanan Baskoro menghantam sandaran kursi jatinya hingga retak seketika. "Remon lagi... Remon lagi! Bajingan lincah itu benar-benar menjadi duri di dalam daging sejak zaman Jaka masih hidup!"

​Napas Baskoro memburu, rasa jengkel setengah mati membakar dadanya. Semenjak puluhan tahun lalu, keluarga Kurogane memang menaruh dendam kesumat yang murni kepada garis keturunan Joni. Jaka—bapaknya Joni—adalah orang yang secara tragis menggagalkan konspirasi besar sekte mereka untuk menguasai gerbang dimensi utama. Dan kini, adik iparnya, Remon, melanjutkan tugas terkutuk itu dengan menambal setiap jengkal ruang yang coba mereka sobek.

​"Ketua Besar," sela Shogun bertopeng logam yang menjemput Tian tadi. "Apakah tidak sebaiknya kita perintahkan divisi faksi Ninja yang ada di dalam Kampus Sacred Gate untuk bergerak secara frontal? Menghabisi anak si Jaka dan menekan Remon dari dalam?"

​"Bodoh!" geram Baskoro, menatap Shogun itu dengan pandangan membunuh. "Itu alasan kenapa aku menyuruh faksi Ninja di permukaan untuk tetap bermain cantik dan menyembunyikan permusuhan ini dari publik kampus!"

​Baskoro berdiri, melangkah di atas karpet kulit harimau dengan tangan terlipat di belakang punggung.

​"Faksi Ninja di tiga kampus besar—terutama di Sacred Gate—adalah topeng legal kita. Mereka harus terlihat seperti mahasiswa biasa yang hanya bersaing secara akademis. Jika mereka terang-terangan menunjukkan permusuhan berskala besar dengan keluarga Joni, komite pengawas faksi pusat dan Master Johan akan langsung mencium bau konspirasi kita!"

​Baskoro mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga urat-urat di lengannya menonjol. "Begitu faksi pengawas bergerak menyelidiki, seluruh eksistensi Sekte Bayangan Hitam di bawah tanah ini akan terancam runtuh sebelum rencana besar kita matang. Kita tidak akan bisa lagi melancarkan aksi-aksi rahasia untuk membuka gerbang dimensi dalam!"

​Aula kembali hening, para petinggi sekte tertunduk, tidak berani membantah logika tajam sang ketua.

​"Biarkan Tian menyelesaikan urusannya di Exhibition Match senin depan," lanjut Baskoro dengan nada yang perlahan kembali tenang namun sarat akan kelicikan. "Kekalahan Rian hari ini harus dibayar dengan kehancuran total tim Joni di dalam arena resmi. Hancurkan mental anak itu di depan seluruh kampus, buat dia cacat secara spiritual hingga Remon kehilangan fokusnya dalam menjaga dimensi."

​Baskoro melirik ke arah gulungan perkamen hitam di meja. "Dan untuk Remon... siapkan racun spiritual pengikat Speed tipe Tier 3 untuk penyergapan berikutnya di sektor luar. Jika dia ingin terus menambal dimensi... mari kita lihat seberapa cepat dia bergerak dengan kaki yang membusuk."

​"Dimengerti, Ketua Besar!" jawab ketujuh petinggi serentak, membungkuk dalam-dalam sebelum tubuh mereka kembali lenyap menjadi asap hitam, meninggalkan Baskoro sendirian di aula yang temaram, merajut benang-benang takdir gelap yang siap menjerat Joni dan keluarganya.

1
Semoli Ginon
eh asa bruise jr. 👍
Semoli Ginon
wkwkwkw keluarga koplak🤣
Semoli Ginon
wahahah. ngenes amat nasib lo jon😄
Semoli Ginon
oke seru juga lanjut👍
Semoli Ginon
uhuyy 😄
Semoli Ginon
ini kan faksi2 di game ran online jadul ya?
Semoli Ginon
🤭🤭🤭
Semoli Ginon
adub baru mulai udah mirip gua 🤭
Boqin Changing
jelek. masa MC nya namnya , joni
👁Zigur👁: lah ya suka2 ku lah..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!