Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23: Latihan Gugup
Kirana tidak menyangka bertemu keluarga suami bisa membuatnya lebih gugup daripada wawancara kerja.
Sejak pagi, pikirannya berputar di antara pakaian, sopan santun, masa lalu, dan pertanyaan yang mungkin muncul. Ia sedang merapikan rak gaun di toko ketika Ningsih menyadari ia sudah tiga kali melipat blus yang sama.
"Kira," panggil Ningsih. "Blus itu belum bersalah apa-apa."
Kirana tersadar dan meletakkannya. "Aku melipat biasa."
"Biasa sampai ukurannya jadi setengah?"
Ibu Yustin yang sedang mengecek stok ikut melirik. "Ada masalah di rumah?"
"Tidak." Kirana ragu. "Mungkin ada."
Ningsih langsung mendekat. "Masalah suami?"
Kirana menatapnya.
"Aku tahu dari wajahmu. Wajah perempuan yang sedang ingin bertanya tapi takut jawabannya lebih rumit."
Kirana menghela napas. "Ibunya ingin bertemu aku."
Ningsih membuka mulut seperti mendengar berita besar. "Calon mertua?"
"Sudah mertua."
"Benar juga." Ningsih menepuk dahi sendiri. "Aku masih belum terbiasa kamu menikah secepat itu."
Ibu Yustin mengambil jarum pentul dari meja. "Keluarganya tahu masa lalumu?"
Pertanyaan itu membuat Kirana diam.
"Sebagian," jawabnya akhirnya.
Ningsih mengerutkan wajah. "Sebagian mana?"
"Bagian yang membuat orang biasanya berhenti tersenyum."
Ibu Yustin tidak tertawa. Ia meletakkan jarum pentul dan menatap Kirana dengan tenang. "Kalau mereka baik, kamu tidak perlu menyembunyikan diri sampai hilang bentuk. Kalau mereka tidak baik, kamu juga tidak perlu membongkar dirimu untuk mereka injak."
Kirana menyerap kalimat itu pelan.
"Tapi aku tidak tahu harus membawa apa," katanya. "Aku tidak punya banyak uang. Kalau membawa buah, apakah terlalu biasa? Kalau tidak membawa apa-apa, kurang sopan."
Ningsih langsung antusias. "Bawa kue lapis. Aman. Semua ibu suka kue lapis."
"Tidak semua," kata Ibu Yustin.
"Bu Yustin suka?"
"Aku suka onde-onde."
"Berarti tetap kue."
Kirana hampir tersenyum.
Sepanjang hari, Ningsih memberinya nasihat yang sebagian berguna, sebagian membuatnya makin pusing. Jangan duduk sebelum dipersilakan. Jangan terlalu diam. Jangan terlalu banyak bicara. Pakai baju yang tidak terlalu mencolok tapi jangan seperti mau wawancara. Puji masakan ibu mertua, kecuali kalau tidak enak, tetap puji tapi jangan berlebihan.
"Bagaimana kalau ibunya bertanya kenapa aku menikah dengan Leon?" tanya Kirana.
Ningsih berhenti bercanda. "Jawab yang paling benar tapi paling aman."
"Apa itu?"
"Bahwa kalian sedang belajar saling menjaga."
Kirana mengulang kalimat itu dalam hati.
Malamnya, Leon pulang membawa bahan makanan dan kabar bahwa ibunya ingin datang akhir pekan.
"Datang ke sini?" Kirana berdiri dari meja.
"Iya. Aku pikir lebih nyaman daripada kamu datang ke rumah mereka."
"Kenapa?"
Leon meletakkan kantong belanja. "Karena ini tempatmu juga."
Kirana tidak langsung menjawab. Setelah percakapan semalam, kalimat itu seharusnya membuatnya curiga. Namun ada bagian dirinya yang diam-diam lega. Bertemu keluarga Leon di apartemen kecil mereka mungkin masih menakutkan, tetapi setidaknya ia tidak harus masuk ke rumah asing dengan semua mata mengukurnya.
"Kita masak?"
"Aku masak."
"Kamu yakin?"
"Nasi terakhir berhasil."
"Itu belum cukup untuk menyambut ibu."
"Aku bisa belajar."
Kirana mengambil kantong belanja dan melihat isinya. Ayam, tahu, sayur, bumbu dapur, dan beberapa bahan yang ia tidak yakin Leon tahu cara mengolahnya.
"Kamu mau masak apa?"
"Ayam kecap, sayur bening, tahu goreng, sambal matah."
"Sambal matah?"
"Aku menonton video."
Kirana menutup mata sebentar. "Kita mulai latihan besok."
"Kita?"
"Kalau ibumu keracunan, aku ikut malu."
Leon tersenyum tipis.
Malam itu, setelah mengecek kabar Nio dan menyiapkan pakaian kerja besok, Kirana duduk di ranjang dengan ponsel. Ia akhirnya mengetik kalimat yang tadi ia tahan.
Etika bertemu mertua pertama kali.
Hasil pencarian muncul terlalu banyak. Pakai pakaian sopan. Bawa buah tangan. Jangan membantah. Tunjukkan rasa hormat. Jangan bahas masalah keluarga.
Kirana membaca poin terakhir dan tertawa hambar.
Masalah keluarga adalah seluruh hidupnya.
Ia menggulir lagi, lalu berhenti pada artikel yang menyarankan menampilkan sisi terbaik diri tanpa berpura-pura menjadi orang lain. Kalimat itu mudah ditulis oleh orang yang tidak punya catatan kriminal di belakang namanya.
Pintu kamarnya diketuk.
"Kirana?"
Ia panik dan hampir menjatuhkan ponsel. "Sebentar."
Leon membuka pintu setelah ia mengizinkan. Matanya turun ke layar ponsel yang masih menyala.
Kirana langsung membalik ponsel. "Aku hanya membaca."
"Etika bertemu mertua?"
Wajah Kirana panas. "Kamu tidak lihat apa-apa."
"Tentu."
"Leon."
Ia mengangkat tangan tanda menyerah, tetapi matanya menyimpan tawa. "Aku mau bilang, Bunda tidak suka formalitas berlebihan."
"Semua orang bilang begitu sampai kita salah langkah."
"Dia suka orang yang jujur."
"Maka dia akan tidak suka padaku kalau aku terlalu jujur."
"Dia mungkin justru menyukaimu karena itu."
Kirana memandangnya, mencoba membaca apakah ia sedang menenangkan atau benar-benar yakin.
Leon bersandar di ambang pintu. "Besok kita belanja bersama. Kamu pilih buah tangan. Aku pilih bahan masakan."
"Aku harus kerja."
"Setelah kerja."
"Pasar malam?"
"Pasar pagi lebih segar."
"Aku kerja pagi."
"Aku sudah minta izin pada Ibu Yustin untuk kamu masuk siang."
Kirana langsung duduk tegak. "Kamu apa?"
"Meminta izin."
"Sebagai siapa?"
"Suamimu."
Kirana ingin marah, tetapi ponselnya bergetar. Pesan dari Ibu Yustin masuk: Besok masuk jam satu. Pilih buah yang bagus. Jangan panik.
Kirana menatap layar, lalu menatap Leon.
"Kalian semua berkomplot."
"Demi sambal matah yang tidak gagal."
Kirana akhirnya tertawa kecil meskipun gugup masih tinggal di dada.
Saat Leon pergi, ia kembali menatap hasil pencarian di ponsel. Untuk pertama kalinya, daftar etika itu tidak terlihat seperti hukuman. Mungkin bertemu keluarga Leon tetap menakutkan. Tetapi besok pagi, ia tidak akan menghadapinya sendirian.
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔