NovelToon NovelToon
SANG PENUAI NYAWA

SANG PENUAI NYAWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

Dibuang dan dicap sebagai ancaman oleh militer korup karena membangkitkan Morthas—Malaikat Maut Kelas Misterius yang arogan dan ditakuti sejarah—Kael Ardyn diselamatkannya oleh guild terlarang di luar dinding peradaban. Bersama tiga jiwa abnormal lainnya, Kael harus melatih ranah jiwanya di Lapisan Kedua yang mematikan. Ini adalah kisah persekutuan empat jiwa yang siap mengguncang hukum dunia yang korup!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PANGGILAN TUGAS

​BAB 9: PAGI YANG PENUH SEMANGAT DAN PANGGILAN TUGAS

​Waktu melesat pergi tanpa permisi. Sepuluh hari penuh telah berlalu sejak badai spiritual yang nyaris menghancurkan raga fisik Kael Ardyn di Aula Altar utama.

​Selama rentang waktu itu, kabin batu kuno miliknya menjadi saksi bisu keheningan total yang menyelimuti raga sang pemuda yang terlelap dalam pemulihan.

​Ketika sepasang kelopak matanya perlahan terbuka kembali menembus remang fajar Lapisan Kedua, manik mata gelap Kael berkilat dengan kejernihan yang jauh berbeda.

​Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan pasokan udara segar luar dinding mengisi paru-parunya tanpa ada lagi rasa sesak yang membakar pembuluh darah.

​Kael mendudukkan diri di tepi ranjang. Ia menatap punggung tangan kanannya, tempat simbol sabit kecil berwarna hitam kemerahan terukir samar di atas kulitnya.

​Pemandangan itu membawa memorinya kembali ke dimensi Void yang pekat.

​Momen saat bilah sabit merah menyala mengunci lehernya, hingga ketika Morthas akhirnya menurunkan keangkuhannya untuk menerima ikatan takdir sebagai rekan sejajar. Hubungan mereka kini tidak lagi berupa paksaan, melainkan jalinan takdir yang bertaut erat di dasar sukma.

​Lebih dari sekadar pulih, Kael bisa merasakan perubahan luar biasa di dalam dadanya. Aliran energi spiritual mengalir deras, padat, dan sangat stabil.

​Tekanan kolosal berbobot ribuan ton yang sempat dilepaskan Morthas di ruang Void ternyata tidak hanya menguji mentalnya, melainkan bertindak bagai tempaan palu godam purba yang memadatkan dinding wadah jiwanya.

​Tanpa perlu melalui proses meditasi yang rumit, Ranah Jiwa Kael telah meroket menembus batas awal, menduduki tingkat Puncak Perunggu dengan fondasi yang sangat kokoh.

​Setelah membasuh mukanya dengan air gunung yang dingin di sudut kamar, Kael merapikan jubah abunya yang bersih.

​Begitu ia mendorong pintu kayu kabinnya dan melangkah keluar menuju koridor batu, sebuah suara yang sangat familier dan sarat akan energi langsung menyergap indra pendengarannya.

​"Hei! Kau sudah bangun rupanya!"

​Kael menoleh dan mendapati Ren sedang berjalan ke arahnya.

​Pemuda berambut merah acak-acakan itu datang dengan pakaian latihan yang sedikit koyak di bagian lengan, memperlihatkan aura dinamis yang selalu melekat padanya.

​Melihat wajah familier yang selalu penuh gairah bertarung itu, Kael mengulas senyum tipis yang samar.

​"Ya, Ren," sahut Kael tenang.

​Ren melangkah mendekat, namun langkah kakinya mendadak terhenti dalam jarak dua meter. Sepasang matanya membelalak kecil, menatap Kael dari atas ke bawah sebelum akhirnya tangan kurusnya terayun kuat.

​Puk!

​Ren menepuk pundak Kael dengan keras hingga berbunyi debukan kecil.

​"Wah, luar biasa! Wadah jiwamu benar-benar gila!" seru Ren dengan mata berbinar penuh ketakutan sekaligus kekaguman.

​"Aku bisa merasakan getaran energi yang sangat padat dari tubuhmu. Kau sudah berada di tingkat Puncak Perunggu, bukan? Tekanan sisa dari Morthas di ruang Void kemarin benar-benar memberi manfaat besar untukmu!"

​Kael hanya mengangguk pelan, membiarkan Ren meluapkan keterkejutannya.

​Belum sempat Kael membalas, Ren sudah merangkul pundaknya dengan tidak sabar, membalikkan tubuh mereka berdua ke arah lapangan terbuka markas guild.

​"Ayo, jangan buang waktu lagi! Kebetulan sekali kau sudah pulih total," ajak Ren bersemangat.

​"Cepat ikut aku ke tempat latihan dan tunjukkan kepadaku seberapa kuat pergerakanmu sekarang. Aku sudah tidak sabar ingin berduel denganmu!"

​Ren menepuk dadanya sendiri dengan angkuh, cengiran lebarnya merekah.

​"Asal kau tahu saja, belakangan ini aku sudah tidak punya lawan yang sepadan di kelompok seumuran kita di guild ini!" bual Ren percaya diri.

​"Semua anak baru dan teman latihan sudah kuhabisi dan kukalahkan tanpa sisa! Hanya kau yang tersisa, Kael!"

​Mendengar bualan setinggi langit dari temannya, Kael tidak mendebat. Ia hanya membalas ucapan itu dengan senyuman tipis dan anggukan kasual.

​Di dalam benaknya, Kael justru teringat dengan jelas bagaimana pemandangan sepuluh hari lalu, di mana Ren berakhir tragis menjadi samsak hidup yang terkapar kelelahan dihantam gada kayu oleh para senior berperingkat Perak dan Emas.

​Namun, justru sifat keras kepala dan menolak putus asa itulah yang membuat Kael menaruh rasa hormat pada Ren. Pemuda rambut merah itu mungkin banyak membual, tapi jiwanya selalu bangkit kembali setiap kali dijatuhkan ke tanah.

​Mereka berdua berjalan berdampingan menyusuri koridor batu yang luas hingga akhirnya tiba di tepi lapangan latihan utama.

​Begitu menginjakkan kaki di tanah berpasir arena, sebuah pemandangan kacau sekaligus menggelikan langsung tersaji di depan mata mereka.

​Di tengah lapangan, sesosok pemuda tambun sedang berada dalam kondisi yang benar-benar tidak berdaya. Itu adalah Hugo.

​Di belakang punggung Hugo, wujud ilusi Morgrath—Mammoth Purba raksasa berbulu lebat—telah memanifestasikan diri dengan lapisan aura elemen tanah yang tebal.

​Morgrath menancapkan keempat kakinya yang besar ke bumi, membentuk kubah pelindung batu padat demi menahan gempuran yang datang bertubi-tubi.

​Namun pertahanan kokoh itu terus digoyang tanpa ampun. Di hadapan Hugo, berdiri dua sosok gadis yang bergerak dengan ritme yang sangat sinkron.

​Elena berdiri tegak dengan jubah abu-abunya, sementara di balik pundaknya, burung Phoenix purba Pyrael mengepakkan sayap berapi, menghujani kubah batu Hugo dengan bola-bola api merah yang meledak konstan dan menguapkan kelembapan udara di sekitarnya.

​Tidak sendirian, di samping Elena, ada seorang gadis berambut pendek dengan zirah ringan yang bergerak secepat kilat.

​Gadis itu memanggil seekor Anima Kelas Tinggi tipe serangan cepat berwujud seekor Cheetah.

​Dengan kecepatan kinetik yang luar biasa, bayangan ilusi Cheetah itu melesat melingkari pertahanan Hugo, mencakar dan membombardir setiap titik buta pertahanan Morgrath dari sisi kanan, kiri, dan belakang secara simultan.

​"Akkhhh! Cukup! Aku sudah tidak sanggup lagi, Elena!" teriak Hugo dari balik tameng batunya, suaranya terdengar merana dengan pelipis yang dipenuhi keringat.

​Jubah tambunnya sudah ternoda jelaga hitam di beberapa sudut.

​"Dan kau... Suna! Kenapa kau juga ikut-ikutan terus menyerang pertahananku tanpa henti dari tadi?!" ratap Hugo pasrah.

​Tepat saat Hugo melongokkan kepalanya dari balik gading ilusi Morgrath, sepasang mata bulatnya menangkap siluet Kael dan Ren yang sedang berjalan mendekat di tepi arena.

​Wajah tambunnya seketika berbinar seolah melihat seberkas harapan keselamatan yang turun dari langit.

​"Kael! Ren! Tolong bantu aku!" seru Hugo dengan volume suara yang sengaja dikeraskan, tangannya melambai panik.

​"Dua wanita gila di depan ini sejak fajar tadi sama sekali tidak membiarkanku beristirahat atau sekadar menarik napas!"

​Mendengar kata 'gila' keluar dari mulut polos Hugo yang tidak disaring, sepasang mata merah menyala milik Elena mendadak menyipit tajam.

​Urat kekesalan samar muncul di pelipis gadis api itu.

​"Kau bilang apa, Gendut?!" ketus Elena, nadanya sedingin es meskipun detik berikutnya aura api di sekitar Pyrael justru meledak berkali-kali lipat lebih panas.

​Dengan satu lambaian tangan yang anggun namun penuh ancaman, Elena meningkatkan intensitas jangkauan serangan Pyrael, mengirimkan gelombang ombak api horizontal yang langsung menghantam telak sisa-sisa kubah pelindung bumi milik Hugo.

​BOOOM! BAAAM!

​"Akkhhh! Panas! Panas! Ampun, Elena! Aku salah bicara!" jerit Hugo heboh.

​Ia melompat mundur dengan gerakan zig-zag yang menggelikan saat ujung jubah belakangnya kembali memercikkan asap hitam akibat sengatan hawa panas Phoenix.

​Melihat penderitaan dramatis si anak gendut di tengah lapangan, Ren yang berdiri di samping Kael tidak menunjukkan simpati sedikit pun.

​Pemuda rambut merah itu justru memegangi perutnya dan tertawa terbahak-bahak hingga tubuhnya membungkuk.

​"Hahaha! Lihat si Gendut itu! Morgrath miliknya sudah seperti bongkahan batu yang siap dipanggang menjadi barbecue! Hahaha!" gelak Ren lepas.

​Kael yang berada di tempatnya hanya bisa menggelengkan kepala pelan. Ia tidak bisa berbuat banyak untuk menolong Hugo jika sudah berhadapan dengan tabiat matriarkal Elena yang judes.

​Sudut bibir Kael terangkat tipis, menikmati atmosfer hangat yang organik ini—sesuatu yang tidak akan pernah ia temukan di dalam tatanan dingin Kerajaan Barat yang penuh kepura-puraan.

​Ren menyeka air mata akibat tawanya yang berlebihan, lalu menyenggol lengan Kael dengan siku, menunjuk ke arah gadis berzirah ringan yang kini sedang memerintahkan Cheetah-nya untuk memudar kembali ke dimensi jiwa.

​"Oh ya, Kael. Gadis yang di sebelah Elena itu namanya Suna," jelas Ren.

​"Dia adalah teman dekat Elena dan mereka berdua sangat sering menjalankan misi bersama di Lapisan Kedua. Formasi kombinasi serangan mereka sangat merepotkan."

​Kael memperhatikan Suna yang kini sedang berbincang kecil dengan Elena.

​Ren melanjutkan penjelasannya dengan nada yang sedikit lebih serius,

​"Anima tipe Cheetah milik Suna memang hanya berada di Kelas Tinggi biasa, bukan Kelas Anomali tingkat tinggi seperti Phoenix milik Elena atau Morthas milikmu."

​"Tapi jangan meremehkannya," tegas Ren.

​"Mekanik pergerakan dan kecepatan serangan murni miliknya sanggup membuat petarung dengan Ranah Jiwa di atasnya sekalipun kewalahan setengah mati jika kehilangan fokus."

​Kael mengangguk paham. Ia mencatat detail tersebut ke dalam benak analitisnya.

​Dunia luar dinding sekali lagi membuktikan bahwa kelas Anima bukan segalanya; keahlian taktis pengguna dan utilitas mekanik tetap memegang peranan penting dalam perpertarungan nyata.

​Pertunjukan latihan yang riuh itu tidak berlangsung lama. Dari arah koridor menara pengawas, langkah kaki yang teratur dari seorang utusan senior berperingkat Emas terdengar mendekat.

​Pria paruh baya itu berhenti di tepi lapangan latihan, memancarkan wibawa formal yang seketika membuat atmosfer santai di arena latihan sedikit mereda.

​Utusan senior itu mengedarkan pandangannya, lalu mengunci tatapannya tepat pada Elena dan Ren secara bergantian.

​"Elena. Ren Arkan," panggil sang senior dengan suara rendah namun bergaung tegas di seluruh sudut lapangan.

​"Grand Master Alden meminta kalian berdua untuk segera menghentikan aktivitas latihan dan langsung menghadap ke Aula Misi utama sekarang juga," instruksinya lugas.

​"Ada arahan penting yang harus segera disampaikan."

​Mendengar panggilan formal tersebut, sisa-sisa hawa panas di sekitar tubuh Elena lenyap seketika, berganti dengan ekspresi serius yang dingin.

​Di sampingnya, Ren yang tadinya sibuk tertawa langsung membungkam mulutnya. Kilatan gairah bertarung di mata pemuda rambut merah itu mendadak berubah menjadi fokus yang tajam.

​Mereka berdua tahu betul, panggilan ke Aula Misi berarti kedamaian harian di markas telah usai, dan lembaran tugas nyata di kerasnya alam liar luar dinding telah menanti untuk dibuka.

1
Aegis
punya kekuatan op, punya guru op😎
Aegis
buat selamat, masih harus bergantung pada orang lain🥴
Crimson
Gas pol
Crimson
ku vote ya /Good/
Kausafiksi.id: terimakasih abang kuh
total 1 replies
Crimson
Udah kyk adu pokemon aja /Grin/
Kausafiksi.id: 🤣🙏 siap abang kuh, tiba tiba dapat 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
total 3 replies
Anonim
cerita yang sangat menarik tidak pasaran
Anonim
cerita sangat menarik dan gak pasaran👍
Kausafiksi.id: terimasih nantikan kelanjutan nya
total 1 replies
WER
semangat kak membuat novel ya 😆👍👍👍
Kausafiksi.id: terimakasih 😁🙏
total 1 replies
Kausafiksi.id
updete sehari 2 kali ya teman teman.
Day Chuk
lanjut thor
Kausafiksi.id: terimakasih 🙏
total 1 replies
Dian Meilani
ceritanya menarik baru bab pertama, nanti kalo senggang aku mampir lagi ya kk.
Dian Meilani: yaa 👍
total 2 replies
Day Chuk
sangat menegangkan
Kausafiksi.id: iyakan 😁
total 1 replies
Day Chuk
chura apa thor
Kausafiksi.id: typo bang
total 1 replies
Day Chuk
di tunggu kelanjutan cerita nya ya
Kausafiksi.id: di usahain bang 🙏 terimaksih
total 1 replies
Day Chuk
kaya nya elena ada persaan salam kael nih 🫢
helena
lanjut thoomr✈️✈️
Kausafiksi.id: 🙏👍 siap kaka
total 1 replies
WER
semangat kak dan novel nya sukses Aamiin
Kausafiksi.id: sama sama suksek kak, aamiin
total 1 replies
WER
Thor apakah ada benih cinta di antara El dan kael pasti seru /CoolGuy/
Kausafiksi.id: Bisa kelihatan sih, sudah ada debar debar kaya nya si el
total 3 replies
WER
sabar El sabar orang sabar di sayang Tuhan 👍😆
Day Chuk: 🤣 galak amat ya cewe nya
total 2 replies
Muhammad Nur Septyawan
keren bang gua suka alur nya lumayan pas dan tidak basa basi👍
Kausafiksi.id: terimakasih bang, di bab 12 kesana baru baku hantam nya 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!