"Abi, tolong lamarin Kak Kafa untuk aku."
"Dara, kamu sadar gak kalau kamu itu perempuan?"
"Sadar, kenapa memang?"
"Ya mana ada perempuan yang meminta ayahnya untuk melamar seorang laki-laki untuk dirinya sendiri seberani itu?"
"Ada, dan itu aku."
***
"Kak Kafa, nikah yuk!"
"Kamu belum capek?"
"Tidak akan pernah capek."
Andara (20) si gadis cegil yang selalu terang-terangan mengatakan bahwa ia mencintai Kafa (30). Ia tidak akan berhenti sampai mendapatkan cinta sang Kakak.
Kafa adalah anak angkat dari Azzam dan Aira, orang tua kandung Andara.
Apakah Andara bisa mendapatkan hati dan cinta Kafa?
Awalnya tidak, namun takdir memihak Dara.
***
"Abi, aku akan menikahi Andara. Aku akan menyembuhkan segala traumanya."
Baca terus kisah mereka... Novel ini spin off dari buku 'Penawar Luka Aira'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghibur Andara
"Andai mereka melihatmu dengan mataku, mungkin mereka tidak akan berhenti mencintaimu."
- Azlan Sameer Khateer -
***
"Dara, tunggu!"
Andara terus berlari tanpa tujuan. Biasanya, baru beberapa ratus meter saja ia sudah kehabisan napas. Namun kali ini berbeda.
Sesak di dadanya jauh lebih menyiksa daripada rasa lelah di kakinya.
"Dara!"
Azlan akhirnya berhasil menyusul. Ia menangkap pelan lengan Andara hingga gadis itu berhenti berlari.
"Hah..." Azlan mengatur napasnya. "Tumben lo bisa lari sejauh ini. Kalori lo langsung kebakar."
Andara mengusap kasar sisa air matanya. "Gue lagi nggak mood bercanda, Azlan."
"Oke, oke." Azlan langsung mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Sorry. Gue nggak bakal nanya kenapa."
Andara menatapnya sekilas. "Tumben."
"Soalnya udah ketebak. Paling gara-gara Kak Kafa, kan?"
Wajah Andara langsung berubah. "Jangan sebut nama dia."
Azlan sampai mengangkat kedua alisnya. "Widih.... Tumben. Biasanya nama laki-laki itu jadi topik wajib setiap hari. Kok sekarang dilarang?"
Andara memutar bola matanya malas. "Cerewet."
Azlan tersenyum kecil. Ia sengaja melontarkan candaan ringan. Setidaknya, walau hanya sebentar, Andara berhenti menangis.
"Jadi..." Azlan memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Lo mau ikut gue nggak? Gue jamin lo pasti suka ya hitung-hitung bikin sedih lo berkurang."
"Ke mana?"
"Rahasia."
Andara mendengus pelan. "Naik apa?"
"Naik angkot."
Andara langsung menoleh. "Hah?"
"Iya. Mau naik apalagi? Gue juga nggak mungkin balik ke kampus buat ambil mobil. Udah jauh gini, Dar."
"Boleh sih tapi mobil lo gimana?"
"Nginep dulu di parkiran kampus. Besok tinggal gue ambil."
Andara terkekeh. "Gaya banget anak Umi."
Azlan ikut tertawa. "Hahaha, makanya."
"Mau ikut, kan?"
"Siap! Kita habiskan waktu bareng, Lan."
Azlan menunjuk ke arah jalan raya. "Nah, itu angkotnya. Yuk."
Begitu angkot berhenti, Azlan mempersilahkan Andara lebih dulu. "Ladies first."
Andara tersenyum lalu naik terlebih dahulu. Azlan menyusul dan duduk di sampingnya. Keadaan angkot hanya ada dua orang yang naik.
Baru beberapa detik angkot berjalan, Andara menepuk dahinya pelan.
"Eh, Lan."
"Hm?"
"Gue nggak bawa uang tunai, loh. Masih di ATM."
Azlan terkekeh. "Tenang. Ada gue, Andara.... Lo kaya sama siapa aja sih."
Andara tertawa. "Iya, iya. Lo emang the best banget deh jadi sahabat."
Senyum Azlan perlahan memudar. "Sahabat... ya?"
"Iya lah."
Andara sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi Azlan.
"Oh iya, Lan. Gimana sama teman-teman kita yang lain?"
"Nanti gampang." Gue hubungin di grup."
"Oke."
Suasana kembali hening beberapa saat. Melihat Andara masih tampak murung, Azlan kembali mencari cara untuk menghiburnya.
"Dar."
"Hm?"
"Lo tahu nggak bedanya angkot sama hubungan kita?"
"Apa?"
"Angkot ada tujuan akhirnya. Hubungan kita nggak."
Andara mengernyit. "Lah, emang hubungan kita apa?"
"Persahabatan."
Andara spontan memukul pelan lengan Azlan menggunakan tasnya. "Ih! Gue kira mau ngomong yang dalem."
Azlan tertawa puas. "Hahaha. Kalau ngomong dalem nanti lo nangis lagi."
Andara ikut tertawa. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan kampus, tawanya terdengar lepas.
"Gue baru pertama kali naik angkot."
"Ya iyalah. Lo dari dulu selalu dianter-jemput sopir."
"Iya. Tau tuh Abi gue padahal gue bisa naik kendaraan umum."
Azlan tersenyum kecil. "Itu bukan nggak percaya sama lo. Abi lo cuma pengin jagain putri semata wayangnya."
Andara memandang ke luar jendela. "Iya juga sih."
Angkot terus melaju membelah jalanan kota. Pedagang kaki lima, lampu merah, dan kendaraan yang berlalu-lalang menjadi pemandangan di sepanjang perjalanan.
Diam-diam Azlan melirik gadis yang duduk di sampingnya. Melihat Andara kembali bisa tersenyum membuat hatinya sedikit lega.
Meski ia tau... Senyum itu belum sepenuhnya menghapus luka yang ditinggalkan Kafa.
Azlan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Dalam hati, ia kembali berdoa. "Ya Allah... kalau memang aku bukan takdirnya, setidaknya izinkan aku menjadi orang yang selalu ada saat ia terluka. Walau hanya sebagai sahabat, jangan biarkan ia merasa sendirian."
Sementara itu, di kafe...
Kafa masih berdiri mematung di depan pintu. Tatapannya tidak lepas dari arah Andara berlari. Sampai sosok gadis itu benar-benar menghilang dari pandangannya.
Ia mengembuskan napas panjang. Dadanya terasa sesak.
Ia tau... Air mata Andara jatuh karena ucapannya.
"Kamu bukan siapa-siapa Kakak."
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Ia ingin mengejar Andara. Ingin menjelaskan bahwa bukan itu maksudnya. Ingin memastikan gadis itu baik-baik saja. Namun langkahnya terhenti.
Di dalam Cafe masih ada Giska. Ia tidak mungkin meninggalkannya begitu saja. Setidaknya, ia harus pamit.
Dengan langkah berat, Kafa kembali masuk ke dalam kafe.
Ia menghembuskan napas panjang kala mengingat Azlan langsung berlari menyusul Andara.
"Sekarang... yang menghiburnya bukan aku."
Entah mengapa, pikiran itu membuatnya tidak tenang. Ia mengusap wajahnya pelan sebelum akhirnya menghampiri meja.
Teman-teman Andara yang masih berada di sana langsung berdiri canggung.
"Maaf ya, Gis."
Giska menggeleng pelan. "Nggak apa-apa."
Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya bertanya, "Tadi... Andara kenapa, Kaf?"
Kafa memaksakan senyum tipis. "Dia cuma lagi ngambek aja. Nanti juga baikan."
Giska mengangguk, meski dalam hati ia merasa jawaban itu tidak sepenuhnya benar. Tangisan Andara tadi bukanlah tangisan orang yang sekadar mengambek. Namun ia memilih tidak ikut campur.
"Yaudah, Kaf. Aku ke kampus dulu. Sebentar lagi masuk kelas."
"Iya, Gis. Hati-hati."
Giska tersenyum tipis. "Terima kasih ya buat hari ini."
"Sama-sama."
Sebelum pergi, Giska menoleh kepada kelima mahasiswa yang masih berdiri kikuk. "Saya ke kampus dulu, ya."
"Iya, Bu. Hati-hati." jawab mereka hampir bersamaan.
Setelah Giska pergi, suasana di meja itu menjadi hening. Kafa mengusap pelan tengkuknya. Ia menatap Azlan dan Andara yang tadi sudah tidak terlihat lagi.
"Kak..." Nuha akhirnya memberanikan diri membuka suara. "Kami boleh ngomong sesuatu?"
Kafa mengangguk pelan. "Boleh."
Zuleykha saling pandang dengan Nuha sebelum berkata hati-hati, "Dara itu... mungkin kelihatannya kuat. Tapi sebenarnya dia gampang banget nangis. Apalagi kalau tentang Kakak."
Vano ikut mengangguk. "Selama ini dia selalu ketawa kalau ditolak. Tapi hari ini... Kami baru pertama kali lihat dia nangis sampai lari begitu."
Kafa menundukkan kepalanya. "Saya tau."
Suara laki-laki itu terdengar pelan. "Dan... itu salah saya."
Kelima sahabat Andara saling berpandangan. Mereka baru pertama kali melihat Kafa mengakui hal itu secara langsung.
***
"Kok lo bawa gue ke sini, Lan?"
Andara menatap sekeliling dengan wajah terkejut. Di hadapannya berdiri sebuah taman baca sederhana yang begitu ia kenal. Tempat yang hampir setiap hari Jumat ia datangi sejak masa putih abu-abu. Tempat ia mengajari anak-anak jalanan membaca, menulis, dan berhitung.
Tempat ia membeli dagangan anak-anak kecil maupun UMKM sederhana, lalu membagikannya kepada orang-orang yang membutuhkan.
Ia menoleh cepat ke arah Azlan. "Lo tau dari mana tempat ini?"
Azlan hanya tersenyum tipis. Belum sempat menjawab, terdengar suara riang dari arah dalam taman baca.
"Kak Andaraaaa!" Beberapa anak berlarian menghampiri.
Mereka langsung memeluk pinggang Andara bergantian. Azlan pun mengurungkan niatnya menjawab pertanyaan tadi.
Senyum Andara yang sempat hilang perlahan kembali muncul.
"Kak Andara ke mana aja?"
"Iya, Kak."
"Kita kangen."
Andara mengusap kepala salah satu anak dengan penuh sayang. "Maaf ya..Kakak lagi sibuk kuliah..Gimana kabar kalian?"
"Kita semua baik, Kak. Belajar juga rajin."
"Iya dong."
Andara tertawa kecil. "Anak-anak pintar."
Seorang anak laki-laki kecil menarik ujung gamis Andara. "Kak."
"Hm?"
"Kata Bu Rina, Kakak udah dua minggu nggak datang."
"Iya. Kakak minta maaf. Nanti Kakak sering-sering ke sini lagi."
"Asyik!" Sorak anak-anak serempak.
Azlan berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Tangannya masuk ke saku celana sambil memperhatikan Andara.
Baru beberapa menit yang lalu gadis itu menangis hebat. Namun sekarang... Tatapannya kembali hangat. Senyumnya kembali tulus. Ia benar-benar berbeda ketika berada di tengah anak-anak.
"Lan!" Suara Andara membuyarkan lamunannya.
"Iya?"
"Sini."
"Malu ah."
"Cepetan."
Azlan mendekat. Andara langsung memperkenalkannya.
"Adik-adik. Ini sahabat Kakak. Namanya Kak Azlan."
Anak-anak serempak melambaikan tangan. "Halo, Kak Azlan."
Azlan membalas dengan senyum lebar. "Halo semuanya."
Seorang anak perempuan kecil tiba-tiba bertanya polos, "Kak Azlan suaminya Kak Andara ya?"
Azlan langsung tersedak ludahnya sendiri. "Hah?"
Sementara Andara spontan tertawa. "Bukan dong..Dia sahabat Kakak."
"Oh..." Anak kecil itu mengangguk lugu. "Soalnya Kak Azlan ganteng. Dan tadi ngelihatin Kak Andara terus."
Ucapan polos itu membuat pipi Azlan memanas. Beberapa anak lain ikut mengangguk.
"Iya. Tadi dari sana aja Kak Azlan senyum terus."
Andara menoleh jahil. "Oalah... Pantesan."
Azlan langsung menggaruk tengkuknya gugup.."Kalian ini... Belajar siapa yang ngajarin ngomong begini?"
Anak-anak tertawa riang. Melihat tawa Andara yang kini jauh lebih lepas, Azlan ikut tersenyum.
Baginya... Tidak masalah jika perasaannya tetap menjadi rahasia. Asal hari itu, Andara bisa kembali tersenyum seperti sekarang.
***
"Huwaaa... gue seneng banget, Lan, main sama mereka."
Andara melambaikan tangan ke arah anak-anak yang masih berdiri di depan taman baca.
Setelah mereka masuk kembali ke dalam, Andara mengembuskan napas panjang lalu duduk di bangku kayu yang berada di bawah pohon rindang.
"Cape juga ternyata."
Azlan ikut tersenyum melihat wajah Andara yang kini jauh lebih cerah dibanding beberapa jam yang lalu.
"Gue nggak nyangka lo bisa sedekat itu sama anak-anak, Dar."
Andara membusungkan dada bangga. "Iya dong."
Azlan langsung tersenyum jahil. "Ya iyalah. Lo kan emang kayak bocah. Jadi wajar akrab sama sesama bocah."
"Haiiissh!" Andara spontan memukul pelan lengan Azlan menggunakan penggaris kayu yang tadi dipakainya mengajar. "Gue udah dewasa!"
"Iya... iya..." Azlan tertawa sambil mengusap lengannya. "Dewasa. Tapi kalau ngambek masih kayak anak TK."
"Ish!" Andara kembali mencubitnya. "Kenapa sih hobi banget ngeledekin gue?"
"Soalnya lucu."
"Ck." Andara mendengus pelan, lalu wajahnya kembali berubah penasaran.
"Lan."
"Hm?"
"Kenapa lo bisa tau tempat ini?"
Azlan terdiam beberapa detik. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Gue lernah ngikutin lo."
Andara langsung menoleh cepat. "Hah? Ngikutin gue Maksudnya?"
Azlan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Lo inget nggak? Dulu waktu SMA... Setiap hari Jumat lo selalu buru-buru pulang."
Andara mengangguk pelan. "Iya."
"Tapi anehnya... Lo buru-buru pulang, tapi sampainya malah selalu paling telat terus Bunda lo sering nanya ke gue. 'Azlan, benar kalian kerja kelompok?' Gue selalu jawab, 'Iya, Tante.'"
Azlan terkekeh pelan. "Jadinya gue ikut bohong demi lo. Gue pikir,.lo diam-diam ketemu Kak Kafa. Atau jangan-jangan punya kegiatan lain yang nggak gue tau. Tapi lama-lama gue ngerasa aneh."
"Aneh kenapa?"
"Karena setiap Jumat alasannya selalu sama."
"Jadi gue ikutin lo."
Andara masih menatap Azlan tanpa berkedip. "Terus?"
Azlan tersenyum kecil, mengingat kejadian beberapa tahun lalu. "Awalnya gue pikir lo punya pacar."
Andara langsung memukul pelan lengan Azlan. "Apaan sih! Kan gue nggak pernah pacaran."
"Nah... Makanya gue penasaran. Pas gue ikutin, gue malah lihat sesuatu yang nggak pernah gue bayangin."
"Apa?"
"Gue lihat seorang Andara yang diam-diam beli gorengan, minuman, sama dagangan anak-anak kecil sampai habis. Andara yang ngajarin mereka baca, ngajarin mereka nulis, ngajarin mereka berhitung. Terus makanan yang lo beli malah lo bagiin lagi ke orang lain."
Azlan menoleh ke arah Andara. "Waktu itu gue benar-benar kaget. Karena selama ini lo nggak pernah cerita ke siapa pun."
Andara hanya tersenyum kecil. "Gue nggak merasa itu perlu diceritain."
"Kenapa?"
"Karena kalau kebaikan diceritain terus takutnya bukan lagi buat Allah. Tapi buat dipuji orang."
Azlan terdiam. Jawaban itu kembali mengingatkannya pada alasan mengapa ia jatuh hati kepada gadis di sampingnya.
"Bahkan sopir lo juga nggak pernah cerita."
"Iya."
"Soalnya gue memang minta beliau buat nggak bilang siapa-siapa." Andara mengangkat bahu pelan. "Gue cuma pengin mereka senang, nggak lebih. Gue hidup dengan berkecukupan. Sedangkan mereka? Untuk bertahan hidup aja pasti susah kan. Buat sekolah aja mereka gak bisa."
Azlan tersenyum tipis. "Dar."
"Hm?"
"Lo tau nggak?"
"Apa?"
"Salah satu alasan gue suka..."
Kalimat itu terhenti di tenggorokan. Beberapa detik Azlan terdiam, lalu mengembuskan napas pelan.
"Bukan. Salah satu alasan gue bangga punya sahabat kayak lo ya karena ini."
Andara tersenyum lebar. "Yaelah. Gue kira mau ngomong apaan."
Azlan ikut tertawa kecil. "Iya. Hampir aja."
Dalam hatinya, Azlan melanjutkan kalimat yang tak pernah berani ia ucapkan. "Salah satu alasan gue jatuh cinta sama lo... adalah karena lo selalu berbuat baik tanpa pernah ingin diketahui siapa pun."
Ia menatap Andara sekilas. Gadis itu sedang tersenyum menatap anak-anak yang kembali belajar di dalam taman baca. Senyum itu begitu tulus.
Azlan kembali mengalihkan pandangannya. Ia sadar... Selama sepuluh tahun, hati Andara hanya dipenuhi satu nama.
Muhammad Kafa Athalla.
Dan selama itu pula, ia memilih menjadi penonton. Menyimpan cintanya sendiri, sambil diam-diam menjaga gadis yang tak pernah melihatnya lebih dari sekadar seorang sahabat.
Sementara di tempat lain...
Kafa sudah berkali-kali mencoba menghubungi Andara.
Satu kali.
Dua kali.
Lima kali.
Bahkan hingga belasan kali. Namun tak satu pun panggilannya dijawab. Pesan yang ia kirim pun hanya centang dua tanpa balasan. Saat ia mencoba menelepon lagi, terdengar suara operator.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi."
Kafa mengembuskan napas panjang. "Dimatikan..." gumamnya pelan.
Ia tau. Andara sengaja menghindarinya. Sejak tadi, Kafa sudah berkeliling ke beberapa tempat yang biasa didatangi gadis itu.
Kampus. Perpustakaan. Kafe favoritnya. Bahkan taman tempat mereka sering mengobrol. Namun hasilnya tetap nihil.
Ia sebenarnya enggan menghubungi Azlan. Bukan karena tidak percaya. Melainkan karena merasa tidak enak. Namun rasa khawatirnya kepada Andara jauh lebih besar.
Akhirnya ia menekan nama Azlan di layar ponselnya. Beberapa detik kemudian... Panggilan tersambung.
"Assalamu'alaikum, Azlan."
"Wa'alaikumussalam, Kak."
"Ada apa?"
"Kamu sedang sama Andara?"
Di ujung sana, Azlan terdiam beberapa saat. Ia melirik Andara yang saat itu sedang asyik membantu anak-anak membereskan buku.
Andara yang menyadari Azlan sedang ditelepon hanya menggeleng pelan sambil memberi isyarat agar tidak memberi tau keberadaannya.
Azlan menarik napas pelan. "Maaf, Kak. Aku udah pulang."
"Lalu Andara?"
"Udah pulang juga."
Hening beberapa detik.
"Oke. Terima kasih, Azlan."
"Iya, Kak."
Panggilan pun berakhir. Azlan menatap layar ponselnya cukup lama. Rasa bersalah mulai muncul di hatinya.
"Ck... Kenapa lo nyuruh gue bohong sih, Dar?"
Andara yang sedang menyusun buku menoleh. "Udah deh. Gue lagi males ketemu dia. Mood gue udah mulai baik."
Azlan hanya menghela napas. "Kalau nanti Kak Kafa tau?"
"Yaudah. Dimarahin juga nggak apa-apa."
Belum sempat Azlan membalas, terdengar suara ribut disertai isak tangis dari sebuah rumah kecil yang letaknya tak jauh dari taman baca.
"Ya Allah... anak saya..."
"Tolong... tolong cari anak saya..."
Andara dan Azlan saling berpandangan.
"Kenapa ada ribut-ribut, ya, Dar?"
Andara langsung berdiri. "Gak tau. Kesana aja yuk, Lan."
Tanpa berpikir panjang, keduanya berlari menuju asal suara. Semakin dekat, suasana semakin ramai. Beberapa warga sudah berkumpul di depan rumah sederhana bercat hijau yang tampak mulai kusam.
Di tengah kerumunan, seorang perempuan paruh baya terduduk lemas sambil menangis.
"Tolong cari anak saya... Anak saya hilang sudah dua hari..."
"Sabar, Bu."
"Udah lapor ke polisi belum?" tanya salah seorang tetangga berusaha menenangkan.
Andara menghentikan langkahnya. Matanya langsung membulat.
"Itu... Itu Bu Saropah."
Azlan menoleh. "Lo kenal?"
Andara mengangguk. "Kenal. Anaknya, Riri, suka jualan bunga di lampu merah. Gadis kecil yang sering bantu ibunya cari nafkah."
Tanpa ragu Andara menerobos kerumunan. "Permisi... Bu..."
Bu Saropah yang masih menangis mengangkat kepalanya. Matanya langsung berkaca-kaca saat melihat Andara.
"Non Dara..." Suara perempuan itu bergetar. "Riri hilang, Non. Sudah dua hari... Ibu udah cari ke mana-mana yapi nggak ketemu."
Air mata kembali jatuh membasahi pipinya. "Ibu udah ke kantor polisi. Tapi mereka bilang mungkin Riri cuma pergi main. Ibu udah bilang Riri nggak mungkin begitu. Anak ibu nggak pernah pulang lebih dari magrib. Tapi mereka kayak nggak percaya sama ibu..."
Andara berjongkok di hadapan Bu Saropah. Dengan lembut ia menggenggam kedua tangan perempuan itu.
"Ibu... Sekarang ibu tarik napas dulu. Kita pelan-pelan, ya. Saya akan bantu semampu saya. Yang penting ibu tenang dulu."
Bu Saropah mengangguk sambil terisak. Andara mengambil sebotol air mineral yang diberikan Azlan lalu menyodorkannya.
"Minum dulu, Bu."
Setelah keadaan Bu Saropah sedikit lebih tenang, Andara kembali bertanya dengan suara yang lembut namun serius.
"Coba ibu ceritakan dari awal terakhir kali ibu lihat Riri kapan?"
Bu Saropah mengusap air matanya. "Dua hari yang lalu, Non. Sehabis pulang sekolah, dia jualan bunga seperti biasa. Katanya mau ke lampu merah dekat jalan raya. Ibu sempat bekelin nasi."
"Terus?"
"Biasanya jam empat sore dia pulang. Tapi hari itu sampai malam nggak pulang. Ibu kira dia main sama teman-temannya besoknya juga nggak ada. Ibu cari ke semua tempat yang biasa dia datangi. Ke taman baca, ke pasar, ke lampu merah. Bahkan ke rumah teman-temannya. Tapi nggak ada yang tau."
Andara mulai mengernyit. "Riri umur berapa sekarang, Bu?"
"Sembilan tahun."
"Dia jualan sendiri?"
"Iya kadang sama anak-anak lain. Tapi hari itu kata teman-temannya Riri sempat didatangi seorang laki-laki."
Andara dan Azlan saling berpandangan. "Laki-laki?"
"Iya."
"Tapi mereka nggak kenal. Dia katanya ngajak Riri ngobrol. Habis itu teman-temannya juga nggak tau lagi."
Suasana mendadak hening. Wajah Andara yang semula lembut kini berubah serius. Sementara Azlan tanpa sadar mengepalkan tangannya.
Firasaat buruk mulai memenuhi hati mereka. Kalau benar Riri sudah hilang selama dua hari... Maka setiap menit yang terlewat bisa menjadi sangat berarti.
mntapkn hti kamu dar,kamu juga brhak bhgia
selicik itu mmang Tristan ya ,dia lbih dulu mngmbil hati Azzam untuk mlncarkn rncan nya .smoga aja sellu DLAM lindungan Allah SWT 🥰