Novel ini aku tulis berdasarkan kisah nyata dari seseorang, tapi disini aku menambahkan sedikit ceritanya..
Namaku Melati, aku memiliki seorang sahabat , Lani namanya, yang sudah ku anggap seperti saudara sendiri.
Tapi Lani dengan teganya mengkhianati aku. Ia menikah dengan suamiku secara diam diam.
Marah... benci dan kecewa... itu yang aku rasakan ketika aku mengetahui pengkhianatan suami dan sahabatku.
Aku mencoba bertahan dengan menerima Lani sebagai maduku karena ia lagi mengandung anak dari suamiku.
Akankah aku sanggup bertahan selamanya atau aku pergi meninggalkan suami dan sahabatku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua puluh dua
Willy sampai dirumah ketika malam harinya. Ia melihat mobil mamanya terparkir. Ia mendekati mobil mamanya. Mama Willy keluar dari mobil.
"Sedang apa mama di sini.. "
"Mama ingin bertemu Melati... ternyata dari tadi mama mengetuk ia tak mau membuka pintu. Istri mu ini tak ada sopan santunnya"
"Buat apa lagi mama menemui Melati. Tak cukup apa yang mama lakukan tadi pagi.. "
"Mama hanya ingin minta sedikit pengertiannya, jangan pernah melarangmu menemui Lani apalagi meminta kamu menceraikan lagi karena ia lagi mengandung anakmu... "
"Cukup ma.. ini urusan rumah tanggaku, mama jangan lagi ikut campur. Bukankah aku sudah menuruti maunya mama untuk menikahi Lani "
"Itu memang harus kamu lakukan... bukankah Lani lagi mengandung anakmu, jangan mau berbuat saja tapi tak mau bertanggung jawab"
"Sudah ma.. jangan buat aku berkata kasar dengan mama"ucap Willy Dan membuka pintu dengan kunci yang ada ditangannya.
Mama mengikuti Willy dari belakang. Willy langsung mencari Melati ke kamar, ke dapur dan setiap sudut rumah, tapi ia tak dapat menemui Melati.
Willy terduduk di lantai sambil menarik rambutnya frustrasi..
"Ini salah mama.. jika terjadi sesuatu dengan Melati dan Nabila"
"Mengapa kamu menyalahkan mama, bukankah mama hanya menyampaikan kebenaran... "
"Ma.. aku bisa mengatakan semuanya jika waktunya tepat. Nabila masih kecil. Kemana Melati membawa nya pergi"
"Jika terjadi sesuatu dengan Nabila itu salah Melati bukan mama, sudah tahu anak masih kecil dibawa bawa. Jika tak bisa menjaga dan merawat anak, Melati bisa berikan Nabila pada Lani.. Lani bersedia menjaga dan merawat Nabila seperti anak kandungnya, Lani sudah janji itu jika Melati minta cerai. "
"Ma... cukup. Tinggalkan aku sendiri. Aku lagi tak ingin diganggu"
"Kamu... sejak menikah dengan Melati selalu membantah perkataan mama.. itulah yang juga menjadi alasan mama tidak pernah menyukai Melati"
"Ma.. apa salah Melati pada mama,ia selalu berusaha menjadi menantu yang baik. Tapi mama yang tak pernah bisa menerima kehadirannya. Mama yang telah meracuni pikiranku untuk menduakan Melati"
"Jangan mengkambing hitamkan mama.. kamu memang ingin menduakan Melati karena ia memang tak becus jadi seorang istri, tanpa sadar kamu menyadari kelebihan Lani sehingga kamu menerimanya masuk kekehidupan kamu.. "
"Aku mau pergi... mama sebaiknya pulang"
"Mau kemana kamu... jika memang Melati pergi meninggalkan kamu, itu berarti ia tak menginginkan kamu lagi.. kamu bisa menceraikannya.. "
"Aku tak akan pernah menceraikan Melati.. itu yang harus mama ingat... "
"Dasar keras kepala.. mama nggak tahu apa yang telah Melati lakukan padamu sehingga kamu menjadi bodoh seperti ini. Dan kamu juga perlu ingat.. jangan pernah kamu berpisah dengan Lani... mama tak akan pernah menganggap kamu anak jika kamu pisah dengan Lani... "
Mama meninggalkan rumah Willy dengan kesal. Setelah mamanya pergi, Willy pun ikut pergi. Ia tahu kemana Melati berada saat ini.
"Melati.. maafkan aku.. Aku tahu kamu sekarang pasti ada dirumah bunda. "
Willy mengendarai mobilnya menuju rumah bunda. Ia melihat lampu dirumah itu menyala. Untung ia memiliki kunci rumah bunda.
Willy membuka pintu dengan pelan dan berjalan dengan pelan juga. Ia masuk ke kamar biasanya Melati tidur. Tapi ia tak melihat Melati. Willy mencari ke kamar bunda.
Melati tampak terduduk dilantai dengan kepala berada ditepi tempat tidur. Ia melihat air mata Melati yang masih mengalir dipelupuk matanya. Willy masuk perahan dan langsung memeluk Melati.
"Melati maafkan aku... aku memang salah. Kamu berhak marah dan mencaci aku.. lakukan apa yang membuat kamu senang"
Melati membuka matanya. Dan melepaskan pelukan Willy.
"Pergilah mas... aku masih ingin sendiri"ucapnya dengan terisak
Willy langsung bersujud dan memeluk kaki Melati.
"Melati.. jangan pernah mengusirku atau pergi dariku.. aku mohon ampun atas kesalahanku "
"Berdirilah mas.. aku bukan Tuhan yang harus kamu sembah. Jika memang kamu merasa bersalah kamu bisa minta ampun pada Tuhan bukan padaku... "
"Melati.. marahlah dan pukullah aku atau caci maki aku.. lepaskanlah semua kekesalan dan kemarahanmu padaku.. jangan diam begini"
Melati memandangi Willy dengan air mata yang terus mengalir. Tapi ia hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah Katapun. Hanya air mata dan isak tangisnya yang terdengar.
"Apa kamu pikir dengan aku marah atau memaki kamu, sakit hatiku hilang. Aku sudah terlalu kecewa dan sakit hati. Tak ada kata yang bisa dan pantas aku ucapkan untukmu. Aku tak mau membuat luka hati bertambah jika aku mengatakan sesuatu dan jawaban mu ternyata tak pernah aku inginkan.. "
Melati naik ketempat tidur dan memeluk Nabila.
"Sayang... jangan diam begini. Jangan buat aku tambah merasa bersalah. Kamu bisa mengatakan apa yang ingin kamu katakan"
"Aku ingin kita pisah mas.. pergilah.. tinggalkan aku berdua dengan Nabila"
"Aku tak akan pernah menceraikan kamu. Aku sudah janji dengan bunda tak akan pernah meninggalkan kamu, aku juga janji dengan bunda untuk hidup denagnmu selamanya.. "
"Bunda sudah tiada mas.. ia tak akan bisa menuntut kamu. Jadi mas tak perlu menepati janji mas.. "
"Tidak Melati.. walau kamu akan membunuh aku... aku tak akan pernah meninggalkan kamu dan berpisah denganmu"
"Apa kamu ingin melihat aku gila baru kamu mau berpisah denganku... "ucap Melati masih terisak
"Melati.. jangan pernah berkata begitu. Aku sangat mencintaimu. Apa yang harus aku lakukan agar kamu tak marah lagi. Apa yang ingin kamu minta agar kamu tak kecewa lagi"
"Tinggalkan aku... "
"Melati... aku sudah katakan jika itu maumu aku tak akan pernah mengabulkannya... "
Melati sudah tak bisa menahan lagi ia duduk ditepi ranjang dan memandangi Willy dengan sedikit emosi.
"Sebenarnya apa mau kamu mas. Kamu ingin membuat hatiku bertambah sakit dan terluka. Mengapa kamu tidak melepaskan aku, biar kamu bisa bebas dengan Lani. Aku sudah terbiasa hidup sendiri mas. Kamu jangan egois.. aku juga manusia biasa yang bisa sakit hati dan marah.. aku tak bisa membagi cintaku mas. Lebih baik aku melepaskan kamu"
"Melati aku tahu aku salah dan telah menyakiti hatimu.. maafkan aku"
"Apa kamu kira dengan kata maaf bisa menyelesaikan semuanya. Apa kamu tak pernah pikirkan rasa sakit hatiku ketika kamu mulai bermain api dengan Lani. Aku sakit mas... sakit.. apa lagi yang mengkhianati aku orang orang yang aku sayangi.. kamu dan Lani.. orang yang aku anggap bisa tempat aku bersandar dan berlindung, karena aku sudah tidak memiliki siapa siapa lagi.. tapi dengan teganya kalian menusukku dari belakang. Apa kalian tak tahu sakit yang aku rasakan saat ini lebih dari kalian membunuhku...."
"Melati.. aku akan menceraikan Lani setelah ia melahirkan.. karena saat ini aku tak boleh menceraikannya.. ia lagi hamil"
"Aku tak meminta kamu menceraikannya.. tapi aku yang minta kamu ceraikan"
"Melati dengar baik baik... sampai menangis darahpun kamu meminta cerai aku tak akan pernah menceraikan kamu. Aku tak peduli dibilang egois tapi aku akan tetap mempertahan kamu.. "
Willy terduduk kembali dilantai kamar. Melati hanya diam dan tidur membelakangi Willy. Ia sangat lelah dan tak ingin berdebat saat ini karena malam sudah larut.
***************************
Terima kasih buat semua pembaca setia novel ini. Mampir juga ke karya novel aku yang lainnya ya dengan nama pena Mama Reni
ternyata ada ya, kisah nyata yg mirip kisah halu di dunia pernovelan..
ternyata main ku kurang jauh, hehehe..
semua memang telah ditakdirkan dan kita hanya tinggal menjalankan..
tetapi dalam menjalani kehidupan, kita jg diberi kesempatan untuk memilih mana jalan yg akan kita tempuh..
jadi walau semua telah ditakdirkan, tetapi kita jg tetap punya andil dalam memilih jalan yg akan dilalui..
rasanya bener2 gak habis pikir, sekeluarga dipenuhi dg laki2 yg suka mendua bahkan lebih..
semua perbuatan pasti ada balasannya..
dan semua tokoh telah mendapatkan balasannya sesuai dg perbuatan masing2..
semoga kita bisa menjadi pribadi yg selalu bersyukur dg apa yg kita punya dan terhindar dari penyakit hati, salah satunya iri dengki..
manusia memang tempatnya salah dan lupa..
tapi dengan belajar ilmu agama, kita bisa memilih jalan benar untuk ditempuh..
keren banget ceritanya mam..
kadang ikut kesel jg sama mama Elly terutama..
kok ada orang sesombong dan se-egois itu..
maunya menang sendiri dan gak mau disalahkan..
selalu berprasangka buruk dan keinginannya harus selalu dituruti..
oke deh mama, semoga sehat terus yaa..
tetap semangat berkarya dan semoga sukses selalu..
💪🏻🙏🏻😘🥰😍🤩💕💕💕
cuss lanjut novel berikutnya.. 🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️