Novel ini menceritakan kisah Putri Mahkota Lyra ael Alar dari Kerajaan Elara, seorang penyihir Moon Magic (Sihir Bulan) yang kuat namun terikat oleh sebuah misteri kuno. Di tengah ancaman perang dari Kerajaan Utara Drakonia, Lyra dipaksa menjadi alat politik melalui pernikahan damai. Ironisnya, ia menemukan bahwa kutukan keluarga kuno menyatakan ia ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaannya sendiri pada ulang tahun ke-25, kecuali ia menikah dengan "Darah Naga" yang murni.
Calon suaminya adalah Pangeran Kaelen Varrus, Pangeran Perang Drakonia, seorang Shadow Wyrm (Naga Bayangan) yang dingin, sinis, dan tertutup, yang percaya bahwa emosi adalah kelemahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Analisis Perjanjian
Setelah perdebatan sengit di dalam kereta, suasana menjadi jauh lebih dingin daripada salju yang mulai menumpuk di luar. Namun, tugas diplomatik tidak mengenal waktu istirahat. Di atas meja lipat kecil di dalam kereta kuda yang terus berguncang, terhampar gulungan perkamen kulit naga yang tebal—Dokumen Perjanjian Damai Solaria-Obsidiana.
Ia merasa lelah secara mental, namun otaknya yang tajam menolak untuk diam. Ia tahu bahwa pernikahan ini hanyalah puncak gunung es dari sebuah kesepakatan politik yang sangat rumit. Jika ia ingin memiliki kekuatan tawar di Obsidiana, ia harus memahami setiap baris hukum yang mengikatnya. Ia mengusap dahinya, mencoba mengabaikan kehadiran Valerius yang duduk terlalu dekat, aromanya yang seperti badai musim dingin terus mengganggu konsentrasinya.
"Pasal empat, ayat kedua," gumam Aethela, jemarinya menelusuri tulisan tinta emas yang berkilau redup. "Dikatakan bahwa 'seluruh akses sihir pihak kedua akan berada di bawah pengawasan langsung pihak pertama demi stabilitas keamanan kerajaan'. Ini keterlaluan, Valerius."
Valerius, yang sejak tadi memejamkan mata, perlahan membukanya. Mata emasnya tampak tenang, namun ada kilatan kecerdasan yang tajam di sana. "Itu adalah klausul standar untuk mencegah penyalahgunaan kekuatan asing di tanah Obsidiana. Kau adalah penyihir Bulan. Di tanah kami, di mana bayangan berkuasa, sihirmu bisa menjadi sangat tidak stabil."
"Atau mungkin kau hanya takut jika aku memiliki kendali penuh atas kekuatanku," tantang Aethela. Ia membalik halaman berikutnya, lalu tiba-tiba ia berhenti. Alisnya berkerut. "Tunggu... lihat bagian ini."
Valerius mencondongkan tubuhnya, ikut melihat ke arah yang ditunjuk Aethela. Posisi ini membuat bahu mereka bersentuhan. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Aethela yang merembes melalui kain jubahnya, sebuah kontras yang tajam dengan suhu di luar yang kini berada di bawah titik beku.
Ia merasa terkesan. Ia mengira Aethela hanya akan meratapi nasibnya atau mengeluh tentang dinginnya perjalanan. Namun, wanita ini sedang membedah dokumen hukum yang bahkan membuat penasihat kerajaannya sakit kepala. Ia melihat ketelitian di mata ungu Aethela—sebuah bukti bahwa ia bukan sekadar putri pajangan.
"Ada apa?" tanya Valerius, suaranya lebih rendah dari biasanya.
"Tinta ini," bisik Aethela. Ia menggunakan sedikit sihir bulannya, menyentuhkan ujung jarinya yang bersinar perak ke atas perkamen. Seketika, tulisan emas itu bergetar dan beberapa huruf mulai bergeser, menyingkap lapisan tulisan rahasia di bawahnya. "Ini bukan tinta emas biasa. Ini adalah tinta Sanguis—tinta darah yang disihir. Ayahku... atau penasihatnya, telah menyembunyikan sesuatu."
Valerius tertegun. Ia mengambil gulungan itu dari tangan Aethela, matanya menyisir kata-kata yang baru muncul.
"...bahwa penyatuan ini bukan hanya untuk perdamaian, melainkan sebagai penahan bagi Sang Penghancur yang bangkit dari dalam darah Vespera."
Rahang Valerius mengeras. Sang Penghancur. Itu adalah sebutan untuk entitas kuno yang konon akan menghancurkan dunia jika kutukan keluarga Vespera tidak diredam. Ternyata, Solaria tidak hanya mengirim Aethela untuk menyelamatkan Obsidiana; mereka membuang Aethela karena mereka takut padanya. Mereka menggunakan pernikahan ini sebagai penjara bagi monster yang mereka pikir ada di dalam diri putri mereka sendiri.
"Mereka mengkhianatiku lagi," suara Aethela terdengar sangat kecil, hampir seperti bisikan angin.
Rasa sakit itu kembali, lebih dalam dari luka pedang Julian. Ia menyadari bahwa di mata kerajaannya sendiri, ia bukan hanya aset, tapi juga ancaman yang harus "dibuang" ke Utara agar jika ia meledak, yang hancur adalah kerajaan naga, bukan Solaria.
Aethela merasa dunianya seolah berputar. Air mata hampir jatuh, tapi ia menahannya dengan keras kepala. Ia menolak untuk terlihat lemah di depan Valerius. Namun, sebuah tangan besar yang hangat tiba-tiba menutupi tangannya yang gemetar di atas meja.
Valerius menggenggam tangannya—bukan dengan kasar, tapi dengan mantap.
"Aethela, lihat aku," perintah Valerius.
Aethela mendongak, bertemu dengan tatapan emas Valerius yang kini tidak lagi dingin. Ada sesuatu yang mirip dengan solidaritas di sana.
"Di Obsidiana, kami tidak takut pada kekuatan yang besar. Kami menghormatinya," kata Valerius, suaranya mantap dan menenangkan. "Jika mereka menganggapmu sebagai monster, maka biarlah mereka takut. Tapi di sini, di keretaku, kau bukan penghancur. Kau adalah pasanganku dalam perjanjian ini. Kita akan membedah setiap kata dalam dokumen ini bersama-sama. Kita akan mengubah setiap klausul yang merugikanmu."
Untuk pertama kalinya, Aethela melihat Valerius bukan sebagai penculiknya, tapi sebagai sekutu. Genggaman tangan pria itu memberikan rasa aman yang aneh. Ia merasakan getaran sihir mereka yang kini saling melilit dengan lembut, bukan lagi saling bertarung. Bayangan Valerius tampak tenang, menyelimuti sudut-sudut meja seolah-olah sedang menjaga mereka.
"Kenapa kau membantuku?" tanya Aethela parau. "Bukankah lebih mudah bagimu jika aku tetap dalam kendali perjanjian ini?"
Valerius terdiam sejenak, menatap mata ungu Aethela yang dalam. "Karena aku tidak suka dikelabui oleh politik ayahmu. Dan karena... seorang pengantin yang berdaya jauh lebih berguna bagiku daripada seorang tawanan yang hancur hatinya."
Ia menyadari bahwa ia mulai peduli lebih dari yang seharusnya. Ia melihat api di dalam diri Aethela, dan ia tidak ingin api itu padam oleh pengkhianatan keluarganya sendiri. Ia ingin menjadi orang yang menjaga api itu tetap menyala.
Aethela menarik napas panjang, menstabilkan emosinya. Ia menarik tangannya pelan dari genggaman Valerius, meskipun ia merindukan kehangatannya. Ia mengambil pena bulu dan botol tinta hitam.
"Baiklah," kata Aethela, suaranya kembali tegas. "Mari kita tulis ulang takdir kita, Pangeran. Jika mereka ingin aku menjadi penjara bagi 'Penghancur', maka aku akan memastikan penjara ini memiliki kunci yang hanya aku dan kau yang pegang."
Selama sisa perjalanan malam itu, di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip, sang Putri Bulan dan sang Pangeran Naga bekerja berdampingan. Mereka mengabaikan perbedaan ras dan sejarah perang mereka, fokus pada setiap detail kata.
Ada rasa hormat intelektual yang baru tumbuh. Setiap kali Valerius memberikan saran strategi hukum, Aethela membalasnya dengan logika sihir yang tajam. Mereka adalah dua orang jenius yang selama ini kesepian, dan dalam kegelapan kereta menuju Utara, mereka menemukan bahwa mereka adalah lawan bicara yang setara.
Saat salju semakin tebal menutupi jendela, Aethela menyadari bahwa meskipun ia meninggalkan rumah yang membencinya, ia mungkin sedang menuju ke arah seseorang yang—meski belum mencintainya—setidaknya menghargai keberadaannya. Dan bagi Aethela, itu adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada cinta: kepercayaan.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca📖
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️