❣️ Update : 19.00 WIB ❣️
Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 - If
Pagi itu cerah.
Setelah tiga hari cuti karena menikah, akhirnya hari ini aku akan kembali bekerja.
Aku akan kembali menjadi Naya si teller.
Bedanya, sekarang aku sudah menikah.
Aku sedang merapikan jilbab di depan cermin ketika suara Javier terdengar dari luar kamar.
"Nay... ayo sarapan."
"Iya, bentar."
Setelah memastikan jilbabku sudah rapi, aku keluar kamar lalu menuju meja makan.
Di atas meja sudah tersedia sepiring nasi goreng yang masih hangat.
Aku langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Javier.
"우와 맛있겠다. (Wah, kelihatannya enak.)" ucapku. "Senangnya punya suami yang bisa masak. Aku jadi nggak usah masak."
"Kamu udah ngakuin aku sebagai suami kamu?" tanya Javier.
"Di atas kertas kan kamu memang suamiku."
Javier langsung menghela napas panjang.
Aku pura-pura tidak melihat reaksinya dan langsung menyendok nasi goreng itu.
"Hmm... enak."
Aku mengambil suapan berikutnya, lalu menyadari Javier masih menatapku.
"Kenapa kamu natap aku kayak gitu?"
"Karena kemarin-kemarin kamu nggak pakai jilbab. Sekarang pakai jilbab lagi, jadi kelihatan beda."
Aku mengangguk pelan.
"Ya udah. Mulai sekarang aku pakai jilbab terus kalau di rumah."
"Eh, jangan!"
Aku langsung mengernyit bingung.
"Kenapa?"
"Ehm..." Javier terlihat salah tingkah. "Itu... terserah kamu aja lah."
Aku semakin bingung.
"Aku juga bukan suami beneran kamu," lanjutnya. "Nggak ada hak buat aku nyuruh ini-itu."
Aku menatapnya beberapa detik.
Aneh.
Tapi aku tidak terlalu memikirkannya.
"Mas, nanti kamu anterin aku aja. Nggak usah jemput."
"Hmm?"
"Nanti pulangnya aku naik ojek. Terus aku juga mau ke rumah ambil motor."
Javier terdiam sejenak.
"Ambil motor?"
"Iya. Biar kamu nggak perlu repot anter-jemput aku terus. Kalau aku mau pergi juga nggak perlu pesan ojek."
Javier kembali terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk.
"Oke."
Aku kembali fokus pada sarapanku.
Namun beberapa saat kemudian Javier kembali bersuara.
"Nay... kayaknya kamu nggak butuh laki-laki ya? Apa-apa bisa sendiri." ucap Javier.
"Bukan nggak butuh. Tapi belum." Aku menyuap nasi gorengku. "Lagian selama aku masih bisa sendiri, kenapa harus minta bantuan orang lain?"
Javier mengangguk pelan.
"Kamu emang beda."
Aku menatapnya sekilas.
"Kamu juga kayaknya nggak butuh perempuan."
"Hah?"
"Kan kamu bilang sejak ngurus Ruang Rindu, kamu nggak menjalin hubungan sama siapa pun. Kamu juga lagi fokus mewujudkan mimpi kamu."
Javier tersenyum tipis.
"Aku bukannya nggak butuh perempuan."
"Lalu?"
"Cuma belum nemu aja perempuan yang mau berjuang sama aku. Yang mau nerima keadaanku dan ngerti kalau sebagian besar waktuku bakal habis buat Ruang Rindu."
Aku terdiam sejenak.
Entah kenapa kata-katanya membuatku berpikir.
"Karena sekarang aku istri kamu..." ucapku pelan. "Apa aku yang bakal jadi perempuan itu?"
Javier langsung menoleh.
"Apa?"
Seketika aku sadar dengan apa yang baru saja keluar dari mulutku.
Astaga.
Aku ngomong apa sih?
"Ng-nggak." Aku langsung menggeleng. "Lupakan."
Aku buru-buru kembali fokus pada sarapanku.
Untung Javier tidak melanjutkan pembicaraan itu.
Setelah selesai makan dan mencuci piring, kami pun keluar rumah.
Begitu keluar, kulihat Tara sedang berdiri di depan rumahnya sambil memegang piring dan sendok. Di dekatnya, Rena sedang bermain sepeda seperti biasa.
Begitu melihat Javier, wajah Tara langsung berubah cerah.
"Eh, Mas Javier. Pagi, Mas."
"Pagi." Javier mengangguk sopan.
"Mau ke rumah makan, Mas?"
"Iya." Javier membuka pintu mobil. "Sekalian nganterin Naya kerja."
"Oh..."
Senyum di wajah Tara sedikit memudar.
Aku pura-pura tidak melihatnya.
Beberapa detik kemudian aku dan Javier sudah berada di dalam mobil.
"Enak ya..." gumamku.
"Hmm?"
"Disapa istri orang."
Javier langsung menoleh ke arahku dengan ekspresi terkejut.
"Nay..."
Aku pura-pura melihat ke luar jendela.
"Kamu beneran cemburu ya?"
Aku langsung menoleh.
"아니거든! 누가 질투해?! 난 아니야! (Nggak! Siapa yang cemburu?! Aku nggak!)"
Javier hanya berkedip bingung.
"Kamu ngomong apa sih?"
Aku mendengus.
"Pokoknya bukan itu."
"Aduh..." Javier menggeleng sambil tertawa kecil. "Kayaknya aku harus belajar bahasa Korea deh."
"Ya sana belajar. Biar kamu ngerti aku ngomong apa."
Javier menghela napas lalu menyalakan mesin mobil.
Tak lama kemudian mobil mulai meninggalkan perumahan.
Sepanjang perjalanan kami berdua lebih banyak diam.
Javier fokus menyetir.
Sedangkan aku justru memikirkan perkataannya tadi.
Cemburu?
Aku?
Tidak mungkin.
Beberapa menit kemudian kami sampai di tempat kerjaku.
Aku langsung melepaskan sabuk pengaman.
Saat aku hendak membuka pintu mobil, Javier tiba-tiba mengulurkan tangannya ke arahku.
"Apa?" tanyaku bingung.
"Cium tangan."
Aku mengernyit.
"Hah?"
"Istri kalau mau kerja cium tangan suaminya dulu."
Aku langsung memutar bola mata.
"Idih... You're not my husband. You're not the man I love. So why should I do that?" ucapku lalu membuka pintu mobil.
Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung turun dari mobil.
Kenapa aku harus mencium tangannya?
Memangnya kami pasangan yang benar-benar saling mencintai?
Aku pun berjalan menuju Sina Bank.
"Eh, pengantin baru!" seru Fahri saat aku melewati area parkir.
Ternyata dia baru saja datang.
Aku menoleh sekilas.
"Pagi, Mas Fahri."
"Habis nikah kemana nih?"
"Nggak kemana-mana, Mas."
"Serius?"
Aku mengangguk.
"Yuk masuk."
"Eh?"
Aku langsung berjalan lebih dulu meninggalkannya.
Setelah menyapa satpam, aku masuk ke dalam bank. Fahri berjalan di belakangku.
"Halo, pengantin baru." sapa Salsa begitu aku memasuki ruang karyawan.
Aku hanya bisa menghela napas.
Pengantin baru?
Rasanya sebutan itu tidak cocok untuk aku dan Javier.
"Kenapa kamu menghela napas gitu, Nay?" tanya Yuni.
"Iya nih." Salsa ikut menimpali. "Masa pengantin baru nggak ada semangatnya?"
"Kecapekan main ya?" goda Fahri tiba-tiba.
Aku langsung menoleh.
"Nggak!"
"Udah, nggak apa-apa." Fahri tertawa. "Hal biasa itu buat pengantin baru."
"Kami nggak ngapa-ngapain, Mas!"
Aku langsung membela diri.
Lalu tanpa sadar menambahkan satu kata yang seharusnya tidak keluar.
"Belum."
Hening.
Aku memejamkan mata.
Astaga.
Kenapa aku menambahkan kata itu?
"Apa?!" seru mereka bertiga bersamaan.
"Serius, Nay?" tanya Fahri.
Aku mengangguk pelan.
"Ya elah, Nay." Salsa memegang dahinya. "Suami kamu ganteng gitu masa dianggurin sih?"
"Ya kan kami nggak saling cinta, Mbak. Gimana mau ngelakuin itu?"
"Tapi suami kamu ganteng lho, Nay." ucap Salsa.
"Mau seganteng apa pun kalau aku nggak cinta sama dia ya nggak akan ngelakuin itu."
"Astaga..." Salsa menatapku tidak percaya. "Kamu normal kan, Nay?"
"Iya lah." Aku langsung menunjukkan wallpaper ponselku. "Kalau nggak normal, nggak mungkin aku suka sama Lee Jun-ha."
"Ya ampun..." Salsa langsung memegang dahinya lagi. "Dia lagi."
Aku tersenyum puas.
"Nay, dalam pernikahan itu yang dibutuhkan bukan cuma cinta." Salsa menoleh ke arah Yuni. "Iya kan, Mbak?"
"Iya." Yuni mengangguk. "Tapi yang dibilang Naya juga benar. Dia kan dijodohin, jadi pasti berat buat ngelakuin itu."
Aku langsung mengangguk setuju.
"Nah, kan."
"Tapi..." lanjut Yuni. "Kalau cinta udah muncul di antara mereka, pasti nanti tahu-tahu dua garis biru."
Salsa dan Fahri langsung tertawa.
"Mbak Yuni!" protesku. "Mbak sebenarnya belain aku nggak sih?"
"Kamu kan akan hidup lama sama dia." Yuni tertawa kecil. "Masa iya nggak akan ada cinta sih?"
Aku terdiam sesaat.
Lalu kalimat yang seharusnya tidak kukatakan kembali keluar begitu saja.
"Ya kalau lama..." gumamku. "Kalau suatu saat kami cerai gimana?"
Hening.
Ruangan yang tadi ramai tiba-tiba menjadi sunyi.
Aku membelalak.
Apa yang baru saja aku katakan?
Kenapa aku mengatakan itu?
"Eh..." Aku buru-buru berdiri. "Bentar lagi bank buka. Aku ke depan dulu ya."
Tanpa menunggu respons mereka, aku langsung keluar dari ruang karyawan dan menuju meja tellerku.
Aku menyalakan komputer lalu mencoba fokus pada pekerjaanku.
Melupakan apa yang baru saja keluar dari mulutku.
Tak lama kemudian Salsa, Yuni, dan Fahri ikut keluar.
Yuni dan Fahri menuju meja mereka masing-masing.
Sementara Salsa duduk di kursi sebelahku.
Aku pura-pura sibuk menatap layar komputer.
Tidak berani menoleh ke arahnya.
Untungnya Salsa tidak melanjutkan pembahasan tadi.
Beberapa menit kemudian bank resmi dibuka.
Nasabah mulai berdatangan dan memenuhi kursi tunggu.
Aku menarik napas pelan lalu menekan tombol antrean.
Tak lama kemudian seorang ibu paruh baya berjalan menuju loketku dan menyerahkan slip pembayaran angsuran.
Aku menerima slip itu lalu mulai memeriksa data yang tertera.
"Bu, untuk pinjaman ini ada tunggakan bulan lalu dan dendanya juga ikut terhitung ya."
"Iya, Mbak." Ibu itu mengangguk pelan. "Maaf bulan lalu saya tidak bisa membayarnya. Uang yang seharusnya untuk bayar cicilan terpakai untuk biaya pemakaman suami saya."
Tanganku yang sedang memegang slip pembayaran langsung terhenti.
Pemakaman?
Suaminya meninggal?
"Oh..." ucapku pelan. "Saya turut berduka cita, Bu."
"Terima kasih, Mbak."
Aku kembali memproses transaksinya.
Namun pikiranku tidak bisa fokus seperti biasanya.
"Pinjamannya atas nama suami saya." lanjut ibu itu pelan. "Masih ada beberapa bulan lagi. Mau nggak mau ya harus saya lanjutkan."
Aku hanya bisa mengangguk.
Beberapa menit kemudian transaksi selesai.
Aku menyerahkan bukti pembayaran kepada ibu itu.
"Terima kasih, Bu."
"Iya, Mbak. Terima kasih juga."
Ibu itu pun pergi.
Aku masih menatap punggungnya hingga menghilang dari balik pintu bank.
Entah kenapa dadaku terasa sesak.
Aku tidak bisa membayangkan berada di posisinya.
Bangun setiap pagi tanpa orang yang selama ini selalu ada.
Pulang ke rumah yang terasa jauh lebih sepi.
Dan menjalani hidup sendirian setelah bertahun-tahun bersama.
Tiba-tiba ucapan yang keluar dari mulutku tadi kembali teringat.
Kalau suatu saat kami cerai gimana?
Aku menunduk.
Untuk pertama kalinya, kata "berpisah" terasa jauh lebih menakutkan daripada yang selama ini kubayangkan.
Karena ternyata tidak semua perpisahan bisa dipilih.