NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.

Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?

Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar Buruk

Riuh suara wisudawan memenuhi aula, acara sakral pemindahan tali toga penanda seseorang telah resmi menjadi sarjana baru saja selesai dilaksanakan. Semua wisudawan berhamburan keluar gedung tempat acara dan mencari keluarga masing-masing untuk ditemui.

Laila, wisudawan dengan gelar Sarjana Sastra Inggris dengan kebaya anggun berwarna burgundi menyebarkan pandangan ke segala penjuru untuk mencari Ayahnya di antara lautan manusia. Langkah Laila terhenti tak kala ada seseorang yang menepuk pundaknya.

"La!" Kejut kedua sahabat Laila dengan wajah tak bersalah karena sudah mengejutkannya.

Keira dan Tasya namanya, mereka bertiga dipertemukan pada hari pertama acara pengenalan mahasiswa baru, mereka satu kelompok kala itu dan yang semakin membuat mereka akrab adalah karena mereka satu kelas juga. Terjalinlah persahabatan itu hingga mereka lulus kuliah.

"Kei, Sya, kalian ngagetin gue aja!" protes Laila.

"Hehehe, sorry bestie" ucap Tasya dengan menyatukan kedua telapak tangan ke depan wajahnya.

"Lagian lo sih kita panggil berkali-kali kagak noleh, malah celingak-celinguk kek bocil hilang," timpal Keira.

"Rame bestie, mana gue denger. Di tambah lagi ni gue lagi nyari Papi, udah di chat dan di telpon kagak nongol-nongol juga batang hidungnya," elak Laila. Tangannya masih sibuk mengetik pesan untuk Ayahnya.

"Ohh, yaudah ni kita bantu cari," tawar Keira.

"Eh eh, itu...itu," ucap Tasya terbata-bata, telunjuknya berfokus pada seseorang.

Kompak Laila dan Keira menoleh pada seseorang yang ditunjuk Tasya.

"Lo nunjuk siapa sih Sya?" tanya Laila sembari mengedar pandangan ke arah depan, karena tidak seorang pun yang ia kenal dari objek yang ditunjuk Tasya.

Keira menyadari seseorang yang mungkin dimaksud oleh Tasya, "Oh itu cowok yang di kafe kemaren kan."

"Iya, itu dia!" ucap Tasya dengan excited.

Keduanya langsung mencoba merapikan penampilan, Tasya bahkan mengeluarkan cermin kecil dari tas yang ia bawa untuk memeriksa riasan.

Sementara Laila masih mengedarkan pandangan dan mencoba fokus dengan sosok pria yang kedua sahabatnya maksud. "Yang mana sih?" tanya Laila.

"Eh eh eh, kok gue rasa dia jalan ke arah kita," ucap  Keira.

Laila memicingkan mata, terlihat hanya ada satu pria yang sedari tadi fokus matanya tertuju pada mereka dan memang langkahnya seperti akan menuju ke tempat mereka sedang berdiri saat ini.

Sosok pria tinggi tegap dengan otot lengan terbungkus sempurna pakaian batik yang sedikit pres di badannya, bertengger juga kacamata hitam menutupi matanya. Di tangannya pria itu memegang sebuah buket bunga lily merah muda yang cantik. Langkahnya perlahan tapi pasti dan tanpa sadar karena terlalu fokus melihat penampilan pria tadi, Laila sedikit terkejut ketika pria itu sudah ada tepat di hadapannya menyodorkan buket bunga lily. Sedangkan Keira dan Tasya tak kalah terkejutnya dengan kejadian itu, mereka bergantian bertukar tatap.

Laila mengernyit. "Buat gue?" tanyanya spontan.

"Iya," jawab singkat pria itu sambil tersenyum.

Laila menyambut buket lily merah muda itu dengan senang hati, meskipun sedikit kebingungan. Namun, ia berpikiran mungkin ini kejutan dari pacarnya Devan dan orang di hadapannya ini adalah kurir buket bunga.

Setelah menerima buket itu Laila merogoh tasnya untuk mengambil beberapa lembar uang. "Ini, bonus buat lo," ucap Laila. Ia memberikan uang itu kepada si pengantar bunga.

Pria itu pun terlihat kebingungan dengan apa yang ia terima dari Laila. "Ini untuk apa ya?" tanyanya.

Laila tersenyum simpul. "Bonus buat lo lah, lo kurir buket bunga ini kan. Devan yang kirim bunga ini buat gue kan," jelasnya, sekaligus memastikan.

"Oh, bukan. Saya bukan kurir dan saya tidak kenal dengan Devan," timpal pria itu.

"Jadi, lo siapa?" tanya Laila semakin bingung.

Laila melemparkan pandangan pada kedua sahabatnya dan memberikan isyarat memastikan apakah keduanya mengenali pria di hadapan mereka ini.

Pria itu menyodorkan tangan, "Perkenalkan say..."

Belum sempat pria itu melanjutkan perkenalan diri, Ayah Laila menepuk pundak pria itu dari belakang.

"Papi! dari mana aja sih?" tanya Laila dengan nada sedikit kesal. Laila segera menggandeng lengan Ayahnya.

"Om." Pria tadi langsung salim dengan Ayah Laila, diikuti juga dengan Keira dan Tasya.

"Oh Papi kenal sama dia?" tanya Laila spontan.

"Tentu Papi kenal, perkenalkan ini Arjuna Aksa Wardhana calon suami kamu," jawab Dirga pada putri kesayangannya.

Mata Laila melotot, ia sangat terkejut dengan jawaban Ayahnya yang tanpa ia tahu tiba-tiba datang membawa orang asing pada hari wisudanya dan yang lebih mengguncang hatinya orang itu justru diperkenalkan sebagai calon suami.

"Gak gak..Papi jangan bercanda ya," ucap Laila terbata-bata.

Laila tatap lekat Ayahnya untuk memastikan lagi, namun hanya sebuah anggukan yang Laila terima. Tanpa sadar bunga yang ada di genggaman pun jatuh. Sambil menahan air mata Laila berlari meninggalkan mereka semua.

"Laila!"

Melihat sahabatnya pergi dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, Keira dan Tasya berlari menyusul Laila.

...****************...

Dua hari yang lalu...

Pintu kaca berbingkai kayu itu terbuka dengan denting petikan lonceng kecil yang khas di bagian atasnya. Seketika, langkah kaki dari hiruk-pikuk jalanan luar langsung disambut oleh pelukan hangat aroma biji kopi yang baru dipanggang, bercampur samar dengan manisnya aroma panggangan roti dari dapur belakang.

Kafe kecil di sudut kota itu menjadi favorit banyak orang karena menawarkan kehangatan lewat desain interior yang estetik dan instagramable bagi gen z. Dan menjadi tempat bersandar bagi tiga sahabat yang sedang asyik bertukar cerita, sesekali mereka mencondong badan ke depan untuk berbisik di tengah keramaian.

"Udah sampe mana progres persiapan wisuda kalian guys?" tanya Keira.

"Gue mah udah aman semua sih," jawab Laila sembari menyeruput kopi favoritnya.

"Lo jadi beli heels yang lo tunjuk kemarin itu La?" tanya Tasya nimbrung mengikuti ritme topik bahasan.

"Gak jadi, pas gue liat-liat lagi malah gak cocok sama kebaya gue. Jadi too much gitu," jelas Laila.

Tangan Laila kemudian sibuk menari di atas layar ponselnya, kemudian menunjukkan sebuah gambar pada kedua sahabatnya, "Ini nih, heels yang akhirnya gue beli."

Tasya mengambil nyambut ponsel itu yang kemudian melihatnya bersama Keira yang duduk tepat di sebelahnya.

"Ngena sih kata gue, ini ngena banget dari yang kemaren," ucap Keira sambil menunjuk gambar heels yang ia lihat.

"Iya kannn," balas Laila yang seketika berpose ala-ala model.

Ting!

"Eh, ada Devan nih chat lo La." Mendapati chat Devan masuk, Tasya langsung mengembalikan ponsel itu pada Laila.

"Etdah, baru aja bentaran kita bertiga keluar udah ditanyain aja ama si ayang," sindir Keira.

Mendengar itu Laila membalas dengan menjulurkan lidahnya pada Keira dan lanjut membalas pesan Devan sambil senyum-senyum sendiri.

Keira memutar bola matanya dan menyenggol Tasya, "Udah tuh, kalo udah gitu dunia serasa milik berdua. Kita berdua mah ngontrak doang, ye kan Sya."

"Ya gitu deh," timpal Tasya.

Keduanya lanjut menikmati pesanan mereka sembari melihat sekitar.

Pintu kafe berdenting dan kebetulan Tasya sedang mengedarkan pandangannya menuju pintu. Matanya tertuju pada sosok pria yang baru saja masuk.

"OMG! Kei, lihat ke arah jam 12 sekarang!" perintah Tasya.

Keira pun langsung menoleh perlahan ke arah yang ditunjuk Tasya. Melihat sosok yang dimaksud, mata Keira langsung berbinar. Bagaimana tidak, di depan sana ada pemandangan maha karya Tuhan yang indah. Sosok pria tinggi, tegap dengan otot sedikit menonjol meski terbalut baju kaos hitam yang ia kenakan sedang memesan minuman.

"My type banget woiii," ucap Keira dengan sedikit berbisik.

Keduanya lanjut berbisik-bisik membicarakan pria itu, diikuti dengan cekikikan sesekali dan saling menepuk lengan satu sama lain.

Laila yang tengah sibuk saling membalas pesan Devan pun sedikit terusik dengan kelakuan kedua orang itu yang duduk di hadapannya.

Laila melirik keduanya, kemudian bertanya, "Pada liatin apa sih?"

"Itu La, cowok yang lagi di kasir itu," jawab Keira setengah berbisik.

Laila tanpa aba-aba langsung menoleh ke arah yang dimaksud. Namun sayangnya pria yang dimaksud sudah berbalik ke arah pintu keluar. Alhasil Laila hanya dapat melihat punggung lebar pria itu saja, yang perlahan menjauh dari kafe.

"Yah, telat lo La," ucap Tasya.

"Rugi La, gak liat maha karya Tuhan yang dahsyat tadi, hehehe." Keira terkekeh mengejek Laila.

"Apaan sih gak jelas banget kalian," timpal Laila kemudian lanjut melihat layar ponselnya.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!