"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."
Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.
Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?
Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Surat Tanpa Pengirim
Akhir pekan akhirnya datang setelah hari-hari yang terasa begitu melelahkan. Tidak ada rapat, tidak ada dokumen yang harus ditandatangani, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arga memutuskan mematikan alarm paginya.
Namun, pukul enam lewat sedikit, ia justru sudah terbangun. Cahaya matahari pagi menembus sela-sela tirai kamar, membuat suasana terasa hangat dan tenang. Di sampingnya, Nadira masih duduk di tepi tempat tidur sambil mengikat rambutnya menjadi ekor kuda sederhana. Ia mengenakan kaus putih longgar dipadukan dengan celana olahraga hitam, penampilannya begitu sederhana, tetapi justru terlihat cantik di mata Arga.
"Kok udah bangun?" tanya Arga sambil mengusap wajahnya. Masih bergelut dengan selimut tebal.
Nadira menoleh sambil tersenyum kecil. "Mau jogging, ikut nggak?"
Arga mengembuskan napas pelan. "Ngantuk, Nad."
Beberapa detik mereka saling memandang sebelum Arga kembali berkata, "Emang kamu nggak capek?"
Nadira mengangkat sebelah alisnya. “Terserah, deh. Aku mau pergi aja!” kesalnya lalu berdiri sambil meraih botol minum.
"Kok ngambek, sih!" Arga terkekeh pelan. "Kamu sekarang mulai sering nyuruh-nyuruh aku."
"Biar sehat," balas Nadira tetap memantau pergerakan Arga untuk bersiap.
"Kalau nggak mau?"
Nadira berjalan menuju pintu kamar. "Ya aku joging sendiri."
Belum sempat ia melangkah keluar, Arga lebih dulu meraih pergelangan tangannya. "Tunggu, aku ikut."
Nadira menoleh. Senyumnya langsung mengembang.
Kompleks perumahan elite itu masih sangat tenang. Udara pagi terasa sejuk, sementara embun masih menempel di dedaunan yang berjejer rapi di sepanjang jogging track. Beberapa penghuni tampak berjalan santai bersama keluarga, sebagian lagi membawa anjing peliharaan mereka berkeliling taman.
Arga dan Nadira berlari berdampingan dengan langkah pelan. Tidak ada yang berbicara pada awalnya. Mereka hanya menikmati suasana pagi yang jarang sekali bisa mereka rasakan bersama.
Sesekali Nadira menunjuk bunga-bunga yang bermekaran di taman. Sesekali pula Arga menoleh ke arahnya hanya untuk memastikan langkah Nadira tidak terlalu cepat.
Lima belas menit kemudian, napas Nadira mulai sedikit terengah.
"Aku istirahat dulu."
Arga ikut memperlambat langkah. "Capek?"
"Dikit."
Mereka berhenti di dekat sebuah bangku taman yang menghadap danau buatan. Permukaan air tampak tenang, memantulkan warna langit pagi yang masih kebiruan.
Arga membuka tutup botol minumnya lalu menyerahkannya kepada Nadira. "Minum."
"Makasih." Nadira menerimanya tanpa berpikir panjang. Baru setelah meneguk beberapa kali, ia tersadar. "Eh..."
"Hm?"
"Ini botol Mas."
Arga tersenyum tipis. "Iya."
"Aku minum dari situ."
"Iya."
"Kan jadi..."
"Kenapa?"
Nadira memalingkan wajahnya. "Nggak jadi."
Arga justru tertawa kecil melihat pipi Nadira yang mulai memerah. "Ternyata masih malu."
"Bukan malu."
"Lalu?"
"Cuma..." Nadira berucap pelan. "...nggak biasa."
Arga menggeleng kecil sambil mengambil kembali botol itu. "Kalau begitu mulai dibiasakan."
Ucapan santainya membuat Nadira spontan memukul pelan lengan Arga. "Mas."
"Iya?"
"Gombal."
"Padahal jujur."
Mereka sama-sama tertawa. Tawa sederhana itu terasa begitu ringan, seolah semua masalah yang beberapa hari terakhir menghantui mereka menghilang untuk sementara.
Selesai berolahraga, Nadira tiba-tiba berhenti di depan sebuah gerobak bubur ayam yang berada tidak jauh dari gerbang kompleks.
"Asli?" Arga mengikuti arah pandangnya. "Kamu mau makan di sini?"
"Iya. Bubur ayamnya enak."
Arga memandang gerobak sederhana itu beberapa detik. "Kapan terakhir kali aku makan bubur di pinggir jalan, ya?"
Nadira tersenyum geli. "Berarti sudah terlalu lama." Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menghampiri penjual. "Dua bubur, ya, Pak."
Penjual yang sudah berusia sekitar lima puluh tahun itu tersenyum ramah. "Pakai ayam semua, Mbak?"
"Iya."
"Cakwe?"
"Pakai."
"Ati ampela?"
Nadira menoleh kepada Arga. "Mas?"
Arga mengangkat bahu. "Aku ikut kamu saja."
"Berarti lengkap, ya, Pak."
Tak lama kemudian, dua mangkuk bubur hangat tersaji di atas meja lipat sederhana. Aroma kaldu ayam langsung memenuhi udara.
Arga mengambil satu sendok pertama, lalu mengangguk pelan. "Enak."
"Iya, kan?" Nadira tampak puas. "Makanya jangan mentang-mentang sering makan di hotel. Makanan begini juga enak."
Arga tersenyum kecil. "Aku nggak pernah bilang nggak enak."
"Nggak bilang, tapi kelihatan."
"Loh."
"Mas tadi lihat gerobaknya saja sudah ragu."
"Itu karena aku mikir ..."
"Mikir apa?"
"Mobilku parkirnya di mana."
Nadira langsung tertawa.
Mereka menghabiskan sarapan sambil bercanda mengenai hal-hal sederhana. Tentang pelanggan toko buku yang aneh, tentang kebiasaan Arga yang selalu lupa sarapan, sampai perdebatan kecil apakah bubur ayam lebih enak diaduk atau tidak.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pagi itu terasa benar-benar seperti pagi pasangan yang baru menikah.
Hangat, tenang, dan membahagiakan.
Menjelang pukul sembilan, mereka akhirnya kembali ke rumah.
Arga membawa kantong berisi beberapa roti yang tadi sempat dibeli Nadira untuk camilan sore, sementara Nadira berjalan lebih dulu menuju pintu utama. Ia memasukkan kunci ke lubang pintu.
Klik.
Pintu terbuka perlahan.
Namun sebelum benar-benar masuk, matanya menangkap sesuatu yang terselip di sela-sela daun pintu.
Sebuah amplop putih.
"Apa ini?" gumamnya pelan.
Nadira menarik amplop itu perlahan. Belum sempat ia membukanya, sesuatu yang berwarna merah tua menempel di ujung jarinya. Ia mengernyit.
Ketika amplop itu diangkat lebih tinggi, terlihat jelas beberapa noda merah telah mengering di permukaannya.
Bukan tinta.
Melainkan darah.
Napas Nadira seketika tercekat. "Mas..." Suaranya terdengar pelan.
Arga yang baru saja menutup pagar langsung menoleh. "Ada apa?"
Nadira tidak menjawab. Tangannya perlahan menyerahkan amplop itu kepada Arga. Begitu melihat noda darah yang mengering, ekspresi Arga langsung berubah. Rahangnya mengeras.
Tanpa membuang waktu, ia membuka amplop tersebut. Di dalamnya hanya ada selembar kertas. Dengan tulisan tangan yang berantakan menggunakan tinta hitam.
"Berhenti mencari Proyek Aurora atau kalian akan menyusul Hendra."
Nama ayah Nadira membuat udara di sekitar mereka seakan membeku. Arga langsung meremas surat itu hingga kusut. Tatapannya berubah dingin. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menekan satu nomor.
"Rizky." Suara Arga terdengar tegas. "Dalam lima belas menit, kumpulkan semua tim keamanan di rumah. Mulai hari ini, tidak ada seorang pun keluar atau masuk tanpa pemeriksaan."
Arga melirik ke arah Nadira yang masih berdiri mematung dengan wajah pucat. "Tambahkan personel di sekitar rumah. Pasang penjagaan dua puluh empat jam. Dan cari tahu…” Dia menggenggam amplop bernoda darah itu semakin erat, "...siapa yang berani mengirim ancaman ke rumahku."
Setelah memutus sambungan telepon, Arga berjalan mendekati Nadira, menggenggam kedua bahunya dengan lembut.
"Kamu nggak apa-apa?"
Nadira mengangguk pelan, tetapi wajahnya masih kehilangan warna. Arga menarik Nadira ke dalam pelukannya tanpa berkata apa-apa. Di balik tatapannya yang tenang, amarah perlahan berubah menjadi tekad.
Kali ini, apa pun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Nadira lagi.