NovelToon NovelToon
THE 13TH FLOOR

THE 13TH FLOOR

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:221
Nilai: 5
Nama Author: Putri CS

1. "THE 13TH FLOOR"

Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist

Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.

Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.

Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29 yang selama ini dikurung

Brakkk!!

Tangan hitam raksasa itu menghantam lantai Perpustakaan XIII.

Seluruh bangunan berguncang hebat.

Rak-rak buku roboh satu per satu.

Debu memenuhi udara.

Naura menutup mulutnya agar tidak berteriak.

"Itu... itu apa?"

Tidak ada yang menjawab.

Bahkan Direktur X, yang selama ini tampak tenang, untuk pertama kalinya terlihat terkejut.

"Itu tidak mungkin..."

gumamnya.

Adrian berteriak dari balik Gerbang.

"Dia belum boleh keluar!"

"Kalau segelnya hancur sekarang..."

"...semuanya akan berakhir!"

 

Tangan hitam itu perlahan menarik tubuhnya keluar.

Namun yang muncul bukan monster mengerikan.

Melainkan...

Sosok manusia.

Seorang pria muda berusia sekitar dua puluh lima tahun.

Rambutnya hitam.

Kulitnya pucat.

Matanya...

Berwarna emas, sama seperti Adrian.

Ia mengenakan pakaian serba hitam yang tampak sangat kuno.

Saat kedua kakinya menyentuh lantai...

Seluruh perpustakaan mendadak sunyi.

Pria itu menatap sekeliling dengan bingung.

"Aku..."

"...bebas?"

Suaranya lembut.

Sangat berbeda dari yang dibayangkan semua orang.

Naura berbisik pelan.

"Dia bukan monster..."

Namun Eleanor justru memucat.

"Tidak..."

"Jangan tertipu."

"Dia bisa mengambil bentuk apa pun yang diinginkannya."

Pria itu menoleh ke arah Eleanor.

Lalu tersenyum.

"Masih hidup rupanya..."

"...Eleanor."

Eleanor mundur satu langkah.

Tangannya gemetar.

"Kau masih mengingatku?"

Pria itu mengangguk.

"Aku mengingat semuanya."

"Karena..."

"...akulah alasan kenapa semua ini dimulai."

Ruangan langsung sunyi.

Alea memandang Adrian yang masih berada di balik Gerbang.

"Siapa dia?"

Adrian menutup matanya.

Dengan suara penuh penyesalan ia menjawab,

«"Dia adikku."»

Semua membeku.

"Namanya..."

Lucian.

Pria muda itu tersenyum kecil.

"Akhirnya..."

"...Kakak mau mengakuinya juga."

Naura tidak mengerti.

"Kalau dia adikmu..."

"Kenapa dikurung?"

Lucian memandang Gerbang Karunia.

Tatapannya kosong.

"Aku tidak pernah ingin menghancurkan dunia."

"Aku hanya..."

"...ingin menghidupkan seseorang."

Kalimat itu membuat Alea langsung teringat pada Elang yang pernah bergabung dengan Organisasi XIII demi berharap bisa mengubah masa lalu.

Lucian melanjutkan,

"Aku membuat kesalahan."

"Kesalahan yang terlalu besar."

"Dan Adrian..."

"...memilih mengurungku."

Adrian menggenggam jeruji Gerbang.

"Maafkan aku..."

"Tapi saat itu tidak ada pilihan lain."

Direktur X tiba-tiba tertawa.

"Indah sekali."

"Cerita kakak beradik yang penuh pengorbanan."

"Tapi..."

"...kalian lupa satu hal."

Ia menatap Lucian dengan senyum lebar.

"Kami tidak membebaskan mu."

"Kami membebaskan kekuatanmu."

Mendengar itu, wajah Lucian berubah.

"Apa maksudmu?"

Direktur X mengangkat tangan.

Seluruh anggota Organisasi XIII serempak berlutut.

"Selamat datang..."

"...Pembuat Perjanjian Pertama."

Kalimat itu membuat jantung semua orang serasa berhenti.

Lucian...

Bukan sekadar tahanan.

Bukan sekadar adik Adrian.

Melainkan...

Orang pertama yang menciptakan Perjanjian Karunia.

Lucian perlahan menundukkan kepalanya.

Air mata jatuh dari matanya.

"Aku..."

"...tidak pernah menginginkan semua ini."

Namun saat air matanya menyentuh lantai...

Seluruh Gerbang Karunia mulai bersinar merah.

Dan Buku Ketiga Belas terbuka sendiri.

Di halaman terakhir akhirnya muncul tulisan yang selama ini kosong.

KEBOHONGAN KETIGA BELAS

«"Monster yang sebenarnya... bukan berada di balik Gerbang."»

«"Monster itu... selalu hidup di hati manusia."

Keheningan menyelimuti Perpustakaan XIII.

Semua orang masih mencerna kalimat terakhir yang ditulis Buku Ketiga Belas.

«"Monster yang sebenarnya... selalu hidup di hati manusia."»

Lucian menatap kedua tangannya.

Tangan yang dulu menciptakan Perjanjian Karunia.

"Aku hanya ingin menyelamatkan seseorang..."

bisiknya.

Naura memberanikan diri melangkah mendekat.

"Siapa yang ingin kamu selamatkan?"

Lucian menutup matanya.

Lama.

Lalu ia menjawab dengan suara yang nyaris tak terdengar.

«"Adik perempuanku."»

"Namanya..."

Aurora.

"Aurora meninggal karena wabah."

"Saat itu aku tidak sanggup menerimanya."

"Aku mencari semua cara agar dia hidup kembali."

"Aku mempelajari kitab-kitab kuno."

"Aku memanggil sesuatu yang seharusnya tidak pernah dipanggil."

"Aku membuat perjanjian."

Alea menahan napas.

"Dan sejak saat itu..."

"...Gerbang Arunika tercipta."

Lucian mengangguk.

"Awalnya aku berhasil."

"Aurora memang kembali."

"Tetapi..."

"Itu bukan Aurora yang kukenal."

Matanya mulai berkaca-kaca.

"Yang kembali hanyalah tubuhnya."

"Jiwanya tidak pernah ikut pulang."

Ruangan kembali sunyi.

Bahkan Direktur X tidak lagi tersenyum.

Lucian melanjutkan.

"Aku mencoba menutup semuanya."

"Tapi sudah terlambat."

"Perjanjian itu mulai menarik manusia-manusia yang ingin mengubah takdir."

"Mereka datang dengan harapan."

"Mereka pergi dengan kehilangan."

"Itulah awal Organisasi XIII."

Naura menundukkan kepala.

Ia teringat Elang yang dulu bergabung karena ingin bertemu ibunya lagi.

Ternyata...

Semua berawal dari rasa kehilangan.

 

Direktur X melangkah maju.

"Cerita yang menyentuh."

"Tapi dunia tidak membutuhkan penyesalan."

"Dunia membutuhkan harapan."

Ia menatap seluruh anggota XIII.

"Kalian semua datang ke organisasi ini karena alasan yang sama."

"Karena kehilangan seseorang."

"Karena ingin memperbaiki masa lalu."

"Karena ingin mendapat kesempatan kedua."

Puluhan anggota XIII mulai menangis.

Mereka memang datang membawa luka masing-masing.

Direktur X mengangkat kedua tangannya.

"Lihatlah!"

"Lucian telah membuktikan bahwa keajaiban itu ada."

"Kita hanya perlu..."

"...membayar harganya."

Lucian langsung berteriak.

"TIDAK!"

"Tidak ada keajaiban!"

"Yang ada hanya pertukaran!"

"Setiap satu kehidupan yang kembali..."

"...akan mengambil kehidupan lain."

Ruangan mendadak hening.

Semua anggota XIII saling memandang.

Mereka baru mengetahui kebenaran itu.

Alea mengepalkan tangan.

"Jadi..."

"Semua janji organisasi itu bohong?"

Lucian mengangguk pelan.

"Tidak ada cara menghidupkan orang yang telah pergi..."

"...tanpa membuat orang lain menghilang."

Direktur X tersenyum tipis.

"Kalau begitu..."

"...bukankah itu tetap pilihan yang adil?"

Semua menoleh kepadanya.

"Kalau satu orang asing harus mati..."

"...agar orang yang paling kalian cintai kembali."

"Apa kalian akan menolak?"

Tidak ada yang menjawab.

Pertanyaan itu terasa begitu berat.

Karena tidak ada jawaban yang mudah.

Di saat itulah...

Buku Ketiga Belas kembali menulis sendiri.

Tulisan merah memenuhi satu halaman penuh.

«"Setiap keajaiban memiliki harga."»

«"Tetapi selalu ada seseorang yang dipaksa membayar, meski tidak pernah memilih."»

Dimas menutup buku itu perlahan.

Kini ia mengerti.

Perjanjian Arunika bukan sekadar sihir.

Melainkan siklus pengorbanan yang tidak pernah berhenti.

Dan ia harus menjadi orang yang mengakhirinya.

Namun...

Dari kejauhan terdengar suara sirene panjang.

WUUUUUUUU...

Seluruh pulau berguncang.

Eleanor memucat.

"Bukan..."

"Bukan sekarang..."

Naura menoleh.

"Itu suara apa?"

Eleanor menjawab dengan napas bergetar.

«"Penanda tengah malam."»

«"Kalau sirene itu berhenti..."»

«"...Gerbang Arunika akan terbuka sepenuhnya."»

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!