Arga Mahendra dikenal sebagai CEO termuda sekaligus paling menyebalkan di kota. Wajahnya tampan, hartanya melimpah, tetapi sifatnya dingin, arogan, dan perfeksionis. Semua orang takut padanya… kecuali satu orang. Namanya Nayla Pramesti. Gadis pemberani yang mulutnya lebih cepat daripada otaknya. Saat pertama kali bertemu, Nayla tanpa sengaja menyiram kopi ke jas mahal Arga. Bukannya minta maaf, ia malah berkata, “Kalau jalan jangan kayak punya trotoar sendiri, Pak CEO.” Sejak hari itu, Arga bersumpah akan membuat hidup Nayla sengsara. Takdir justru mempertemukan mereka lagi ketika Nayla diterima bekerja di perusahaan Arga. Setiap hari kantor berubah menjadi medan perang. Mereka saling mengejek, saling menjahili, dan tak ada yang mau mengalah. Namun di balik pertengkaran itu, Arga mulai melihat sisi lembut Nayla yang selalu disembunyikan di balik sikap bar-barnya. Sementara Nayla mulai menyadari bahwa di balik wajah dingin CEO itu, ada luka masa lalu yang belum sembuh. Saat cinta mulai tumbuh, muncul seorang tunangan pilihan keluarga Arga dan mantan kekasih Nayla yang berniat merebutnya kembali. Akankah dua orang keras kepala ini akhirnya mengakui perasaan mereka, atau justru kehilangan satu sama lain karena gengsi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syah_runi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sementara itu…
Arga terus menyusuri gudang.
Matanya menangkap bercak darah di lantai semen.
Langkahnya terhenti.
“Dimas!”
Dimas segera menghampiri.
“Pak?”
“Ada darah.”
Dimas berjongkok memeriksanya.
“Masih baru.”
“Berarti tembakannya benar terjadi.”
Arga merasakan dadanya semakin sesak.
Ia takut membayangkan kemungkinan terburuk.
Bukan karena dirinya.
Melainkan karena Nayla.
Seumur hidupnya, Arga tidak pernah merasa setakut ini kehilangan seseorang.
Di sudut lain gudang…
Lukas berdiri di lantai dua, mengamati semua yang terjadi dari balik pagar besi.
Senyumnya tipis.
“Datang juga.”
Di sampingnya berdiri seorang pria berambut cepak.
“Pak.”
“Apa kita langsung pergi?”
Lukas menggeleng.
“Belum.”
“Aku ingin melihat seberapa jauh Arga akan berjuang.”
“Tapi polisi sudah masuk.”
“Justru itu yang membuat permainan ini menarik.”
Tatapan Lukas turun ke arah Arga.
“Kau selalu menjadi pahlawan, Arga.”
“Mari kita lihat…”
“…siapa yang akan kau selamatkan kali ini.”
“Nayla!”
Suara Arga kembali terdengar.
Kali ini lebih dekat.
Air mata Nayla langsung mengalir.
“Itu suara Pak Arga…”
Ia hendak berdiri.
Namun tiba-tiba seseorang menarik rambutnya dari belakang.
“Akh!”
Pria bertubuh besar yang tadi mencarinya akhirnya menemukan tempat persembunyiannya.
“Mau kabur?”
Nayla berusaha melepaskan diri.
“Lepaskan!”
Pria itu justru menarik lengannya lebih kasar.
“Ayo.”
“Pak Lukas sudah selesai bermain.”
Nayla menendang tulang kering pria itu sekuat tenaga.
“Aaa!”
Pria itu meringis kesakitan.
Kesempatan itu dimanfaatkan Nayla untuk berlari.
“Nayla!”
Suara Arga terdengar bersamaan.
Arga yang berada sekitar dua puluh meter langsung melihat sosok Nayla berlari ke arahnya.
“NAYLA!”
“Pak Arga!”
Untuk sesaat, keduanya hanya saling menatap.
Namun pria bertubuh besar itu segera mengejar dari belakang.
Ia mengangkat pistol.
“Berhenti!”
Arga membelalakkan mata.
“NAYLA, TUNDUK!”
Nayla spontan menjatuhkan tubuhnya.
Dor!
Peluru melesat.
Namun bukan mengenai Nayla.
Melainkan mengenai tiang besi di belakangnya hingga memercikkan bunga api.
Arga berlari secepat mungkin.
Dalam beberapa detik ia berhasil menarik Nayla ke dalam pelukannya sebelum peluru kedua ditembakkan.
“Pak…”
“Kamu nggak apa-apa?”
Nayla mengangguk sambil terisak.
“Saya kira…”
“…Bapak yang ditembak.”
Arga memegang kedua pipi Nayla.
“Aku baik-baik saja.”
“Kamu terluka?”
Nayla menggeleng.
Melihat wajah Nayla yang dipenuhi debu dan air mata membuat hati Arga terasa diremas.
Selama ini ia selalu menahan perasaannya.
Namun melihat Nayla hampir kehilangan nyawa…
Ia sadar tidak bisa lagi berbohong pada dirinya sendiri.
“Pak!”
Dimas datang bersama polisi.
“Pelakunya ke arah tangga!”
“Tangkap hidup-hidup!” perintah Arga.
“Baik!”
Suara langkah kaki kembali memenuhi gudang.
Sementara itu, Arga membantu Nayla berdiri.
“Kamu bisa jalan?”
“Bisa.”
“Pegang tanganku.”
Nayla menggenggam tangan Arga erat-erat.
Untuk pertama kalinya…
Ia tidak malu lagi melakukannya.
Karena di samping pria itu, ia merasa aman.
Di lantai dua…
Lukas melihat pemandangan itu sambil tersenyum tipis.
“Jadi benar…”
“Dia memang sudah jatuh cinta.”
Ia mengambil ponsel dari sakunya.
Lalu mengirim satu pesan singkat kepada seseorang.
‘Saatnya jalankan rencana kedua.’
Tak sampai satu menit, balasan masuk.
‘Siap.’
Lukas memasukkan kembali ponselnya.
“Selamat menikmati kebahagiaanmu sebentar lagi, Arga.”
“Karena setelah malam ini…”
“…kau akan membenci keluargamu sendiri.”
Di sisi lain gudang…
Seorang polisi berhasil menangkap pria bersenjata yang mengejar Nayla.
Namun sebelum sempat diborgol…
Pria itu tiba-tiba menggigit sesuatu di mulutnya.
“Apa yang dia lakukan?”
Beberapa detik kemudian pria itu kejang-kejang.
“Dokter!”
“Cepat!”
Polisi segera memanggil tim medis.
Namun semuanya terlambat.
Pria itu meninggal sebelum sempat memberikan keterangan.
Dimas memeriksa mulut pria tersebut.
“Pak…”
“Dia bunuh diri.”
Arga mengepalkan tangannya.
“Saksi kita hilang.”
Di luar gudang…
Ambulans mulai berdatangan.
Nayla duduk di belakang ambulans sambil menjalani pemeriksaan.
Dokter memastikan ia hanya mengalami luka ringan dan dehidrasi.
Arga berdiri tidak jauh darinya.
Tatapannya tidak pernah lepas dari Nayla.
“Nayla.”
“Iya, Pak?”
“Aku minta maaf.”
Nayla mengernyit.
“Untuk apa?”
“Karena semua ini terjadi akibat masalahku.”
Nayla tersenyum kecil.
“Bapak salah.”
“Kalau saya boleh memilih…”
“Saya tetap akan mengenal Bapak.”
Arga terdiam.
Kalimat sederhana itu terasa lebih hangat daripada apa pun yang pernah ia dengar.
Namun sebelum ia sempat menjawab…
Ponsel Dimas berdering.
Wajahnya langsung berubah tegang setelah menerima panggilan itu.
“Pak Arga…”
“Ada kabar buruk.”
“Apa lagi?”
“Rumah keluarga Mahendra…”
“…baru saja dibobol seseorang.”
Dan yang hilang bukan uang atau perhiasan.
Melainkan…
halaman terakhir surat peninggalan ayah Bapak.
Suasana di depan gudang yang semula mulai tenang kembali berubah tegang.
Arga langsung menoleh ke arah Dimas.
“Apa maksudmu?”
Dimas masih memegang ponselnya erat.
“Barusan Kepala Keamanan rumah menelepon. Ada seseorang yang menyusup ke rumah keluarga Mahendra sekitar tiga puluh menit yang lalu.”
“Bagaimana bisa?”
“Pelakunya mematikan kamera pengawas selama empat menit.”
“Empat menit saja?”
Dimas mengangguk.
“Cukup untuk masuk ke ruang kerja almarhum Pak Mahendra.”
Arga mengepalkan rahangnya.
“Apa saja yang hilang?”
“Brankas tidak diambil.”
“Dokumen perusahaan juga masih utuh.”
“Lalu?”
Dimas menarik napas panjang.
“Hanya satu.”
“Halaman terakhir surat peninggalan ayah Bapak.”
Mata Arga langsung menyipit.
Berarti…
Penyusup itu sudah mengetahui isi brankas sejak awal.
Ia datang bukan untuk mencuri harta, melainkan untuk mengambil bagian surat yang selama ini dicari.
Di belakang ambulans, Nayla yang mendengar percakapan mereka ikut berdiri.
“Pak…”
Arga menoleh.
“Kamu harus ke rumah sakit.”
Nayla menggeleng.
“Saya baik-baik saja.”
“Kamu baru saja diculik.”
“Tapi saya tidak apa-apa.”
“Saya mau ikut.”
Arga menghela napas.
“Nayla.”
“Sekali ini saja dengarkan saya.”
“Nggak.”
Jawaban Nayla membuat Dimas hampir tersenyum.
Dalam situasi seperti ini pun, gadis itu masih berani membantah CEO Mahendra Group.
“Saya ikut.”
“Kalau memang ada orang yang mengincar keluarga Bapak…”
“Mungkin saya juga bisa mengingat sesuatu.”
Arga menatapnya beberapa saat.
Tatapan Nayla penuh keyakinan.
Akhirnya ia mengangguk pelan.
“Baik.”
“Tapi kamu tidak boleh jauh dariku.”
Nayla mengangguk cepat.
“Janji.”
Satu jam kemudian…
Mobil Arga memasuki halaman rumah keluarga Mahendra.
Lampu-lampu taman masih menyala terang, tetapi suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.
Clara sudah menunggu di ruang tamu.
Begitu melihat Arga dan Nayla masuk, ia langsung memeluk keduanya bergantian.
“Syukurlah…”
“Nayla, kamu tidak apa-apa?”
Nayla tersenyum tipis.
“Maaf membuat Tante khawatir.”
Clara mengusap lembut rambut Nayla.
“Yang penting kamu selamat.”
Arga memperhatikan pemandangan itu tanpa berkata apa-apa.
Entah sejak kapan…
Ibunya mulai menganggap Nayla seperti anak sendiri.
Mereka kemudian menuju ruang kerja almarhum Mahendra.
Pintu ruangan sudah dipasang garis polisi.
Beberapa petugas sedang mengambil sidik jari.
Arga masuk perlahan.
Rak buku masih bergeser.
Brankas masih terbuka.
Namun amplop cokelat yang sebelumnya berisi surat ayahnya kini robek di bagian bawah.
Halaman terakhir benar-benar hilang.
“Pak.”
Salah satu polisi menghampiri.
“Kami menemukan sesuatu.”
“Apa?”
Polisi menyerahkan sebuah kancing jas berwarna hitam.
“Kancing ini ditemukan di dekat jendela.”
Dimas menerimanya.
“Sepertinya milik pelaku.”
Nayla yang sejak tadi diam tiba-tiba mendekat.
“Boleh saya lihat?”
Arga mengangguk.
Nayla memegang kancing itu beberapa detik.
Lalu wajahnya berubah.
“Saya pernah melihat ini.”
Semua orang langsung menoleh kepadanya.
“Di mana?”
Nayla mencoba mengingat.
“Kayaknya…”
“Waktu seminar.”
“Pria yang mengaku petugas hotel…”
“…dia memakai jas dengan kancing seperti ini.”
Dimas langsung mencatat.
“Itu berarti orang yang sama.”
Arga mengangguk pelan.
“Lukas masih menggunakan orang-orangnya.”
Malam semakin larut.
Setelah polisi selesai bekerja, Clara meminta semua orang makan malam.
Namun suasana meja makan jauh dari biasanya.
Tidak ada yang benar-benar berselera.
Arga hanya memainkan sendoknya.
“Nggak makan, Pak?”
Suara Nayla memecah kesunyian.
“Aku belum lapar.”
Nayla menghela napas pelan.
“Kalau Bapak terus begitu…”
“Lukanya lama sembuh.”
Clara tersenyum kecil.
“Benar.”
“Ibu juga bilang begitu dari tadi.”
Arga akhirnya mengambil beberapa suap nasi.
Melihat itu, Nayla tersenyum lega.
Tanpa sadar…
Arga ikut tersenyum.
Clara memperhatikan keduanya diam-diam.
Dalam hati ia berkata,
“Ayahmu pasti akan senang kalau melihatmu sekarang, Arga.”
Sekitar pukul sebelas malam…
Semua orang akhirnya beristirahat.
Namun Arga belum bisa tidur.
Ia kembali membuka surat ayahnya.
Membaca setiap kalimat berulang kali.
Tiba-tiba…
Sesuatu menarik perhatiannya.
Di bagian bawah halaman pertama terdapat bekas sobekan yang sangat rapi.
Artinya…
Halaman terakhir bukan hilang begitu saja.
Melainkan sengaja dipisahkan sejak awal.
“Ayah…”
“Apa sebenarnya yang Ayah sembunyikan?”
Saat itu juga terdengar ketukan di pintu.
Tok…
Tok…
“Masuk.”
Nayla masuk sambil membawa secangkir teh hangat.
“Bapak belum tidur?”
Arga tersenyum tipis.
“Belum.”
“Saya tahu.”
“Makanya saya bikin teh.”
Arga menerima cangkir itu.
“Terima kasih.”
Suasana menjadi hening.
Nayla berdiri di dekat jendela.
“Pak…”
“Hm?”
“Saya boleh tanya sesuatu?”
“Tanya saja.”
“Bapak…”
“…kenapa selalu menyelamatkan saya?”
Pertanyaan itu membuat Arga terdiam.
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.
Nayla menundukkan kepala.
“Maaf.”
“Nggak usah dijawab kalau memang—”
“Aku takut.”
Nayla mengangkat wajahnya.
“Apa?”
Arga menatap langsung ke matanya.
“Aku takut terlambat.”
“Dulu aku pernah terlambat menyelamatkan seseorang.”
“Dan aku kehilangan dia selamanya.”
Tatapan Nayla melembut.
“Itu sebabnya…”
“Aku tidak mau kehilanganmu juga.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Jantung Nayla berdetak sangat kencang.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Namun sebelum suasana berubah semakin dalam…
Brak!
Suara kaca pecah terdengar dari lantai bawah.
Arga langsung berdiri.
“Ada penyusup!”
Dimas yang berjaga di luar kamar segera berlari.
“Pak!”
“Ruang arsip terbobol!”
Arga menggenggam tangan Nayla.
“Tetap di belakangku.”
Mereka berlari menuju lantai bawah.
Namun mereka tidak menyadari…
Di balik pepohonan di halaman rumah keluarga Mahendra, seorang pria sedang mengawasi mereka melalui teropong.
Di tangannya tergenggam…
halaman terakhir surat peninggalan Mahendra.
Pria itu tersenyum tipis.
“Lima belas tahun kusimpan rahasia ini…”
“Dan akhirnya…”
“Waktunya keluarga Mahendra membayar semuanya.”
jd senam jantung🤧