NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:458
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Rahasia Kecil Di Balik Lemari Pakaian Hana

Rahasia kecil di balik lemari pakaian Hana mendadak terkuak sewaktu pria misterius itu menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal yang langsung memotong jalur langkah kaki Hana di selasar pengadilan agama. Kehadiran sosok asing berkemeja rapi tersebut membuat suasana pagi di area pendaftaran hukum menjadi sangat menegangkan bagi Hana yang didampingi oleh pengacara keluarga. Jantung wanita muda itu berdegup kencang ketika melihat selembar foto lama yang menyembul dari balik robekan amplop, memperlihatkan sudut kamar lamanya di pesantren. Kilatan rasa cemas melintas cepat di sepasang mata indahnya, menyadari bahwa ada musuh dalam selimut yang selama ini merekam privasi kehidupannya demi sebuah motif busuk.

"Bacalah isi dokumen ini jika Anda tidak ingin berkas gugatan cerai Anda berubah menjadi bumerang yang menghancurkan nama baik silsilah keluarga kota," bisik pria misterius itu dengan nada suara yang sangat dingin.

Hana mundur satu langkah, menyembunyikan jemarinya yang mulai mendingin di balik lipatan jilbab marun yang ia kenakan. "Saya tidak merasa memiliki skandal atau rahasia haram apa pun yang bisa Anda jadikan alat ancaman di tempat hukum ini."

"Ini bukan tentang tindakan haram, melainkan tentang lembaran buku harian kuno milik almarhum nenek Anda yang sengaja Anda sembunyikan di balik tripleks lemari," sahut pria itu sambil tersenyum sinis.

Pernyataan lugas dari orang tidak dikenal itu laksana hantaman petir di siang bolong yang seketika melumpuhkan ketenangan batin Hana yang baru saja pulih. Buku harian kuno tersebut adalah catatan silsilah keluarga yang berisi kebenaran sejarah mengenai tanah wakaf yang kini berdiri megah sebagai kompleks pesantren Umi Kalsum. Hana baru menyadari bahwa dokumen penting yang ia temukan secara tidak sengaja sebelum terusir dari surau telah diincar oleh pihak tertentu untuk menghapus jejak kepemilikan sah. Pengacara keluarga Hana langsung bertindak sigap, menepis tangan pria asing itu seraya menarik tubuh kliennya masuk ke dalam ruang perlindungan petugas keamanan internal gedung.

Sementara itu, di lingkungan rumah sakit daerah yang berbau obat obatan tajam, Azzam sedang terduduk kaku di samping ranjang perawatan Umi Kalsum. Kepalanya terasa sangat pening setelah membaca pesan singkat dari pengurus asrama putra mengenai hilangnya beberapa berkas penting dari dalam lemari pakaian lama milik Hana. Kecurigaan Azzam langsung tertuju pada Sarah yang sejak subuh tadi tampak sibuk keluar masuk ruang administrasi dengan alasan mengurus biaya jaminan kesehatan. Sang ustaz muda memandangi wajah pucat ibundanya yang masih terpejam, merasakan penyesalan yang mendalam karena tidak mampu menjaga harta titipan sang istri dari ketamakan orang sekitar.

"Apakah kamu sudah menemukan berkas wakaf asli yang selama ini disimpan oleh Hana di dalam kamarnya, Azzam?" tanya Umi Kalsum yang tiba tiba membuka mata dengan suara parau.

Azzam tersentak, menatap sang ibunda dengan sepasang mata yang memancarkan rasa tidak percaya atas pertanyaan yang baru saja lolos dari bibir tua itu. "Umi, mengapa di saat kondisi fisik sedang kritis seperti ini, hal duniawi itu yang justru pertama kali Umi tanyakan?"

"Pesantren ini bisa disita oleh pihak bank jika surat tanah asli itu jatuh ke tangan keluarga kota, Azzam, tolong pahami posisi kekuasaan kita," rintih wanita tua itu seraya memegangi dadanya.

Pengakuan mengejutkan dari sang ibunda membuat batin Azzam terombang ambing dalam pusaran dilema moral yang teramat kejam laksana dikuliti hidup hidup. Ia baru menyadari bahwa penolakan Umi Kalsum terhadap Hana selama ini bukan sekadar masalah perbedaan budaya, melainkan ada ketakutan besar mengenai rahasia masa lalu yayasan. Kebanggaan terhadap silsilah suci yang selama puluhan tahun diagungkan oleh sang mertua ternyata dibangun di atas fondasi kebohongan sejarah yang kini mulai runtuh perlahan. Azzam bangkit berdiri, melepaskan genggaman tangan ibundanya secara perlahan seraya melangkah mundur menuju pintu keluar kamar perawatan dengan hati yang hancur berkeping keping.

Kembali ke kantor pengadilan agama, Hana duduk bersandar di kursi tunggu dengan tubuh yang gemetar hebat menahan luapan emosi yang bergejolak di dalam dada. Ia memandangi amplop cokelat yang berhasil direbut oleh pengacaranya, berisi salinan halaman buku harian yang menuliskan rincian aliran dana dan perjanjian sewa tanah puluhan tahun lalu. Dokumen itu menjadi bukti konkrit bahwa keluarga Hana adalah pemilik sah atas sebagian besar lahan asrama putri yang selama ini diakui secara mutlak oleh Umi Kalsum. Ayah Hana yang baru tiba setelah memarkir kendaraan langsung menggenggam erat tangan putrinya, memberikan kehangatan pelindung yang sangat dibutuhkan saat ini.

"Ayah, ternyata inilah alasan utama mengapa Umi Kalsum sangat membenci kehadiran saya sejak hari pertama pernikahan," ucap Hana dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata.

Sang ayah menarik napas panjang, menatap lembaran kertas kuno itu dengan sorot mata yang dipenuhi oleh ketegasan seorang lelaki tua yang berpengalaman. "Mereka takut kamu menemukan kebenaran ini, Hana, sehingga mereka sengaja membuatmu tidak betah melalui berbagai sindiran tajam."

"Langkah hukum apa yang harus kita ambil sekarang, Ayah, apakah kita tetap melanjutkan gugatan khulu ini?" tanya Hana seraya merapikan letak duduknya.

Keteguhan sikap sang ayah menjadi tiang penyangga utama yang membuat Hana tidak jatuh terpuruk dalam jurang ketakutan akibat intimidasi dari utusan Sarah. Proses pendaftaran gugatan cerai tetap dilanjutkan oleh sang pengacara, namun kini ditambah dengan persiapan berkas gugatan perdata terkait hak kepemilikan tanah wakaf. Hana menyadari bahwa dirinya tidak boleh lagi mengalah demi menjaga perasaan suami yang tidak pernah mampu memberikan perlindungan mutlak secara nyata. Wanita muda itu menghapus sisa air matanya, berdiri dengan tegak laksana karang laut yang siap menghadapi hempasan ombak badai yang digerakkan oleh penguasa pesantren.

Di selasar rumah sakit, Azzam berjalan cepat mengejar langkah kaki Sarah yang tampak terburu buru menuju area parkir kendaraan roda dua. Amarah sang ustaz muda sudah mencapai ubun ubun setelah menyatukan seluruh kepingan teka teki mengenai motif busuk yang dimainkan oleh keluarga wanita tersebut. Ia mencegat langkah Sarah tepat di bawah pohon beringin tua, menatap wanita itu dengan pandangan mata yang sangat tajam hingga membuat nyali sang calon menantu impian menciut seketika.

"Serahkan kembali kunci duplikat dan dokumen yang kamu ambil dari lemari pakaian Hana sebelum saya melaporkan tindakanmu ke pihak kepolisian," ancam Azzam dengan volume suara yang ditekan rendah namun penuh penekanan.

Sarah melangkah mundur, mencoba menampilkan ekspresi wajah panik yang biasa ia gunakan untuk menarik simpati publik asrama. "Ustaz Azzam, saya melakukan semua ini demi menyelamatkan masa depan pesantren kita dari ketamakan keluarga kota yang ingin merebut aset yayasan."

"Jangan pernah menggunakan nama pesantren untuk menutupi sifat tamak keluargamu, Sarah, karena tindakan kalian justru menodai kesucian surau ini," bentak Azzam tanpa mampu menahan kepedihan batinnya lagi.

Keangkuhan Sarah runtuh seketika saat beberapa pengurus senior asrama yang sengaja dibawa oleh Azzam muncul dari balik koridor luar untuk menjadi saksi mata. Wanita itu tidak bisa lagi mengelak ketika tas jinjing miliknya digeledah secara resmi, memperlihatkan beberapa lembar dokumen asli berstempel kuno milik keluarga Hana. Azzam mengambil berkas tersebut dengan jemari yang bergetar hebat, merasakan perih yang mendalam karena menyadari betapa kejamnya lingkungan tempat ia tumbuh dalam memperlakukan seorang istri sah. Tanpa membuang waktu lagi, ia membalikkan tubuh meninggalkan kompleks rumah sakit, memacu kendaraannya membelah kemacetan jalur lintas provinsi menuju pusat kota tempat Hana berada.

Matahari siang yang terik kini bersinar tepat di atas gedung pengadilan agama, memancarkan hawa panas yang membakar sisa sisa harapan pernikahan antara dua insan yang berbeda dunia tersebut. Hana melangkah keluar dari pintu utama dengan perasaan yang jauh lebih ringan setelah seluruh proses administrasi hukum selesai didaftarkan oleh tim pengacara. Dari kejauhan, deru mesin kendaraan roda dua yang sangat ia kenal suaranya terdengar mendekat, membawa sosok Azzam yang tampak lusuh dengan pakaian yang basah oleh keringat perjalanan jauh. Kedua insan itu saling berhadapan kembali di bawah rindangnya pohon peneduh halaman gedung, menciptakan keheningan yang sarat akan ketegangan emosional yang memuncak.

Azzam turun dari kendaraannya, berjalan lambat mendekati Hana seraya menyodorkan tumpukan dokumen kuno yang berhasil ia rebut dari tangan Sarah beberapa jam lalu. Matanya menatap Hana dengan pancaran permohonan maaf yang teramat dalam, menyadari bahwa kata kata saja tidak akan pernah cukup untuk menyembuhkan luka batin sang istri. Hana memandangi berkas itu dengan ekspresi wajah yang datar, tidak ada lagi binar rindu ataupun kemarahan yang meluap dari sepasang matanya yang kini tampak sangat dewasa.

"Hana, saya mengembalikan seluruh hak milik keluargamu yang selama ini tersimpan di balik lemari pakaian kita," ucap Azzam dengan suara yang serak menahan keharuan.

Hana menerima dokumen itu tanpa menyentuh jemari tangan Azzam, lalu menyerahkannya kepada sang ayah yang berdiri kokoh di sampingnya sebagai benteng pelindung. "Terima kasih atas kejujuran yang terlambat ini, Ustaz Azzam, namun proses hukum pernikahan kita di dalam gedung ini tetap akan berjalan sampai putusan hakim keluar."

"Apakah tidak ada lagi ruang pemaafan di dalam hatimu setelah saya melepaskan semua atribut kekuasaan pesantren demi membelamu?" tanya Azzam dengan mata yang mulai berkaca kaca.

Ketegasan sikap Hana sudah mengkristal secara mutlak sehingga runtunan kalimat memelas dari sang suami tidak mampu lagi menggoyahkan ketetapan jalur hijrahnya di kota. Wanita muda itu membalikkan tubuhnya secara perlahan, melangkah menuju kendaraan roda empat milik ayahnya tanpa memberikan satu pun pandangan penyesalan ke belakang. Azzam terpaku di tempatnya berdiri, memandangi kepergian mobil yang membawa separuh napas kehidupannya pergi menjauh membelah arus lalu lintas jalan protokol yang padat. Di dalam kabin kendaraan yang bergerak tenang, Hana kembali menarik napas panjang seraya mempersiapkan mental untuk menghadapi rangkaian sidang yang akan penuh dengan cobaan sosial.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!