Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.
Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.
Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Langkah kaki Fathiya terhenti sejenak begitu ia melewati pintu kedatangan.
Udara Jakarta menyambutnya—hangat, lembap, dan... asing.
Sudah terlalu lama ia meninggalkan tempat ini.
Matanya menyapu sekitar. Hiruk pikuk orang-orang, suara pengumuman yang bersahutan, koper yang bergulir di lantai—semuanya terasa begitu hidup, namun anehnya... justru membuat dadanya terasa kosong.
Ia menarik napas panjang.
Akhirnya ia kembali.
Bukan karena ingin.
Tapi karena keadaan memaksanya pulang.
Tangannya menggenggam erat gagang koper, seolah itu satu-satunya hal yang bisa menahannya tetap berdiri tegak. Kenangan demi kenangan mulai menyeruak. Tentang masa lalu yang ia tinggalkan. Tentang seseorang yang pernah hampir menjadi masa depannya, Arslan.
Nama itu terlintas begitu saja, membuat langkahnya sempat goyah. Fathiya memejamkan mata sejenak. Ia menggeleng keras. Ia tidak boleh kembali terjebak dalam hal yang sama. Ia sudah cukup hancur karena masa lalu.
"Fathiya!"
Suara itu membuyarkan lamunannya.
Ia menoleh. Di kejauhan, sosok yang sangat ia kenal berdiri sambil melambaikan tangan.
Sofia. Anak tante Yevi.
Fathiya memaksakan senyum, lalu berjalan mendekat. Begitu jarak mereka menyempit, Sofia langsung menariknya ke dalam pelukan.
"Kamu akhirnya pulang juga." ucapnya dengan nada haru yang terdengar tulus—atau setidaknya, terdengar seperti itu.
"Iya, Sof," jawab Fathiya pelan.
Sofia melepaskan pelukan, lalu menatap wajah kakak sepupunya dengan saksama.
"Kamu kelihatan kurus," komentarnya. "Di sana kamu benar-benar tidak mengurus diri, ya?"
Fathiya hanya tersenyum tipis.
"Lagi progam diet, Sof." Ucapnya bohong namun Sofia tahu itu bukan jawaban yang sebenarnya.
"Mari, kita pulang. Mama sudah siapkan semuanya untuk kamu."
Fathiya mengangguk. Namun sebelum melangkah pergi, ia sempat menoleh ke belakang. Ke arah pintu kedatangan yang baru saja ia lewati. Seolah ada sesuatu yang tertinggal di sana.
***
Malam itu, Farah telah menyiapkan sebuah jamuan makan malam keluarga di kediamannya yang megah bak istana. Bukan tanpa alasan. Perayaan ini telah menjadi tradisi yang ia jaga setiap tahun—merayakan hari kelahirannya bersama orang-orang terdekat: suami, anak, dan kerabat yang ia cintai.
Taman belakang rumahnya yang luas disulap menjadi ruang perjamuan yang menawan. Rangkaian bunga segar menghiasi setiap sudut, berpadu dengan cahaya lampu-lampu gantung yang berkilauan lembut. Sebuah meja panjang terbentang anggun di tengah taman, lengkap dengan peralatan makan yang tertata rapi, siap menyambut para tamu.
Di sanalah mereka akan berkumpul—berbagi cerita, tawa, dan kehangatan dalam satu kebersamaan.
Satu per satu tamu mulai berdatangan. Ucapan selamat ulang tahun pun mengalir, diiringi doa-doa dan pujian yang tak henti dilayangkan kepada Farah—wanita yang, meski usia terus bertambah, tetap memancarkan pesona yang tak lekang oleh waktu. Tetap cantik dan awet muda.
Farah tersenyum, menyambut setiap tamu dengan anggun. Untuk menjamu mereka, ia bahkan mengundang seorang koki ternama dari restoran bintang lima—memastikan setiap hidangan yang tersaji mampu memanjakan lidah dan meninggalkan kesan istimewa.
Tak lama, seluruh kursi di meja panjang itu mulai terisi. Semua tamu undangan telah hadir.
Namun... Masih ada kursi yang masih kosong. Dan satu nama yang terus Farah nantikan sejak tadi. Putra satu-satunya, tak kunjung datang.
Sejak awal, Arslan memang tidak memberikan jawaban pasti atas undangan itu. Bahkan hingga malam ini, ucapan selamat ulang tahun pun belum ia sampaikan.
Padahal Farah sudah mencoba meredakan jarak di antara mereka—ia telah meminta maaf atas kejadian beberapa waktu lalu. Namun tetap saja kekhawatiran itu tak bisa ia tepis.
Bagaimana jika Arslan masih menyimpan amarah?
Bagaimana jika ia memilih untuk tidak datang?
Perlahan, kegelisahan itu tergambar jelas di wajah Farah. Senyumnya mulai kehilangan kehangatan.
Hingga tiba-tiba—Perhatiannya teralihkan. Dari arah kolam renang, dua sosok berjalan mendekat. Langkah mereka tenang, selaras. Seorang pria tampan menggandeng seorang wanita di sampingnya—erat, seolah tak ingin terpisah.
Arslan dan Zulfa.
Mereka datang bersama, seperti pasangan yang kehadirannya memang dinanti. Seketika, wajah Farah kembali bersinar. Senyum bahagia merekah tanpa bisa ia sembunyikan.
Arslan menghampirinya, membawa sebuah buket bunga yang indah. Dengan sikap yang lebih hangat dari sebelumnya, ia menyerahkannya.
"Selamat ulang tahun, Ma." Arslan mencium tangan sang ibu dan kedua pipi ibunya. Sederhana, namun cukup untuk meluruhkan semua kegelisahan Farah. Tak lama, Zulfa ikut melangkah maju. Mengikuti seperti yang Arslan lakukan.
Wanita itu tersenyum sopan, meski di baliknya tersimpan luka yang belum sepenuhnya pulih. Trauma terhadap sikap ibu mertuanya masih membekas, namun ia memilih untuk menepikan perasaannya. Demi Arslan dan demi menjaga kehormatan sebagai seorang menantu.
"Selamat ulang tahun, Ma," ucapnya lembut.
Farah menatap keduanya—untuk sesaat, suasana terasa utuh.
Seolah tak pernah ada retakan.
Saat Arslan hendak menarik kursinya ia begitu terkejut melihat sosok wanita yang duduk di hadapannya. Sebuah nama yang hampir 10 tahun ini tak pernah hadir di acara makan malam keluarga, kini tiba-tiba hadir.
"Hai ... Arslan, kita ketemu lagi." Fathiya menyapanya seraya tersenyum. Namun Arslan hanya menyahutinya dengan anggukan dan senyum tipis di bibirnya. Pandangannya berpindah pada istrinya yang kesulitan untuk duduk di kursinya. Arslan membantu menggeret kursi disampingnya agar istrinya bisa duduk dengan nyaman. Suasana pun terlihat nampak canggung dibuatnya.
Jamuan makan malam dimulai.
Lampu-lampu taman memancarkan cahaya hangat, mengiringi suara gelas yang beradu dan tawa ringan para tamu.Pun alunan musik yang dikumandangkan dari penyayi restoran ternama menambah kemeriahan acara malam ini. Suasana tampak sempurna—setidaknya di permukaan.
Farah duduk di ujung meja, sebagai pusat perhatian.
Di sisi kanannya, Arslan dan Zulfa duduk berdampingan. Di sisi kirinya, suami yang turut bahagia merayakan hari jadi istrinya.
Awalnya, percakapan mengalir ringan. Tentang bisnis, keluarga, hingga kenangan lama. Sesekali tawa pecah, mencairkan suasana.
Namun Farah... tampak berbeda.
Tatapannya sesekali mengarah pada Zulfa.
Lalu, tanpa aba-aba—
"Sebenarnya Mama ingin menyampaikan sesuatu malam ini."
Suaranya tenang, namun cukup untuk membuat seluruh percakapan terhenti. Semua mata tertuju padanya.
Arslan mengernyit.
"Apa itu, Ma?"
Farah tersenyum tipis.
"Ini soal masa depan keluarga kita."
Zulfa menegang.
Entah kenapa, firasatnya tiba-tiba memburuk. Farah meletakkan sendoknya dengan pelan, lalu menatap satu per satu tamu yang hadir.
"Kalian semua tahu... keluarga ini sudah lama berdiri. Bisnis ini... bukan sesuatu yang kecil." Beberapa tamu mengangguk.
"Dan tentu saja setiap keluarga besar membutuhkan penerus."
Kalimat itu jatuh tepat ke arah yang tak diinginkan.
Arslan langsung menoleh.
"Ma—"
Namun Farah mengangkat tangan, menghentikannya.
"Biarkan Mama bicara sampai selesai." Suasana pun menjadi sunyi.
Zulfa menunduk, jemarinya saling menggenggam di bawah meja.
"Di momen perayaan ulang tahun ini," ujar Farah sambil mengangkat gelasnya, suaranya terdengar anggun namun sarat makna, "saya ingin kalian semua yang hadir turut mendoakan agar putra saya satu-satunya ini segera memiliki keturunan untuk melanjutkan kerajaan bisnis keluarga kami."
Tatapannya perlahan bergeser tajam dan terarah menuju sosok wanita yang duduk tepat di hadapan Arslan.
"Dan di kesempatan ini juga, saya ingin menyambut kehadiran Fathiya yang baru saja kembali ke Indonesia." Beberapa pasang mata langsung tertuju pada Fathiya.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk hadir malam ini," ucap Farah dengan senyum yang tampak hangat.
"Sama-sama, Tante. Terima kasih karena masih menganggap saya sebagai bagian dari keluarga ini," balas Fathiya sopan.
Farah mengangguk pelan.
"Sampai kapan pun, kamu akan tetap menjadi bagian dari keluarga kami."
Kalimat itu menggantung manis di permukaan, namun menyimpan arti yang lebih dalam. Kemudian Farah mengajak semua tamu berdiri dan bersulang. Suara gelas yang saling beradu kembali menghidupkan suasana.
Namun,
Di balik kemeriahan itu, Zulfa justru diliputi kegelisahan. Ada sesuatu yang terasa tidak beres. Tatapannya diam-diam mengarah pada Fathiya—wanita yang entah kenapa terasa begitu akrab dengan keluarga ini.
Jantungnya berdegup tak menentu.
Arslan yang menyadari kegelisahan itu, segera menggenggam tangan istrinya erat—memberi isyarat tenang.
Seolah ingin berkata, aku di sini.
Ia yakin ibunya tidak akan setega itu mempermalukan Zulfa di depan banyak orang.
Namun keyakinan itu perlahan mulai goyah.
Di tengah para tamu yang sibuk menikmati hidangan dan bercengkerama, Yevi tiba-tiba membuka percakapan.
Percakapan yang mengubah segalanya.
"Arslan," panggilnya ringan, namun cukup untuk menarik perhatian, "tolong bantu carikan jodoh untuk Fathiya."
Suasana seketika mereda.
"Rekan bisnismu banyak, kan? Siapa tahu ada yang cocok. Pasti tidak ada yang menolak dikenalkan perempuan cantik dan pintar seperti Fathiya."
"Tante..." Fathiya langsung menoleh, matanya membelalak. Jantungnya berdebar tak nyaman. "Fathiya masih bisa cari jodoh sendiri." Nada suaranya terdengar tertahan.
Ia sendiri tak mengerti mengapa hal seperti ini dibicarakan sekarang. Di saat lukanya bahkan belum sempat sembuh.
Namun Yevi hanya tersenyum.
"Fath, kamu harus ingat umur," ujarnya ringan, namun sarat tekanan. "Jangan terlalu lama menunda pernikahan. Semakin bertambah usia semakin sulit punya anaknya."
Kalimat itu seperti menyentil dua orang sekaligus.
Bukan hanya Fathiya tetapi juga Zulfa.
Zulfa menunduk. Dadanya terasa sesak. Kalimat semacam itu sudah terlalu sering ia dengar. Dan selalu terasa menyakitkan.
"Yang nikahnya cepat juga belum tentu cepat punya anaknya." Suara Farah tiba-tiba menyela. Semua mata kembali tertuju padanya. Ia tersenyum tipis.
"Lebih baik nikmati saja hidupmu dulu," lanjutnya santai.
Sekilas terdengar seperti nasihat ringan. Namun di balik itu semua tersimpan maksud terselubung.
Lalu Yevi kembali berbicara. Kali ini, tanpa menyaring kata.
"Coba kalau dulu kamu tidak menolak lamaran Arslan, pasti sekarang kalian sudah menikah dan mungkin sudah punya banyak anak."
Seketika dunia terasa berhenti berputar. Zulfa membeku. Jantungnya seolah jatuh ke dasar yang paling dalam. Hatinya bagai di remas-remas mendengar ucapan Yevi yang begitu membuatnya terhenyak. Tanda tanya besar yang selama ini berkecamuk di pikirannya sudah terjawab. Bahwa ternyata Fathiya adalah bagian dari masa lalu Arslan, bukan hubungan yang hanya sebatas keluarga. Sesak itu datang sekaligus menghantam tanpa ampun.
Kedua tangan Arslan mengepal kuat, rahangnya mengeras. Ia begitu kesal sekali dengan ucapan tantenya yang secara terang-terangan menjelaskan semuanya. Padahal selama ini ia berusaha menutup rapat tentang sosok wanita yang pernah menolak lamarannya. Arslan hanya sebatas cerita pengalaman buruknya, jauh sebelum Arslan menikahi Zulfa.
Namun malam ini semuanya terungkap. Di hadapan semua orang dan tepat di hadapan istrinya.
***